Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Buat Cicit Dimana Saja


__ADS_3

Acara resepsi selesai hampir tengah malam. Nia yang memang tidak pernah tidur larut malam, mulai merasa lelah, karena banyaknya tamu yang datang, dan pura-pura bahagia itu memang melelahkan.


"Sayang, sepertinya Nia sudah mulai lelah. Kamu ajak Nia istirahat gih." Kata Eyang Ginatri, karena mata Nia yang mulai berkaca-kaca menahan kantuk.


"Rey masih mau ngobrol sama Marco, Aldo dan Dean eyang." Jawab Reyhan.


"Nggak apa-apa eyang. Kalau mas Rey izinkan Nia balik duluan ke kamar, Nia balik sendiri saja." Kata Nia sambil tersenyum dengan wajah lelahnya.


"Iya, kamu balik ke kamar duluan saja." kata Rey.


Nia yang memang lelah, lelah hati dan fisik akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan Rey.


"Butuh bantuan mbak, Nia?" Tanya Sarah ketika melihat Nia keluar sendiri dari ballroom.


"Nggak usah mbak, Nia bisa sendiri. Makasih ya mbak, Nia duluan." Kata Nia lalu segera menuju ke kamarnya bersama Reyhan.


Sesampainya di kamar, Nia segera meletakkan tas yang dibawakan Sean di atas meja rias, kemudian segera melepas semua aksesoris rambut dan menghapus makeup yang ia kenakan, termasuk bulu mata anti badai yang di pasangkan Sarah, walau bulu mata Nia panjang dan lentik, tapi bulu matanya tidak lebat, sehingga Monica memutuskan untuk memasang satu lapis bulu mata.


Setelah membersihkan makeup dan melepaskan gaun yang dikenakannya, Nia segera menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Setelah mandi dan bersih-bersih, Nia lupa kalau dia tidak membawa baju ganti, akhirnya Nia memutuskan untuk melihat lemari pakain yang ada di kamarnya. Nia melihat kaos yang ukurannya cukup panjang, milik Reyhan. Nia segera memakai baju Reyhan, lalu mengambil bantal dan selimut tebal, dan segera membaringkan tubuhnya yang lelah di sofa yang ada di kamar hotel.


"Lo ngebiarin istri lo sendiri?" Tanya Dean, tapi tidak dijawab oleh Reyhan.


"Atau perlu gue yang gantiin lo? Gue akan dengan senang hati gantiin posisi lo." Tambah Dean lagi, yang langsung mendapat tatapan sinis dari Reyhan.


Tanpa banyak kata, Reyhan memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan meninggalkan para sahabatnya yang masih betah ngobrol, karena mereka sudah lama tidak ketemu.


Reyhan membuka pintu kamar, dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Nia, tapi tidak ketemu. Lalu Reyhan membuka pintu kamar tidurnya dan langsung menatap ke arah tempat tidur yang berukuran besar, namun Nia juga tidak terlihat di sana. Reyhan mengira Nia kabur, dan bermaksud mencarinya, namun langkahnya terhenti ketika melihat gundukan selimut yang ada di sofa.


Reyhan segera menyibak selimut tersebut, dan terlihat Nia tengah tertidur sangat pulas dengan mengenakan kaos Reyhan, sehingga mengekspos setengah pahanya, yang membuat Reyhan menelan salivanya kasar.


Cukup lama Reyhan terpaku, memandang wajah Nia yang terlihat sangat imut dan damai ketika tertidur. Ingin rasanya Reyhan mengelus pipi Nia yang putih mulus, tanpa ada noda jerawat.


Reyhan memandang dengan seksama wajah Nia, memperhatikan setiap inchi wajah Nia. Bulu mata lentik dan panjang dengan kelopak mata tertutup, hidung mungil dan mancung, bibir yang tidak terlalu tipis berwarna agak orange dan pink, serta dagu yang tidak begitu lancip, tetapi memiliki belahan.


Melihat Nia yang bernafas teratur ketika tertidur, membuat Reyhan tiba-tiba merasa ada yang aneh dengan dirinya. Sebagai lelaki normal, tentu saja Reyhan merasa gairah laki-lakinya bangkit. Namun rasa itu segera di tepisnya, ketika Nia membalikkan tubuhnya membelakangi Reyhan, dan membuat Reyhan tersadar, dan segera menyelimuti Nia, lalu segera menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian dan membersihkan dirinya.


Setelah berganti baju dan membersihkan diri, Reyhan segera menuju tempat tidur, dan segera membaringkan tubuhnya yang lelah. Sebelum tidur, Reyhan sempatkan untuk mencoba menghubungi Elsa, namun tetap tidak bisa dihubungi.


"Kamu kenapa ninggalin mas sayang?" Tanya Reyhan sambil memandang foto Elsa yang ada di layar ponselnya.


