
Sewaktu tinggal hari pertama, Nia bari tahu ternyata rumah Nik Kos tidak ada listrik, mereka hanya diberikan tumpangan listrik oleh tetangga untuk satu buah lampu.
Keesokan harinya Nia memasukkan listrik ke rumah Nik Kos. Nia juga menyampaikan keinginannya untuk memperbaiki rumah Nik Kos, tetapi Nik Kos tidak ingin rumahnya diperbaiki, karena ada begitu banyak kenangan bersama suami dan anaknya yang sudah tiada di rumah itu.
Nia akhirnya memutuskan untuk membeli tanah yang ada di sebelah rumah Nik Kos, dan kebetulan sudah ada bagunan rumahnya.
Nia juga memikirkan usaha apa yang akan dia buka, agar Eis bisa mendapatkan penghasilan, begitu juga penduduk sekitar.
"Kamu bisa bawa motor Eis?" Tanya Nia
"Nggak bisa teh. Tapi kalau sepeda Eis bisa." Jawab Eis semangat.
"Sepertinya, di Desa ini ada banyak buah-buahan yang tumbuh di halaman warga. Teteh lihat banyak yang jatuh-jatuh dan terbuang." Terang Nia sewaktu Eis membawanya jalan-jalan berkeliling Desa
"Iya teh, soalnya kalau di jual ke pasar juga, harganya murah banget, soalnya semua orang punya." Jelas Eis.
"Bagaimana kalau kita buat usaha dengan memanfaatkan hasil tanaman pekarangan warga yang melimpah. Nanti teteh cari deh, itu buah-buahan bisa kita olah jadi apa saja, untuk meningkatkan nilai jualnya." Kata Nia.
"Ide bagus teh. Sudah banyak sih ibu-ibu sini berpikir seperti itu, tapi ya gitu teh, modalnya nggak ada." Jelas Eis.
"Kalau modal gampanglah. Ntar kita cari dana CSR perusahaan." Kata Nia yang berfikir akan mengajukan proposal usaha ke perusahaannya dan perusahaan papanya.
Sudah hampir sebulan Nia tinggal di desanya Eis. Nia juga sudah memyelesaikan tesisnya dan mendaftar untuk sidang. Jadwalnya, tiga hari lagi Nia akan sidang, dan mau tidak mau, Nia harus kembali ke kota P.
Selama Nia berada di kampung Eis, Mayang terus-terusan julid dengan Nia. Setiap kesempatan yang ada, Mayang selalu memojokkan Nia. Namun hal itu tidak jadi masalah bagi Nia, karena dia selalu berhasil membalikkan kata-kata Mayang yang menyudutkannya.
Mayang semakin membenci Nia, karena baru sebentar Nia berada di desa itu, tapi di Desa itu terjadi beberapa perubahan. Akses jalan yang dulunya masih tanah berbatu, sekarang sudah dibeton, tidak tahu ada kontraktor dari mana yang mengerjakannya. Karena proyek jalan itu, bukanlah proyek dana pemerintah, tapi proyek dana perusahaan swasta, yang merahasiakan nama perusahaan yang hanya diketahui oleh pak camat, lurah, RW dan RT. Apalagi, Hendra sering terang-terangan merayu Nia, padahal secara penampilan, Nia tidak lebih cantik dari Mayang, yang memiliki wajah yang ayu, kulit putih mulus. Berbeda dengan Nia yang memiliki tompel lumayan besar ditambah kacamata lebar yang menutup setengah wajahnya.
"Eis, dua hari lagi teteh mau pergi sekitar 3 hari paling lama. Nanti kalau urusan teteh selesai, teteh akan kembali. Kamu awasin pembangunan tempat usaha yang mau kita buat ya. Kalau ada perlu dengan teteh, kamu hubungi teteh di nomor yang ada di hp ini." Jelas Nia yang menyerahkan sebuah hp kepada Eis.
"Teteh kemana memangnya?" Tanya Eis penasaran.
"Pokoknya ada yang mau teteh urus. Anak kecil nggak boleh tahu. Yang jelas ini pekerjaan halal." Jelas Nia sambil tertawa, karena suka melihat Eis yang manyun kalau lagi penasaran.
