
"Sama-sama, nek. Sudah seharusnya,kita saling membantu saat ada yang membutuhkan bantuan. Apalagi, Nenek yang terluka seperti tadi. "
Tiba-tiba saja, Adeela teringat jikalau si Nenek yang berada di depannya ini telah menjadi korban penjambretan dan pastinya tidak mempunyai dompet dan ponsel untuk pulang atau sekedar menghubungi keluarganya.
"Jadi, bagaimana sama tasnya, Nenek?! Haruskah kita lapor polisi saja, Nek. Semoga saja, tasnya nenek bisa didapatkan kembali. " Kini, Adeela sudah bersiap-siap untuk menghubungi pihak kepolisian. Namun, lagi-lagi si Nenek menghentikan kegiatannya.
"Enggak usah, Nak. Biarkan saja. Sudah, sekarang, Nak... " Nenek memandang Adeela ingin mengetahui namanya. Adeela yang mengerti, segera menjawabnya.
"Iya, Nak, Adeela. Lebih baik, sekarang kamu pulang saja. Jangan sampai kedua orang tuamu sudah menunggu di rumah dan nyariin anak gadisnya. Nenek tidak mau, hanya gara-gara Nenek, kamu terlambat pulang. "
Adeela rasanya ingin menyela akan ucapan si Nenek. Apa tadi katanya, anak gadis? ! Ia saja, sudah perah melahirkan sekali dan sekarang telah berstatus 'janda'. Yang kedua, orang tua. Tidak akan ada yang mencarinya di rumah, karena ia adalah anak yang sebatang kara. Tidak akan ada yang menunggunya di rumah dan mengkhawatirkannya layaknya anak perempuan yang telat pulang pada umumnya.
"Tidak apa-apa, Nek. Atau begini saja, apa Nenek punya nomer yang bisa dihubungi?" Tanyanya, berharap ia bisa menghubungi keluarga si Nenek agar dapat menhemputnya di sana. Namun sayangnya, si Nenek menggelengkan kepala.
"Nenek tidak hafal nomer cucu nya, Nenek. Sedangkan anak dan menantu, sedang ada berada di luar negeri.
Adeela tampak berfikir dan menimbang-nimbang akan apa yang ia lakukan.
"Yasudah, tidak apa-apa. Kalau begitu, biar Adeela saja yang mengantar Nenek pulang ke rumah. " Kasihan juga kalau sampai Nenek dibiarkan sedangkan kondisi si Nenek tidak memungkinkan untuk pulang sendiri. Harus ada yang memapahnya, pikirnya. "Kalau bokeh tahu, alamat rumah Nenek di mana? "
"Rumah Nenek terletak di jalan xx di perumahan Nusa Indah, Nak. "
Baikah, Adeela akan mengantarkan si Nenek pulang terlebig dahulu. Lagipula, jarak dari rumah si Nenek juga tidak jauh dari sini, pikirnya.
Setelah menunggu taksi pesanannya beberapa saat, taksi pun datang dan mengantar mereka menuju rumah si Nenek.
15 menit kemudian, taksi yang mereka tumpangi akhirnya sampai di alamat yang dituju. Seharusnya, jarak dari rumah nenek dengan pusat perbelanjaan tadi hanya memakan eaktu tempuh selama kurang lebih 10 menit. Namun, karena waktu sudah malam dan banyaknya pekerja yang baru pulang kantor dan pengendara lainnya membuat mereka agak lama di perjalanan.
Adeela memapah si Nenek memasuki rumah. Dari dalam, sudah ada sisten rumah tangga yang berlari dan menghampiri dan membantu Nenek. Setelah memastikan Nenek sampai dengan selamat, Adeela pun pamit pada Nenek dan asisten rumah tangga yang berada di samping si Nenek.
"Kalau begitu, Adeela pamit pulang ya, Nek. Semoga lukanya cepat sembuh dan Nenek dapat beraktifitas kembali seperti biasa. Mari, Nek, mari, Mbok! " Adeela melemparkan senyum sebelum ia berbalik ingin meninggalkan rumah Nenek. Belum sempat ia berjalan keluar, suara Nenek tadi kembali menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Nek? Masih ada yang perlu, Adeela bantu?! "
__ADS_1
"Mampirlah dulu, Nak. Ada sesuatu yang ingin Nenek berikan sama kamu. "
"Mmm, bukannya Adeela nolak niat baiknya, Nenek. Hanya saja, Adeela harus segera pulang, Nek. Lagi pula, Adeela ikhlas kok bantuin Nenek tadi. "
"Tidak ada penolakan, Nak. Tak baik loh, menolak rejeki! "
Adeela tidak bisa lagi berkata dan menolak Nenek. Adeela tidak tega untuk menolak, melihat tatapan memohon yang nenek layangkan padanya. Tak apalah, sekali-kali telat pulang. Mengingat rumahnya juga tidak jauh dari sini, pikirnya.
