
POV Nia
Aku yang sedang tertidur pulas, tiba-tiba merasa ada yang mencium bibir ku, dan benar saja, pas aku buka mata, terlihat wajah mas Reyhan yang sangat dekat dengan wajah ku.
"Kamu ngapain mas?" Tanya ku marah sambil mendorong mas Reyhan dan langsung duduk. Walaupun aku tahu dan sadar kalau dia adalah suami ku, yang berhak melakukan bahkan lebih dari sekedar ciuman, tapi aku benar-benar tidak rela kalau mas Reyhan melakukannya hanya karena keinginan sesaat saja. Aku bukan wanita murahan yang nggak bisa sembarangan mas Reyhan jamah, apalagi dia pernah bilang, kalau dia nggak akan menunaikan kewajibannya untuk memenuhi nafkah batin.
"Maaf, saya khilaf. Tapi kan aku berhak miliki kamu." Katanya tidak mau kalah.
"Mas yang bilang, kalau mas nggak akan sentuh aku. Tapi sekarang apa? Mas berani nyium aku. Hilang nih perawannya bibir aku." Protes ku pada mas Reyhan sambil menyeka bibir ku dengan tangan, menghapus sisa-sisa saliva mas Reyhan sewaktu mencium ku.
"Abis, kamu aneh. Tidur kayak orang lagi ngemut permen. Ya saya periksa dong." Bela mas Reyhan terhadap dirinya.
"Lah, emang periksa harus dengan cium aku? Kan nggak." Protes ku lagi.
"Ya udah. Kamu tidur lagi saja. Saya nggak akan apa-apain kamu." Kata mas Reyhan lalu pergi menuju tempat tidur bagiannya.
Kelakuannya sungguh membuat aku sangat kesal. Semua yang dikatakan tidak ada yang bisa di pegang. Tidak boleh ngatur, eh malah dia ngatur-ngatur hidup aku. Nggak akan ngapa-ngapain, eh malah nyosor tuh bibir, tapi walau kesal, kok aku malah suka ya waktu mas Reyhan cium, kayak ada rasa manis-manisnya gitu 😁.
Aku mengambil bantal dan selimut, bermaksud untuk tidur di kamar lain.
"Berani kamu keluar, saya akan marah." Ancamnya yang membuat aku segera mengurungkan niat ku untuk membuka pintu, dan membalikkan badan menghadapnya.
"Aku nggak mau lagi sekamar dengan mas. Ternyata laki-laki semua sama aja. Kucing garong." Kata ku kesal lalu berbalik untuk memutar handle pintu.
"Enak saja kamu bilang saya kucing garong." Kata mas Reyhan sambil berjalan ke arah ku.
"jeglek jeglek" Aku berusaha membuka pintu kamar, tapi pintunya tidak mau terbuka, dan membuat aku jadi panik dan bingung, karena mas Reyhan semakin mendekat.
"Kok nggak bisa dibuka?" Tanya ku dengan bodohnya. Karena baru sadar, kalau pintu kamar tersebut bisa dikunci menggunakan remot yang sekarang berada di tangan mas Reyhan.
"Buka mas!" Kata ku dengan nada memerintah, karena aku sangat kesal.
"Nggak. Saya tidak akan biarkan kamu keluar dari kamar ini. Asal kamu tahu, eyang itu sudah memerintahkan salah satu ART untuk mengawasi kita." Terang mas Reyhan.
"Ngapain?" Tanya ku heran.
"Nggak pintar" Katanya sambil menepuk kepala ku pelan dengan tangannya.
"Enak aja ngatain aku nggak pintar! pakai mukul kepala aku lagi. Belum juga hidup bersama lebih dari 50 jam, sudah KDRT aja. Mana ada pelecehan juga lagi." Protes ku yang tidak terima.
"Kan iya, kamu nggak pintar. Gitu aja nggak ngerti. Eyang tentu aja nyuruh salah satu ART buat mata-matain kita. Eyang curiga kalau kita pasti akan buat perjanjian yang aneh-aneh, salah satunya pisah kamar. Eyang sama kamu tuh sama aja. Pecinta novel, jadi pikirannya nggak rasional, adanya di dunia khayalan." terang mas Reyhan.
Aku yang sedang berfikir, memikirkan perkataan mas Reyhan tanpa sadar, tahu-tahu sudah duduk di samping tempat tidur.