Hari ini Nia berangkat menuju kota P, untuk melaksanakan sidang Tesis. Bimbingan selama ini Nia lakukan secara online.
Sesampainya di kota P, Nia mengaktifkan hpnya, dan ternyata ada banyak pesan dan panggilan masuk dari papanya, termasuk teman-temannya. Tapi tidak ada pesan atau panggilan dari Reyhan, yang membuat Nia merasa sedikit sedih, ternyata sebegitu tidak berartinya kebersamaan mereka selama ini.
"Assalamualaikum Wa Rohmatullahi Wa Barakatuh. Iya pa?, Iya maaf Nia lagi ada project di tempat terpencil, susah listrik dan sinyal. Iya, besok sidang tesisnya. InsyAllah siap. Bulan depan jadi wisuda. Nanti kalau undangannya sudah dapat, Nia kirim ke papa." Jelas Nia yang buru-buru izin untuk mengakhiri pembicaraan sebelum papanya menanyakan tentang Reyhan. Nia pikir tidak ada yang tahu kalau Reyhan sudah mengucapkan kata talak dan mengusir Nia, tetapi semua yang sayang Nia masih bersikap seperti biasa.
Tidak lama selesai papanya telpon, sekarang giliran Yangti yang telpon, mengabarkan kalau minggu depan Yangti akan pulang, dan bertanya Nia mau dibawain apa.
Sebenarnya Nia sangat sedih dan ingin menangis sewaktu Yangti mengatakan Yangti akan pulang, dan mengajak Nia serta Reyhan liburan. Mendengar Yangti yang membuat rencana dengan antusias, membuat Nia berusaha sekuat tenaga menahan air mata dan intonasi suaranya agar tidak bergetar.
__ADS_1
"Nia lagi flu Yangti. Udah minum obat. Besok Nia sidang tesis. Yangti doakan Nia ya. Love you more." Kata Nia mengakhiri pembicaraan setelah mengucapkan salam, karena sudah tidak tahan lagi untuk menahan air matanya.
Nia menginap di salah satu tempat kos exsecutive yang berada di sekitar lingkungan kampus, karena Nia tidak mau repot-repot naik kendaraan menuju kampus. Nia juga meminta kepada pihak kampus untuk tidak mempublikasikan tanggal sidangnya, karena Nia tidak ingin ada teman-temannya yang datang.
Seperti biasa, ketika sidang, Nia selalu datang pagi-pagi sekali, dan mempersiapkan keperluan sidangnya sendiri. Sidang tesis Nia berjalan dengan lancar, karena Nia sudah melakukan persiapan yang sangat matang, dan sangat menguasai yang menjadi objek penelitiannya.
"Selamat ya Ni. Saya harap kamu bisa melanjutkan penelitian kamu." Kata Prof Heri begitu Nia selesai sidang dengan hasil yang sempurna.
"Insya Allah prof. Tapi mau istirahat dulu setahun atau dua tahun." Terang Nia sambil tersenyum.
"Kalau kamu ngelanjutin, jangan lupa hubungi saya." Kata Prof Heri lagi.
"Insya Allah Prof." Kata Nia lalu pamit pergi, untuk melapor ke bagian administrasi dan mendaftar wisuda.
Selesai mengurus masalah wisuda, Nia segera pergi meninggalkan kampus, karena tidak ingin ketemu Dian, Oget atau Aldi. Nia benar-benar ingin menghilang untuk sementara waktu.
Sebelum pulang, Nia sempat bertemu Ibu Ratna yang menjadi ketua acara wisuda. Bu Ratna meminta Nia untuk mengisi acara, karena pernah melihat penampilan Nia sewaktu mengisi acara pensi kampus.
"Kamu bisa kan Ni?" Tanya buk Ratna.
"Bantu Nia backup ya bu sama backing vokal, takut nggak kuat. Tapi Nia usahakan." Jawab Nia.
"Alhamdulillah. Terima kasih ya Ni." Kata bu Ratna lalu berpisah dari Nia.
"Michin! Lo kok ada disini?" Tanya Sean yang melihat Nia sewaktu keluar dari salah satu toko pakaian.