Mereka berjalan semakin ke dalam menyusuri rumah bertingkat tiga yang mewah dan terkesan klasik. Adeela membantu Nenek berjalan ke dalam dengan memegang pundak si Nenek.
adeela dan Nenek duduk di kursi ruang tamu. Setelah memesan minuman pada asisten rumah tangganya, si Nenek mengajak Adeela mengobrol. Banyak hal yang mereka perbincangkan. Si Nenek tadi bernama Nenek Rosi. Banyak hal yang mereka perbincangkan, hingga Adeela lupa waktu dan niat awalnya hanya tinggak sebentar. Karena Nenek yang ramah, membuat Adeela jadi nyambung dan nyaman berbicara dengannya.
Nenek menceritakan sedikit tentang kehidupannya. Mulai dari anaknya yang telah tinggal lama di luar negeri hingga dengan siapa Nenek Rosi sekarang tinggal serumah. Adeela dengan tenang mendengarkan setiap kata yang diucapkan si Nenek.
Entah mengapa, berbicara dengan Nenek Rosi membuat Adeela merasa nyaman dan hatinya menghangat berada di sitausi ini. Mungkin karena Adeela seorang anak yatim piatu yang tidak mengetahui asal usul keluarganya membuatnya merasa bahagia dekat dengan Nenek. Jujur saja, Adeela selama ini merasakan yang namanya kesepian. Dulu, hidupnya sangat lengkap dengan kehadiran anak manis nan lucu dan suami yang dicintainya dengan sepenuh hati. Hingga pada suatu ketika suaminya merenggut semua itu darinya. Ia terluka, sepi, sedih dan tak punya arah tujuan hidup. Namun, semua itu harus ia simpan dalam memory nya. Tidak untuk dihapus, namun menjadi sebuah pembelajaran hidup untuknya. Sakit itu mendewasakannya.
Cukup lama mereka berbicang-bincang, hingga Nenek Rosi memita izin padanya untuk menghubungi cucunya. Terlihat raut kekesalan di wajah Nenek Rosi saat berbicara di telepone dengan cucunya. Adeela hanya bisa mengulum senyum melihat interaksi Nenek dengan cucu nya yang menurutnya lucu.
Nenek menghembuskan nafas pelan setelah menutup telepon dari cucu nya.
"Maaf ya, Nak. Tapi, Nenek kalau bicara sama cucu nenek, pasti begini. Darah tinggi, Nenek bicara sama dia. "
"Sabar, Nek. Jangan suka marah-marah. Kesehatan itu sangat penting, Nek. Sabar,ya!"
"Cucu Nenek itu sangat usil dan keras kepala. Untung saja, cucu Nenek hanya satu yang kayak dia. Sendainya banyak, bisa gila Nenek menghadapinya. "
Adeela tertawa kecil mendengar 'curahat hati seorang Nenek'. Dapat Adeela simpulkan bahwa cucu Nenek Rosi pasti sangat usil pada neneknya.
"Nak Adeela, tunggu sebentar lagi ya, Nak. Cucu Nenek sebentar lagi sampai."
Adeela menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Baru juga jam berapa, pikirnya. Nanti juga dia akan diantar oleh cucu nya Nenek. Perbincangan mereka kembali berlanjut hingga suara derap langkah kaki mendekat. Sontak saja, Nenek dan Adeela menatap sosok yang berdiri di depannya.
"Masuk, bukannya beri salam, malah main nyelonong aja kayak ular. " Ujar Nenek menatap cucu nya.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Nek."
"Telat!!! "
Nenek mencebikkan bibirnya dan setelah itu balik menatap Adeela.
"Titinnya, Nenek sudah sampai. Biar dia yang antar kamu ya! "
Adeela mengerutkan alis mendengar ucapan Nenek. Kemudian ia kembali menatap sosok yang ada di depannya. Adeela sebenarnya sangat ingin tertawa saat ini. Namun sebisa mungkin tawa nya itu ia tahan takut membuat Nenek tersinggung.
"Ntinn!!! "
"Iya, Nek."
"Malah bengong. Antarin Adeela pulang sekarang."
"Iya, Nek. Sabar, napa! "
Adeela pun bersip-siap untuk pulang. Dari arah dalam, asisten rumah tangga Nenek membawa sebuah paper bag di tangannya dan memberikannya pada Adeela.
"Sebelumnya, Nenek ucapin makasih ya. Sudah bantu nenek dan sudah menemani Nenek tadi."
"Tak masalah, Kok, Nek. Adeela juga sangat senang bisa bertemu dengan Nenek. Lain kali, kalau di jalan harus selalu waspada ya, Nek. Takut hal yang kayak tadi terjadi lagi. Semoga lukanya cepat sembuh ya, Nek. "
"Iya, Nak. Makasih, ya."
"Sama-Sama, Nek."
Adeela pun berjalan keluar bersama cucu Nenek Rosa tadi. Saat sudah sampai di dalam mobil, tawa Adeela pecah seketika. Hingga membuat sosok yang ada di sampingnya memutar bola mata dengan jengah.
🍁🍁🍁
Episode selanjutnya bakalan seru. terus lanjutin kisahnya yak. Kira-kira siapa sosok Titin in!?!
__ADS_1
Salam story from By me