
Hari ini Eyang dan Nia menghabiskan waktunya ngebolang sesuai dengan rencana yang dibilang Nia. Mereka mengunjungi kebun sayur dan buah strowberi, bahkan mengadakan lomba makan strowberi.
"Eyang keren. Aku kalah lomba makan strowberi sama eyang." Kata Nia sambil tertawa.
"Biar seru setiap lomba yang kita lakukan harus ada hadiahnya ya." Kata Eyang sambil meminum air putih yang memang sudah disediakan di dalam tasnya.
"Hadiah apa eyang?" Tanya Nia bingung.
"Setiap yang menang dapat hadiah dari yang kalah. Hadiahnya yang menang berhak minta apa aja dari yang kalah, dan yang kalah harus melakukannya." Kata Eyang.
"Nggak mau ah. Entar eyang minta yang iya-iya lagi." Protes Nia.
"Yang nggak-nggak Ni. Dasar anak jaman sekarang. Permintaan eyang kalau menang nggak akan aneh-aneh kok. Palingan minta kamu nemanin eyang ngebolang lagi, atau nginap di rumah eyang. Pokoknya eyang nggak akan minta yang merugikan kamu deh." Terang eyang.
"Janji ya Eyang?" Kata Nia berusaha meyakinkan dirinya.
"Janji." Kata Eyang sambil mengulurkan jari kelingkingnya dan disambut Nia dengan menautkan kelingkingnya sambil tersenyum.
Setelah lomba makan strowberi mereka membuat lagi lomba mencari strowberi dengan ukuran paling besar, warna paling merah, dan rasa paling manis. Lagi-lagi Nia kalah karena buah strowberi yang eyang dapat memenuhi semua kriteria kesepakatan pemenang lomba.
Nia tidak tahu, Eyang bisa menang karena sebetulnya perkebunan stroberi dan tempat wisata itu adalah miliknya. Tempat itu merupakan hadiah dari suaminya yang tahu kalau istrinya sangan suka bertualang.
"Kok eyang bisa dapat sih stroberi yang besar, merah dan rasanya manis?" Tanya Nia heran.
"Usia dan pengalaman itu nggak pernah berkhianat Ni. Kamu anak kemaren sore mau melawan eyang." Kata Eyang sambil meremehkan Nia.
"Ok, lomba berikutnya, aku yang menang. Eyang siap-siapkan hati buat kalah ya." Kata Nia semangat.
"Ok. Siapa takut." Kata Eyang sambil tertawa karena menirukan salah satu iklan shampo.
Selesai di kebun stroberi, mereka pergi ke kebun sayur, ada tomat, labu siam, kangkung, slada dan masih banyak sayuran lainnya.
Kali ini mereka akan berlomba untuk mendapatkan tomat dengan ukuran paling kecil. Nia bersemangat mencari tomat matang yang ukurannya paling kecil, ia mendatangi satu persatu pohon tomat yang ada di kebun dengan luas sekitar 1 hektar, dan mengambil beberapa tomat matang yang menurut Nia itu merupakan tomat paling kecil.
Setelah lelah mencari, Nia kembali ke pendopo untuk membandingkan tomatnya, dan Nia terkejut ketika sampai pendopo melihat eyang yang sedang duduk manis sambil menikmati segelas jus tomat segar.
"Kali ini aku pasti manang. Eyang terlalu santai. Tomat aku pasti ukurannya paling kecil." Kata Nia penuh percaya diri karena melirik ukuran tomat yang ada di keranjang eyang yang ukurannya lebih besar dari pada tomat yang Nia dapat.
"Mana tomat kamu yang paling kecil?" Tanya eyang sambil melihat keranjang Nia.
"Tada.... kecil kan? tuh tomat eyang besar-besar." Kata Nia dengan wajah senang karena yakin kali ini ia akan menang.
"Tada.... Eyang yang menang" Kata eyang dengan wajah sumringah melihat wajah Nia yang langsung cemberut,begitu melihat tomat yang baru di ambil eyang dari keranjang bagian bawah.
Nia melepaskan kacamatanya yang berembun, karena suhu yang dingin bertemu dengan suhu tubuhnya yang hangat, membuat kaca matanya terus berembun.
"Kamu cantik banget Ni, nggak pakai kacamata." Kata Eyang yang baru sadar kalau Nia ternyata cantik.
