
Setelah ganti baju dan melakukan skincare routine nya, Adeela pun naik ke atas ranjang setelah mematikan lampu kamar lalu menyalakan lampu tidur yang terletak di sampingnya. Setelah itu Adeela merebahkan dirinya di samping suaminya. Setelah makan malam tadi, suasana sudah kembali hangat. Mommy Bella kembali tersenyum dan mereka banyak menghabiskan waktu di ruang keluarga bercengkerama sambil saling mendekatkan diri dan mengenal satu sama lain. Hanya saja, sangat jelas terlihat jika mertuanya itu habis menangis. Terlihat dari matanya yang sembab.
Banyak sekali teka-teki di dalam hatinya tentang keluarga suaminya. Ada sesuatu yang ia tidak ketahui. Adeela tidur dengan posisi miring menghadap Justin yang saat ini sedang tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar. Satu tangannya ia gunakan untuk menyangga kepalanya. Justin terlihat memikirkan sesuatu.
"Kamu lagi mikirin apa, Ntin?" Tanya Adeela pelan pertanyaannya itu seketika membuat Justin tersadar dan menoleh ke arahnya.
"Kamu manggil siapa tadi?" Tanyanya
"Manggil kamu, lah, Mas! Memang siapa lagi yang ada di kamar ini selain kamu."
"Bukan itu, nama siapa tadi yang kamu sebut?" Tanyanya. Setelah itu, Justin merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Adeela.
"Nama kamu."
"Enggak. Coba ulangi lagi panggil nama aku!" Adeela mengerutkan keningnya mendengar ucapan suaminya.
"Justin!"
"Bukan itu, yang tadi waktu kamu manggil aku!"
Oh, yang itu. Pikirnya.
"Ntin?"
"Hmm, Ntin! Kamu sadar enggak udah ngerusak nama aku yang sangat aestetic menjadi, Ntin!"
"Memang nama kamu, Ntin, kan. Aku udah bener kok. Kan Ntin itu berasal dari nama belakang kamu."
"J.U.S.T.I.N, Deel. Justin, bukan Ntin!" Ejanya yang membuat Adeela tertawa dibuatnya. Apa salahnya sih, di sebut dengan panggilan seperti itu.
"Ah, biarin aja kali. Ntin itu adalah nama panggilan sayang aku sama Nenek buat kamu tahu!" Godanya sambil tertawa puas menjahili suaminya. Justin mendengus tak suka melihat Adeela yang menertawainya.
"Kamu sama Nenek sama aja!" Jawabnya sambil mengubah posisi tidurnya.
Adeela lagi-lagi dibuat tertawa oleh sikap Justin yang seperti ini. Masalah panggilan saja dipermasalahkan. Menurutnya panggilan Ntin itu lucu tahu. Ntin, Titin.
Setelah puas menertawai suaminya, Adeela pun mendekati suaminya yang telah berbaring telentang.
__ADS_1
"Kamu kenapa, sih? kok jadi sensitif gini. Aku aja yang kalau datang bulan enggak kayak kamu." Tidak ada jawaban dari suaminya.
"Kamu kenapa, sih? Ada masalah? Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Walaupun aku modelannya kayak gini, aku bisa jadi tempat curhat yang baik, kok!"
Justin tidak menjawab. Cukup lama mereka terdiam sampai akhirnya, Justin memilih untuk kembali merubah posisi tidurnya menghadap Adeela.
"Kamu yakin mau dengar curhatan aku?"
Adeela menjawab dengan deheman dan anggukan kepala. Adeela menunggu untuk beberapa saat, mereka hanya saling memandang namun Justin tak kunjung memulai sesi curhatnya.
"Aku bakalan cerita, tapi bukan sekarang! Aku takut, nanti aku enggak bakalan bisa jaga image di depan kamu!"
"Image apaan! Enggak usah jaga image di depan aku. Orang aku udah tahu kok, kalau kamu itu bobroknya seperti apa!" Jawabnya cepat mengingat sosok Justin yang sangat sering menjahilinya dahulu.
"Kamu merhatiin enggak sih, kalau selama ini aku itu bobroknya hanya di depan kamu. Dan orang yang aku jahilin itu cuma kamu!"
