Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Kamar Reyhan dan Elsa


__ADS_3

Setelah acara resepsi dan bertemu dengan keluarga besar yang baru Nia temui, membuat Nia merasa bahagia. Karena selama ini ia hanya berdua dengan ibunya.


"Sayang, apa nggak bisa kamu balik nya minggu depan aja?" tanya eyang Ginatri dengan wajah memohon.


"Maaf eyang. Nia sudah daftar buat ambil SP. Nanti kalau liburan, Nia janji deh bakalan nemani eyang sepuasnya." Kata Nia sambil menggenggam tangan eyang Ginatri sewaktu menunggu di ruang tunggu bandara.


Nia akan kembali ke kota P, di antar oleh Reyhan, Eyang Ginatri, Eyang Ahmad dan juga Bian serta asisten kepercayaannya.


Sebenarnya Nia tidak mau di antar ke bandara, tapi yang lain pada maksa mau ikut, jadinya yang ngantar hanya Eyang Ginatri dan suaminya, Reyhan, Bian serta asistennya.


Reyhan tidak bisa mengantar Nia pulang ke kota P, karena masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan.


Petugas sudah mengumumkan kalau penumpang pesawat yang akan membawa penumpang dari kota B menuju kota P harus naik ke pesawat. Nia pamit dan memeluk eyang Ginatri, Bian dan eyang Ahmad, tapi Nia hanya mencium punggung tangan Reyhan, lalu segera chek in dan masuk ke pesawat.


Nia yang lelah memutuskan untuk menutup matanya ketika sudah mendudukkan dirinya di kursi pesawat kelas VIP yang di pesan Reyhan.


"Mbak, saya mau istirahat, tolong jangan bangunkan saya kecuali kalau sudah landing." kata Nia kepada salah seorang pramugari.


"Baik mbak." Kata pramugari itu ramah.


Perjalanan yang ditempuh memakan waktu kurang lebih 2 jam dari kota B menuju kota P.


"Michin... michin bangun." Kata Sean yang berusaha membangunkan Nia karena pesawat yang sudah landing.


"ehmmm..."


"Astagfirullah. Sean?! Kenapa lo ada di sini?" Tanya Nia heran, karena begitu membuka mata yang dilihat adalah wajah Sean.


"Masih ada yang mau gue pastiin sama lo. Waktu di kota B gue nggak bisa ngomong dengan lo. makanya gue ikutin lo." Jelas Sean.


"Permisi, Silahkan nyonya. Saya akan mengantarkan anda kembali ke asrama." Kata Seorang perempuan yang mengenakan pakaian serba hitam.


"Anda siapa?" tanya Sean heran.


"Saya adalah pengawal pribadi yang diperintahkan tuan Rey untuk menjaga nyonya" Terang perempuan itu yang membuat Nia dan Sean saling tatap.


Nia yang malas debat atau ribut, memutuskan untuk segera turun dari pesawat diikuti pengawal perempuan yang Nia tidak tahu siapa namanya, dan Sean yang nggak heran kalau Reyhan akan memberikan Nia pengawal, karena Reyhan tipe orang yang sangat posesive.


"Perkenalkan nyonya, nama saya Rani. Saya adalah asisten pribadi anda yang di minta tuan Rey untuk menjaga nyonya selama di kota P. Silahkan nyonya. Sebelah sini." kata pengawal perempuan itu ramah sambil menunjuk arah keluar, tempat mobil yang menjemput penumpang menunggu.


"Maaf mbak. Sebentar." Kata Nia lalu segera menarik Sean menjauh dari Rani yang menunggu di koridor.


"Lo punya nomor kakak sepupu lo?" tanya Nia.


"Kakak sepupu yang mana?" tanya Sean pura-pura nggak pintar.


"Lakik gue." Kata Nia sambil cemberut, karena Sean yang pura-pura nggak pintar.


"Diakuin kak Rey jadi lakik?" Ledek Sean sambil nyengir.


"Mana?, buruan." kata Nia sambil mengulurkan tangannya meminta ponsel Sean.


"Nggak sabar amat. Udah rindu aja lo sama kak Rey." Ledek Sean yang membuat Nia memelototkan matanya tanda protes.


Nia segera menghubungi Reyhan menggunakan ponsel Sean, karena Nia tidak mau Reyhan punya nomor ponselnya. padahal tanpa sepengetahuan Nia, Reyhan punya nomor ponsel Nia. Iya kali, Reyhan nggak punya nomor ponsel Nia. Secara walaupun mereka menikah karena terpaksa, sifat posesif Reyhan terhadap sesuatu yang menjadi miliknya, membuat Reyhan harus tahu semua tentang yang menjadi miliknya, tidak terkecuali Nia, istri dadakan pengganti Elsa.


"Iya Sean?" Tanya Reyhan yang agak heran karena sean menelponnya.

__ADS_1


"Ini Nia mas. Itu maksudnya apa ya mas ngasih Nia mbak Rani?" Tanya Nia to the point.


