
"Aww... Perut aku sakit banget... Aww...." Ringisnya sambil tangan kirinya meremas roknya. Sedangkan tangan yang satunya ia gunakan untuk mengelus perutnya yang tiba-tiba permukaannya sangat keras dan tegang.
Semua orang serentak melebarkan matanya dan saling pandang satu sama lain. Semakin lama, Adeela semakin meringis kesakitan. Mommy sangat panik berada di situasi ini. Mommy panik dan khawatir karena ia pernah berada pada situasi ini.
"Deela kayaknya mau ngelahirin, Gas! Telpon, Ntin, sekarang!" Titah Nenek pada anaknya. Karena sampai jam segini, cucu nya itu belum juga pulang. Papi Bagas pun berjalan menjauh dan mencoba menghubungi anaknya.
Adeela mencoba menyenderkan badannya ke sofa. Menarik nafas dan menghembuskan untuk mengurangi rasa sakitnya. Matanya ia pejamkan saat rasa nyeri itu perlahan hilang.
"Aku pengen pipis, Mi." Adeela pun dibantu oleh Mommy untuk buang air kecil di toilet. Sekitar se-menit Adeela di dalam toilet sampai pada akhirnya Adeela keluar dari sana. Adeela memberitahukan pada Mommy bahwa ada lendir bercampur darah saat tadi ia di dalam toilet.
Mendengar hal itu, Mommy pun kembali menuntun Adeela kembali ke ruang keluarga dan memberitahukan kondisi menantunya pada Nenek Rosi.
"Dimana anak itu. Jam segini belum pulang juga. Kalau nanti ketemu, ku bejek-bejek. Istrinya mau ngelahirin, dia enak-enak jam segini belum pulang. Awas aja!" Gerutu Nenek kesal pada cucunya.
Papa Bagas yang baru saja datang menenteng tas perlengkapan Adeela, mendengar gerutuan Nenek.
"Sudahlah, Ma. Justin pasti masih sibuk. Aku sudah kirim pesan sama Justin kemana istrinya dibawa. Mending sekarang kita langsung ke rumah sakit."
Nenek dan Mommy pun segera membawa barang yang akan mereka perlukan. Setelah itu, mereka semua berjalan menuju kendaraan Papi Bagas yang sudah menunggu mereka di depan pintu.
Selama perjalanan, intensitas sakit yang ia rasakan semakin lama semakin sering. Kontraksi menjadi lebih sering dengan durasi yang semakin lama. Adeela mencoba untuk tenang dan menenangkan dirinya. Ia tidak boleh lemah, hal ini sudah pernah ia alami sebelumnya. Adeela menarik dan membuang nafas saat rasa sakitnya itu datang lagi.
Jalanan dan situasi pun rasanya tidak mendukung. Mengingat sekarang adalah waktu sibuk, waktu macetnya kota metropolitan.
Mommy, Papi dan Nenek menghembuskan nafas saat Adeela telah berada di atas kursi roda dan di dorong oleh perawat menuju ruangan bersalin. RS Ibu dan Anak xx tempat Adeela dibawa saat ini. Papi mengurus segala administrasinya. Sedangkan Mommy dan Nenek menunggui Adeela di depan ruangan bersalin. Mereka berdua menunggu dengan raut wajah khawatir tampak di sana. Terutama Mommy yang takut terjadi sesuatu pada menantunya. Mommy takut jika Adeela mengalami hal yang pernah dialami almarhumah istri Justin yang pertama.
Bagaimana kondisi cucu saya, dok?" Tanya Nenek saat dokter wanita yang usianya terlihat masih muda keluar dari ruangan Adeela.
"Kami telah melakukan pemeriksaan pada pasien. Untuk pembukaan serviks/leher rahim sudah memasuki 6 cm, Nek."
__ADS_1
"Masih lama, enggak, dok?" Tanya Nenek lagi.
"Karena ini adalah persalinan yang kedua untuk Ibu Adeela, pembukaan serviks biasanya 1.5 cm tiap jam nya untuk (Multipara). Jadi, mungkin satu atau dua jam lagi Ibu Adeela akan melahirkan. Tapi kembali lagi, pembukaan serviks pada setiap Ibu bersalin itu berbeda-beda. Ada yang cepat dan ada yang terhitung lama. Tergantung daripada kontraksi dan beberapa hal yang mengikuti. Kita doakan dan selalu dampingi pasien."
"Baik, terima kasih atas penjelasannya, dok!"
"Iya, Nek. Tapi sebelumnya, suami dari Ibu Adeela dimana?" Tanya dokter yang bernama Vanya terlihat dari papan namanya.
"Cucu saya sebentar lagi akan sampai, dok."
"Baiklah. Kalau suami dari pasien sudah datang, pastikan kalau suaminya mendampingi proses persalinan pasien. Beri makan dan minum apabila tidak terjadi kontraksi. Bisa juga diganti dengan makan-makanan seperti roti dan minuman yang manis jika pasien tidak mau makan-makanan yang berat. Biarpun sedikit, tapi sering asalkan pasien tetap mengisi tenaga untuk proses persalinan nanti."
Nenek dan Mommy mengucapkan terima kasih pada dokter. Setelah kepergian dokter Vanya, Nenek dan Mommy kembali duduk. Karena Justin yang tak kunjung datang, Mommy pun akhirnya masuk ke dalam ruangan Adeela dan menemaninya. Mommy berusaha memberanikan diri untuk menemani menantunya, walau sebenarnya rasa takut mendiminasi. Nenek menunggu di luar karena hanya satu orang yang diizinkan untuk mendampingi pasien.
Akhirnya Papi pun datang setelah daritadi sibuk mengurusi proses administrasi menantunya.