Adeela mengingat-ingat apa yang baru saja Justin katakan. Jika difikir-fikir, memang ada benarnya juga apa yang Justin katakan. Justin hanya menjahili satu orang sewaktu masa putih abu-abu. Dan orang itu adalah dirinya. Adeela yang tersadar pun, seketika memicingkan matanya menatap mata suaminya ingin meminta penjelasan.
"Itu yang jadi pertanyaan aku sampai sekarang. Sebenarnya ada masalah apa sampai kamu itu suka jahat sama aku dulu?" Tanyanya menuntut.
"Kamu mau tahu karena apa?"
"Karena..." Adeela menunggu apa jawaban Justin.
"Karena... kamu itu... jelek!"
"Jawaban yang sangat klise!" Jawabnya sambil geleng-geleng kepala.
Dan Justin hanya tertawa menanggapinya.
"Oh, iya, aku punya sesuatu buat kamu!" Ujarnya sambil turun dari ranjang dan menyalakan lampu kamar. Berjalan menuju walk in closet. Tak lama kemudian, Justin kembali dengan membawa kotak kecil berbentuk persegi panjang di tangannya.
Adeela bangun dan duduk sambil menunggu Justin yang kini telah naik ke atas ranjang.
"Apaan itu?" Tanyanya penasaran.
Justin tersenyum singkat, setelah itu ia membuka kotak persegi itu di depan Adeela. Adeela seketika membulatkan matanya menatap isi dari kotak itu. Sebuah anting berwarna putih dengan manik yang indah dan juga kalung yang di tengah-tengahnya berkilau putih, berlian guys.
__ADS_1
"Buat aku?"
Justin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.
"Seriusan? Ini kamu yang beliin?" Tanyanya. Tumben bang bule jadi baik padanya.
"Bukan! Jawabnya cepat, "Ya akulah, masa bang Toyib!" Bang Toyib adalah satpam yang berjaga di rumahnya. Adeela mengerucutkan bibirnya sekilas, setelahnya senyumnya mengembang sempurna. Wanita mana yang tidak berbinar diberikan hadiah seperti ini, pikirnya.
"Makasih, ya, Mas!" Ucapnya lembut.
Justin geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.
"Dikasih ginian aja, baru manggilnya, Mas!" Adeela terkekeh mendengarnya. Karena memang benar adanya. Justin mengambil kalung berlian di dalam kotak, "Sini, aku pasangkan kalungnya!"
"Disimpan aja. Kan aku mau tidur. Biar ini aku simpan di lemari."
"Enggak, pake sekarang. Aku mau lihat cocok atau enggak di leher kamu."
"Ya, pasti cocok lah!"
"Jangan banyak bantah. Sini cepat, aku pasangin." Mau tidak mau, Adeela pun menuruti keinginan suaminya.
Justin berpindah posisi duduk di belakang istrinya. Kalung berlian tadi, ia pasangkan di leher istrinya. Adeela mengangkat rambutnya dan dipindahkan ke samping kanan agar memudahkan Justin memasang kalung tadi.
"Gimana? Cantik kan?"
Adeela mengangguk mantap melihat kalung pemberian Justin mengalung di lehernya. Sangat indah dan elegan menurutnya.
"Makasih, ya, Mas!" Ujarnya berbinar sambil tersenyum senang.
Justin ikut tersenyum melihatnya. Tidak lama kemudian sebuah benda kenyal menyentuh tengkuk Adeela. Hal itu sontak membuat bulu kuduk Adeela meremang.
"Tapi hadiahnya enggak gratis! Kamu harus bayar!" Ujar Justin yang membuat Adeela seketika mengerti. Dasar suami, kasih hadiah harus dibayar. Dasar modus. Adeela bukannya tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya sebagai 'harus bayar' hanya saja, saat ini ia sangat capek.
"Tapi..." Baru saja Adeela ingin berbicara, Justin sudah melanjutkan aksinya dengan menyentuh area-area sensitifnya. Perlakuan itu pun berhasil membuat Adeela bungkam dan berakhir dengan mereka yang menghabiskan malam yang panas di tengah orang-orang yang sedang terbaring istirahat.
***************
__ADS_1
Ya, bang bule bisa aja modusinnya🤭🤭😆