Karena terbiasa bangun pagi untuk melaksanakan sholat subuh, Reyhan terbangun sebelum waktu sholat subuh. Reyhan segera melihat jam yang ada di atas Nakas, lalu memutuskan untuk mandi dan siap-siap untuk sholat subuh di mushola yang ada di hotel.


Nia yang merasa lelah, masih tertidur ketika waktu sholat subuh telah masuk, bahkan ia semakin erat memeluk bantal guling yang dari semalam di peluknya.


Reyhan yang sudah selesai sholat, bermaksud untuk membangunkan Nia melaksanakan sholat subuh. Sebelum Reyhan membangunkan Nia, rupanya Nia sudah terbangun terlebih dahulu, lalu segera menuju kamar mandi, dengan mata setengah tertutup.


Nia menggulung rambutnya ke atas dan mengikatnya asala-asalan. Penampilan Nia yang berantakan ditambah hanya mengenakan kaos oblong yang hanya sepaha, membuat Reyhan kembali menelan Salivanya kasar.


Nia segera melaksanakan sholat subuh, tanpa melihat Reyhan yang tengah memperhatikannya, karena lampu kamar memang tidak hidup, hanya lampu tidur yang menerangi kamar tersebut.


Selesai sholat, Nia terkejut, sewaktu melipat mukenah, melihat Reyhan yang sedang menatapnya. Nia melihat dirinya, dan terkejut melihat pahanya terbuka, membuat Nia reflek menutup kakinya dengan mukenah.

__ADS_1


"Ka.. Eh mas ngapain disitu?" Tanya Nia karena bingung.


"Suka-suka saya." Jawab Reyhan datar.


"Boleh mintak tolong?" Tanya Nia dengan wajah memelas.


"Apa?" kata Reyhan ketus.


"Lupa bawa baju ganti." Kata Nia sambil nyengir.


"Nanti di antar asistennya Monica." Jawab Reyhan lalu pura-pura melihat hpnya.


"Oh. Ok. Oh iya, maaf nggak izin kalau aku pakai bajunya mas." Kata Nia lagi.


"hmm." Jawab Reyhan pendek.


"Mas sudah sholat?" Tanya Nia.


"Hmm" Jawab Reyhan.


"Sudah mandi?" Tanya nya lagi dan kembali dijawab deheman oleh Reyhan yang membuat Nia kesal, dan akhirnya ngedumel sambil merapikan alat sholatnya, dan mengenakan kain sarung agar pahanya tidak terlihat.


Melihat Nia yang sedang ngedumel dalam hati, mencebik-cebikkan bibirnya, membuat Reyhan menarik sudut bibirnya samar.


"Aku mandi dulu. Bajunya masih dipinjam ya." Kata Nia lalu segera kabur menuju kamar mandi.


Nia yang merasa lelah memutuskan untuk mengguyur kepalanya dengan air hangat dari shower, lalu berendam sebentar di bathtub yang ada di kamar mandi, untuk merilekskan tubuhnya yang pegal karena harus berdiri lama menggunakan high heels.


Bel kamar berbunyi, membuat Nia segera berlari menuju pintu untuk membuka pintu.


"Assalamualaikum Ni. Wah pagi-pagi udah keramas aja." Ledek Sarah ketika melihat penampilan Nia.


"Iya. Biar lebih seger. Badan Nia pegel-pegel." Jawab Nia dengan polosnya, membuat Sarah tersenyum, karena mengira Nia dan Reyhan melakukan ritual suami istri.


"Mbak kenapa senyum-senyum nggak jelas?" Tanya Nia heran.


"Nggak ada. Nih, mbak di suruh mbak Monic antar pakaian kamu." Kata Sarah sambil menyerahkan paper bag yang berisi satu stel gaun berwarna mint, dengan motif bunga berwarna kuning yang panjangnya sedikit di bawah lutut.


"Oh makasih ya mbak. Mbak nggak masuk?" Tanya Nia karena mereka ngobrol di ambang pintu.


"Mbak harus ke butik, ada janji sama klien pagi ini. Have fun ya Ni. Assalamualaikum." Kata Sarah lalubpergi meninggalkan Nia.


"Wa'alaikumussalam." Jawab Nia lalu segera menutup pintu kamarnya.


Nia segera menuju kamar mandi, untuk mengganti pakaiannya. Sebenarnya, Nia tidak suka menggunakan gaun. Ia lebih suka menggunakan baju kaos dan celana panjang sebetis, karena Nia yang imut, akan kelihatan agak tinggi jika menggunakan celana sebetis.


Nia segera keluar dari kamar mandi dan duduk di depan meja rias, sambil menggosok rambut panjangnya yang basah menggunakan handuk.


