
Nia yang kesal segera berjalan menuju kamar, meninggalkan Reyhan. Nia tidak ingin amarahnya meledak, karena Reyhan berlaku semena-mena terhadap dirinya. Bukankah diawal pernikahan Reyhan menyampaikan bahwa mereka tidak akan saling ikut campur, tapi belum ada 2 x 24 jam, Reyhan sudah mengatur hidup Nia sedemikian rupa.
Nia memutuskan untuk meminum air yang ada di samping tempat tidur, meneguk dengan cepat cairan bening yang berada dalam gelas, berharap air itu bisa meredakan emosinya. Selesai minum, Nia menghembuskan nafasnya kasar. Ternyata emosinya masih belum mau mereda, sampai akhirnya Nia mendengarkan adzan magrib dan banyak-banyak beristigfar, karena Nia sadar kalau marah itu datangnya dari setan.
Nia segera mengambil wudhu dan membentang sejadahnya, serta mengenakan mukena yang selalu di bawa-bawanya.
Lama Nia terpekur, masih dalam rangka menenangkan hatinya. Memikirkan kembali nasipnya kedepan seperti apa. Nia yang biasa bebas tapi masih tau batasan, sangat tidak suka ketika hidupnya di batasi.
Lagi-lagi Nia menghembuskan nafasnya kasar, dan memutuskan untuk kembali berbicara kepada Reyhan untuk mengingatkan komitmen awal mereka.
"Tok tok"
"Nyonya, ditunggu tuan." Terdengar suara salah satu ART mengetuk pintu kamar, memanggil Nia untuk makan malam.
"Iya." Jawab Nia lalu segera merapikan mukenahnya, lalu segera keluar menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, Nia melihat Reyhan yang sudah duduk di bangku dekat ujung meja, dan Sekar membukakan kursi yang berada di kiri depan Reyhan.
Beberapa makanan, yang di sedikan di atas meja kelihatan, sangat menggugah selera. Nasi putih hangat, brokoli saus bawang putih, udang goreng tepung, sup iga sapi, dan ikan goreng bumbu. Tidak lupa kerupuk dan juga sambal terasi.
Sekar meninggalkan Nia dan Reyhan di meja makan. Sekarang hanya tinggal mereka berdua.
Perut Nia yang belum diisi dari siang berbunyi, menunjukkan kalau cacing di perutnya sudah berdemo minta di isi. Mendengar itu Reyhan tersenyum, sementara Nia mukanya sudah memerah akibat menahan malu.
"Kalau lapar, kamu makan aja. Tuh cacing di perut kamu udah demo." Ledek Reyhan.
"Iya." Jawab Nia singkat lalu segera membuka piring yang ada di hadapannya, dan menyenduk sesendok nasi menggunakan centong nasi, mengambil brokoli, udang goreng tepung dan sambal terasi.
Nia bermaksud menyendokkan nasi ke mulutnya, namun Nia urungkan karena Reyhan diam saja. Nia yang besar hidup dengan keluarga Sean, ingat bagaimana Roza melayani suaminya ketika makan.
Nia membuka piring dihadapan Reyhan, lalu meletakkan satu setengah sendok nasi, karena Nia pernah melihat porsi Reyhan makan sewaktu di hotel.
__ADS_1
"Mas mau yang mana?" Tanya Nia sambil memegang sendok, hendak menyendok makanan yang ingin dimakan Reyhan.
"Samain aja." Jawab Reyhan, lalu Nia segera mengambilkan brokoli, udang goreng tepung dan sambal terasi, tidak lupa Nia meletakkan beberapa kerupuk di samping nasi yang ada di atas piring.
Setelah berdoa, Nia dan Reyhan segera menyantap makanan masing-masing tanpa suara. Mereka segera menghabiskan apa yang ada didalam piring.
Selesai makan, tampak beberapa ART yang Nia tidak ingat namanya membereskan meja makan. Setelah meja makan kosong, Nia curi-curi pandang ke arah Reyhan untuk melihat ekspresinya, memastikan apakah Reyhan lagi dalam mode menyebalkan, atau mode yang bisa di ajak berbicara.
"Mas aku mau bicara." Kata Nia memberanikan diri.
"Nanti saja di kamar. Saya ada yang mau di urus sebentar." Kata Reyhan lalu beranjak menuju ruang kerjanya, dan Nia memutuskan untuk kembali ke kamar.
Sesampainya di kamar, alarm sholat isya terdengar dari ponsel Nia. Walaupun di rumah Reyhan ada mushola dan ada orang yang mengumandangkan adzan, tapi karena kamar Reyhan yang kedap suara, membuat suara adzan tidak sampai ke dalam kamarnya.
Nia segera mengambil wudhu dan siap-siap untuk melaksanakan sholat isya, tapi sebelum Nia sholat, pintu kamar terbuka dan terlihat Reyhan masuk ke kamar mandi.
"Tunggu saya." Ucap Reyhan sebelum masuk kamar mandi.
Nia lalu segera menyiapkan sajadah yang ada di atas meja, dekat tempat Nia biasa sholat. Bahkan Nia menggunakan mukenah dan sajadah yang merupakan salah satu bagian dari seserahan yang Reyhan berikan sewaktu mereka menikah.
Reyhan dan Nia segera melaksanakan sholat isya berjamaah, dimana Reyhan menjadi imam sholat, dan Nia menjadi makmumnya.
Mereka berdua sholat dengan khusyuk menghadap kepada sang pencipta. Hati Nia merasa tenang dan terharu, karena tidak menyangka kalau Ia bisa merasakan apa yang di rasakan Rosa, karena keluarga Rosa menjadi role mode, untuk kehidupan keluarga bagi Nia.
