
Farhan menatap punggung Adeela yang melewatinya. Dia mengatakan untuk melepaskannya saja, tetapi di dalam hati berteriak tak ingin melepaskan sang wanita.
Selangkah demi selangkah Adeela di depan sana, mata Farhan sungguh tidak rela untuk melepaskan. Tapi dia sudah berjanji di dalam hati untuk melepaskan Adeela untuk kebahagiaannya dengan sang ksatria. Adeela pantas untuk bersanding dengan sang Ksatria. Tak pantas untuk lelaki pecundang sepertinya.
Hati menangis melihat Adeela ternyata bersama dengan Justin, sahabatnya sendiri. Namun ia tidak punya hak untuk protes kepada Tuhan. Karena semua ini adalah ulahnya sendiri, sehingga Tuhan murka dan menjodohkan Adeela nya dengan sahabatnya sendiri.
Farhan menatap punggung Adeela yang sudah berada di pinggir jalan. Diseberang sana sang ksatria sudah menunggu dengan kuda putihnya.
Farhan menatap nanar pada punggung Adeela. Tapi ia turut bahagia untuk kebahagiaan keduanya. Jika memang Adeela bahagia dengan Justin, maka ia akan melepaskannya.
"Aku masih ingat ucapanmu, bahwa aku sudah tidak memiliki hak lagi untuk menggenggam tanganmu." Kata Farhan di dalam hati. Mengingat akan ucapan Adeela kala itu. "Kau berhak bersama dengan Justin yang bisa menjagamu. Sedangkan aku... aku hanya harus mencintai keadaan!"
"Memang harus kuakui, aku sangat merindukanmu. Kenanganku begitu mencintaimu. Bahkan, ia selalu bertanya tentangmu." Bisiknya di dalam hati memperhatikan langkah Adeela.
Adeela melangkah ke depan ingin menyeberang jalan. Farhan masih tetap memperhatikan Adeela di belakangnya. Karena mungkin inilah terkhir kalinya ia melihat Adeela. Setelahnya, ia akan pergi jauh dan berharap tidak lagi bertemu dengan Adeela. Agar hatinya bisa melupakan sang wanita.
Saat beberapa langkah Adeela di depan sana, sebuah mobil merah dari arah samping melaju dengan kencang. Seolah-olah mobil itu memang sengaja menunggu Adeela untuk menyeberang. Farhan yang melihatnya, seketika melebarkan matanya dan berteriak.
"Deela, awas!" Teriaknya dan berlari ke tengah jalan dengan langkah lebar ingin menyelamatkan Adeela. Farhan menarik tangan Adeela dan menariknya ke samping namun sayang, ia tidak sempat menyelamatkan diri. Ia dan Adeela tertabrak. Hanya saja, Adeela terlempar ke samping karena tarikan Farhan tadi. Sedangkan dirinya tertabrak dan terlempar sejauh beberapa meter.
Farhan terbaring lemah di tengah jalan dengan darah yang keluar dari kulit kepala yang sobek, dari mulut dan hidung. Badannya tidak bisa lagi ia gerakkan. Di sisa kesadarannya, matanya mencari sosok Adeela. Farhan mencoba menggerakkan tangannya, namun sayang tenaganya tak lagi ada. Cairan bening berhasil lolos di pelupuk matanya.
"Kamu harus selamat, Adeela!" Itu yang Farhan ucapkan di dalam hati sebelum benar-benar menutup matanya. Tak mampu lagi ia tahan sakit di seluruh badannya. Dan Farhan pun jatuh tak sadarkan diri.
*******
__ADS_1
Justin dengan setia menemani istrinya yang terbaring lemah tak sadarkan diri sudah 3 hari lamanya. Selama 3 hari itu, Adeela dirawat di ruang perawatan dengan alat-alat medis yang tepasang di tubuhnya. Untung saja, Adeela telah melewati masa kritisnya. Namun walaupun begitu, Justin tetap saja khawatir karena istrinya memiliki riwayat koma.
Justin menggenggam tangan istrinya erat. Kedua sikunya ia sandarkan di atas ranjang dengan pandangan terus menatap wajah istrinya. Ia sangat berharap, kedua bola mata berwarna coklat yang selalu menatapnya itu terbuka.
"Kamu enggak capek, Deel, tidur terus?! Bangun, sayang. Maafkan aku yang terlambat nolongin kamu!" Ucapnya yang menyesali yang telah terjadi.
"Seharusnya aku yang selamatkan kamu, Deel. Seandainya kemarin kamu enggak nungguin aku, sekarang pasti kamu masih baik-baik saja, Deel!" Ujarnya berbicara sendiri. Setiap kata yang keluar dari mulutnya, tak ada tanggapan dari istrinya.