"Sudah kamu hubungi, Ntin?" Tanya Nenek lagi.
Cukup lama mereka menunggu sampai pada akhirnya seorang suster keluar dari ruangan Adeela dan berjalan cepat menuju ruangan dokter yang tadi. Tak lama kemudian, dokter Vanya dan suster berjalan melewati mereka dan memasuki ruangan Adeela.
Seorang suster keluar dari ruangan Adeela dan menghampiri mereka."Bagaimana dengan suami pasien? Apa sudah datang? Pasien akan segera melahirkan. Akan lebih baik jika sang suami yang mendampingi!" Tanya suster pada Nenek dan Papi Bagas. Papi Bagas mencoba untuk berfikir mencari jalan keluar. Tapi untung saja sosok yang sudah sedari tadi ditunggu akhirnya muncul dengan berlari kearahnya.
Papi Bagas dan Nenek bernafas lega akan kedatangan Justin disaat yang tepat.
Baru saja Justin akan berbicara, telah disela oleh Papi nya.
"Sekarang kamu masuk ke dalam dan dampingi istrimu untuk melahirkan. Adeela sebentar lagi lahiran!" Ujar Papi penuh wibawa.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Justin yang masih ngos-ngosan harus segera masuk ke dalam sana dan mendampingi istrinya lahiran.
__ADS_1
Mommy pun keluar karena sudah ada Justin yang mendampingi.
Suasana kamar bersalin menjadi tegang. Justin dengan setia mendampingi istrinya dan membiarkan tangannya untuk diremas dan digenggam sekuat-kuatnya oleh istrinya.
"Ayo, Bu, didorong. Pakai tenaga perut jangan pakai tenaga kerongkongan. Ngeden nya kayak Ibu mau BAB! Ayo Bu, Ibu pasti bisa!" Support dokter, Bidan dan perawat yang mendampingi proses lahiran.
Adeela mencoba untuk mengikuti instruksi dari petugas. Karingat sebesar biji jagung mengalir di pelipis nya. Adeela mencoba menarik nafas yang panjang dan mencoba mengeluarkannya sekuat tenaga sesuai dengan aba-aba dari dokter tadi.
"Ughmmm!!!" Usahanya dengan cara mendorong sekuat tenaga. Namun pada percobaan pertama hanya nampak sedikit kepala bayi . Adeela menormalkan nafasnya dan berusaha untuk kembali mencoba
"Ayo, Bu. Kita coba lagi. Ibu jangan menyerah. Ibu pasti bisa. Ingat kata saya tadi, ngeden-nya kayak Ibu mau BAB, Ok!
Adeela mencoba menganggukkan kepalanya mengerti dan mencoba sekali lagi.
Terjadi hal dramatis di dalam ruangan bersalin yang Adeela tempati saat ini. Biasanya sang Ibu yang akan menangis saat sudah kesakitan dan anaknya tidak kunjung keluar seperti ini. Tapi yang terjadi malah kebalikannya. Justin yang menangis dan sempat membuat fokus dari dokter, Bidan dan Perawat teralih beberapa detik kepadanya. Justin menangis di dalam sana. Berkali-kali ia coba menutup mulut dengan menggunakan lengan tangannya yang bebas dari genggaman istrinya agar suara tangisannya tidak terdengar oleh petugas. Namun hal itu hanya membantu sedikit. Karena sebenarnya, apa yang ia lakukan malah dilihat oleh petugas yang berada di dalam sana. Petugas hanya bisa tersenyum sekilas dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Ayo, Bu. Sedikit lagi, Ayo, Ayo. Iya, kepalanya sudah kelihatan. Didorong lebih kuat, Bu. Dorong!" Adeela yang mendapatkan support penuh dari para petugas pun mencoba sekuat tenaga. Bertarung antara hidup dan mati demi anak yang telah ia tunggu-tunggu. Hingga akhirnya suara tangisan pun menggema di sana. Terdengar suara kelegaan dari petugas yang mendampingi. Prosedur penanganan pada bayi baru lahir pun dilakukan dan si bayi diletakkan di atas perut si Ibu untuk melakukan yang namanya IMD.
"Selamat, Bu, Pak. Anak pertama berjenis kelamin laki-laki." Ujar dokter Vanya. Terlihat matanya melengkung ke atas dibalik masker yang ia gunakan saat mengatakan itu.
"Sekarang, Ibu coba ngeden lagi, Bu." Ujar Bidan saat kontraksi itu datang lagi terasa saat Bidan meraba perut Adeela.
Adeela dengan segala kekuatan yang ada, mencoba ngeden (mengejan) disisa kekuatannya yang tersisa. Justin sudah tidak lagi menangis. Ia mencoba memberikan support penuh pada istrinya. Dengan sekali dorongan, si bayi mungil kedua pun akhirnya lahir malam itu.
"Selamat, sekali lagi pada kedua orangtua baru ini. Jenis kelaminnya perempuan. Anak kalian sepasang. Selamat!" Adeela tak kuasa lagi menahan linangan air matanya. Adeela menangis tak kuasa saat melihat kedua anaknya lahir dengan selamat. Memang dari awal, Adeela dan Justin lebih memilih untuk merahasiakan perihal jenis kelamin dari anak-anak mereka.
********
Tersisa beberpaa part lagi baru aku tamatin. Semua masalah yg kmrin blm terungkap, part selanjutnya akan aku selesein. Dan untuk Farhan dan Kyla, kita lihat akhirnya mereka seperti apa yak👍
__ADS_1
Jangan lupa like nya, komen dan vote nya dong. Jangan pelit2 atuh. Kan udah mau tamat ini🥰😁
Salam story from By_me