
Suasana di kamar rawat Nenek Rosi mendadak menjadi hening sesaat setelah Adeela mengatakan penolakan secara halusnya tadi. Sedangkan Nenek Rosi, ia hanya bisa mendesah kecewa dan menutup matanya. Padahal ia sangat berharap agar Adeela mau menikah dengan cucunya.
Walaupun cucunya sangat menyebalkan, namun tidak bisa dipungkiri rasa sayang nya pada cucunya itu sangat besar. Ia ingin, ada seseorang yang menjadi tempat bersandar cucunya. Tapi ternyata, Adeela menolak permintaannya. Mungkin cucunya ini kurang tampan, makanya Adeela menolaknya. Kasihan sekali kamu, Ntin.
Namun tanpa disangka-sangkanya, rupanya cucunya mengatakan lima kata yang mampu membuat semangat hidupnya kembali.
"Justin akan menikahi dengan Adeela, Nek!" Jawabnya dengan sekali tarikan nafas.
Nenek seketika juga membuka matanya dan menatap berbinar penuh harapan pada cucunya dan juga Adeela.
"Benarkah itu, Ntin?" Tanya Nenek untuk memastikan dengan penuh antusias.
Dengan mantap, Justin menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat Adeela melotot akan keputusan yang Justin ambil. Sudah daritadi ia menolak secara halus dan memberi kode agar Justin mau mengikuti apa yang ia inginkan, Nyatanya, jawaban Justin tadi sukses membuat Adeela menatap tak percaya akan apa yang ia dengar.
"Aku siap menikahimu, Adeela, hari ini juga!" Ucap Justin mantap. Lagi-lagi Adeela semakin membulatkan matanya mendengar ucapan Justin. Bagaimana bisa, mereka yang tak berlandaskan cinta dan lebih banyak tak akurnya harus menikah. Tak tanggung-tanggung, Justin akan menikahinya hari ini juga. Bagaimana bisa?. Adeela tak mampu lagi berkata-kata tidak percaya akan apa yang ia dengar.
Nenek yang sangat bahagia mendengarnya pun melepas alat bantu pernapasan yang terpasang di lubang hidungnya dan berniat bangun untuk duduk. Melihat itu, Justin memegang tangan Nenek dan berniat untuk tidak membiarkannya terbangun dahulu karena kondisinya yang masih lemah. Namun, Nenek yang keras kepala tidak mengindahkan apa yang Justin inginkan.
"Baring aja, Nek. Nenek harus banyak istirahat!" Kata Adeela menimpali dan mendekati menggenggam tangan Nenek Rosi.
Nenek tersenyum lembut dan membalas genggaman tangan Adeela.
"Bagaimana, sayang? Justin siap menikahi kamu hari ini juga! kamu tadi menolak karena memikirkan bagaimana Justin harus menikah dengan orang yang tidak dia cintai. Tapi, Justin siap dan ingin menikahimu juga hari ini!"
Lontaran kata Nenek tadi bak sebuah boomerang untuknya. Niat hati ingin menjadikan alasan itu untuk menolak, nyatanya, orang yang ia beri kode sedari tadi berhasil mebuatnya tidak punya pilihan lain lagi.
Adeela menghela nafas berat. Melihat bagaimana antusiasnya Nenek tadi mendengar kesanggupan cucunya untuk menikahinya, membuatnya tidak tega menolak untuk yang kedua kalinya. Namun jika ia menerimanya maka, disini perasaannya yang harus ia korbankan. Ya Tuhan, berilah jalan keluar.
__ADS_1
"Bagaimana, sayang? Menikahlah dengan cucu, Nenek, ya." Pinta Nenek dengan penuh pengharapan menatap mata Adeela dengan dalam. Adeela menutup mata sejenak dan setelah melakukan itu, ia melepaskan pandangannya dengan Nenek lalu menatap Justin yang berada di depannya tepat diseberang ranjang Nenek Rosi. Mereka menatap dalam waktu yang lama seolah tatapan itu menjadi akses mereka untuk berkomunikasi.