Selesai berdoa, Reyhan menghadap ke Nia dan mengulurkan tangannya kepada Nia. Nia segera mencium punggung tangan Reyhan.
"Tapi tadi ada yang mau kamu bicarakan?" Tanya Reyhan sambil menatap Nia.
"Iya. Aku mau nanya tentang kesepakatan kita di awal. Bukannya mas bilang kalau kita tidak akan ikut campur urusan masing-masing? Tapi kenapa sekarang mas atur-atur hidup aku. Inshya Allah walaupun tidak di atur, aku tahu kok batasan-batasan sebagai seorang istri. Apalagi bukannya mas tidak mau kalau ada yang tahu kalau kita suami istri?" Kata Nia panjang lebar mengeluarkan semua uneg-unegnya, yang baru 2 hari menikah tapi sudah banyak hal yang di atur.
"Kamu apanya saya?" Tanya Reyhan
__ADS_1
"Istri cuma status." Jawab Nia
"Bukannya kamu bilang tidak ada nikah dengan perjanjian? Jadi tidak ada namanya istri cuma status. Lagi pula, bukannya istri itu harus mematuhi suaminya selama tidak melanggar syariat. Yang saya lakukan tidak ada yang melanggar syariat." Kata Reyhan yang membuat Nia hanya bisa menghembuskan nafasnya, kecewa.
"Tapi mas, aku kan besok mulai kuliah. Aku nggak mau kalau mbak Rani ikut ke kampus. Please." Kata Nia dengan suara yang berusaha dilembutkan.
"Rani tetap akan ikut kamu. Hanya saja Rani tidak akan berada terlalu dekat dengan kamu." Kata Reyhan lagi.
"Tapi mas..." Protes Nia yang terputus karena Reyhan sudah berdiri dan bermaksud meninggalkan Nia.
"Kamu tidur duluan saja di kasur. Jangan tidur di sofa. Saya tidak akan berbuat yang aneh-aneh sama kamu." Kata Reyhan, lalu pergi keluar kamar, menuju ruang kerja yang berada tepat di sebelah kamar mereka.
Nia yang lagi lelah pikiran, walaupun siang tadi sudah tidur, akhirnya memutuskan untuk tidur setelah bersih-bersih. Nia membaringkan tubuhnya di ujung kasur yang berukuran besar. Memberi batas di tengah kasur, agar dirinya maupun Rey tidak terganggu.
Nia yang memang tipe kalau nempel dengan bantal langsung molor, segera mengarungi dunia mimpi, begitu kepalanya menyentuh bantal.
Lewat tengah malam, Reyhan masuk ke kamarnya. Ia segera bersih-bersih dan mengganti baju santainya dengan piyama.
Sewaktu melihat tempat tidur, Reyhan melihat wajah Nia yang sedang menghadap ke arahnya. Wajah tidur Nia terlihat sangat damai, bahkan mampu membuat Reyhan tersenyum, namu Reyhan agak mengerutkan dahinya ketika melihat bibir Nia bergerak-gerak seperti sedang menghisap sesuatu.
"Apa dia tidur sambil ngemut permen?" tanya Reyhan pada dirinya sendiri.
Reyhan segera menekan sedikit pipi Nia dan menurunkan dagunya, agar mulut Nia terbuka, untuk melihat apakah Nia sedang makan permen sambil tidur. Setelah memeriksa dengan seksama, Reyhan tidak menemukan permen dalam mulut Nia, tapi mulut Nia yang terbuka, menarik perhatian Reyhan untuk memandangi setiap inchi wajah perempuan yang sah menjadi istrinya sejak dua hari yang lalu.
Tidak tahu kenapa, Reyhan mulai suka melihat wajah Nia yang sedang tertidur pulas. Nafasnya teratur naik turun. Kulit wajah yang mulus dan putih bersih tanpa noda, bulu mata lentik dan cukup panjang, hidung yang mancung tapi mungil, serta bibir yang tidak terlalu tipis, malah terkesan seksi dengan warna pink alami.
Reyhan meneguk salivanya kasar. Ada sesuatu yang bangkit di bawah sana, karena toh Reyhan laki-laki normal. Walaupun pikirannya berkata tidak, tetapi tubuhnya justru bereaksi lain.
Melihat Nia yang tertidur pulas, bahkan tidak terganggu ketika Reyhan membuka mulutnya, membuat Reyhan berkeinginan untuk sedikit mencicipi bibir Nia. Reyhan mendakatkan wajahnya ke wajah Nia, memandang bibir Nia yang membuat ia penasaran, seperti apa rasanya mencium bibir perempuan yang telah halal menjadi istrinya, untuk yang kedua kalinya.
Reyhan menempelkan sedikit bibirnya ke bibir Nia, kemudian segera melihat reaksi Nia yang tetap tertidur pulas. Walaupun hanya sedikit menempelkan bibirnya dengan bibir Nia, membuat Reyhan ingin merasakan lebih, dari hanya sekedar menempelkan bibir mereka.
__ADS_1
Sewaktu pacaran dengan Elsa, Elsa selalu mencium bibir Reyhan ketika mereka bertemu di ruangan kantor Reyhan. Reyhan tahu itu dosa, tapi ternyata godaan setan lebih kuat. Walaupun mereka tidak pernah melakukan hal lebih jauh selain hanya sekedar french kiss.
Reyhan yang ingin merasakan lebih, akhirnya tanpa sadar kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Nia, ciuman yang awalnya pelan, menjadi sedikit mulai kuat dan membuat Nia tiba-tiba membuka matanya, bersamaan dengan Reyhan yang menatap iris hijau yang sedang menatapnya marah, membuat Reyhan melepaskan ciumannya.