Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Sepiring Berdua


__ADS_3

Reyhan POV


Tidak tahu kenapa setiap melihat wajah Nia yang sedang tertidur perasaan ku menjadi nyaman. Berkali-kali menepis perasaan, bahwa aku tidak akan pernah memiliki perasaan apapun dengan Nia. Perempuan yang sudah sah menyandang status istri ku.


Mengizinkannya mengikuti acara kampus, ternyata mampu membuat aku kesepian, dan tidak bisa merasakan masakannya yang begitu sangat lezat. Belum begitu lama waktu kebersamaan yang kami lalui, tapi tidak tahu kenapa seperti ada yang hilang.


Apalagi ketika malam itu aku melihat Nia yang sedang bernyanyi sambil bermain gitar, tidak menyangka kalau dia punya bakat bermain gitar dan suara yang sangat bagus. Awalnya aku menikmati nyanyian yang dibawakan Nia, sampai pada saat salah satu temannya menyatakan perasaan pada Nia. Seorang pria yang cukup tampan, tapi kenapa dia mau Nia menjadi pacarnya?, padahal penampilan Nia jauh sekali dari kata cantik ketika ke kampus. Yang aku tahu, pria adalah makhluk visual yang selalu melihat wanita dari wajahnya terlebih dahulu.


Argh... menyebalkan sekali. Teman Nia itu membuat aku benar-benar tidak bisa tidur dan merasa tidak nyaman. Untung saja Nia menolaknya. Tapi walau begitu tetap saja aku masih merasa tidak aman, karena dia merupakan salah satu teman pria yang dekat dengan Nia.


Nia seharusnya pulang setelah sholat zhuhur, selesai melakukan acara penutupan, tetapi aku memaksanya untuk pulang pagi itu juga, dengan segera menyuruh pak Rusdi untuk menjemput Nia, Rani dan Leo jam 4 pagi, dan pulangnya Leo yang akan membawa mobil, sehingga pak Rusdi bisa istirahat.


Pagi-pagi sekali aku melihat layar ponsel ku menyala dan tertera nama "Nia" tanpa embel-embel kata apapun seperti nomor ku di ponsel Nia yang aku buat dengan nama "My Beloved Hubby", Menggelikan sih, tapi tidak tahu kenapa aku melakukannya.


"Assalamualaikum Wa Rohmatullahi Wa Barakatuh. Mas, pulangnya nanti siang aja ya, barengan tim." Ucap Nia cepat tanpa menunggu aku menjawab salamnya


"Kamu harus pulang sekarang. Tidak ada bantahan." Jawab ku yang langsung memutuskan sambungan telponnya, karena aku merasa sedikit kesal. Kenapa Nia suka sekali membantah perkataan ku?


Aku yakin, Nia akan segera pulang, karena bagaimanapun, dia biasanya agak lumayan takut jika aku marah.


Setelah menunggu lebih dari dua jam, akhirnya aku melihat kendaraan yang menjemput Nia berhenti di depan pintu.


Aku melihat Rani yang duluan turun, dan tidak melihat kalau Nia turun dari mobil.


"Nyonya tidur tuan, tadi habis muntah, karena nyonya sepertinya kecapean." terang Rani.


Aku segera berjalan menuju pintu mobil bagian Nia duduk, lalu membuka pintu dan mengangkat tubuh Nia yang tentu saja tidak terasa berat untuk ku, bahkan Nia semakin menenggelamkan wajahnya ke dada ku, mungkin merasa nyaman dengan aroma tubuhku yang memang selalu wangi.

__ADS_1


Aku membaringkan Nia dengan perlahan di atas tempat tidur, dan segera menyelimutinya agar Nia merasa nyaman.


Aku memandangi wajahnya yang begitu sangat damai ketika tertidur. Tidak tahu kenapa, sejak menikah dengan Nia, aku suka memandang wajahnya ketika tidur, apalagi melihat iris emeraldnya, dan bulu mata Nia yang panjang dan lentik, naik tururn ketika Nia mengerjapkan matamya, menysuaikan cahaya yang ditangkap retina mata Nia.


Aku masih memandanginya beberapa saat, dan mencium bibir Nia, kemudian aku memutuskan untuk masuk keruang kerja yang terhubung dengan kamar ku, meninggalkan Nia agar bisa beristirahat.


Aku memutuskan untuk membereskan beberapa pekerjaan yang belum selesai. AKu membaca beberapa proposal kerjasama yang masuk, dan laporan kinerja setiap divisi yang ada di perusahaan yang aku pimpin.


Setelah selesai membaca laporan dan proposal kerjasama hampir dua jam, aku merasa mulai lelah. Sekalian mau lihat, apakah Nia masih tertidur.