"Bagaimana, sayang?" Tanya Nenek untuk yang ketiga kalinya. Masih Adeela lihat tatapan penuh berharap pada manik mata Nenek.
Adeela menutup mata dan menarik nafas panjang. Pergejolakan di dalam batinnya, antara iya atau tidak. Namun ia telah memutuskan pilihan yang akan ia pilih.
"Bismillah, Adeela..."
Nenek dan Justin mendengarkan dengan seksama akan apa keputusan yang akan terlontar dari mulut Adeela.
"Adeela...menerima untuk menikah dengan Justin!" Ucapnya sambil menutup matanya.
Terdengar helaan nafas lega dari Nenek akan jawabannya. Adeela membuka matanya dan melihat senyum sumringah yang Nenek tampakkan. Bahagia membuat Nenek tidak lagi begitu pucat.
"Terima kasih, sayang. Akhirnya, kamu mau menerima cucu Nenek untuk mendampingimu." Nenek membawa Adeela ke dalam pelukannya. Dibelainya dengan halus punggung Adeela yang sebentar lagi akan menjadi cucu menantunya.
Tak lama kemudian, datang seorang wanita yang menjadi sekertaris Justin membawa paper bag di tangannya. Isinya adalah kebaya berwarna putih beserta rok nya. Adeela dibantu oleh sekertaris Justin untuk persiapannya.
Sedangkan Justin, ia telah siap dengan kemeja dan jas yang tadi melekat di tubuhnya. Tak lama kemudian penghulu yang akan menikahkan mereka hadir bersama dengan asisten pribadinya.
Dan pernikahan pun terjadi, penghulu menikahkan kedua insan ini di depan ranjang Nenek Rosi. Disaksikan oleh Nenek Rosi dan juga kedua orang Justin.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Adeela Athala, dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Ucap Justin dengan sekali tarikan nafas.
"SAH!" Ucap semua orang yang menjadi saksi pernikahan mendadak mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^^^
__ADS_1
Adeela memijit pelipisnya dan menutup matanya sambil menyandarkan punggungnya pada sofa. Nenek Rosi telah terlelap dengan nyamannya di atas ranjang rumah sakit. Justin masih setia duduk menemani Nenek dan menggenggam tangannya.
Setelah cukup lama duduk di samping Nenek, Justin pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Adeela yang kini duduk di sofa. Justin pun duduk di samping Adeela.
"Pulanglah, aku yang akan menemani Nenek di sini. Kamu pasti capek seharian ini."
Adeela menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia kini beralih menatap Justin yang duduk di sampingnya.
Ditatapnya Justin dengan intens. Melihat tatapan Adeela membuat Justin balik menatap Adeela dengan intens.
"Ada apa?" Tanyanya, melihat sepertinya ada yang ingin Adeela sampaikan padanya.
"Kenapa lu memilih menikah dengan gue, Justin. You know, kita itu tidak sedekat itu dan tidak ada cinta diantara kita. Apa lu nggak mikirin, bagaimana nantinya sebuah keluarga yang bersama tanpa adanya landasan cinta!" Ucapnya dengan pelan, namun mampu di dengar oleh Justin. Tak ingin mengganggu tidur Nenek.
"Aku melakukan ini demi kebahagiaan Nenek. Maafkan kalau keputusan yang aku ambil sedikit egois. Tapi, kalau misalnya kamu khawatir untuk masalah rumah tangga yang tidak ada cinta di dalamnya, kamu tidak usah khawatir. Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku!" Ucapnya percaya diri.
"HAH?" Adeela melongo mendengarnya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading kakak"
jangan lupa untuk klik like, komen dan vote nya yak. Agar bisa up tiap hari :D
salam story from By_ME
__ADS_1