MEMBALAS PERSELINGKUHANMU

MEMBALAS PERSELINGKUHANMU
Minta Maaf


__ADS_3

Justin menggelengkan kepala pelan sambil menatap istrinya. Adeela yang mendapat jawaban dari bahasa tubuh suaminya itu merasa sedikit ambigu.


"Maksud kamu apa, Mas, geleng-geleng seperti itu?" Tanyanya dengan alis yang bertaut.


"Farhan... Farhan belum sadarkan diri, Deel! Sejak masuk rumah sakit, Farhan belum dipindahkan juga dari ruangan ICU. Kata dokter, kecil harapan bagi Farhan untuk bisa bertahan!"


Adeela seketika shock dan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Adeela menggelengkan kepalanya pelan. Jangan bilang hanya karena dirinya, Farhan seperti itu.


"Farhan pasti bisa selamat, Mas! Kalau terjadi sesuatu dengan dia, aku tidak akan bisa memaafkan diriku, Mas!"


"Jangan bilang seperti itu, Adeela. Semua sudah terjadi. Semua itu diluar kuasa kita."


"Tapi karena kecerobohanku, Farhan jadi seperti itu, Mas!" Ujarnya menyalahkan diri sendiri.


"Hey, lihat aku, Deel!" Justin mengarahkan wajah istrinya untuk melihat matanya.


"Ini semua bukan salah kamu! Semua sudah terjadi. Sebagai manusia yang peduli pada orang lain, kadang kita tidak memikirkan keselamatan diri sendiri di saat-saat genting seperti itu. Bukan salah kamu dan Farhan juga tidak ingin hal ini terjadi. Tugas kita sekarang adalah mendoakan untuk keselamatan Farhan." Adeela mengangguk dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka, pertemuannya kemarin dengan Farhan akan terjadi hal seperti ini.


"Boleh aku lihat, Farhan, Mas?!" Tanyanya ingin memastikan sendiri bagaimana kondisi Farhan.


Justin menggelengkan kepalanya, "Boleh. Tapi tidak untuk sekarang!"


"Tapi...."


"Nanti, Adeela! Kamu masih harus banyak istirahat. Kamu baru saja siuman. Nanti, ya! Kalau kamu sudah membaik. Dengar apa kata aku, Deel. Kali ini saja!" Ujar Justin tak mau dibantah. Mau tidak mau, Adeela harus menurut kalau sudah ditegaskan seperti itu oleh suaminya.


"Yasudah."

__ADS_1


*********


"Sudah siap?" Tanya Justin setelah menyuapu istrinya buah. Sudah tiga hari setelah Adella siuman dan badannya sudah lebih baik dari hari pertama.


Adeela mengerutkan keningnya mendapat pertanyaan seperti itu.


"Siap apaan?"


"Katanya kamu mau lihat, Farhan!" Mendengar kalimat yang suaminya lontarkan, Adeela dengan semangat menganggukkan kepalanya.


Justin pun mengangkat istrinya dan mendudukkannya di atas kursi roda.


Saat mereka berada di lorong ruangan ICU, terlihat Papa Irwan duduk sambil menundukkan kepalanya. Kedua siku berada di atas lutut untuk menahan bobot tubuhnya. Terlihat sedang memikirkan banyak hal.


Justin mendorong kursi roda istrinya sampai berada di samping Papa Irwan. Papa Irwan yang merasa ada orang mendekatinya, pun mengangkat kepalanya dan melihat Justin dan Adeela berada di sampingnya.


Dapat Adeela lihat pancaran kesedihan di balik tatapan mata Papa Irwan.


Adeela yang mendapat perhatian sekecil itu dari mantan mertuanya, merasa sangat malu untuk dirinya. Karena gara-gara dirinyalah, Farhan mengalami tabrak lari. Walaupun Papa Irwan sangat baik padanya, namun tetap saja, dia hanyalah seorang mantan menantu yang menyebabkan anak orang seperti ini.


"Pa, Papa... Deela minta maaf, Pa! Gara-gara Deela, Farhan..." Katanya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Belum selesai Adeela berbicara, Papa Irwan memotong kata-katanya dan menggelengkan kepala.