Aku membuka pintu kamar, dan mendapatkan pemandangan yang membuat aku harus menelan saliva ku, karena melihat Nia yang baru keluar dari kamar mandi, hanya dengan melilitkan handuk di tubuhnya yang sangat menggoda,karena bagaimanapun, aku adalah laki-laki normal.


Matanya memandang ke arah ku , ketika aku membuka pintu, dan Nia sedikit terkejut melihat aku yang keluar dari ruang kerja. Nia masih mematung di tempatnya, tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.


"Ehem" dehem ku agar Nia tersadar dari kebengongannya.


"Mas nggak kerja?" Tanyanya kemudian, lalu segera memandang tubuhnya sendiri, karena aku yang tidak merubah arah pandang ku, yang tiba-tiba membuat wajahnya bersemu merah, lalu segera berlari menuju walking closet.


"cklek" terdengar pintu walking closet yang ada di kamar ku berbunyi, dan terlihat Nia keluar sudah rapi dan kelihatan cantik dengan pakaian terusan yang agak mengembang bagian bawahnya, yang panjangnya pas selutut Nia.


"Kenapa mas masih disini?" Tanya Nia ketika melihat aku begitu dia membuka pintu walking closet.


"Kamar ini kamar saya. Suka-suka saya dong." Jawab ku ketus karena bisa-bisanya Nia mempertanyakan kenapa aku masih di kamar ku.


Kemudian dia menuju meja rias sambil ngedumel seperti kebiasaan yang sering dilakukannya ketika aku bersikap dingin atau ketus.


Aku memperhatikan semua yang dilakukannya di depan meja rias. Nia menyisir rambutnya yang hitam tebal, yang panjangnya sepunggung. Lalu ia menyapukan lipgloss ke bibirnya yang tidak terlalu tipis, dan malah terkesan seksi, yang membuat aku kembali harus menelan saliva ku karena ingin rasanya menikmati lagi bibir Nia yang kissabel.

__ADS_1


"Ayok makan." Kata ku ketika melihat Nia selesai merapikan dirinya.


"Mas belum makan?" Tanyanya dengan eksprsi terkejut yang terlihat imut banget. Argh.. pengen ku gigit pipinya yang agak berisi berwarna putih kemerahan itu, kok bisa ya, Nia punya warna kulit dan iris mata emerald seperti itu? Apa mamanya bule ya?, karena papa Bian kulitnya agak gelap, makanya Els memiliki warna kulit yang eksotis tapi tetap cantik dan imut. Jadi kangen sama Els.


"Harus saya jawab?" Tanya ku masih mode jutek, soalnya bisa-bisanya Nia menanyakan hal yang nggak perlu ku jawab.


"Iya kan cuma nanya mas, biar ada basa basi. biar kita nggak basi." Protesnya sambil berlalu meninggalkan ku.


Aku segera menyusul Nia yang sudah duduk manis di ruang makan. Akupun segera duduk di bangku makan yang biasa aku duduki.


Tanpa suara dan pertanyaan, Nia mengisi piring ku dengan aneka makanan yang terhidang.


"Kamu kira saya kuli? Makan sebanyak itu."Protes ku karena Nia mengisi penuh piring ku dengan makanan.


"Ya udah bagi dua aja." Katanya sambil mengambil sendok untuk memindahkan sebagian isi piring ku ke piringnya.


"makan berdua aja." Kata ku spontan, yang ntah dapat ide konyal dari mana yang membuat Nia agak terkejut mendengar perkataan ku.


"Biar nggak banyak piring kotor." Kata ku lagi, lalu mulai menyuapkan makanan ke mulut ku.


Setelah memasukkan beberapa sendok makanan ke mukut ku, aku masih melihat Nia belum memasukkan makanan ke mulutnya, dan ntah kenapa tiba-tiba aku menyodorkan sendok yang berisi makanan yang akan aku makan ke depan mulutnya yang mungil.


"Makan." Kata ku dengan eksprsi datar, pura-pura jaim.


"Aku bisa sendiri." Katanya sambil menyendok makanan dari piring yang kami gunakan bersama.


Aku tidak memindahkan sendok makanan yang tadi aku sodorkan. Nia memandang ku heran, lalu membuka mulutnya untuk menerima makanan yang aku suapkan. Lucu sekali melihat ekspresi terpaksa ketika ia membuka mulutnya dan mulai mengunyah makanan yang aku suapkan. Lalu kami menghabiskan makanan yang ada di piring, tanpa bicara sepatah katapun.

__ADS_1


"Mas mau tambah?" Tanya nya ketika makanan di piring tinggal sedikit.


"Saya sudah kenyang." Jawab ku yang memang sudah merasa kenyang. Ternyata menyenangkan makan sepiring berdua seperti ini. Pantasan saja diluar sana banyak pasangan yang sedang jatuh cinta melakukan hal ini.


__ADS_2