MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
CNT


__ADS_3

Sudah empat hari mereka melakukan 'bulan madu' di Negara Kanada. Selama itu, mereka banyak menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan mengunjungi destinasi wisata yang ada di negara itu.


Sudah bayak sekali destinasi wisata yang mereka kunjungi, mulai dari taman, museum, bangunan-bangunan bersejarah dan juga pusat perbelanjaan.


Setelah mengunjungi destinasi wisata Niagara Falls, air terjun yang sangat indah di negara itu, malam ini rencananya mereka akan mengunjungi ikon dari negara Kanada yaitu Menara CN. Menara CN merupakan menara tertinggi ke tiga di dunia. Menara ini merupakan list destinasi wisata yang sangat ingin Adeela kunjungi sedari dulu. Dan malam ini, babang bule akan membawanya ke sana. Ah, bahagianya Adeela.


Adeela sudah siap dengan dress berwarna pastel dengan desain yang sangat indah dan sangat pas di tubuhnya. dipadukan dengan hijab pashmina berwarna senada. Tak lupa hells berwarna hitam ia kenakan. Semua yang ia kenakan saat ini adalah pemberian suaminya yang tiba-tiba saja membelikannya di negara itu saat mereka mengunjungi pusat perbelanjaan beberapa hari yang lalu. Katanya, suaminya sangat ingin melihatnya memakai dress itu saat akan makan malam di restoran CN Tower.


Adeela menatap pantulan dirinya di depan cermin, menilai dari atas sampai bawah. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna saat ia memandangi pantulan dirinya.


"Cantik." Ucapnya tersenyum.


Saat dirinya sedang fokus menatap pantulan dirinya di cermin, matanya tak sengaja bersirobok dengan Justin yang memandangnya dari belakang sambil bersandar di ujung meja.


Melihat tatapan mata Justin yang menatapnya dengan pandangan yang berbeda, Adeela dibuat salah tingkah olehnya. Bagaimana tidak, Justin terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna hitam dengan rambut yang klimis membuatnya terlihat berbeda malam ini. Adeela berdehem dan memutuskan kontak mata mereka di balik cermin. Ia membalikkan badannya dan melangkah mendekati suaminya yang masih pada posisi yang sama.


Hening untuk sesaat...


Adeela berdehem sebagai bentuk pengalihan dari situasi yang tiba-tiba menjadi canggung. Justin yang mengerti pun segera membuka suara.


"Berangkat sekarang?"


Adeela menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Mereka pun berjalan keluar dari kamar dan menuju ke tempat tujuan mereka. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di sana karena jarak dari hotel dan menara CN hanya beberapa meter. Mereka juga kesana hanya berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, Justin lebih banyak diam. Namun tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Adeela menuju menara.


Saat sampai di depan menara, Adeela hanya bisa menatap takjub menara itu. Menara CN pada malam hari terlihat dua kali lipat indahnya, apalagi kerlap-kerlip lampu semakin menambah indah suasana.


Saat mereka telah sampai di sana, sudah banyak sekali pengunjung yang lalu lalang. Kebanyakan dari mereka sepertinya ingin menuju ke puncak menara.


Mereka menggunakan lift untuk bisa sampai di lantai paling atas. Hanya membutuhkan waktu 58 detik mereka telah sampai di sana.

__ADS_1


Di lantai paling atas, ada sebuah restoran bernama 360o (the Restaurant) yang memberikan pemandangan Toronto seluas 360 derajat secara penuh karena restoran ini benar-benar berputar selama kurang lebih 72 menit. Selama itu pula lah kalian mampu melihat setiap sudut pemandangan kota.


Justin menarik kursi untuk Adeela sebelum ia duduk di depan istrinya. Hampir semua kursi telah terisi malam itu. Ditambah suasana yang romantis.


Tak membutuhkan waktu yang lama, pesanan mereka pun akhirnya datang. Mereka menyantap makan malam dengan sesekali berbincang ringan. Sepanjang mereka di sana, Justin tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari Adeela.


"Maga'gao a'di wennie!" Ujar Justin yang membuat Adeela mengerutkan kening karena tidak mengerti apa yang Justin ucapkan.


"Ngomong apa? Aku enggak ngerti!"


"Itu tadi aku ngomong pakai bahasa daerah. Tepatnya bahasa bugis dari Makassar."


Adeela pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Artinya apaan?" Tanyanya penasaran.


"Cari tahu sendiri!" Jawabnya sambil menyunggingkan senyumnya.


Setelah semua makanan mereka habis. Adeela membersihkan mulutnya dan meneguk jus di depannya.


