
POV Farhan
Mengetahui istriku pergi dari rumah dan meninggalkanku, bagaikan duniaku serasa runtuh. Aku yang telah jatuh hati untuk yang kedua kalinya kepada sosok Adeela, istri pertamaku, harus menelan pil pahit saat mengetahui dia meninggalkanku.
Ya, dia telah pergi. Dia pergi tanpa rasa bersalah sama sekali telah membuatku serasa seperti orang gila.
"Arghhhh...." Kutarik rambutku ke belakang merasa frustrasi atas apa yang baru saja kuketahui. Aku telah membuat Adeelaku pergi meninggalkanku dan mungkin saja ia membawa serta anakku bersamanya. Menyisakan aku seorang diri layaknya orang gila.
Aku menangis sambil meratapi apa yang telah terjadi.
"Deela, Reyhan! Jangan tinggalkan aku!" Lagi-lagi aku meraung-raung memanggil nama mereka.
"Arghhhh." Kupukul lantai kamarku untuk melampiaskan segala sakit hati, rasa bersalah dan kebodohanku.
Semua salahku, Adeela telah merencanakan semuanya dari awal. Salahku, telah menorehkan luka yang mendalam padanya. Tapi, selama beberapa bulan ini aku merasa telah menebus kesalahanku dengan menemaninya dan mendampinginya dengan sabar. Dan sekarang, Adeela pergi tanpa mendengar permintaan maaf dan pernyataan cintaku padanya.
"Adeela, maafkan aku, Deela!" Ucapku disela isak tangisku. Ah, aku menjadi lelaki yang lemah.
Detik kemudian, kuhapus air mataku dan mencoba bangkit. Aku tidak bisa hanya berdiam diri dan menangisi apa yang telah terjadi. Aku harus mencari istriku, meminta maaf dan membawanya kembali padaku. Adeela tidak bisa pergi dariku.
Aku berjalan keluar dari kamar dan mengambil kunci mobil yang tadi kusimpan di atas meja makan. Lagi-lagi aku sedih dan terpukul saat melihat makanan dan memo yang terletak di atas meja makan. Aku yang awalnya dibuat berbunga-bunga oleh masakan dan tebak-tebakan Adeela, sesaat kemudian dibuat jatuh, sejatuh-jatuhnya mengetahui kejutan darinya.
Saat kaki ku menginjak halaman rumah, dari arah pagar kulihat mbok Minah menggandeng tangan Reyhan.
Reyhan dan mbok Minah pulang. Semoga saja, Adeela tidak benar-benar pergi.
__ADS_1
Kupercepat langkah kakiku mendekati mereka. Saat sudah sampai, segera kubawa anakku ke dalam pelukan. Kupeluk Reyhan dengan erat. Aku sangat takut ia juga akan pergi meninggalkanku. Selesai memeluk anakku, giliran aku menatap, mbok Minah.
Aku yang penasaran pun, mengajukan pertanyaan pada Mbok Minah.
"Mbok dari mana saja?"
"Saya, habis menemani, Reyhan main di taman, pak!"
"Terus, istri saya mana, mbok?"
Mbok Minah tampak mengerutkan kening mendengar pertanyaanku, "Loh, bukannya tadi, Nyonya ada di rumah ya, pak. Setahu saya, tadi Nyonya yang ngambil alih buat makan malam, bapak, nanti. Sebelumnya, saya sudah berniat untuk membantu Nyonya masak, pak. Tapi, Nyonya bilang enggak usah, karena pengen buatin makanan spesial buat bapak. Karena Reyhan yang pengen main, makanya mbok nemenin main ke taman kompleks, pak."
Huffft... Deela, apa maksud semua ini?!! Tega kamu ninggalin aku.
"Yaudah, sekarang Reyhan sama mbok Minah dulu ya, sayang." Kuturunkan, Reyhan dari gendongan.
"Papa mau keluar dulu, sayang. Enggak apa-apa, kan, Reyhan, Papa tinggal sebentar?"
Anakku hanya manggut-manggut. Kuusap kepalanya dan membelai wajahnya.