"Kenapa kamu nelpon pakai hp Sean?, Sean sama kamu?" Tanya Reyhan tidak suka.


"Mas pertanyaan aku belum dijawab loh." Protes Nia.


"Terima aja. Nggak usah pakai protes. Kembalikan hpnya Sean. Lagian kenapa kamu nggak telpon mas pakai hp kamu sendiri? Nggak ada pulsa? ganti aja sama kartu pra bayar, nanti mas yang bayar setiap bulannya. Nanti mas suruh Rani yang urus." kata Reyhan tegas yang membuat Nia tidak bisa berkata apa-apa, apalagi protes.


"Nih." Kata Nia, mengembalikan hp Sean dengan wajah cemberut.


"Iya. iya. Sean balik hari ini. Iya, Sean nggak ganggu si Michin. Maaf, kebiasaan udah lama hidup bersama, jadi susah merubah panggilan. Iya kak. Ya udah. Iya.. Assalamualaikum Wa Rohmatullahi Wa Barakatuh." Kata Sean lalu memutuskan sambungan telponnya.


"Lakik lo nyebelin." Protes Sean lalu memasukkan hpnya ke kantong jaket yang dikenakannya.


"Siapa?" Tanya Nia


"Lakik lo." Kata Sean lagi penuh penekanan.


"Siapa nanya?. hahaha" Kata Nia lalu tertawa, karena senang melihat reaksi Sean.


Melihat Nia bisa tertawa, cara Nia nelpon Reyhan, dan cara Reyhan ngelindungi Nia, membuat Sean akhirnya merelakan sahabat baiknya untuk menikah dengan Reyhan.


"Kok Lo mau sih Chin nikah sama kak Rey yang galak dan posesif abis gitu? Masih bisa tertawa, Masih bisa ngejalani hidup lo tanpa beban" Tanya Sean yang membuat Nia berhenti tertawa, dan mengusap air matanya, karena setiap tertawa, air matanya pasti akan keluar.


"Ikhlas dan gue yakin rencana Allah itu pasti lebih indah." Jawab Nia bijak.


"Kalau gitu, gue tenang relain lo nikah." Kata Sean sambil mengacak rambut Nia.


"Aish... berantakan nih rambut gue." Protes Nia sambil merapikan rambutnya.


"Ya udah, kalau gitu, gue balik lagi." Kata Sean sambil tersenyum yang membuat Nia mengerutkan keningnya, heran.


"Nggak. Gue di suruh balik cepat." Jawab Sean.


"Oh ya udah. Salam buat ibuk sama bapak. Hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum" Kata Nia lalu meninggalkan Sean menuju pintu keluar.


"Silahkan nyonya." Kata Rani yang membukakan pintu belakang untuk Nia.


"Terimakasih mbak." Kata Nia sambil tersenyum ramah.


"Ke asrama Kampus Harapan pak." Kata Nia kepada supir yang akan mengantarkan Nia kmanapun Nia pergi.


"Kata tuan, nyonya tidak perlu ke asrama lagi. Langsung ke rumah saja." Kata Rani dengan ekspresi datarnya.


"Barang-barang saya masih di asrama mbak. Lagian mau pamit juga sama ibu Yuni." Kata Nia yang mulai agak kesal, karena tuan dan pekerjanya sama-sama menyebalkan.


"Barang-barang nyonya sudah kami pindahkan." Jawab Rani.


"Serius mbak?" Tanya Nia tidak percaya.


"Iya. Kami meminjam kunci cadangan dari ibu penjaga asrama." Jawab Rani yang membuat Nia tidak suka. Karena baru nikah sehari Reyhan sudah mengatur-ngatur hidupnya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah yang sudah di persiapkan Reyhan,Nia hanya diam saja, sambil memandang ke arah luar jendela.


"Maaf nyonya, kalau anda merasa tidak nyaman. Tapi itu perintah mutlak tuan Rey." Jawab Rani, yang mengerti kenapa Nia tiba-tiba menjadi diam.


"Its ok mbak. Aku ngerti." Jawab Nia karena tidak enak dengan Rani, karena yang menyebalkan itu Reyhan, bukan Rani.

__ADS_1


Mereka sampai di rumah yang lumayan besar dengan gaya minimalis modern, yang di dominasi warna putih.


Rani berencana menunjukkan Nia setiap bagian rumah, tapi Nia menolaknya.


"Kamar saya di mana mbak?" Tanya Nia kepada Rani.


"Di atas nyonya. sebelah kanan tangga. Apa ada yang nyonya perlukan?" Tanya Rani.


"Nggak ada. Terimakasih mbak." kata Nia lalu segera menuju kamarnya.


Begitu membuka kamar, Nia melihat kamar yang sangat luas di dominasi warna putih gading, berbeda dengan ruangan lain. Di dalam kamar di design seperti kamar hotel tempat Nia menginap sewaktu acara resepsi.


