MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Bertemu Farhan


__ADS_3

"Maaf aku lama, Mas." Ujarnya dan berjongkok di depan anaknya. Karena pertemuan dengan Kyla tadi, waktu yang seharusnya bisa ia gunakan untuk mengobati anaknya lebih cepat, malah jadinya seperti ini. Ia masih tidak habis fikir dengan jalan fikiran wanita itu. Muka wanita itu sangat tebal, sehingga dengan entengnya menampakkan wajah dan meminta hal seperti tadi. Adeela menggelengkan kepalanya. Urusan percintaan Farhan dan juga Kyla, sudah bukan menjadi urusannya. Dan ia tidak mau tahu lagi berita tentang keduanya. Sudah cukup ia menahan diri saat terbangun dari komanya dan hidup kembali bersama dengan Farhan. Sakit itu melekat, apalagi saat ia bertatapan dengan Farhan yang memasang wajah tidak bersalah setiap mereka berdua. Adeela menggelengkan kepalanya dan mengenyahkan fikiran yang berseliweran di kepalanya.


"Sini, biar aku aja yang obatin, Deel!" Pinta Justin pada istrinya.


"Enggak usah, Mas. Biar aku aja."


Adeela pun melipat ujung lengan pada baju anaknya, agar memudahkannya mengobati luka lecet pada siku anaknya.


Saat kapas ia tempelkan pada luka anaknya, Arka kembali lagi menangis. Adeela dibuat meringis dan tidak tega melihatnya. Dengan pelan pun, Adeela melakukannya kembali sampai selesai.


"Udah selesai, sayang. Kasihan, anaknya Bunda. Siku nya sakit, ya, sayang?!" Ujarnya menatap anaknya. Arka yang ditanya seperti itu, pun hanya menganggukkan kepalanya. Bibir anaknya sudah manyun kebawah ingin kembali menangis, namun dengan cepat Adeela mengambil alih anaknya dari suaminya. Adeela berusaha menenangkan anaknya dengan menepuk-nepuk pelan punggung anaknya.


Arshila sudah berada pada gendongan Papanya. Arshila sempat menangis tadi saat kakaknya terluka seperti itu. Namun dengan telaten, Justin menenangkan anaknya.


Karena situasi yang sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan liburan di taman, akhirnya mereka pun sepakat untuk kembali ke rumah. Kini Arka dan Chila sudah terlelap di kursi belakang.


Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka akhirnya sampai di rumah. Adeela dan Justin segera membawa anaknya ke dalam kamar. Direbahkannya anaknya dengan pelan di atas kasur.


"Jujur, aku takut kalau ngelihat anak-anak terluka seperti itu, Mas." Ujar Adeela sambil memperhatikan anaknya.


"Aku tahu itu, Deel." Jawab Justin. Justin tahu hal apa yang mendasari istrinya bisa se-parno itu. Dan mungkin karena kejadian itu pulalah yang mendasari istrinya menjadi takut terjadi apa-apa pada anak mereka. "Selama masih ada aku dan kamu, anak kita pasti baik-baik aja, Deel." Dan Justin tidak ingin istrinya terus-terusan mengingat kenangan pahit yang dulu. Walaupun kenangan pahit itu tidak bisa dilupakan sampai kapanpun, tetapi ia berjanji akan mengobati luka itu.


*********


"Kamu sudah di mana, Mas?" Tanya Adeela diseberang telepon. Pagi tadi, suaminya berjanji akan menjemputnya di toko setelah pulang dari kantor.

__ADS_1


"Sebentar lagi sampai, Deel. Ini lagi macet banget, berasa mobil enggak jalan-jalan." Gerutunya di seberang telepon. Adeela yang mendengarnya hanya bisa tertawa.


"Namanya juga Jakarta, Mas. Macet sudah menjadi makanan sehari-hari kali!" Jawabnya.


Justin yang mendengarnya hanya bisa menarik nafas panjang.


"Yaudah, ini toko udah mau aku tutup. Aku nuggu di depan toko, ya."


