
POV Adeela
Kalian tahu, hari ini adalah hari yang telah lama aku nanti-nantikan. Hari ini, aku akan mendatangi seseorang yang sangat berpengaruh dalam hidupku, dia yang telah merubah hidupku 180°. Siapa lagi kalau bukan Kyla Axelle. Ya, hari ini aku akan menemuinya untuk sekedar memberikan salam perpisahan sebelum akhirnya kami benar-benar tidak lagi bertemu.
Sebagai seseorang yang telah memberikan kesan terdalam pada hidupku, sudah sepatutnya aku juga melakukan hal yang sama. Bukankah seperti itu! Mungkin sedikit wejangan dan salam perpisahan aku berikan sebagai tanda hormatku pada seorang yang telah membawaku pada tahap ini.
Tepatnya pukul 10 pagi, aku sudah bersiap-siap untuk mengantarkan Kyla pada peristirahatan terakhirnya. Bukan, maksudku, aku akan mengantarkan Kyla keluar dari rumahku.
Saat aku menuruni mobil yang kukendarai, bertepatan juga dengan dia yang berjalan keluar dari rumahku dengan membawa barang-barangnya keluar dari sana. Waktunya sangat tepat sekali bukan! Sepertinya, kali ini Tuhan sedang berpihak kepadaku.
Dari jauh, kulihat dia keluar dari rumah dengan wajah yang sangat ditekuk dan dengan mulut yang senantiasa bergerak entah apa yang sedang ia ucapkan. Namun semakin dekat jarak kami, dapat kutangkap bahwa ia sedang mengumpat dan mengeluarkan semua nama-nama hewan di kebun binatang.
Aku melangkahkan kakiku dengan penuh percaya diri memasuki halaman rumahku. Dapat kulihat wajah tidak bersahabatnya saat mata kami saling bertemu. Kuberikan senyum termanisku sebagai bentuk kesopanan. Namun bukannya membalas, dia malah menatapku dengan tatapan yang tajam.
Dia memberhentikan langkahnya dan berdiri tegak sambil bersedekap.
"Selamat pagi menjelang siang, mbak Kyla!" Sapaku padanya.
Bukannya menjawab, dia malah terlihat semakin marah.
"Jangan berlagak sok baik kamu!" Jawabnya dengan penuh amarah dan dengan wajah yang memerah.
"Eitsss,,, sabar mbak. Sepupu iparku yang cantik. Apakah seperti ini caramu menyambut ISTRI dari sepupumu? Sungguh tidak sopan!"
"JANGAN PERNAH PANGGIL AKU SEPUPU IPAR! AKU BUKAN SEPUPUMU!" Jawabnya dengan lantang dan menunjuk tepat di depan wajahku.
Adeela menyunggingkan senyum miringnya mendengar ucapan Kyla. Adeela berjalan dua langkah ke depan agar jarak mereka semakin dekat.
"Jadi kalau bukan SEPUPU IPAR, aku harus memanggil mbak Kyla dengan sebutan apa?" Ucapku dengan berlagak berfikir, "Oh, Atau mungkin mbak Kyla lebih suka kalau aku memanggil mbak dengan sebutan PELAKOR!"
Dan apa yang aku harapkan terjadi juga, dia sepertinya sudah terpancing akan ucapanku tadi.
__ADS_1
"Kurang ajar!" Amarahnya tak bisa lagi ia tahan. Ia mengangkat tangannya dan berniat melayangkan tamparan ke wajahku, namun tanganku sudah siap siaga menangkapnya.
"Mau apa kamu, hah?" Tanyaku mencengkeram tangan kanannya dengan erat dan menatapnya tak kalah tajam. "Berani menyentuh wajahku sedikit saja, aku tidak lagi segan-segan untuk melukaimu. Kamu kira selama ini aku diam lantas kamu mau seenaknya?! Salah, Kyla. Aku sudah lama menyimpannya dan tidak bisa lagi kusembunyikan. "
Kuhempaskan tangannya dengan kasar. Dapat kulihat ia menahan sakit akibat cengkeraman tanganku tadi.
"Kurang ajar. Dari awal aku sudah curiga sama kamu. Aku sangat yakin, kalau kamu yang telah merencanakan semua ini."
Aku kembali menyunggingkan senyum miringku .
"Uppss, ketahuan deh. Jadi, bagaimana dengan aktingku, mbak? Bagus kan?"