"Deel, anak-anak jadi rewel semenjak kamu sakit. Mungkin mereka tahu kalau Bundanya lagi terbaring lemah. Ikatan batin kalian itu sangat kuat, kamu tahu!" Justin menatap mata istrinya, namun tak ada tanda-tanda mata itu bergerak dan terbuka.
"Kapan kamu bangunnya, sih, Deel?! Kamu tahu, selama kamu terbaring seperti ini enggak ada yang sering marah-marahin aku. Rumah jadi sepi. Enggak ada yang sering ngomel pagi-pagi. Enggak ada yang masakin aku dan anak-anak makanan. Enggak ada yang ngomel-ngomel hanya karena aku telat makan. Enggak ada yang ngomel hanya karena aku enggak simpan baju kotor di keranjang. Enggak ada yang ngomel hanya karena aku berantakin lipatan baju. Tapi walaupun kamu sering ngomel, aku tetap kangen kamu, Adeela!" Ratapnya. Setetes cairan bening berhasil lolos di pelupuk matanya. Segera Justin menghapus air matanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan istrinya. Cukuplah saja hari itu, saat ia menceritakan tentang kemalangan mendiang adiknya di depan istrinya. Cukup hari itu ia menangis terisak. Ia adalah kepala rumah tangga. Sudah seharusnya ia kuat.
"Adeela Athalla! Aku takut! Aku takut, kamu seperti yang lain. Ninggalin aku, lagi " Justin menghembuskan nafas dan menyandarkan kepalanya di pinggir ranjang. Tangannya tak lepas menggenggam tangan istrinya.
"Aku takut ditinggal untuk yang kesekian kalinya, Deel! Aku takut!" Justin melepaskan genggaman tangannya dan beralih memeluk perut istrinya erat.
Justin menatap mata bening itu dalam dan lama. Digenggamnya kedua tangan istrinya dan diletakkan di pipi kanannya. Justin tersenyum lega karena pada akhirnya Adeela kembali padanya.
"Ha...us!" Ujar Adeela dengan lemah. Badannya sangat sakit terasa. Efek terjatuh di kerasnya aspal.
Justin yang mendengarnya segera berdiri dan mengambil air mineral di atas nakas di samping kasur dan diberikan pada istrinya.
"Pelan-pelan, Deel." Setelah istrinya selesai dengan dahaganya, kembali Adeela menatap suaminya. Saat akan bergerak, kepala dan badannya terasa sangat sakit.
Setelah memberikan minum istrinya, Justin pun memanggil dokter untuk memeriksakan kondisi istrinya yang baru saja tersadar.
__ADS_1
Setelah dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital dan lainnya, dokter memberikan masukan serta saran untuk kondisi istrinya. Setelah tuntas memberitahukan info apa saja yang harus dilakukan, dokter dan perawat pun kembali ke ruangan mereka.
"Jangan banyak gerak dulu, Deel. Tiduran saja. Kamu masih dalam masa pemulihan. Kamu harus banyak istirahat." Kata Justin menasehati karena tadi istrinya ingin bersandar. Adeela yang dinasehati oleh suaminya pun tidak bisa apa-apa.
"Bagaimana anak-anak, Mas?" Tanyanya saat ia tidak melihat anak-anaknya.
"Anak-anak ada di rumah Mommy, Papi, Deel. Kamu tenang saja. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana agar kamu bisa kembali pulih."
Adeela hanya bisa menghembuskan nafas pelan mendengarnya. Saat sedang terbaring, ingatannya kembali pada kejadian saat dirinya terjatuh dan tak sadarkan diri. Adeela mengingat kembali puzzle kejadian hari itu. Saat ia sudah mengingat semuanya, matanya seketika melebar dan menatap suaminya.
"Kamu kenapa, Deel? Ada yang sakit? Aku panggilkan dokter untuk memeriksa kondisi kamu, ya!"
Justin sudah akan berdiri saat itu, namun tangan Adeela sudah lebih dulu menahan tangannya. Justin menatap istrinya dengan alis yang bertaut seakan meminta penjelasan.
"Farhan! Bagaimana dengan Farhan. Dia baik-baik saja, kan, Mas?!" Tanyanya. Justin yang mendengar pertanyaan istrinya hanya bisa menghembuskan nafas dan menyugar rambutnya ke belakang.
"Farhan baik-baik saja, kan, Mas?!" Tanyanya lagi memastikan. Namun dilihat dari raut wajah yang suaminya tampakkan, sepertinya Farhan tidak sedang baik-baik saja.
"Farhan baik-baik saja, kan, Mas?!" Tanyanya sekali lagi.
Justin menghembuskan nafas dan menatap mata istrinya. Adeela membalas tatapan suaminya seakan meminta penjelasan. Ia ingat sekali saat kejadian, yang menariknya saat itu adalah Farhan.
Justin menggelengkan kepala pelan sambil menatap istrinya.
********
__ADS_1
Jangan lupa like, kom3n dan vote nya yak!!
Salam story from By_me