
Adeela kini telah masuk di dalam ruangan besar seorang direktur.
Ruangan yang sangat luas dengan tatanan yang sangat rapi dan mewah. Pandangannya kini fokus pada seseorang yang duduk di balik kursi kebesarannya. Posisi kursi direktur membelakanginya.
Adeela meremas tangannya yang tiba-tiba dingin. Adeela takut jangan sampai pelanggannya ini marah karena sudah telat membawa kue pesanannya. Melihat aura direktur dari belakang saja sudah membuatnya takut. Pastilah, direktur ini adalah orang yang dingin.
"Permisi, pak. Saya datang antarkan kue pesanan Anda!" Ucap Adeela untuk pertama kalinya.
Dreeett...Kursi direktur pun berputar dan menampakkan wajah seseorang yang Adeela kenal.
Adeela membulatkan matanya menatap lelaki di depannya.
"Justin!"
Justin malah menyunggingkan senyum di bibirnya yang nyaris tak terlihat oleh Adeela.
Justin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sedetik kemudian pandangannya kembali menatap Adeela.
"Sudah jam berapa ini, Nona Adeela?"
"Lo!" Ingin rasanya Adeela mengumpati Justin saat ini juga. Namun ia berusaha menahan amarahnya mengingat Justin adalah pelanggannya. Kurang kerjaan sekali lelaki ini menyurunya membawa kue pesanannya langsung. Adeela mendengus kesal dibuatnya. Lagi-lagi ia dikerjai oleh musuhnya.
"Saya bertanya, Nona Adeela, sudah jam berapa ini?! Jam makan siang sudah hampir habis dan Anda datangnya baru sekarang!" Justin berdiri dari kursinya dan berjalan menuju sofa.
"Maaf sekali tuan, Justin yang ter-hor-mat." Ucapnya menegaskan kata-katanya. "Tapi tadi jalanan macet dan membuat saya harus telat membawa pesanan kue Anda!"
"Setiap hari jalanan selalu macet, Nona Adeela! Jangan jadikan macet sebagai alasan Anda tidak membawanya tepat waktu. Tidak profesional sekali Anda ini!"
Kepala Adeela sudah panas mendengar ocehan musuhnya. Fix, kali ini dia dikerjai lagi.
"Yasudah, maaf!" Jawabnya santai dan berjalan mendekati sofa.
"Nih, pesanan Anda. Tuan Justin yang ter-hor-mat!" Menyimpan kue pesanan Justin di meja.
"Terima kasih." Ucap Justin dan membuka bungkusan kue di depannya tanpa memperdulikan Adeela yang sudah ingin mengeluarkan larva dari mulutnya.
"Gue mau pulang!" Adeela mengangkat tangannya di depan Justin. Adeela kini sudah menggunakan bahasa non baku pada musuhnya. Lidahnya terasa gatal berbicara sopan dengan musuhnya.
"Yasudah, pulang saja sana!" Usir Justin sambil melahap Chocolate cake di depannya.
Adeelae meggeram kesal dibuatnya.
"Ya, bayar dulu, lah! Lo kira ini kue buatan nenek moyang lo, gratis!"
"Memang ini gratis, kan."
"Licin banget tuh mulut ngomong ya. Gue udah capek-capek bawa kue pesanan lo ke sini ampe terjebak macet, malah lo minta gratisan. Bayar!"
"Iya, iya. Takut banget lo enggak gue bayar."
__ADS_1
"Ya, kali, lo kan suka malak!"
"Ck, mana ada seorang direktur malak!"
"Ck, yaudah sini cepet duit gue. Gue mau pulang."
" Duduk dulu lo. Enggak capek berdiri terus dari tadi!"
Karena tidak ingin semakin panjang nantinya, Adeela pun menuruti perintah Justin dan duduk di sofa single.
Adeela bertopang dagu sambil menatap setiap inci ruangan Justin. Sedangkan Justin, ia fokus menyantap kue di depannya.
"Sama siapa lo ke sini?" Tanya Justin saat selesai menyantap kue di depannya.
"Sendiri." Jawabnya singkat.
"Lo kenapa? sakit gigi? Tumben banget ngomongnya dikit!"
"Gue enggak sakit gigi. Gue sakit pala gara-gara lo!"
