
Setelah pulang dari supermarket, malamnya setelah makan malam kini Adeela duduk di depan Tv menonton drama korea yang disiarkan di Tv ditemani dengan beberapa cemilan dan minuman yang tadi ia beli.
Ia duduk di atas sofa dengan posisi kakinya ia lipat. Sangat fokus menonton sambil memakan cemilan, hingga kedatangan suaminya di belakangnya tidak ia sadari.
Farhan membawa sebuah es jeruk di tangannya. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan Adeela yang sangat rakus hingga hampir menghabiskan cemilan yang tadi ia beli sendirian.
"Jangan terlalu banyak makan makanan seperti itu, dek." Ujarnya saat ia sudah duduk di sofa di samping istrinya.
Adeela menengok ke samping melihat suaminya. Dahinya mengkerut mencerna ucapan suaminya itu tadi. Ada angin apa, sehingga masalah makanannya juga diperhatikan.
"Soalnya enak, mas. Makanya aku makan." Jawabnya asal dan kembali fokus pada drama di depannya.
"Jangan terlalu egois, Deel. Kamu ini sekarang lagi hamil. Masa kehamilanmu itu seharusnya banyak makan-makanan yang bergizi untuk proses pertumbuhannya. Bukannya makan makanan kemasan seperti ini." Tunjuknya pada cemilan yang telah raup di meja.
"Heem, Kali ini aja, mas. Besok-besok makan cemilannya dikurangin kok."
"Kamu ini kalau dibilangin. Enggak usah makan yang kayak gini lagi. Besok-besok kalau aku lihat kamu makan ini lagi, langsung aku buang."
Adeela merasa heran dengan sikap suaminya yang berubah menjadi over protektif kepadanya. Suaminya ini pasti sedang sakit. Kenapa baru sekarang marahnya, tadi saat ia membeli cemilan itu kenapa tidak melarangnya dari awal saja.
"Jangan dong, mas. Masa aku makannya itu-itu mulu. Sedikit doang, kok. Masa enggak boleh."
__ADS_1
"Kalau aku bilang tidak, ya tidak, Deel. Makanan yang kamu makan itu sangat berperan penting pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak kita. Kalau kamu makannya makanan kemasan yang banyak MSG nya kayak gini, bisa-bisa anak aku nantinya jadi *****."
"Tapi kan..."
"Tidak ada tapi-tapian, Deel." Ucapnya dengan tegas tak ingin dibantah.
Adeela yang kesal pun tidak lagi menatap suaminya. Bibirnya terlihat mengerucut. Bagaimana bisa ia tidak memakan cemilan. Astaga, ini hanya pura-pura, kenapa malah ia yang disulitkan disini.
Farhan yang capek berbicara terus dari tadi, kini mengambil jus jeruk yang tadi ia bawa. Diseruput hingga tandas.
Kini mereka sama-sama diam. Adeela menggeser badannya ke ujung sofa karena kesal dengan suaminya. Tanpa ia duga, kini suaminya itu sudah membaringkan kepalanya di pangkuannya dan menghadap ke arah perutnya.
Tiba-tiba, Farhan menyingkap bajunya sampai di bawah dada dan terlihatlah perutnya yang masih rata itu. Adeela mencoba menahan tangan suaminya yang sudah mengangkat bajunya keatas.
Namun Farhan tidak memperdulikan ucapannya. Kini tangannya sudah berada di perutnya dan membelainya singkat. Aduh, apa ini. Kenapa mas Farhan melakukan ini, gumamnya dalam hati.
Farhan menurunkan tangannya dan kini mulutnya lah yang berada di perutnya. Mengecupnya beberapa kali, yang membuat Adeela menjadi geli dan meremang.
"Mas!" Ucapnya penuh memohon agar Farhan menghentikan aksinya yang membuatnya menjadi geli.
Farhan pun menurut dan menghentikan aksinya. Ia kembali bangkit dari posisinya dan duduk di samping istrinya dengan kulit yang saling bersentuhan.
__ADS_1
Adeela menatap kesal suaminya yang duduk sangat dekat dengannya. Ia kini sudah terhimpit di ujung sofa dengan suaminya yang juga ikut di sampingnya.
"Mas Farhan jauh-jauh, ya. Noh, disana masih kosong." Tunjuknya pada sofa yang kosong di samping suaminya.
Farhan menggelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakan. Dipandangnya dengan lekat istrinya yang malam ini terlihat sangat sexy. Baju kaos putih yang memperlihatkan lekukan tubuhnya dengan celana hot pans hitam. Dengan rambut yang digulung asal ke atas memperlihatkan leher jenjang dan putihnya. Ingin rasanya, Farhan menenggelamkan kepalanya di sana. Mencium dan menghirup aroma tubuh istrinya.
Adeela menatap penuh selidik melihat gerak-gerik suaminya yang menatapnya dengan tatapan tajam namun mengartikan sesuatu.
"Kenapa liatin aku terus. Menghadap depan sana!"
Farhan menggelengkan kepalanya dan terus memperhatikan istrinya. Tatapan seolah ingin menerkamnya. Tidak apa-apa kan, kalau ia meminta lebih kepada istrinya. Toh, Adeela juga sudah terlanjur hamil olehnya.
"Boleh, aku menciummu?"
"Hah." Ucapan suaminya membuatnya melongo. Ternyata suaminya dari tadi ternyata menyiratkan arti itu.
"Mati, aku. Cari cara, cari cara." Gumamnya dalam hati berusaha mencari cara untuk bisa menggagalkan kemauan suaminya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Jangan lupa vote nya ya, kk. Like dan komen juga jangan ketinggalan. Hari ini aku bakalan up banyak, karena ini adalah hari yang spesial makanya aku up banyak😊😉.
__ADS_1
Salam story from By_me