MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Berpulang


__ADS_3

Adeela menghapus air matanya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Farhan. Kamu harus kuat. Demi Mama dan Papa kamu. Demi anak kamu juga, Reyhan. Masih banyak orang yang sayang dan membutuhkan, kamu!"


Farhan lagi-lagi menggelengkan kepalanya lemah. Farhan terbatuk beberapa kali. Dapat Adeela lihat ringisan kesakitan di wajahnya.


"Saat aku sudah pergi, aku minta tolong satu hal sama kamu."


Adeela tidak menjawabnya. Ia mendengarkan namun tidak menjawab permintaan Farhan. Adeela tak kuasa menahan air matanya untuk tak tumpah.


"Tolong jaga anakku, Adeela. Rey...han. Tolong anggap dia sebagai anakmu, nanti. Aku harap...kamu mau menganggap dia sebagai anakmu sendiri."


Adeela hanya bisa menangis mendengar segala yang Farhan katakan padanya.


"Bukan ini yang aku mau, Farhan. Aku hanya ingin melihat kamu sadar dengan kesalahan yang kamu lakukan. Tapi, bukan begini."


"Aku mohon, kamu harus bertahan, Farhan. Kamu lelaki yang kuat. Ingat anak kamu. Dia masih sangat membutuhkan sosok Ayah dihidupnya. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan lagi, Farhan."


"Maafkan aku, Adeela. Maafkan aku."


"Bukan itu jawaban yang aku mau, Farhan Fahruzi!" Bentaknya pada akhirnya.


Farhan menutup matanya sesaat, sebelum akhirnya kembali menatap Adeela.


"Kamu lelaki jahat, Farhan. Kamu lagi-lagi menyakiti hati anakmu!" Ujar Adeela marah pada Farhan.

__ADS_1


Farhan menitikan air mata akhirnya. Namun ia tidak punya kekuatan untuk menghapus air matanya agar tak dilihat oleh Adeela.


"Aku memang jahat. Tapi, aku lelaki yang paling sayang pada kedua anakku, Adeela!" Jawabnya dengan nada lemah. Sekuat tenaga, ia mencoba menjawab semuanya.


"Keduanya adalah permataku, Deela!" Jawabnya dengan air mata yang jatuh dan membasahi bantalnya. "Aku orang yang paling mencintai anakku. Tapi aku pulalah orang yang sial, karena melihat anakku untuk yang terakhir kalinya pun tidak bisa." Farhan merasakan belati tak kasat mata menusuk hatinya kala mengingat anak-anaknya. "Aku sakit, Deel. Sakit karena tidak bisa melihat Nurhan untuk yang terakhir kalinya. Bukan aku yang menurunkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Bukan aku yang mengadzankannya, seperti saat ia lahir, Deela. Dan aku hampir gila saat itu. Dan sekarang, aku juga tidak bisa melihat Reyhan." Farhan menangisi hidupnya dan semakin membuncahlah semua air matanya.


Adeela menangis tersedu mendengar segala kalimat yang Farhan utarakan. Adeela menundukkan kepalanya dan menutup matanya tak kuasa dengan segala yang ia dengar.


"Aku sangat sayang anak-anakku, Deela!" Farhan mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam sendiri. Rasanya sangat sakit menjadi seorang Ayah yang tak berguna untuk anak-anaknya. Penyesalan pun tak berarti lagi.


"Apakah Nurhan akan memaafkan aku, Adeela?" Tanyanya dengan air mata yang menetes sambil menatap Adeela untuk menunggu jawaban.


Adeela hanya bisa membalas tatapan Farhan dengan air mata kepedihan.


"Aku takut, saat nanti aku sudah satu alam dengannya, Nurhan malah membelakangiku, Adeela!" Ujarnya bersungguh-sungguh meminta jawaban. Namun lagi-lagi Adeela tak mampu menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya untuk menutupi segala sedihnya.


"Syukurlah!" Ucapnya dengan nada lirih.


Setelah mengucapkan itu, Farhan menoleh pada Adeela. Farhan berusaha mengangkat tangannya di sisa kekuatannya. Ia menghapus air matanya dan terbitlah senyum hangat itu setelah sekian lama pudar.


"Bisa minta tolong?" Tanyanya pada Adeela.


"Apa? Bilang saja, kamu mau apa. Aku pasti akan mengusahakannya jika aku sanggup!"

__ADS_1


Farhan melemparkan senyumnya sebelum akhirnya ia berkata, "Izinkan aku bertemu, suamimu!"


Tak perlu berfikir lama, Adeela pun memenuhi permintaan Farhan.


"Tapi kamu harus janji, kalau kamu akan bertahan. Kali ini kamu harus tepati janjimu, Farhan!" Pinta Adeela. Farhan terdiam untuk beberapa saat sambil menatap Adeela. Setelah cukup puas menghafal bentuk raut wajah Adeela, Farhan pun menjawab dengan anggukan lemahnya. Adeela tersenyum dan merasa lega mendapat jawaban seperti itu. Adeela pun keluar dari sana sambil mendorong kursi rodanya.


Dibantu oleh perawat, Adeela melepaskan semua atribut yang mengharuskan pembesuk saat memasuki ruangan ICU. Setelah sampai di luar dan memberitahukan keinginan Farhan, Justin pun masuk ke dalam sana untuk memenuhi permintaan Farhan.


Cukup lama Justin berada di dalam sana. Adeela sudah merasa lega mendapat jawaban dari Farhan tadi. Ia berharap, semoga setelah sembuh dan keluar dari Rumah sakit, Farhan akan menjadi orang baru dan memulai hidup yang baru dengan lebih baik tentunya. Agar kesalahan di masa lalu tidak lagi terulang dan mampu diperbaiki. Cukuplah kesalahan itu membawa mereka semua pada dalamnya luka.


Papa dan Mama pun bersemangat dengan apa yang Adeela ceritakan. Seperti ada semangat baru di dalam diri mereka. Semoga saja anak mereka mampu menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.


Cukup lama mereka menunggu, hingga pada akhirnya Justin keluar dari sana dengan mata sembabnya yang mampu ia tutupi dengan kacamatanya.


Justin menatap semua orang dengan mata yang berkaca-kaca. Menatap semua orang di luar satu persatu dan menggelengkan kepalanya lemah.


"Farhan minta maaf pada semuanya. Karena dia tidak bisa menepati janji. Farhan... telah kembali kepadaNya!"


Seketika waktu terasa berhenti mendengar kabar kematian sang anak. Mama dan Adeela yang menunggu di luar seketika menutup mulut tak percaya. Mama berteriak histeris mendengar kabar kematian anak semata wayangnya. Papa Irwan pun tak kuasa menahan laju air matanya. Papa Irwan memeluk Mama Rike dengan erat dan saling menumpahkan sedih ditinggal sang anak untuk selama-lamanya. Kematian tak bisa dihindarkan dan maut seorang hamba telah digariskan sampai kapan masanya.


Adeela menumpahkan rasa sedih, kecewa dan tangisnya ketika mengingat kata-kata terakhir Farhan.


Adeela yang berada di atas kursi roda pun tak kuasa menumpahkan rasa sedihnya. Ia meremas celana pasien yang ia kenakan dengan erat. Masih terbayang di kepala beberapa menit yang lalu saat Farhan menumpahkan segala yang ia pendam. Bagaimana Farhan menangis tersedu karena tak bisa melihat sang anak. Bagaimana saat Farhan memohon padanya untuk menjaga Reyhan.

__ADS_1


*******


Salama story from By_me


__ADS_2