"Iya, 5 menit lagi sampai ini." Setelah mengucap salam, Adeela pun mematikan ponselnya dan mengeluarkan kunci dari dalam tasnya. Semua karyawan sudah pulang beberapa menit yang lalu. Setelah memastikan semua sudah aman, Adeela pun menunggu di depan tokonya. Kursi rotan yang sengaja ia letakkan di depan tokonya menjadi tempat favoritnya saat sedang menunggu seperti ini. Sambil melihat suasana kota Jakarta dan para orang yang berlalu lalang di Mall depan tokonya.


Saat sedang asyik scroll di sosial media, suara deheman lelaki terdengar di depan sana. Adeela yang mendengarnya pun mengangkat kepalanya dan menemukan mantan suaminya berdiri di depan sana.


Farhan tersenyum simpul dan memperlihatkan senyum tulusnya pada Adeela. Adeela yang melihatnya pun mengerutkan alisnya. Ada apa dengan lelaki ini. Seingatnya, terakhir kali saat mereka bertemu Farhan sangat marah dan memakinya. Dan sekarang...


"Hy, apa kabar, Deel?!" Ucapnya masih dengan senyumnya ia tampakkan.


"Alhamdulillah, baik." Ujarnya dan meletakkan ponselnya di atas meja. "To the point saja, Ada apa Anda kesini?" Ujarnya tidak ingin berbasa-basi.


Farhan berdehem dan raut wajahnya sudah kembali datar.


"Aku tidak diisinkan duduk dulu?" Ujarnya mencoba mencairkan suasana.


Adeela tidak menjawabnya, ia hanya menatap Farhan dengan alis bertaut.


Farhan yang tidak mendapat jawaban pun, akhirnya memilih untuk berada pada posisi semula.

__ADS_1


Farhan kembali berdehem sebelum ia berbicara. Entah mengapa seketika saja tenggorokannya terasa kering. Tangannya ia masukkan ke dalam kantong celana. Ia sedang tidak percaya diri.


"Aku... Aku mau minta maaf, Deel!" Ujarnya yang seketika membuat Adeela mengarahkan kepalanya menatap Farhan.


"Aku menyesali semua perbuatanku dulu, Deel. Sekarang aku berharap kamu mau memaafkan kesalahan dan kekhilafanku dulu." Ujarnya dengan raut wajah penuh penyesalan. Mereka saling diam-diaman untuk sesaat. Sampai pada akhirnya Adeela kembali berbicara.


"Tidak ada khilaf yang berjalan sampai bertahun-tahun, Farhan. Khilafnya Anda itu terjadi berulang-ulang. Itu bukan khilaf namanya."


Farhan yang mendengarnya pun seketika terdiam. Semua kosa kata yang telah ia susun rapi di dalam kepala, seketika buyar. Memang benar apa yang Adeela katakan.


"Tapi walaupun begitu, semuanya juga sudah terjadi. Tidak ada lagi yang perlu disesali. Semua sudah terjadi. Jalan hidup yang Anda pilih kemarin, sudah merubah semuanya! Terutama, saya dan juga Nurhan." Adeela mengatakannya sambil menatap Farhan. Menanti bagaimana raut wajah lelaki yang ada di depannya. Farhan hanya bisa menundukkan kepalanya dengan wajah yang sudah memerah.


Kembali, suasana hening. Adeela meremas tangan yang ia letakkan di atas paha. Ia mencoba menarik nafas panjang. Jika membahas tentang masa lalu, seketika dadanya terasa sesak dan nyeri.


"Tapi apakah Anda mau tahu sedikit tentang, Nurhan? Saat terakhir dia menghembuskan nafas terakhirnya?!" Ujarnya menatap mata Farhan. Farhan yang wajahnya memerah, menganggukkan kepalanya dengan pelan. Detik berlalu sampai Adeela kembali berbicara.


"Anak itu saat terakhir dari waktunya yang tersisa, Anda mau tahu nama siapa yang dia sebut?"


Farhan hanya diam seribu bahasa dengan wajah yang sudah memerah menahan tangisnya. Farhan menanti setiap kata yang keluar dari mulut Adeela. Sesak semakin terasa saat itu.


"Nama Anda!" Jawabnya sambil menunjuk Farhan.


*********


Jangan lupa klik like, komen dan vote nya kakak😘🤗

__ADS_1


Besok udah tamat yah!


Salam story from By_me


__ADS_2