"Lah kenapa aku udah disini lagi?" Tanya ku heran.
"Kamu sih, kebanyakan mikir, jadi aku tuntun ke kasur mau aja." Terang mas Reyhan.
__ADS_1
"Ya udah, aku tidur di sofa aja. Mas jangan macam-macam ya?!" Ancam ku.
"Saya tidak akan macam-macam dengan kamu. Satu macam aja. Lagian tidur aja di kasur. Jangan tidur di sofa. Nanti kamu nggak nyaman." Terang mas Reyhan.
"Oh tidak bisa, mas buaya cap kapak, kecebong cap karung. Nggak nggak, tapi nyosor juga." Protes ku.
"Beneran Ni, saya tidak akan sentuh kamu lagi, kecuali kamu izinkan." Kata mas Reyhan sambil menghela nafasnya dan terlihat lelah.
Aku melirik jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 2 lewat 10 dini hari. Kasian juga mas Reyhan kalau tidak tidur cuma hanya karena harus mendebatkan masalah tempat tidur.
Akhirnya aku memutuskan untuk merebahkan tubuh ku di paling sudut kasur, agar jarak ku dan mas Reyhan berjauhan. Tidak lupa beberapa bantal aku tumpuk ditengah sebagai pembatas.
"Mas jangan lewatin batas. Ingat, ini batasnya jangan dilanggar." Kata ku sambil memelototkan mata ku, yang bukan membuat mas Reyhan takut, malah tersenyum sambil menatap ku.
"Kamu cantik banget ternyata. Iris emerald kamu benar-benar indah." Ucap mas Reyhan yang tentu saja membuat aku blushing. Secara cowok nggak jelas seperti mas Reyhan yang aku masih belum bisa tebak, kepribadiannya seperti apa, memuji kalau aku cantik. Tapi aku memang cantik sih 😁✌️, ya kali perempuan ganteng.
"Mulai deh. Nggak usah ngerayu, ngegombal dan sejenisnya. NGGAK MEMPAN." kata ku penuh penekanan lalu segera memunggungi mas Reyhan, menarik selimut hingga menutupi kepala.
"Kamu dosa loh tidur munggungi suami." Protes mas Reyhan.
"Baru nikah, kok udah banyak aja ya catatan dosa aku?" dumel ku heran, soalnya mas Reyhan selalu mengingatkan dosa-dosa istri, ketika aku melakukan kesalahan. Akhirnya aku memutuskan membalikkan badan menghadap mas Reyhan, tapi tetap menutup diri dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan selimut tebal. Agak pengap sih, tapi tidak apa, demi menjaga diri.
POV Author
Nia kembali tertidur lelap, di sebalik selimut tebal yang menggulung tubuhnya. Reyhan yang mendengar suara nafas Nia yang mulai teratur, tersenyum karena melihat gundukan yang naik turun karena nafas Nia ketika tertidur.
Reyhan menarik selimut Nia agar tidak menutupi wajahnya, tersenyum memandang istri yang kurang dari 3 hari dinikahinya, dan mengecup pelan kening Nia agar Nia tidak terbangun, lalu Reyhan juga memutuskan untuk mengarungi alam mimpi.
Nia memandang wajah Reyhan yang terlihat sangat tampan dan menenangkan.
"Kalau bangun kenapa menyebalkan ya?" Tanya Nia heran pada diri sendiri.
"Mas bangun. Sebentar lagi adzan subuh." Kata Nia sambil mengguncang tubuh Reyhan pelan.
"Mas.." Panggilnya lagi.
"Hmm.." Jawab Reyhan yang malah menarik Nia dalam pelukannya, memeluk Nia seolah-olah Nia adalah guling.
Nia yang terkejut di peluk Reyhan, langsung mendorong tubuh Reyhan hingga terjatuh dari tempat tidur.
"Gubrak"
"Aduh" Kata Reyhan mengaduh sambil mengusap bagian belakangnya yang duluan terjatuh kelantai.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Reyhan kesal dan masih mengusap bagian tubuhnya yang sakit.
"Maaf mas. Refleks." Kata Nia yang segera menghampiri Reyhan dan ikutan mengusap bagian tubuh Reyhan yang sakit.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kan mas? Nggak ada yang retak atau patahkan?" Tanya Nia panik.