Lampu kamar yang redup membuat Nia lupa dan tidak memperhatikannya, kalau Reyhan dari tadi memandangi semua yang Nia lakukan.


Nia menggulung rambutnya asal ke atas, lalu menggunakan sedikit lipgloss agar bibirnya tidak kering. Nia juga segera mengambil kacamata bulat yang ukurannya agak besar, sehingga benar-benar merubah penampilan Nia menjadi cupu.


Reyhan berjalan dengan pelan ke arah Nia yang sedang sibuk mencari ponselnya di dalam tas selempangnya, sehingga Nia tidak menyadari kalau Reyhan sudah berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


"Kamu manggoda siapa?" Tanya Reyhan dengan tatapan tidak suka, dan menarik ikat rambut yang mengikat gulungan rambut Nia, hingga rambut indah Nia terurai, dan membuat Nia terkejut.


"Astagfirullah." Ucap Nia karena terkejut.


"Menggoda? Maksud mas?" Tanya Nia tidak terima Reyhan mengatainya penggoda.


"Jangan pernah menggulung rambut kamu ke atas, apalagi sampai memperlihatkan leher kamu." Kata Reyhan ketus lalu pergi meninggalkan Nia.


"Dasar nggak jelas." Kata Nia yang ngedumel menirukan ucapan dan gaya Reyhan berbicara sewaktu tadi melarangnya.


Akhirnya Nia memutuskan untuk membiarkan rambut pajang sepunggungnya tergerai.


Nia segera keluar menuju restoran yang ada di hotel untuk sarapan pagi bersama keluarga besar Reyhan dan keluarga besarnya yang memang menginap di hotel milik keluarga Reyhan.


Nia yang datang terlambat dengan rambut yang belum kering sempurna membuat, banyak pasang mata yang melihatnya, pada tersenyum yang membuat Nia juga tersenyum, karena mengira mereka tersenyum ramah menyambut Nia.


"Sini sayang." panggil eyang Ginatri, mengajak Nia duduk di sebelahnya.


"Terimakasih eyang." Ucap Nia ramah.


"Wah.. ada yang habis malam pertama nih." Ledek salah satu sepupu Reyhan sambil menatap Nia dan Rey bergantian.


"Malam pertama?" Beo Nia bingung.


"Radith. Jangan goda Rey atau Nia. Kamu tahukan bagaimana kalau Rey ngamuk?" Tanya eyang Ginatri yang membuat Radith diam, dan tidak berani bersuara.


"Kamu mau sarapan apa sayang?" Tanya eyang Ginatri ramah.


"Nia ambil sendiri aja eyang." Jawab Nia lalu segera menuju ke meja yang menyediakan beberapa jenis sarapan.


Nia yang memang suka sarapan makanan tradisional indonesia, memilih untuk mengambil lontong sayur, lengkap dengan kerupuk dan opor ayam serta sambal goreng hati.


"Wah.. kakak ipar abis kerja keras tadi malam, jadi harus banyak makan." Kata Soraya melihat piring sarapan Nia yang penuh.


"Semalam lupa makan." Kata Nia sambil nyengir lalu mulai memasukkan satu persatu lontong ke dalam mulut mungilnya.


"Kamu jadi bulan madu ke benua E kan sayang?" Tanya eyang Ginatri kepada Reyhan.


"What benua E?" Ucap Nia terkejut, karena Reyhan sama sekali tidak pernah membahasnya.


"Iya. Itu kan hadiah yang eyang berikan. Eyang mau kalian sebulan liburan dan honey moon di benua E. Sewaktu pulang eyang nggak sabar untuk mendengar kabar gembira kalau eyang akan punya cicit." Kata eyang Ginatri dengan binar wajah bahagia, yang membuat Nia seketika malu membuat wajah putih bersihnya menjadi blushing.


"Maaf eyang. Besok Nia harus sudah kembali ke kota P. Nia harus sudah kembali kuliah." Jawab Nia yang merasa harus berkata jujur.


"Kok udah balik aja sih sayang? Bukannya tahun ajaran baru masih bulan depan?" Tanya eyang Ginatri heran.


"Nia sudah ambil kelas SP, biar bisa menyelesaikan kuliah Nia lebih cepat eyang." Jawab Nia.


"Waduh, berarti eyang masih lama dong lihat cicit eyang." Kata eyang Ginatri dengan wajah sedih.


"Eyang nggak perlu khawatir. Buat cicit eyang nggak perlu harus ke benua E kok. Dimana aja bisa." Jawab Reyhan santai yang membuat Nia tersedak lontong yang dimakannya, karena mendengar jawaban Reyhan.


"Dasar cowok nggak ada akhlak. Bisa-bisanya dia ngomong begitu." Dumel Nia dalam hati sambil meminum air yang diberikan eyang Ginatri.

__ADS_1


__ADS_2