Nia melihat-lihat isi kamarnya dengan seksama. Di dalam kamar ada tiga buah pintu, pintu pertama tempat Nia akan keluar dan masuk kamar. Pintu kedua yang Nia buka merupakan kamar mandi yang tertata rapi dengan nuansa putih dan terdapat sebuah Jacuzzi yang indah dan nyaman untuk berendam. Pintu ketiga berisi pakaian Reyhan dan Nia yang berderet dengan rapi, hal itu tentu saja membuat Nia heran, baru Nikah sehari, udah ada aja pakaian perempuan di dalam walking closet yang ada di kamar yang akan Nia tempati. Melihat pakaian Reyhan, Nia baru ngeh kalau itu adalah kamar Reyhan dan kak Elsa.


"Mbak Rani." Panggil Nia sambil berlari menuruni tangga mencari keberadaan Rani.


"Ada yang bisa kami bantu nyonya?" Tanya seorang wanita dengan seragam khas pelayan yang berdiri rapi di depan beberapa wanita dan pria yang mengenakan pakaian rapi, membuat Nia terbengong, dan merasa lagi hidup di zaman kerajaan.


"Di negara I ada yang seperti ini?" Tanya Nia heran.


"Kenapa Nyonya?" Tanya wanita tadi ramah.


"Eh.. ng... enggak." Kata Nia sambil tersenyum ramah.


"Perkenalkan, kami adalah para pelayan yang mengurus rumah ini. Nama saya Sekar, Itu pak Anto supir pribadi anda nyonya. dari kiri ke kanan ada Santi, Rere, Yuna, Malika, Pak Adam dan Pak Seno." Jelas perempuan yang bernama Sekar memperkenalkan orang-orang yang mengurus rumah itu.


"Oh. Salam kenal. Lagian mbak, jangan panggil saya nyonya deh. Berasa jadi nyonya nyonya zaman kolonial, tua banget." Kata Nia sambil nyengir, yang membuat wajah para pengurus rumah menjadi sedikit relaks karena ternyata nyonya mereka tidak sekejam yang dibayangkan.


"Itu perintah tuan Rey nyonya." Kata Sekar lagi dengan ekspresi datar khas kepala pelayan.


"Ck... Perintah perintah, dasar tukang perintah" Dumel Nia dengan suara pelan sambil memanyunkan bibirnya.


"Ada yang salah nyonya?" Tanya Sekar, melihat Nia ngedumel sendiri.


"Nggak. Cuma mau cari mbak Ratih mana?" Tanya Nia.


"Nona Ratih lagi ke provider kartu seluler buat ngurus nomor hp nona yang baru. Ada yang bisa saya bantu nyonya. Silahkan bilang saja, tidak perlu sungkan." Kata Sekar.


"Gini ya mbak, pertama, nggak usah terlalu formal dengan saya kecuali waktu ada tuan Reyhan yang terhormat (😁), kedua saya mau tanya ada kamar lain nggak selain yang di atas?, Ketiga......." Kata Nia menggantung perkataannya sambil melihat ekspresi Sekar yang menyimak dengan serius.


"Nungguin ya....?" Kata Nia lalu tertawa, karena tiba-tiba saja melihat para pengurus rumah yang kaku membuat Nia mengaktifkan mode jahilnya, tapi semuanya tetap dengan mode kaku khas pelayan.


"Hehehe... maaf. Jawab yang kedua aja." Kata Nia.


"Kalau boleh saya tahu, untuk apa nyonya nanyain kamar yang lain? Apakah ada yang salah dengan kamar tuan? Perlu kami renovasi?" Tanya Sekar agak panik.


"nggak..nggak. Bukan kamarnya yang salah. Tapi saya yang kurang nyaman dengan kamar sebesar itu. Saya mau kamar yang lebih kecil, kamar rumah orang biasa. ada nggak?" Tanya Nia sambil tersenyum.


"Maaf Nyonya, Kamar itu sudah lama dipersiapkan tuan untuk nyonya." Kata Sekar, yang membuat Nia tiba-tiba sedih, karena keyakinan Nia benar, bahwa kamar dan semua yang ada di kamar itu dipersiapkan Reyhan untuk Elsa.


"Maaf nyonya, apakah ada perkataan saya yang salah?" Tanya Sekar yang merasa tidak enak, melihat ekspresi sedih Nia.


"Nggak apa-apa." Kata Nia sambil berusaha tersenyum, tetapi dengan ekspresi sedih.


"Maaf kalau ada perkataan saya yang salah." Kata Sekar


"Nggak. Mbak nggak salah. Ya sudah, saya balik lagi ke kamar." Kata Nia lalu kembali menuju kamar Reyhan.

__ADS_1


Nia yang tadinya berencana untuk bersih-bersih, berendam sebentar di Jacuzzi yang ada di kamar mandi, mengurungkan niatnya karena mengingat, kamar yang ditempatinya sekarang beserta isinya, bukanlah kamarnya, melainkan kamar yang di persiapkan Reyhan untuk Elsa.


__ADS_2