MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Tak ingin memberikan kesempatan kedua


__ADS_3

Perjalanan pun dimulai. 20 menit kemudian Adeela pun telah sampai di depan hotel yang sudah ia pesan sebelumnya. Saat sudah sampai di dalam kamarnya, diletakkannya kopernya itu di pinggir ranjang dan melepas lelah sejenak di atas tempat tidur.


"Hah, leganya." Ucapnya saat badannya sudah menyentuh kasur. Ia sampai di penginapan pada sore hari. Rencananya acara reuni akan diadakan esok malam pada pukul 19.00 di resort teman seangkatannya.


Saat ia terhanyut dalam pembaringannya, ia tiba-tiba teringat bahwa ia belum memberitahu suaminya perihal kepergiannya untuk mengadakan acara reuni di Bali. Hari itu Adeela ingin memberitahukannya kepada Farhan, namun ucapannya terpotong karena ternyata jadwal penerbangan suaminya diajukan. Alhasil ia lupa memberitahukannya.


Segera Adeela bangkit dari atas kasur dan mengambil tasnya yang ia letakkan di atas meja. Dirogohnya ponselnya di dalam tas salempangnya dan menekan nomer suaminya untuk ia telepon.


Panggilan pertama tak diangkat, hingga tiga kali Adeela coba menghubungi suaminya namun suaminya tak jua mengangkat panggilannya. Adeela mengerutkan keningnya sambil berfikir mengapa suaminya tak menerima panggilan darinya. Nomer suaminya itu aktif, namun tak diangkat sama sekali.


Karena Adeela masih berstatus sebagai istri dari Farhan, maka ia tetap harus mengabari tentang kepergiannya ini. Walaupun dalam hati sudah sangat membenci suaminya.


Tak ada pilihan lain, Adeela pun mengirimi pesan singkat pada suaminya melalui Whatsapp dan memberitahukan perihal kepergiannya. Centang dua saat pesannya sudah terkirim, namun lagi-lagi pesannya itu belum terbaca. Ia mengedikkan bahunya dan melempar ponselnya di atas kasur.


Adeela pun berjalan menuju jendela besar di depannya. Disibakkannya gorden putih di depannya dan seketika cahaya mentari senja menerangi kamarnya.


Betapa indahnya pemandangan di depannya ini. Pantai pasir putih dan lautan luas terbentang di depan sana. Membuatnya serasa ingin menginjakkan kakinya merasakan hangatnya pasir putih di pantai itu. Jujur saja, selama ia menikah dengan Farhan, tak pernah sekalipun ia diajak ke pantai bersama. Baik dulu, maupun sekarang.


Saat sedang melamun dan mengagumi keindahan pemandangan di depannya itu, tiba-tiba ponselnya berdering di atas kasur. Mungkin suaminya yang kini menghubunginya. Segera Adeela mengamabil ponselnya, namun ternyata panggilan itu bukan dari suaminya melainkan panggilan dari sahabatnya, Anisa. Ada perasaan kecewa di dalam hatinya karena ternyata yang menelpon itu bukan suaminya.


"Halo, assalamualaikum, Nis." Sapanya saat panggilan sahabatnya telah ia angkat.


"Waalaikum salam, Deel. Kamu udah sampai kan? Ini aku ada di hotel xx, hotel yang berada tepat di depan pantai Kuta."

__ADS_1


"Oh, ya! Aku juga nginap di hotel xx, Nis. Kamar Kamu di lantai berapa?"


"Kamar aku di lantai 4, Deel, nomer 111. Kalau kamar kamu di lantai berapa, biar aku ke sana."


"Di lantai 6, Nis, Nomer 200. Enggak usah ke sini, biar aku aja yang ke bawah. Btw, mau enggak temenin aku jalan ke pantai. Aku pengen banget ke bawah, tapi enggak enak pergi sendirian."


"Ck, yaudah kita ketemu di lobi hotel aja. Aku siap-siap dulu, suami sama anak aku kayaknya juga mau ikut."


"Kyaaa, senangnya Dava juga ikut." Ucapnya riang di balik panggilannya. "Yaudah, aku juga mau siap-siap. Tunggu aku ya!" Ucapnya dengan antusias. Segera panggilannya ia putus dan memperbaiki panampilannya lalu memoleskan lipstik nude di bibirnya. Setelah selesai, Adeela pun menyambar ponselnya dan bergegas keluar kamar dan menuju lobi hotel.