Nia yang melihat kalau Sean sedang berjalan menuju ke arahnya, bermaksud untuk kabur, tapi tangannya ditangkap oleh Sean, sehingga Nia tidak bisa kabur.
"Lo kok bisa disini?" Tanya Sean lagi.
"Lepas Sean."
"Nggak. Ntar lo kabur." Keukeuh Sean.
"Janji, nggak kabur. Gue lapar, mau ke food court." Kata Nia lalu Sean segera melepaskan tangan Nia, dan mereka menuju food court.
Nia memilih tempat duduk favoritnya yang berada di sudut dan tidak terlalu ramai. Sementara Sean pergi memesan makanan yang biasa mereka pesan.
Sean kembali ke tempat Nia duduk dengan nampan berisi makanan dan minuman yang biasa mereka pesan.
"Masih ingat aja lo menu favorit gue." Kata Nia yang melihat isi nampan yang dibawa Sean antusias.
"Ingatlah. Kita itukan bagai kembar dibelah kampak." Kata Sean sambil tertawa.
__ADS_1
"Iya, lupa gue. Maklum, sudah lama pisah dari kembaran gue." Kata Nia sambil tersenyum dan mulai memakan dimsum favorit nya.
"Lo tumben ada di sini? Nggak di kekepin Kak Rey lo?" Tanya Sean, yang membuat Nia menghentikan menyuap makanannya, dan Sean paham betul, ketika seperti itu, berarti ada sesuatu yang disembunyikan Nia.
"Lo kabur?" Tanya Sean lagi.
"Ng Nggak." Jawab Nia yang berusaha tenang.
"Nggak usah bohong sama gue Ni. Gue tau banget lo itu hobi banget kabur." Kata Sean lagi.
"Beneran, gue nggak kabur." Kata Nia lagi.
"Terus kenapa lo ada disini?" Tanya Sean, tapi Nia hanya diam saja.
"Gue telpon kak Rey." Ancam Sean.
"Jangan." Kata Nia refleks, lalu membekap mulutnya sendiri karena keceplosan.
"Betulkan lo kabur." Kata Sean lagi.
"Nggak kabur. Gue di usir, di talak juga." Kata Nia dengan suara pelan.
"Hah? Apa? Gue nggak denger."
"Gue udah bukan istri mas Rey. Dia udah jatuhin talak buat gue, karena mau balik dengan kak Els." Kata Nia mulai emosi.
"Lo beneran? Yangti dan bokap lo tau?" Tanya Sean lagi. Dan Nia hanya memberikan gelengan kepala sambil berusaha tersenyum, karena mengingat betapa miris hidupnya.
"Lo jangan kasi tau kalau pernah ketemu gue di sini. Lo tahu kan Sean, bagaimana mirisnya hidup gue. Dari kecil diusir papa karena gue dikira bukan anaknya. Begitu besar gue harus gantiin kakak gue nikah sama orang yang nggak gue cinta dan kenal. Sekalinya gue belajar mencintai dan jatuh cinta, eh malah gue dicampakkan. " Kata Nia dengan wajah yang sudah penuh air mata.
Ingin rasanya Sean memeluk Nia dan menghapus air matanya, tapi kebersamaan mereka yang begitu lama, membuat Sean paham, kalau Nia tidak suka disentuh laki-laki yang bukan mahramnya.
"Lo janji sama gue." Kata Nia lalu menengadahkan wajahnya agar air matanya berhenti.
"Lo kenapa nggak ke rumah gue aja?" Tanya Sean.
"Gue lagi menata hati dan mempersiapkan diri. Gue nggak mau menjawab banyak pertanyaan, sementara hati gue belum siap. Gue nggak mau ada yang lihat gue rapuh dan lemah, terus ngasihani gue. Biarkan gue bahagia dan jalani hidup dengan cara gue." Jelas Nia.
"Nomor lama lo nggak aktif. Terus kalau gue mau hubungi lo kemana?" Tanya Sean lagi.
"Lo kirim DM aja ke salah satu medsos gue." Jelas Nia.
Setelah agak tenang, Nia segera pamit meninggalkan Sean, yang terus menatap Nia, hingga Nia hilang disebalik kerumunan para pengunjung mall.
__ADS_1