Eyang memperhatikan wajah Nia dengan seksama. Kulit wajah putih bersih tanpa makeup dan agak sedikit pink, karena habis mengitari kebun tomat. Hidung mancung, alis hitam tidak terlalu tebal yang tersusun rapi tanpa pensil alis, mata bulat dengan bingkai bulu mata yang panjang dan lentik, bibir mungil yang sedikit tebal, sehingga terkesan seksi serta dagu lancip dengan belahan dagu samar, yang membuat Nia semakin kelihatan cantik.
"Eyang paling cantik. Aku mah biasa aja." Kata Nia yang agak salah tingkah karena Eyang memperhatikan wajahnya dengan seksama.
"Kacamata kamu minus?" Tanya eyang ketika melihat Nia mengenakan kacamatanya lagi.
"Nggak. Suka aja pakai kacamata gini. Buat penampilan jadi berubah banget." Kata Nia karena dia selalu menggunakan kacamata bulat besar dengan bingkai yang tebal.
"Kamu itu cantik sayang. Eyang heran biasanya orang mau kelihatan cantik, kok kamu sebaliknya?" Tanya Eyang.
"Nggak tau juga. Dari kecil ibuk dandani Nia seperti ini. Kata ibuk, kalau Nia cantik nanti banyak yang jahatin Nia. Soalnya waktu kecil orang-orang suka cubitin Nia karena mereka gemes. Makanya Ibuk bilang, tetap aja seperti ini. Jangan jadi cantik." Terang Nia panjang lebar.
__ADS_1
"Ibuk kamu benar sih. Tapi nanti kalau kamu menikah, kamu harus tampil cantik. Kalau nggak, suami kamu akan diambil orang lain. Sekarang ini banyak sekali perempuan perebut suami orang." kata eyang sambil menepuk bahu Nia pelan dan tertawa.
Setelah istirahat sebentar, Nia dan eyang memutuskan untuk berjalan ke pemandian, karena hari sudah mulai siang, dan perut mereka berdua sudah mulai keroncongan.
Di dekat pemandian yang merupakan resort pemandian air panas dengan fasilitas lengkap, mulai dari pemandian umum, penginapan, restoran, taman dan pemandian khusus.
Sesampainya di tempat pemandian, Nia dan eyang disambut ramah oleh para pekerja yang ada di resort yang membuat Nia heran.
"Eyang sering kesini?" Tanya Nia penasaran.
"Nggak juga. Memangnya kenapa?" Tanya eyang pura-pura tidak tahu.
"Kok mereka hormat banget sama eyang?" Tanya Nia lagi.
"Kan memang seperti itu standarnya." Jawab eyang cuek lalu masuk kedalam tanpa bertanya, dan menuju salah satu pemandian khusus.
"Kamu mau kemana Ni?" Tanya eyang sewaktu melihat Nia malah berbelok ke jalan yang menuju tempat penjualan souvenir.
"Nia nggak bawa baju ganti. Jadi mau beli dulu sebentar eyang, ke toko souvenir." Jawab Nia.
"Nggak usah. Nanti baju ganti kamu di antarin." Jawab eyang lalu segera menarik tangan Nia untuk segera berendam, karena tubuh tua eyang sudah mulai lelah.
Sesampainya di ruangan khusus sudah tersedia tempat berendam yang indah, karena langsung menghadap pemandangan taman dan hutan yang ada di sekitat resort. Walaupun Nia pernah beberapa kali ke resort ini, tapi Nia tidak tahu kalau ada tempat yang bagus.
"Bengong aja. Ganti sana pakai kain itu, biar kita seperti gadis-gadis di desa yang mandi di sungai." Kata eyang sambil tertawa, membuat Nia yang visual langsung membayangkan eyang menjadi gadis desa yang lagi mandi di sungai, dan malah ikutan tertawa karen visual konyolnya.
"Ni udah belum?" Tanya eyang dari sebalik ruang ganti.
"Udah eyang." Kata Nia yang malu-malu kekuar menggunakan kain panjang yang melilit tubuh mungil Nia dengan kulit yang putih bersih. Di tambah karena ia akan berendam, Nia terpaksa harus melepaskan softlensenya dan memperlihatkan iris emerald yang dimilikinya.
"MashaAllah. Ini beberan kamu Ni? Cantik bener seperti bidadari." Kata eyang kagum, karena baru melihat Nia dalam rupa aslinya, tanpa di jelek-jelekkan.