Kembali ia perhatikan Justin di depannya.


"Kamu tahu banyak bahasa daerah?" Tanyanya.


"Lumayan. Kalau aku lagi ada kerjaan di luar kota, aku biasanya belajar sedikit bahasa yang aku datangin. Makanya aku tahu bahasa daerah


walau cuma dasarnya aja sih."


Adeela lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Lumayan kagum dengan suaminya itu. Mau belajar bahasa daerah walaupun pekerjaannya cukup padat.

__ADS_1


Mereka kembali berbincang-bincang ringan. Saat hidangan terakhir mereka datang, tak sengaja pramusaji itu menyenggol gelas Adeela. Alhasil, jus yang ada di depannya jatuh dan mengenai dress yang ia kenakan.


Justin memarahi pramusaji yang telah menumpahkan minuman, hingga membuat dress yang Adeela kenakan menjadi kotor. Pramusaji itu hanya bisa meminta maaf dan menunduk mendengarkan.


Adeela yang melihat itu, segera menenangkan suaminya.


"Sudahlah, mas, enggak apa-apa. Noda nya sedikit kok ini. Nanti juga pasti hilang. Kasihan kan, mbak nya dimarahin. Enggak usah diperpanjang. Lihat tuh, orang-orang pada ngelihat ke sini."


Justin yang mendengarnya pun, mengedarkan pandangannya. Dan benar saja, orang-orang pada melihay kearah meja mereka.


"Yasudah, kamu bisa pergi." Ujar Justin pada pramusaji tadi dalam bahasa inggris.


"Jadi bagaimana? kita langsung pulang ke hotel?"


"Heem, kita langsung pulang saja, mas."


Setelah membayar bill, mereka pun berjalan meninggalkan restoran. Saat sudah sampai di lantai dasar, mereka pun keluar dari sana dan berjalan menuju hotel tempat mereka nginap. Saat di tengah jalan menuju hotel, tiba-tiba saja hujan mengguyur kota. Justin menarik tangan Adeela dan berlari mencari tempat untuk berteduh. Setelah berlari menghindari hujan, mereka akhirnya berteduh di bawah toko. Ternyata, bukan hanya mereka yang berteduh di sana, terlihat ada beberapa orang yang juga ikut berteduh.


Justin dan Adeela mencoba mengeringkan badannya yang basah akibat guyuran hujan yang lumayan deras. Adeela menggosok tangannya untuk meredakan dingin yang ia rasakan.


Justin yang melihat itu, segera menggenggam kedua tangan Adeela dan membungkusnya menggunakan kedua tangannya. Berharap dengan begitu, mampu mengalirkan kehangatan pada Adeela.


Saat ia ingin meniup tangan istrinya, matanya tidak sengaja melihat lelaki yang ikut berteduh di samping mereka sedang menatap badan istrinya yang basah terkena hujan. Menatap dengan pandangan seakan menelanjangi. Justin kembali menatap istrinya yang ternyata bajunya itu melekat habis di badannya menampakkan lekukan tubuhnya dengan jelas akibat guyuran hujan tadi.


Justin menggertakkan giginya dan menatap tajam lelaki yang menatap istrinya seperti itu. Tatapan mata elangnya menatap tajam lelaki yang ada di samping istrinya.


Bukannya takut, lelaki itu malah membalas tatapannya serta menyunggingkan senyum miringnya. Hal itu membuat Justin terbakar emosi karena rasanya lelaki itu tidak punya sopan santun dan malah menantangnya.


Justin yang sudah terbakar emosi, mendekati lelaki itu dan tanpa aba-aba ia melayangkan tinjunya mengenai wajah lelaki tadi. Lelaki itu jatuh tersungkur dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


"qu'est-ce que tu fais, salaud (Apa yang kamu lakukan, ********)" Ujar lelaki itu saat melihat darah saat ia meraba ujung bibirnya dalam bahasa Perancis. Di Kanada menggunakan dua bahasa, Inggris dan perancis. Dan sebagian penduduk menggunakan bahasa Perancis dibanding bahasa Inggris.


Justin menarik kerah baju lelaki tadi yang masih pada posisi tadi. "Vous demandez ce que j'ai fait? Vous voulez que vos yeux soient inutilisables, hein! (Kamu bertanya apa yang aku lakukan? Kamu mau matamu tidak bisa digunakan lagi, hah!" Ujarnya menujuk mata lelaki di depannya. Lelaki itu terkesiap. Nyalinya menciut melihat kemarahan yang terpancar di mata Justin


__ADS_2