MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Gagal Maning, Tong!


__ADS_3

Ada pepatah yang mengatakan, 'Sehabis gelap terbitlah terang'. Adeela menyetujui kata-kata itu. Karena Tuhan tidak membiarkan suatu tempat/kota mengalami satu musim saja. Musim pasti berganti. Seperti halnya kehidupan, tidak selamanya sedih yang dirasakan. Tuhan pasti akan memberikan bahagia setelah kesedihan menghinggapi hambanya. Hujan kan berganti terang. Dan saat ini, Adeela sangat berayukur atas jalan yang Tuhan berikan kepadanya.


Jalan terjal yang sempat ia lalui, kini telah berganti menjadi jalanan lurus dan tanpa hambatan. ia telah mendapatkan titik temu jalan yang harus ia tempuh. Tuhan telah menuntunnya sampai sejauh ini. Setelah lika-liku kerasnya kehidupan yang membuatnya buta dan lupa tentang kepada siapa cinta sesungguhnya harusnya ia berikan. Cinta yang seharusnya hanya diberikan sepenuhnya kepada Tuhan, malah diberikan sepenuhnya pada orang yang salah. Dulu ia salah tentang deskripsi kehidupan. Ia kiranya Farhan adalah hidupnya. Ternyata lelaki itu adalah pisau tajam yang dengan lincah dan tenangnya menusuk kehidupannya . Ia salah! Mungkin itu adalah salah satu teguran dari Tuhan karena telah mencintai hambanya melebihi cintanya kepada Sang Maha Pencipta.


Adeela tidak pernah lagi bertemu dengan mantan suaminya setelah insiden yang terjadi malam itu. Yang ia fikirkan kini adalah mantan mertuanya, Tante Rike. Apakah selama ini Tante Rike tidak mengetahui tentang kejadian yang selama ini terjadi padanya dan anaknya. Tante Rike memanglah orangtua yang keras dan agak judes. Namun Tante Rike tidak mungkin langsung menyalahkan orang lain atas hal yang tidak ia ketahui. Apakah selama ini...


Adeela menggelengkan kepalanya atas praduga yang berada di dalam kepalanya. Jika itu memang terjadi maka akan sangat kasihan seorang Kyla yang menjadi istri siri di belakangnya tanpa diketahui sedikitpun. Dan waktu selama itu, apakah Farhan menyembunyikan identitas Kyla dan juga anak mereka, Reyhan. Jika memang hal itu terjadi, maka Farhan benar-benar lah seorang titisan D*****.


"Ma...ma!" Celoteh anak-anaknya. Lamunannya terhenti oleh celotehan kedua anaknya. Arkana Airlangga prawiryo dan Arshila Airlangga Prawiryo. Kedua anaknya kini telah berusia 1 tahun. Mereka berdua tumbuh menjadi anak yang manis dan menggemaskan. Setiap ada yang melihatnya pastilah akan sangat gemas dibuatnya. Darah blasteran yang Papa nya turunkan membuat kedua bayi lucu itu memiliki wajah yang agak kemerahan, apalagi saat orang-orang menyubit pipi tembem keduanya. Mata hijau juga diwariskan oleh Papa nya. Adeela hanya mewarisi bibir dan senyumnya saja. Kedua anaknya itu adalah replika dari Papanya.


Pengalaman yang sangat berharga baginya bisa merawat kedua anaknya, bisa melihat serta memantau tumbuh kembang kedua buah hatinya. Kedua anaknya kini asyik berjalan diatas kerpet bulu yang ada di kamar mereka. Keduanya sudah bisa berjalan walaupun belum terlalu lancar. Adeela mengangkat kedua anaknya ke atas kasur dan berusaha membaringkan keduanya. Adeela memberikan dot yang telah ia isi dengan ASI nya. Adeela memang memerah susu nya dan menyimpannya di dalam freezer.


Kedua anaknya seketika anteng menyedot susu nya sambil memainkan kakinya.


Kakak sama Adek bobo, ya! Bunda juga udah ngantuk, sayang." Ujarnya sambil menemani kedua anaknya berbaring di atas kasur. Kasur kedua anaknya adalah kasur besar yang mampu menampung dua orang. Di desain memiliki pengaman di setiap sisi agar anaknya itu tidak jatuh saat sedang tertidur. Pengamannya bisa di pasang dan di lepas.


Adeela memperhatikan kedua anaknya yang semakin lama semakin terlelap. Lantunan sholawat dari bibirnya mengiringi waktu tidur kedua anaknya. Adeela tersenyum saat melihat wajah teduh kedua anaknya yang kini telah memasuki alam mimpi. Ia membelai rambut keduanya dan memberikan kecupan hangat pada dahi keduanya.


"Selamat tidur, sayang!" Ujarnya pelan pada kedua anaknya.


Saat ia akan mematikan lampu kamar anaknya, lengan kekar tiba-tiba melingkar di perutnya melingkupi badannya dari belakang.