"Sakit tau. Sepertinya tulang ekor aku patah nih. Aduh aduh." Kata Reyhan yang pura-pura mengaduh kesakitan, yang membuat Nia semakin panik.
"Aku panggil bantuan dulu." Kata Nia lalu hendak berdiri, tapi tangannya di tarik oleh Reyhan hingga terjerembab di atas tubuh Reyhan.
Nia mendengar jantung Reyhan yang berdegup kencang, begitu juga dengan jantungnya.
"Mau berapa lama di atas tubuh saya?" Tanya Reyhan dengan mode ketus, padahal sebenarnya senang.
"Maaf. Kan mas yang narik. Jadinya jatuh deh. Btw jantung mas kok detakannya cepat banget?, mas sakit jantung?" Tanya Nia
"Iya, gara-gara kamu dorong saya. Bantu saya berdiri. Kamu harus tanggung jawab merawat saya sampai sembuh. Saya tidak mau ada yang tahu kalau saya jatuh dari tempat tidur gara-gara kamu." Kata Reyhan panjang lebar.
"Iya aku tanggung jawab. Gampang kalau tanggung jawab, tanggung azab baru susah." Kata Nia sambil nyengir, lalu membantu Reyhan kembali ke tempat tidur dengan susah payah karena bobot tubuh Reyhan yang berat dan tinggi.
"Kamu ambilkan saya minum. Karena terkejut, jadinya saya haus." Kata Reyhan.
"Di samping mas loh gelasnya. Udah ada airnya juga." Kata Nia.
"Bukannya gampang bertanggung jawab?" Sindir Reyhan terhadap ucapan Nia.
"Iya. Nih minumnya." Kata Nia sambil menyodorkan gelas berisi air ke hadapan Reyhan.
Reyhan hanya memandang Nia tanpa mengambil gelas yang diberikan Nia.
Nia yang paham, menghembuskan nafasnya lalu mendekatkan bibir gelas ke bibir Reyhan sambil mengucapkan bismillah.
"Airnya nggak enak." Protes Reyhan setelah meminum setengah air yang ada di gelas dan membuat Nia heran.
"Air putih bukannya tidak ada rasa?" Tanya Nia heran.
"Kamu coba saja kalau tidak percaya." Kata Reyhan lagi, dan membuat Nia langsung meminum air dari bekas gelas Reyhan minum.
"Biasa aja." Kata Nia setelah meminum air yang tadi Reyhan minum. Nia baru tersadar kalau Reyhan sedang mengerjainya, karena melihat senyum evil yang Reyhan sunggingkan dari sudut bibirnya.
"Mas ngerjai aku? Dasar modus, buaya cap kapak, kecebong cap karung." Kata Nia sambil memukul Reyhan dengan bantal, karena kesal, tapi bantal itu di tangkap dan ditahan oleh Reyhan dengan mudah.
Reyhan tidak tahu kenapa, ia suka sekali mengerjai Nia, suka lihat Nia marah-marah dan ngedumel, padahal sebelumnya sewaktu tahu akan menikah dengan Nia, Reyhan berfikir bahwa hidupnya akan seperti biasa ia jalani. Tapi tiga hari menikah, Reyhan merasa kalau ia lebih bahagia, walaupun cinta masih sangat ia rasakan buat Elsa.
Nia yang kesal, memutuskan untuk keluar kamar, dan sholat subuh di mushola rumah bersama yang lain.
Nia malas balik ke kamar, sehingga selesai sholat, Nia memutuskan untuk jalan-jalan mengitari halaman rumah yang sangat luas.
"Nyonya dicari tuan." Kata Rani yang datang menghampiri Nia.
"Malas." Jawab Nia masih sambil melanjutkan acara jalan-jalannya.
__ADS_1
"Tuan mau bicara." Kata Rani sambil menyerahkan hpnya kepada Nia, tapi Nia hanya memandangnya saja.
"Kamu bisu? Kamu masih harus tanggung jawab terhadap saya. Buatkan saya sarapan nasi goreng, dan bawa ke kamar." Perintah Reyhan dan langsung mematikan sambungan telponnya, tanpa mendengar jawaban Nia, Reyhan tahu kalau Nia mendengarnya, karena Reyhan sedang memandang Nia dari jendela kamarnya.