Di kursi tunggu lobi, sudah menunggu Anisa dan keluarga kecilnya. Adeela melemparkan senyum saat melihat sahabatnya. Namun yang ia dapat bukannya membalas senyumnya, sahabatnya itu malah melongo dan beberapa kali mengerjabkan matanya.


"Kamu kenapa, sih, Nis. Ngelihat aku kayak ngelihat hantu aja!" Ucapnya saat sudah sampai di depan sahabatnya.


"Masya Allah, Deel, kamu cantik banget pake hijab gini. Aku jadi pangling lo liatnya." Ucapnya saat melihat perubahan penampilan sahabatnya.


Adeela tersenyum malu mendapat pujian dari sahabatnya. "Ah, kamu bisa aja, Nis. Gimana, aku cocok enggak pakai hijab?" Tanyanya pada sahabatnya.


"Cocok banget, Deel. Kamu makin cantik kalau kayak gini." Pujinya sembari menaikkan dua jempolnya di depan sahabatnya.


Adeela lagi-lago tersipu malu mendapat pujian dari sahabatnya. Tak lupa Adeela menyapa suami dari sahabatnya dan menciumi dengan gemas Dava yang dari tadi tersenyum kearahnya.


Mereka pun berjalan menuju pantai sambil berbimcang-bincang ringan. Suami Anisa sudah jalan duluan menggendong Dava menuju pantai. Sedangkan istrinya dan Adeela berjalan pelan sambil mengobrol.

__ADS_1


Saat telah tiba di pantai, mereka pun duduk di atas pasir putih sambil menikmati matahari terbenam. Dava sangat antusias saat bermain air di pesisir pantai ditemani oleh ayahnya.


Adeela dan Anisa tidak ikut bergabung namun memperhatikan dua orang di depannya yang sedang tertawa lepas.


"Gimana sama perasaanmu sekarang, Deel?" Tanyanya pada sahabatnya.


"Apaan?"


"Perasaanmu sama suami kamu?"


Mendapat pertanyaan seperti itu membuatnya menghembuskan nafas panjang. Adeela sejenak menoleh menatap sahabatnya dan setelah itu kembali ia menatap ke depan.


"Sebenarnya, di dalam lubuk hati aku yang terdalam masih ada sedikit cinta untuk mas Farhan. Tapi kebencian dan kekecewaan lebih mendominasi. Enggak gampang untuk melupakan seseorang yang dulu pertama kali membuat hati ini merasakan yang namanya cinta, Nis. Tapi, aku berada di posisi ini sekarang karena juga kemauannya dia. Dia telah mematahkan perasaan dan cinta aku, Nis."


"Kamu tahu enggak, Deel, kalau cinta dan benci itu beda tipis?." Anisa menatap kedua bola mata sahabatnya ingin mencari jawaban di sana, namun pertahanan sahabatnya itu tidak bisa ia tembus.


Adeela menggelengkan kepalanya, "Cinta untuk mas Farhan sudah aku kubur dalam-dalam, Nis. Aku tidak mau lagi membuka hati yang nantinya hanya akan membuatku sakit. Cukup sekali dia melakukan penghianatan itu, Nis. Dan aku tidak lagi ingin memberinya kesempatan kedua. Seseorang pembohong besar tidak akan mudah untuk berubah, Nis. Setelah berucap janji, nantinya mereka akan melakukannya lagi dan lagi. Bukankah di luar sana, banyak yang seperti itu, Nis?"


Anisa menganggukkan kepalanya dan menggenggam tangan sahabatnya. "Tidak usah lagi di jawab, Deel. Kalau memang itu sudah menjadi pilihan kamu, aku akan mendukung apapun keputusan kamu nantinya. Aku akan siap membantu kalau kamu sudah menyelesaikan semuanya."


Mereka saling memandang untuk sesaat. Anisa bisa melihat kesedihan yang mendalam di bola mata sahabatnya.


Salam story from By_me

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya kk readers๐Ÿ˜š๐Ÿ˜‰๐Ÿ‘


__ADS_2