__ADS_1


Adeela memegang dadanya yang hampir saja copot karena ulah suaminya. Beruntung saja


tadi ia segera menbekap mulutnya agar suaranya itu tidak menggangu tidur kedua anakya. Adeela yang dibuat kaget seperti itu pun memukul lengan suaminya.


"Kamu kebiasaan, ya, ngagetin aku. Kalau aku serangan jantung bagaimana?" Ujarnya dengan nada berbisik. Saat ini ia sudah menghadap kepada suaminya.


"Ya, mau bagaimana lagi, aku terpaksa harus cari istri baru!" Candanya yang seketika membuat Adeela melototkan matanya mendengar ucapan suaminya. Adeela bersedekap dan menatap suaminya dengan tatapan menelisik. Adeela menarik tangan suaminya keluar dari kamar anaknya. Ia tidak ingin anaknya terbangun gara-gara mendengar singa betina ngamuk.


"Oh, jadi kamu ada niatan untuk punya istri baru? Kamu mau nikah lagi?" Tanyanya menelisik raut wajah suaminya saat mereka sudah berada di depan kamar mereka.


Justin berusaha menahan tawanya melihat mode galak istrinya sedang on. Baru saja ia pulang dari kantor. Bersih-bersih dan mencari keberadaan istri dan anaknya. Sebenarnya sudah sedari tadi Justin memperhatikan istrinya yang dengan telaten menemani kedua anaknya. Melihat wajah istri dan anaknya membuat beban kerja yang ia tanggung karena kesibukan akhir-akhir ini, seketika menguap. Obat dari segala letih dan penatnya dalam bekerja adalah wajah dari orang-orang terkasih.


"Aku enggak ada niatan mau nikah lagi, Deel. Hanya saja, kalau kamu sudah 'hmm' ya, aku pasti harus menikah lagi. Masa selamanya aku harus jadi DUREN!"


"JADI DUDA SAJA SELAMANYA! Duda Renta!" Uajrnya dengan wajah memerah menahan kekesalan. Bagaimana bisa suaminya mengatakan hal seperti itu disaat dirinya saja masih hidup. Adeela berbalik badan meninggalkan suaminya menuju ke kamar mereka. Ia mendengus tidak jelas mengeluarkan segala isi hati dan fikirannya. Di tutupnya badannya menggunakan selimut sampai sebatas dada. Badannya tidur berbaring membelakangi pintu. Ia jadi tidak mood karena ulah suaminya.


Adeela merasakan jika kasur yang ia tiduri bergerak di bagian sampingnya. Suaminya itu semakin bergerak mendekat dan memeluk badan istrinya dari belakang.


"Maaf ya! Aku tadi itu cuma bercanda, Deel! Serius amat, sih, kamu! Maaf, ya!"


Adeela diam tak menanggapi ucapan suaminya. Justin yang telah membuat istrinya ngambek mode on harus memutar otak agar istrinya kembali dalam mode aman. "Deel! Jawab napa! Maaf, ya! Aku janji enggak bakalan nikah lagi, deh!"

__ADS_1


"Udah sana, nikah saja. Aku enggak apa-apa kalau kamu nikah lagi. Asalkan kamu ingat satu hal, jangan pernah ketemu aku sama anak-anak lagi!" Tegasnya melepaskan tangan suaminya dari perutnya.


Justin menepuk jidatnya karena telah membuat istrinya seperti ini. Kenapa juga ia melakukan hal tadi. Jelas-jelas akhir-akhir ini, istrinya sangat tidak bisa diajak kompromi. Istrinya menjadi sensitif. Mungkin karena capek merawat kedua anaknya yang sedang aktif-aktifnya, makanya istrinya jadi seperti itu pikirnya.


Justin mengeluarkan jurus andalannya dan mengambil sebuah benda yang mungkin mampu meluluhkan istrinya.


"Deel, lihat deh, aku punya sesuatu buat kamu!" Cukup lama Justin menunggu sampai pada akhirnya istrinya itu berbalik badan dan melihat benda yang ingin ia berikan.


"Makasih!" Jawabnya singkat dan mengambil cincin berhiaskan berlian itu dari tangan suaminya.


"Berarti aku udah dimaafkan, dong, Deel?"


"Aku fikir-fikir dulu!" Jawabnya singkat. Adeela kembali berbalik badan.


Justin hanya bisa membuang nafas kasar mendengar jawaban istrinya. Niat hati ingin bercanda, malah yang terjadi sebaliknya. Istrinya sangat sensitif akhir-akhir ini. Gagal deh dia minta jatah malam ini. Tau begini, ia tidak akan memancing amarah istrinya.


"Gagal maning! gagal maning, tong!" Ujarnya di dalam hati.


******


Jangan lupa like, komen dan vote nya!!!

__ADS_1


__ADS_2