
Setiap hari kedekatan Adeela dan Nenek Rosi semakin terjalin. Mereka kadang pergi hanya untuk berjalan berdua menikmati hari. Nenek sangat nyaman saat bersama dengan Adeela. Hari ini, rencananya, Adeela akan menemani Nenek Rosi untuk melakukan senam kesehatan di sebuah klinik dekat perumahannya. Senam kesehatan untuk jantungnya. Karena jujur saja, Nenek Rosi memiliki riwayat penyakit jantung yang mengharuskannya harus mengikuti setiap anjuran dari dokter untuk kesehatannya.
Adeela dengan setia menemani Nenek Rosi yang sudah berkumpul dengan beberapa orang-orang yang memiliki riwayat penyakit yang sama. Adeela duduk di atas kursi besi dan memperhatikan setiap gerakan yang diperlihatkan oleh tutornya.
Saat sedang asyik memperhatikan, masuk pesan di aplikasi hijaunya. Saat dilihatnya, ternyata pesan dari sahabatnya, Anisa.
from Anissa: Assalamualaikum. Datang ya, Deel, di acara syukuran tujuh bulanan kehamilan aku."
Adeela yang membaca berita bahagia itu, langsung saja membalas pesan kiriman sahabatnya.
To Annisa: Selamat ya, beb. Semoga dilancarkan dan kandungannya sehat-sehat selalu sampai lahiran. Btw, kirain kemarin saat acara reunian kenapa enggak ngasih tahu aku kabar bahagia ini?" Tanyanya, karena setahunya, saat sedang acara reunian sahabatnya ini tidak memberitahukannya akan berita kehamilannya.
from Annisa: Maaf ya beb. Sewaktu reunian, aku sama sekali enggak tahu kalau ternyata aku lagi isi. Seminggu dari acara reunian itu, aku baru tahu, ternyata lagi hamil dua bulan beb. Btw, jangan lupa lo, dua minggu lagi acara nya, ya!"
To Annisa: Siap, bu bos. Aku pasti bakalan datang."
Cukup lama mereka saling berbalas pesan, hingga akhirnya Nenek Rosi duduk di sampingnya.
"Udah selesai, Nek?"
"Sudah, sayang."
Adeela membuka penutup botol air mineral dan memberikannya kepada Nenek Rosi.
"Makasih, sayang."
"Sama-sama, Nek."
Setelah cukup lama menemani Nenek Rosi, kini Adeela dan Nenek Rosi berada di dalam mobil.
Selama perjalanan, mereka isi dengan berbincang-bincang ringan.
"Bagaimana, Ntin menurut kamu, sayang?" Tanya Nenek Rosi yang tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.
"Justin... baik, Nek. Memangnya kenapa?"
"Kira-kira, Ntin termasuk tipe nya, kamu enggak, sayang?"
Mendengar pertanyaan dari Nenek, Adeela jadi bingung sendiri mau jawab apa.
"Mmm...maksudnya, Nek?"
Nenek Rosi menarik nafas sejenak sebelum ia mengenggam kedua tangan Adeela. Ditepuk-tepuknya pelan tangan itu.
"Nenek sangat berharap, kalau misalnya kamu dan Justin bisa bersama, sayang. Nenek yakin, kalau kamu adalah pilihan yang terbaik untuk cucu, Nenek."
Adeela terlihat menarik nafas panjang mendengar ucapan Nenek tadi.
__ADS_1
"Sebelumnya, Adeela minta maaf, Nek. Tapi Adeela dengan Justin sejujurnya tidak memiliki hubungan sedekat itu untuk bisa bersama, Nek. Adeela hanya menganggap Justin sebatas teman saja, Nek. Mungkin,begitu juga dengan, Justin, Nek. Dan, untuk sekarang, Adeela masih ingin sendiri."
Mendengar ucapan Adeela membuat Nenek sedikit kecewa. Nenek sangat berharap, Adeela dan cucu nya bisa bersama.
"Nenek sangat berharap padamu, sayang. Nenek sangat yakin, kalau kamu adalah yang terbaik untuk cucu, Nenek. Nenek harap, kamu mempertimbangkan permintaan, Nenek. Nenek sangat ingin melihat cucu Nenek memiliki pendamping sebelum nantinya Nenek kembali, sayang."
"Jangan bicara seperti itu, Nek." Entah mengapa, mendengar Nenek mengatakan hal itu membuatnya sedih dan tak rela bila harus ditingglakan lagi. .
"Ini permintaan terakhir Nenek, sayang. Mohon, pertimbangkan cucu, Nenek." Pintanya menatap dalam pada mata Adeela. Terlihat jelas bagaimana penuh harap nya Nenek padanya.
"Akan Adeela pertimbangkan, Nek." Jawabnya, tidak ingin membuat Nenek kecewa.
............................................
Seminggu setelah mengantarkan Nenek ke klinik kesehatan, Nenek Rosi tidak pernah lagi menghubunginya. Mungkinkah, Nenek kecewa akan jawabannya yang kemarin? sampai-sampai Nenek tidak lagi datang ke toko nya atau sekedar menghubunginya.
"Semoga saja, jawabanku kemarin tidak membuat Nenek menghindariku." Gumamnya di dalam hati.
Ia kini sedang bersantai di lantai dua ruangannya.
Waktu makan siang telah tiba, Adeela makan soto Banjar dan ketupat buatan karyawannya yang bernama Putri.