"Lah, kok, gue yang disalahin!"
"Gara-gara lo yang ngerjain gue, suruh langsung antar ke sini. Gue kira siapa, ternyata lo. Pengen pamer lo?!"
"Ck, untuk apa juga gue pamer. Kurang kerjaan banget."
"Terus kalau bukan kurang kerjaan, apa namanya." Adeela menatap tajam pada Justin. "Oh, gue tahu sekarang..." Adeela tersenyum miring menatap Justin.
"Jangan bilang kalau lo suka ya, sama akoh!" Ucapnya sambil tersenyum menang.
Tiba-tiba saja Justin menertawainya.
"Percaya diri kali kau. Yang suka sama lo itu siapa? Ya, kali gue suka sama lo."
"Lo enggak usah ngelak lagi. Kalau lo enggak suka sama gue kenapa lo gangguin gue terus. Nyuruh gue anterin kue nya padahal ada karyawan. Lo suka kan sama gue? Jujur aja!"
"Percaya diri kali kau, item." Ucapnya. Setelah itu, Justin merogoh saku nya mengambil dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar uang merah.
"Nih!"
"Makasih, Justin!" Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Justin memalingkan wajahnya kearah lain.
"Yasudah, karena lo udah bayar, gue pulang dulu."
"Huss, pulang sana!" Usir Justin.
"Gue pulang ya!"
__ADS_1
"Yaudah, pulang saja!" Geramnya
"Gue pulang ya!"
Justin geram melihat tingkah Adeela. Melihat reaksi Justin yang seperti itu membuat Adeela puas telah membuat Justin kesal.
Saat telah membuka pintu, Adeela berbalik badan "Justin, telinga lo dari tadi merah. Cuci muka sana!" Kekehnya tertawa. Tanpa melihat reaksi Justin, Adeela segera menutup pintu nya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah mengirimkan pesan singkat pada Intan, Adeela kembali memasukkan poselnya di dalam tas dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Tujuannya sekarang adalah langsung pulang ke rumahnya.
30 menit kemudian, ia pun sampai di depan rumahnya. Setelah membayar taksi, Adeela pun berjalan masuk.
Adeela berjalan menuju kamarnya ingin langsung istirahat.
Pukul 4 sore, barulah ia terbangun dari tidurnya.
Adeela mengikat asal rambutnya setelah itu ia berjalan menuruni tangga menuju kearah dapur.
Ia akan membuat makan malam dibantu oleh mbok Minah
Setelah cukup lama berkutat di dapur, masakannya pun matang. Adeela kembali ke kamarnya ingin membersihkan badannya yang sangat gerah.
Setelah selesai dengan ritual mandinya dan berpakaian, Adeela pun turun menuju ruang keluarga.
🍁🍁🍁
"Kapan jadwal pemeriksaan kehamilanmu, Deel?" Tanya Farhan saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar.
"Jadwal pemeriksaan aku nanti pada saat kehamilan sudah memasuki trimester ke dua, mas. Memangnya kenapa?"
"Aku hanya ingin tahu saja bagaimana perkembangan anak kita. Bagaimana kalau kita pergi periksa kondisi kandungan kamu, besok!"
"Jadwal pemeriksaannya masih lama, mas. Dua bulan lagi."
"Tidak apa-apa, Deel. Selama hamil kan, aku belum pernah melihat bagaimana kondisi kehamilan kamu!"
"Tapi kan..."
"Besok aku akan antar kamu periksa. Jangan menolak. Aku hanya ingin memastikan bagaimana kondisi kehamilan kamu. Lagian kalau periksa lagi, tidak akan masalah, kan!"
Adeela tak mampu lagi berkata-kata. Ucapan suaminya tidak bisa di ganggu gugat. Yang jadi masalah sekarang adalah, masa iya, besok mereka akan melakukan pemeriksaan kehamilan. Sedangkan, ia hanya pura-pura. Terbongkar sudah rahasianya selama ini kalau sampai besok mereka benar-benar melakukan pemeriksaan kehamilan.
Adeela tidak bisa tidur memikirkan bagaimana harinya besok. Tuhan, tolong Adeela sekali ini saja.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Aku udah up ya kakak. Happy reading :D
__ADS_1
Salam story from By_me