MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Si Pengganggu


__ADS_3

Kejadian tragis di hari itu sangat membekas di fikiran dan hati seorang Justin. Hari itu dunia seakan runtuh. Adik yang selalu ia jahili, pergi meninggalkannya untuk selamanya. Justin hanya bisa mengantar adiknya hingga ke pusara dan berharap adiknya mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Air mata seakan sudah kering. Ia hanya bisa menatap gundukan tanah di depannya dengan hati yang hancur.


Sehari setelah kejadian tragis yang merenggut nyawa tiga orang di hari yang sama, polisi dengan sigapnya berhasil melacak dan menangkap si pelaku yang telah bersembunyi di daerah Bogor. Papi yang mendapatkan kabar itu dari polisi, segera menuju ke kantor polisi dan menemui si pelaku yang telah dengan kejinya menghabisj nyawa anak dan pekerjanya.


Papi dengan amarah yang membuncah, memukul lelaki yang telah membuat anak gadisnya jadi seperti itu dengan tanpa ampun. Papi menyalurkan segala sakit hati dan amarahnya pada si pelaku hingga si pelaku jatuh tersungkur. Petugas yang berjaga kala itu hanya melihat apa yang keluarga korban lakukan pada pelaku. Malah pak polisi membantu Papi dengan menghapus bukti rekaman CCTV sewaktu Papi memukul pelaku tanpa ampun. Bukan apa-apa, pak polisi juga geram dengan apa yang telah pelaku lakukan kepada korban.


Butuh waktu beberapa kali sidang, hingga pada akhirnya pelaku dijatuhi hukuman seumur hidup. Kesialan tidak sampai di situ saja. Para tahanan yang satu sel dengan pelaku dan mengetahui tentang kejahatan yang pelaku lakukan menyiksa si pelaku tadi secara bergiliran. Pelaku menghabiskan sisa hidupnya dengan kekerasan dari para teman satu selnya.


Justin yang tidak kuasa menceritakan kisah tragis itu pun menangis menumpahkan segala sakit hatinya. Justin mengeluarkan segala isi hati yang selama ini ia pendam dan merobohkan dinding tegar yang telah ia buat. Justin menangis terisak menumpahkan kesedihannya. Ia sungguh tak kuasa saat menceritakan semua itu. Betapa menyesalnya dirinya yang tidak datang tepat waktu. Seandainya waktu itu ia mendengar panggilan telepon dari adiknya, pastilah ia akan segera pulang dan semua itu tidaklah terjadi. Sayangnya waktu itu, ia menyimpan ponselnya di dalam tas bola basket nya.


"Aku bukan kakak yang baik, Deel! Aku tidak bisa menjaga kehormatan adik aku. Seandainya aku datang tepat waktu, mungkin..." Justin sudah tidak bisa lagi menjaga image yang selama ini ia bangun di depan istrinya. Ia menangis sesenggukan menumpahkan segala sakit hatinya . Adeela juga ikut bersedih mendengar kisah tragis yang menimpa saudara kembar dari suaminya. Adeela segera membawa suaminya ke dalam pelukan dan mencoba menguatkannya.


"Ssttt... Semua sudah menjadi jalan takdir Allah. Akan salah jika kita menyalahi takdir, Mas. Seandainya adalah kata yang sangat Allah benci. Karena kata seandainya itu berarti pertanda seorang hamba tidak menerima takdir yang telah Allah gariskan. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mencoba mengikhlaskan semua yang telah terjadi. Walaupun terasa berat, kita sebagai hamba harus menerima jalan takdir Allah, Mas." Adeela mengeratkan pelukannya dan mencoba mensupport suaminya.


"Kamu harus kuat, Mas. Ikhlaskan almarhumah Jolene. Aku yakin, Allah telah menempatkan Jolene di tempat yang terbaik, Mas.Jolene di sana sudah bahagia dan tenang di alam-Nya. Ikhlaskan, Mas." Justin yang mendengar segala ucapan istrinya pun semakin mengeluarkan segala sakit hatinya. Mencoba mencerna apa yang istrinya katakan. Biarlah kali ini ia menumpahkan sakit hati dan kesedihannya di depan istrinya. Ia janji, ini yang terakhir kalinya ia terlihat lemah di depan istrinya.


Mereka sama-sama saling memeluk dan menguatkan. Adeela dengan setia memberikan pundaknya untuk suaminya bersandar. Inilah yang Justin maksud saat mengatakan butuh waktu untuk menceritakannya. Karena pastilah ia tidak bisa menjaga image di depan istrinya.


*******


Justin remaja adalah anak yang dingin dan cuek akan keadaan sekitar. Justin memasuki jenjang sekolah menengah atas tanpa semangat. Setelah kejadian waktu itu, ia menjadi orang yang tidak peka akan sekitar.


Hingga pada akhirnya, matanya tidak sengaja menangkap siluet seorang gadis yang membuatnya penasaran. Gadis itu memiliki tingkah dan perilaku yang sama dengan adiknya yang telah tiada. Gadis itu memiliki sifat yang ceria, cerewet dan judes diwaktu yang bersamaan. Senyum yang tulus terpancar dari wajah gadis itu, membuat sosok Justin penasaran dan mulai memperhatikan gadis itu. Semua yang dilakukan gadis itu, Persis sama seperti tingkah adiknya.

__ADS_1


Setelah mencari tahu nama dan siapa gadis itu, Justin pun mulai mendekati si gadis yang ternyata adalah seorang Adeela. Justin mulai memperhatikan Adeela dari jauh dan semakin tertarik kepada Adeela.