"Tidak, Nak. Semua ini bukan salah kamu. Mungkin ini adalah salah satu cara Tuhan untuk memberikan Farhan balasan dari dosa yang telah dia perbuat padamu dan pada mendiang anak kalian. Jangan pernah menyalahkan diri atas apa yang menimpa Farhan. Mungkin apa yang terjadi kemarin, sebagai bentuk pengguguran dosa-dosanya, Nak. Tidak terlintas di pikiran Papa untuk menyalahkan kamu atas apa yang terjadi. Seharusnya disini yang minta maaf itu dari pihak Papa, Nak. Jujur, Papa merasa gagal sebagai orangtua." Kata Papa Irwan sambil menundukkan kepalanya meratapi kesalahan yang telah diperbuat anak semata wayangnya.


"Papa hanya berharap, kamu mau memaafkan Farhan, Nak! Maafkan kesalahannya. Semoga dengan begitu, Allah mau meringankan sedikit dosa-dosanya." Ujar Papa sambil menangkupakan kedua tangannya di depan dada. Air mata berhasil lolos di pelupuk matanya. Terlihat dengan jelas Papa Irwan yang merasakan sakit atas segala yang terjadi. Atas apa yang menimpa keluarga anaknya dan yang terjadi pada anaknya.


Adeela ikut menitikan air mata melihat Papa Irwan yang terlihat sangat bersedih atas segala yang terjadi.

__ADS_1


Adeela menggapai kedua tangan Papa Irwan dan menurunkannya.


"Jangan seperti ini, Pa. Adeela sudah memaafkan semua kesalahan Farhan..." Ujar Adeela ditengah tangisnya. Baru saja ia ingin melanjutkan kalimatnya, pintu ruangan ICU terbuka. Dan nampaklah, Mama Rike keluar dari sana dengan mata sembabnya. Mata keduanya bertemu. Berselang setelahnya tanpa Adeela duga, Mama Rike malah maju dan memeluk tubuhnya erat. Dengan air mata berderai, Mama Rike memeluk tubuhnya.


"Sekarang masuklah, Nak. Farhan sudah mencarimu dari tadi!


Adeela menganggukkan kepalanya. Karena hanya satu orang yang bisa memasuki ruangan ICU, Adeela pun diantar oleh perawat yang berjaga di sana. Setelah mematuhi segala peraturan yang ada, Adeela pun kini telah sampai di dalam ruangan ICU dibantu oleh suster yang berjaga. Setelah sampai di dalam, suster pun memberikan waktu bagi Adeela untuk melihat kondisi Farhan.


Farhan terbaring lemah di atas ranjang pasien. Alat-alat medis terpasang di tubuhnya. Bunyi monitor pemantau detak jantung menjadi teman ruangannya.


Adeela menatap nanar pada pemandangan di depannya. Bukan ini yang ia inginkan. Bukan seperti ini yang ia mau. Ia hanya ingin Farhan bisa sadar akan apa yang telah diperbuatnya. Bukan dengan melihat kondisinya seperti ini.


Farhan dengan segala kekuatannya yang tersisa, menengok ke arah Adeela dan nampak tersenyum di balik masker oksigen yang ia kenakan.


Adeela mendorong kursi rodanya untuk mendekat. Dengan posisi dekat seperti ini, dapat ia lihat luka pada wajah Farhan dengan kepala terbalut perban.


"Hy, A..Deela. Syukurlah kamu se..lamat." Ujar Farhan dengan suara yang terbata-bata.


Adeela menggelengkan kepalanya melihat kondisi Farhan. Air matanya menetes melihat kondisi Farhan yang seperti ini.


"Itu tidak penting sekarang, Farhan. Yang harus kamu fikirkan sekarang itu adalah, kamu. Kesembuhan kamu. Kesembuhan kamu yang terpenting sekarang." Tegasnya pada Farhan.


Farhan menggelengkan kepala lemah.


"Aku rasa w...aktuku tinggal sedikit la...gi, Deel. Ta..pi aku senang melihat, kamu yang sehat dan selamat." Ujarnya dengan nada lemah dan terbata-bata.


*****

__ADS_1


Jangan lupa di like ya! Jangan langsung di next ya. karena kadang klw boom up kek gini likenya enggak seimbang.


Salam story from By_me


__ADS_2