"Mbok, titip Reyhan sebentar, ya, mbok." Selesai pada urusan anakku, segera aku memasuki mobil dan melajukan kendaraanku menuju ke jalan berharap melihat Adeela. Kususuri jalanan dan memperhatikan kanan dan kiriku. Berkali-kali kucengkeram setir dan memukulinya merutuki kesalahanku.
"Deela, dimana kamu?!"
Karena tak kunjung mendapatkan tanda-tanda keberadaan istriku, kulajukan mobilku dengan kecepatan maksimal menuju kearah Bandara. Berharap mendapatkan petunjuk dari sana.
__ADS_1
Saat sudah sampai di Bandara, aku meminta tolong pada petugas Bandara untum mengecek apakah istriku melakukan penerbangan hari ini. Namun nyatanya, tidak ada nama Adeela di penerbangan pesawat apapun hari ini. Aku kembali dengan kekecewaan.
Kembali kulajukan kendaraanku keluar dari sana dan beralih menuju stasiun kereta, namun lagi-lagi jawaban yang sama aku dapatkan. Adeela benar-benar pergi tanpa jejak. Aku pun hanya memiliki satu pilihan, yaitu meminta tolong pada orang suruhanku untuk melacak keberadaan Adeela sekarang.
Malam semakin larut, karena perasaan kalut dan frustrasi kulajukan kendaraanku menuju sebuah bar yang terletak di tengah kota. Kuteguk minuman keras berharap dapat menghilangkan sedikit bebanku. Tiba-tiba dari arah belakang kurasakan badanku dielus seseorang. Kutatap tangan yang sudah berani mengelus pundakku dengan tatapan tajam.
"Pergi, sebelum amarahku tidak bisa aku tahan!" Ucapku dengan nada tegas penuh peringatan. Hanya sekali ancaman, wanita tadi sudah menjauh dariku.
Lagi-lagi kulanjutkan minumku. Meneguk minuman tadi dengan rakus.
"Deela!" Racauku dengan kepala yang sudah sangat sakit akibat minuman tadi. Aku membayar minuman yang sudah kuteguk, setelah itu aku berjalan keluar dari sana dengan langkah yang sempoyongan. Dengan setengah sadar kulajukan kendaraanku pulang ke rumah dengan kecepatan sangat pelan.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
POV Adeela
Ini adalah jalan kita, mas. Tidak ada gunanya lagi aku menemanimu dengan keadaan diriku menaruh dendam padamu. Setiap aku melihatmu, sakit hati itu terlintas lagi dan lagi. Aku sudah berada di batas sabarku, dan sekarang sudah saatnya aku meninggalkanmu. Kekaguman, Rasa penuh mendamba dan harapanku padamu telah engkau patahkan dengan sehari. Kau yang membuatku memilih jalan ini, mas. Jadi, biarkan aku pergi.
Awalnya, aku kira kamulah rumah ternyamanku dan tempatku kembali, nyatanya semua itu salah, mas. Kamu meruntuhkan tembok itu dan mematahkan harapanku. Aku akan mencari rumah ternyamanku mulai dari sekarang. Kamu tidak pantas menerima cinta ini, mas. Cinta besarku nyatanya salah tempat. Kamu tidak pantas menerima cinta ini, mas. Satu hal yang aku tahu sekarang, 'jangan mencintai seseorang melebihi cinta kita kepada Sang Maha Pencipta' jatuhnya akan sangat sakit. Dan aku telah merasakan dampak itu, jatuh sejatuh-jatuhnya. Semoga saja, Tuhan segera menghapuskan rasa sakit ini dan menggantikannya dengan kebahagiaan. Aku akan menantikan hari itu tiba.
Tapi, sakit hatiku sedikit terobati dengan apa yang telah kulakukan padamu, mas. Semoga saja kamu kapok dan tidak lagi melakukan hal yang sama. Awalnya terlintas pikiran jahat untuk melakukan sesuatu kepada anakmu dengan Kyla, namun untung saja malaikat disebelah kananku segera menyadarkan aku. Mata teduh Reyhan menyadarkan aku. Anak ini tidak memiliki salah apa-apa atas apa yang telah kau lakukan. Semoga saja, Reyhan tidak mengikuti jejakmu.
ππππ
Yah, aku kuatnya ngetik satu bab aja, jangan marah yakβ Besok-besok aku ganti dehππ
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan vote nya, oceeππ