"Nia manusia eyang. Emang eyang pernah ketemu bidadari?" Tanya Nia sambil tersenyum.
"Beneran?" Tanya Nia tidak percaya.
"Ini, eyang jumpa bidadarinya. Tapi nggak ada jaka tarub nya." Kata eyang lagi sambil tertawa, yang membuat Nia tidak bisa berkata apa-apa.
"Mata kamu cantik banget Ni. Kamu keturunan bule?" Tanya eyang heran.
"Nggak tahu juga. Tapi ibu dan papa warna matanya normal, walau mata ibuk sedikit coklat terang. Nggak tahu kenapa Nia bisa punya iris berwarna emerald. Mungkin dari nenek moyang sebelah ibuk, karena ibuk dari bayi tinggal di panti asuhan, jadi nggak tahu siapa keluarganya." Terang Nia dan membuat eyang hanya menggut-manggut, paham kenapa irisnya berwarna emerald.
"Kalau kamu nggak menyembunyikan kecantikan kamu, pasti banyak cowok yang ngantri dan ngejar-ngejar kamu ya Ni." Kata eyang lagi sambil tertawa.
"Nggaklah eyang. Nia biasanya. Masih banyak yang lebih cantik lagi." Jawab Nia tersipu malu daa membuat pipinya berubah warna menjadi pink, yang membuat eyang jadi gemes dan mencubit pipi Nia lembut.
"Gemes eyang. Eyang aja yang perempuan ngakuin kamu cantik. Kamu itu manis dan cantik Ni. Mandangin kamu nggak ada bosannya, terutama mata kamu." Kata eyang lagi.
"Udah ah eyang. Nggak jadi berendam, nanti malah kita masuk angin udah terbuka cuma pakai kemben begini." Kata Nia sambil menunjuk kemben yang digunakannya.
"Iya juga ya. Ayok kita berendam." Kata eyang sambil tertawa lalu masuk ke bak pemandian air panas.
Setelah berendam sekitar 10 menit, Nia memijat kaki, tangan dan punggung eyang, karena Nia tahu kalau eyang sedang merasa lelah.
"Eyang panggil terapisnya aja ya. Sekalian kamu mau dipijat?" tanya eyang yang masib menikmati pijatan yang Nia lakukan.
"Nggak usah eyang. Nia bisa kok. Soalnya Nia sering pijat Ibuk. Kan kasian ibuk udah seharian kerja ngurusin rumah majikannya, jadi setiap malam Nia pasti mijitin ibuk." Terang Nia yang membuat air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipinya yang membuat eyang terkejut melihat Nia menangis, dna tengah mengusap air matanya.
"Kamu kenapa Ni?" Tanya eyang panik.
__ADS_1
"Nggak apa-apa eyang. Cuma keingat ibuk." Jawab Nia yang mendongakkan wajahnya, berusaha agar air matanya tidak tumpah.
"Ya sudah, nanti kita ketempat ibuk kamu. Eyang juga sekalian mau kenalan." Kata eyang antusias yang membuat Nia semakin terharu.
"Kita bisa ketempat ibuk. Tapi eyang nggak bisa kenalan." kata Nia.
"Loh, memangnya kenapa?, Kamu aja baik gini, nggak mungkin ibuk kamu nggak baik, nggak mau kenalan dengan eyang?" Tanya eyang agak sedikit marah.
"Ibuk Nia baru meninggal sekitar tiga minggu yang lalu." Jawab Nia lirih.
"Innalillahi. Ya udah deh, eyang kenalan nya ntar kalau udah waktunya nyusul aja." Jawab eyang yang berusaha menghibur Nia dan berhasil membuat Nia tersenyum mendengar jawaban eyang.
Selesai berendam dan saling bercerita sekitar hampir satu jam, Nia dan eyang memutuskan untuk menyudahi acara berendam mereka. Cacing-cacing yang berdemo minta diisi membuat mereka harus segera menyelesaikan sesi berendam mereka hari itu.
Nia segera membilas tubuhnya dan mengenakan pakaian yang tadi Nia gunakan, tidak lupa softlense hitam dan kacamata bulat yang membingkai hampir seluruh wajahnya yang mungil.
Setelah itu Nia dan eyang segera pergi ke restoran resort yang menyajikan makanan prasmanan. Nia dan eyang mengambil beberapa menu yang sangat menggugah selera mereka.
"Eyang mau aku antarain pulang?" Tanya Nia ketika sudah menghabiskan semua makanannya.