Setelah selesai menyantap soto Banjarnya, Adeela kembali melanjutkan rutinitasnya di depan komputer. Saat sedang fokus mengetik, masuk satu panggilan di ponselnya dari nomer yang tidak di kenal. Awalnya, Adeela mengabaikan saja panggilan itu karena ia malas mengangkat jikalau ada nomer asing yang menghubunginya. Namun fokusnya terganggu, karena si penelpon tadi, tidak henti-hentinya membuat ponselnya berbunyi. Adeela pun mengangkat panggilan itu.
"Halo!"
"Iya, benar, dengan saya sendiri. Sebelumnya, ada apa ya, bu?"
"Mohon maaf karena saya mengganggu kegiatannya,Nona. Tapi, saya dengan, Bik Paijah, ingin memberitahu kalau Nenek Rosi masuk rumah sakit, Nona." Ucapnya dibalik telepon.
"Innalillah, Nenek kenapa,Bik?" Tanyanya panik mendengar kabar Nenek Rosi masuk rumah sakit. Pantas saja, akhir-akhir ini Nenek tidak pernah lagi menghubunginya.
Setelah mengetahui alamat rumah sakit tempat Nenek Rosi di rawat, segera Adeela menuju alamat yang dituju. Selama perjalanan, Adeela harap-harap cemas akan kondisi Nenek Rosi.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 30 menit, Adeela pun sampai di depan rumah sakit Herapan Kasih. Dengan langkah cepat, Adeela menuju meja reseptionis untuk menanyakan letak ruangan Nenek Rosi. Setelah mendapat nomor ruangan Nenek Rosi, Adeela segera menuju ruangan Nenek Rosi.
Akhirnya Adeela sampai juga di depan ruangan Nenek Rosi. Setelah mengetuk pintu, Adeela pun membuka pintu ruangan rawat Nenek Rosi. Terlihat Nenek terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan infus di tangan kanannya dan alat bantu pernapasan terpasang di hidungnya.
Melihat Nenek Rosi terbaring lemah di atas ranjang, membuat Adeela sangat cemas. Di samping ranjang Nenek, terlihat Justin duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Adeela tak menghiraukan itu dan segera ia menghampiri Nenek Rosi.
"Nenek kenapa bisa masuk rumah sakit?" Tanyanya cemas melihat Nenek sangat lemah.
"Biasa, jantung Nenek kembali berulah." Jawab Nenek santai.
"Jangan bilang kalau Nenek terlalu kecapean?"
"Nggak, sayang. Mungkin memang sudah waktu Nenek tinggal sebentar lagi menghadap Sang Khalid."
__ADS_1
"Hushh, jangan ngomong begitu, Nek. Nenek berhasil buat Deela khawatir tau. Nenek pasti bakalan sembuh dan kembali sehat seperti semula."
"Nenek tidak yakin, sayang." Jawab Nenek dengan suara pelan.
Bulir bening berhasil lolos di ujung pelupuk matanya. Adeela sudah menganggap Nenek sebagai keluarganya dan mendengar ucapan Nenek tadi, berhasil membuat Adeela tidak kuasa menahan air matanya.
"Nenek pasti sembuh. Adeela yakin itu!" Jawabnya menggenggam tangan Nenek.
Nenek pun mengangguk lemah di atas ranjang.
"Sebelum Nenek pergi menghadap Sang Khalid, maukah nak Deela menuruti permintaan, Nenek?"
"Nek, Deela mohon, jangan bicara seperti itu lagi, Adeela sayang sama, Nenek."
"Nenek tahu kalau kamu sayang dan tulus sama, Nenek. Tapi, maukah kamu berjanji pada, Nenek."
"Apa itu, Nek?"
"Menikahlah, dengan cucu, Nenek, sayang."
Adeela menghela nafas mendengar permintaan Nenek. Bagaimana caranya jikalau memang mereka harus menikah dan membina rumah tangga bersama. Bagaimana rumah tangga mereka nanti. Adeela ingin menolak tapinia tidak tega apabila penolakannya malah membuat kondisi kesehatan Nenek semakin menurun.
"Bukannya, Deela manolak, Nek. Tapi, bagaimana dengan Justin. Kasihan Justin kalau sampai menikah dengan orang yang tidak dia cintai, Nek. Biarkan Justin bahagia dengan pilihannya sendiri, Nek." Kilahnya mencari alasan. Adeela menatap Justin memberi kode agar mengikuti keinginannya.
Nenek terlihat sangat kecewa akan jawaban Adeela. Ia terlihat menutup matanya dan membuang nafas kecewa.
"Maafkan, Adeela, Nek." Gumamnya di dalam hati.
tiba-tiba saja, Justin mengucapkan kata yang berhasil membuat Nenek dan Adeela membulatkan mata.
"Aku akan menikah dengan Adeela, Nek!" Ucap Justin dengan lantangnya. Sontak saja, Nenek langsung membuka matanya dan terlihat berbinar mendengar ucapan cucu nya tadi. Namun berbeda dengan Adeela.
"Justin, maksud kamu apa?" Ucap Adeela dengan gerakan bibir dan dengan mata yang melotot menatap Justin.
"Justin akan menikah dengan Adeela, Nek!"
.................................................
Happy reading kakak-kakak :D
Jangan lupa di like, komen dan vote nya yak. Biar makin kenceng up nya.
Salam story from By_me
__ADS_1