Ia semakin marah saja. Kyla mengepalkan tangannya dengan erat sambil menatapku dengan penuh amarah.
"Aku akan mengatakan semuanya pada mas Farhan biar dia tahu kebusukanmu selama ini."
"Silahkan, mbak. Kamu kira aku takut?! Oh, tidak. Lagian, kamu kira mas Farhan akan percaya dengan kamu setelah apa yang telah kamu lakukan, ckkk."
"Sayangnya, yang akan dibuang di sini bukan aku, tapi kamu. Dari awal mas Farhan telah salah karena memungut barang bekas. Bagaimanapun caranya dia memoles barang bekas itu, tetap saja hasilnya tidak akan sama. Barang itu tetap akan menunjukkan jati dirinya, kalau dia itu adalah barang bekas!"
Dia semakin kebakaran jenggot. Ia berteriak menumpahkan kemarahannya, namun tidak berani menyentuhku setelah ancaman yang tadi kuberikan padanya. Kulihat ia sangat tersiksa.
"Kamu lihat saja, aku akan membalaskan dendamku!"
"Aku tidak sabar menantikannya, mbak!" Jawabku mengejek disertai senyuman selamat tinggal.
Ia mengepalkan tangannya erat dan setelah itu ia berjalan ke depan meninggalkan rumahku dengan amarah dan kekesalan kepadaku.
"Selamat tinggal, mbak. Selamat menikmati hari-hari sebagai JANDA KEMBANG!"
Kyla berjalan keluar dengan menghentakkan kakinya di tanah dengan kedua tangannya menarik dengan susah payah barang bawaannya.
__ADS_1
"Huffff...lega rasanya telah mengeluarkan semuanya!"
Walau tanpa cara kasar, aku tetap merasa puas telah membalaskan dendamku padanya. Tidak semua hal harus dilakukan dengan cara kekerasan. Kita harus pintar-pintar untuk membalaskan dendam agar stamina kita tidak terbuang sia-sia. Bukankah kalau kita marah dan berteriak akan membuat ratusan urat saraf yang ada di wajah tertarik pada saat itu, sehingga wajah menjadi tegang dan tentunya akan cepat tua. Heol, aku tidak ingin.
Saat Kyla telah menghilang dari pandangan, aku pun berjalan memasuki rumah yang telah lama aku tinggali ini. Yang menjadi saksi bisu malam kelam itu.
Aku disambut oleh mbok Diah. Mbok Diah terlihat sangat bahagia melihat kehadiranku. Karena sudah lama aku tidak pernah lagi dilihatnya.
"Aku mau ngambil foto nya Nurhan, mbok. Mbok masih simpan kan foto anakku?" Ya, nama almarhum anakku, Nurhan Fadilla Fahrusi. Anak semata wayangku yang cantik dan menggemaskan. Aku sengaja mau mengambilnya, agar saat aku merindukannya aku bisa memandangi fotonya. Aku mau mengambilnya karena sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan mas Farhan.
Mbok Diah pun membawaku menuju ke arah gudang. Mbok terlihat membuka satu per satu kardus.
"Ketemu!" Ucapnya sambil membersihkan debu yang menempel di kaca foto anakku.
Aku berjalan mendekat dan mengambil foto itu dari tangan mbok Diah.
Kuusap bingkai foto itu dan memeluknya di dada. Kembali dada ini sesak saat kulihat senyum indah anakku dengan pipi gembulnya. Air mata ini menetes membayangkan berharap bisa memeluk erat badan mendiang anak gadisku.
Aku mencoba menarik nafas panjang untuk menghentikan sesak di dada. Setelah itu kuusap air mataku dan mengucapkan terima kasih pada mbok Diah.
Kuambil semua bingkai foto anakku, mulai saat ia dilahirkan sampai usianya beranjak dua tahun. Setiap momen pertumbuhannya aku abadikan dan kujadikan bingkai foto. Setelah mengambil semua foto itu, aku pun pamit pada mbok Diah.
"Aku berharap mengenai kedatanganku ke sini, mbok tidak memberitahukannya pada mas Farhan."
Mbok Diah manggut-manggut. Setelah itu aku memeluk mbok Diah sebagai salam perpisahan dariku, karena aku tidak akan lagi bertemu dengannya.
🍁🍁🍁🍁
Happy reading kakak😚
Jangan lupa dong like sama vote nya!
__ADS_1
Salam story from By_me