Sayangnya, Justin yang tidak tahu cara mendekati seorang gadis malah melakukan hal yang salah. Bukannya semakin dekat dengan Adeela, Justin malah menjadi musuh dari Adeela. Justin suka menjahili dan mengganggu Adeela sama seperti yang dulu ia lakukan pada adiknya. Semangat yang dulu luntur, saat itu kembali hidup.


Hal yang paling fatal yang pernah ia lakukan saat menginjak kelas tiga sekolah menengah atas adalah saat Justin membuat Adeela menangis di dalam kelas yang saat itu hanya ada mereka berdua.


"Deel, yuk ke kantin!" Ajak Annisa yang saat itu masuk waktu istirahat.


Adeela yang memang memiliki jatah dari Ibu panti tinggal sedikit, menolak dengan halus ajakan sahabatnya. Ia sengaja membawa bekal makan siang agar bisa sedikit menghemat.


Setelah Annisa pergi, Adeela pun sempat melamun dan memikirkan jatah yang harus ia cukup-cukupkan. Ia harus extra hemat. Mana banyak sekali tugas kerja kelompok dan individu yang harus ia print out. Adeela mengembuskan nafas panjang sambil melamun menatap ke depan.


Mungkin saja sekarang hanya dia yang berada di dalam kelas. Mengingat saat lonceng pertanda istirahat tadi berbunyi, semua teman kelasnya berhamburan untuk mencari makan dan istirahat.


"Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan, Deel! Lo harusnya bersyukur karena masih punya tempat tinggal dan makan!" Ujarnya menyemangati diri sendiri.


Baru saja ia memasukkan beberapa sendok ke dalam mulutnya, dari arah belakangnya tanpa diundang sosok Justin sudah menyerobot dan mengambil sendok makannya.


"Wah, kayaknya enak, Nih, Item!" Ujarnya bersemangat menatap bekal makan siang Adeela. Adeela dibuat melongo oleh sikap Justin. Adeela terdiam dan menahan gejolak di dalam dadanya. Adeela hanya bisa menatap nanar pada bekal makan siangnya yang dimakan tanpa permisi oleh Justin.


Justin yang melihat Adeela menangis karena ulahnya pun menghentikan acara makannya dan meletakkan sendok dalam perasaan bersalah. Niat hati hanya ingin makan beberapa sendok, tiba-tiba Adeela sudah menitikan air mata dengan bibir yang bergetar menahan tangis.


Suana hening untuk sesaat. Justin mengerjap-erjapkan matanya menatap Adeela yang menitikan air mata di depannya.

__ADS_1


"Ma...maaf! Gue cuma pengen nyoba, Kok, Deel. Enggak untuk ngabisin...." Ujarnya pelan merasa bersalah.


"Jangan nangis, ya! Nanti gue ganti deh!" Bujuknya yang malah membuat tangis Adeela pecah.


Adeela menghapus air matanya dan kembali menatap Justin.


"Ganti kata, lo! Gampang banget ya, lo ngomong! Asal lo tahu, Justin, gue sengaja bawa bekal makan siang karena duit gue udah mau abis. Gue buka-bukaan aja biar lo ngerti. Dan lo seenaknya makan bekal gue tanpa permisi!" Ujarnya menatap Justin dengan penuh kecewa.


"Lo jahat banget. Gue benci sama lo, JUSTIN! Kenapa lo selalu ganggu gue. Salah gue apa sama lo! Bisa enggak sehari aja jangan ganggu hidup gue!" Adeela menghapus air matanya dengan kasar dan menatap Justin dengan tatapan tajam. "Mulai hari ini, gue enggak mau lagi lo dekat-dekat dengan gue, ya. Ini yang terakhir kalinya, lo ganggu hidup gue " Ujarnya dan menutup bekal makan siangnya. Adeela meninggalkan kelas dan mencari tempat sepi untuk meredakan tangisnya.


Bekal makan siang yang sengaja ia bawa demi menghemat agar uang jatahnya cukup sampai seminggu, malah diserobot oleh seorang Justin. Adeela benar-benar benci dengan Justin. Bagaimana bisa seorang lelaki, kerjaannya terus menjahili dirinya. Setiap ketemu mereka layaknya Tom and Jerry. Ia berdoa di dalam hati, semoga dia di masa depan tidak berurusan lagi dengan seorang yang bernama JUSTIN AIRLANGGA PRAWIRYO.


Itulah sedikit cuplikan dari perilaku Justin yang membuat Adeela benci setengah mati. Adeela tidak menyadari bahwa benci yang ia pendam dahulu, sekarang malah menjadi sebuah cinta. Benci dan cinta memang beda tipis. Dan seseorang tidak memiliki kuasa untuk mem-block diri untuk masa depan mereka. Hanya Tuhan yang tahu jalan takdir hamba-Nya. Dan takdir Tuhan malah mempertemukannya dengan musuh yang dulu sangat ia benci dan sekarang malah menjadi suaminya sendiri.


********


"Hai, kamu... Nak Justin, kan?!" Tanya Tante Rike memastikan lelaki di depannya ini. Mereka tidak sengaja bertemu di area parkiran restoran. Saat ini, Tante Rike ingin makan siang bersama dengan suaminya. Ia tidak sengaja melihat Justin yang ia ketahui adalah sahabat anaknya berjalan menuju restoran bersama dengan seorang lelaki. Lelaki yang bersama Justin adalah sekertarisnya.


******


Nanti malam aku up lagi, yak👍Itu di atas udah ada sedikit spoiler utk nanti malam!!


Salam story from By_me

__ADS_1


__ADS_2