"Nggak usah sayang. Eyang bisa pulang sendiri. Lagian sudah dijemput juga. Kamu mau eyang antar?" Tanya eyang sambil membrikan isyarat mata ke beberapa pria yang menggunakan seragam khas bodyguard untuk tidak mendekatinya. Karena eyang tidak ingin Nia tahu siapa dirinya.
"Nia pulang sendiri aja eyang. Lagian hari ini janji mau ke rumah ibuk, majikan ibuk Nia dulu." Kata Nia lagi.
"Sayang sekali. Padahal eyang masih ingin bersama kamu Ni. Kita belum main paintball loh" Kata eyang dengan ekspresi kecewa.
"InshAllah lain waktu kalau ketemu lagi, aku akan habiskan waktu seharian dengan eyang, dan kita juga bisa main paintball." Kata Nia sambil menggenggam tangan eyang untuk meyakinkannya.
"Janji Ni?" Tanya eyang antusias.
"InshAllah." Kata Nia sambil tersenyum.
Setelah memeluk eyang dan berpamitan, Nia segera keluar dari resort, karena ia sudah memesan transportasi online, dan meninggalkan eyang yang masih duduk di hadapan meja makan tempat ia makan siang dengan Nia.
"Sudah cukup bersenang-senangnya hari ini sayang?" Tanya seorang pria yang walaupun rambutnya sudah memutih tapi masih kelihatan gagah dan tampan. Sangat serasi sekali dengan eyang.
"Kamu ini sudah datang saja. Kurang-kurangilah keposesivan kamu sayang." Kata eyang sambil menatap pria yang sedang menyandarkan dagunya dibahu eyang.
"Tidak akan. Kamu segala-galanya bagi ku." Kata laki-laki tua itu lagi.
"Dasar bucin." Kata Eyang sambil tertawa dan menggandeng tangan pria itu serta mengajaknya pergi.
"Aku lihat kamu sangat bahagia."Kata pria itu sambil berjalan menuju mobil yang sudah menunggu mereka.
"Ya, aku ketemu gadis cantik yang sangat baik. Seandainya kita punya cucu satu lagi, aku ingin gadis itu menjadi cucu menantu kita." Kata eyang sambil tersenyum mengingat Nia.
"Wah... sayang, kamu perhatian sama orang lain. Aku tidak suka." Kata lelaki tua itu merajuk, yang membuat eyang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang posesiv. Jangankan orang lain, bahkan anaknya sendiripun tidak boleh mendapatkan perhatian lebih.
"Kamu tetap menjadi orang yang paling aku sayangi." Kata eyang sambil mengecup pipi kiri suaminya, yang langsung membuat pria tua itu senang. Mereka selalu menjadi pasangan bucin dan romantis walaupun sudah memasuki usia senja. Membuat siapa saja yang melihat atau mengenal mereka, menjadi iri melihat hubungan eyang dan suaminya.
"Kita jadi ke rumah Roza?" tanya eyang pada suaminya.
"Jadi dong. ini mau langsung kesana. Roza ngajakin kita makan malam." Jawab suami eyang yang bernama Ahmad Raziq Malik.
Supir keluarga Malik yang sudah lama bekerja dengan keluarga Malik, hanya tersenyum senang melihat majikan yang usianya di atasnya masih menunjukkan hubungan mereka yang terlihat sangat bahagia.
"Kamu jangan senyum-senyum Wan. Sekali lagi kamu biarin nyonya Ginatri mu ini lolos dari pengawasan kamu, saya nggak akan segan-segan mindahin kamu ke kantor cabang papua." Kata tuan Ahmad yang sedikit kesal dengan Awan, sopir kepercayaannya karena membiarkan istrinya kabur.
"Siap tuan." Kata Awan sambil tersenyum, karena Awan tahu kalau ia sampai dipindahkan ke Papua, Eyang Ginatri akan membelanya.
__ADS_1
"Kalau Awan kamu kirim ke Papua, aku juga ikut ke Papua." Kata Eyang Ginatri membela Awan.
"Jangan dong sayang. Aku cuma bercanda." Kata tuan Ahmad dan langsung mendekap istri tercintanya, yang membuat Awan kembali tersenyum, karena sudah menduga kalau kejadiannya bakalan seperti itu, karena ini bukan kali pertamanya majikannya kabur, tapi baru kali ini Awan melihat wajah majikannya bahagia setelah kabur.