
"Nia..!!!"
Nia segera menguasai dirinya, agar lebih santai.
"Maaf anda panggil siapa?" Tanya Nia pura-pura tidak tahu, karena Nia yakin sekali, orang yang baru ditabraknya tidak benar-benar yakin kalau itu Nia.
"Ya kamulah. Kamu Nia kan?" Tanya orang yang menabrak Nia, yang ternyata adalah Dian, sahabatnya dulu waktu kuliah.
"Maaf. Anda salah orang. Saya permisi, karena ibu saya sedang menunggu." Kata Nia lalu segera meninggalkan Dian dan menemui buk Des, lalu segera pergi bersama buk Des.
"Kenapa buru-buru Za?" Tanya buk Des heran.
"Za ketemu orang yang kenal dengan Za buk. Za dan twin sepertinya nggak bisa lagi tinggal di tempat ibuk." Kata Nia lalu segera memacu mobil buk Des setelah meletakkan twin di carseat.
"Kenapa nggak diselesaikan aja Za?, Kenapa harus lari terus. Kamu nggak capek?" Tanya buk Des heran, karena Nia tidak mau menyelesaikan masalahnya, justru malah memilih kabur.
"Nggak bisa buk. Ini tu complicated. Mas Rey bisa lakuin apapun. Za nggak mau mas Rey ambil twin. Twin itu punya Za buk." Jelas Nia.
Sesampainya dirumah buk Des, Nia segera mengemas barang-barangnya yang penting, dan beberapa pakaiannya dan twins biar tidak repot.
"Kamu mau kemana Za?" Tanya buk Des.
"Mas Rey atau utusannya pasti segera kesini buk. Za tahu, Dian pasti akan laporan dengan mas Rey." Kata Nia panik.
"Terus kamu mau bawa twin sendiri?, Yakin kamu bisa Za?, bagaimana kalau ibuk ikut aja?" Tawar buk Des.
"Za bisa buk. Ibuk jangan khawatir. Tapi Za nggak tahu, kapan bisa ketemu ibuk lagi. Terima kasih untuk semua yang ibuk kasi buat Za. Za nggak bisa balas kebaikan ibuk. Semoga Allah kasi ibuk kesehatan, dan suatu hari nanti kita dipertemukan." Terang Nia panjang lebar.
"Tapi Za?"
"Za mohon buk." Kata Nia sambil melipat dua tangannya di depan dada tanda permohonan, yang membuat buk Des hanya bisa menghela nafas, karena berat rasanya melepas Nia pergi.
Lebih dari satu jam waktu pertemuan Dian dan Nia yang membuat Nia semakin panik, karena mobil travel yang dipesannya belum datang.
"Mereka nggak mungkin kesini Za. Jadi kamu tenang saja." Kata buk Des berusaha menenangkan Nia, sambil menimang Liam yang sudah terlelap dan meletakkannya dalam stroler, sementara Nizam asik bermain dengan jarinya sambil mengoceh dengan bahasa bayinya.
"Za tahu banget seperti apa mas Rey buk, dan Za yakin Dian pasti akan memberitahukan mas Rey kalau Za ada disini. Alhdulillah, mobilnya datang." Kata Nia senang ketika melihat mobil travel yang dipesannya menjemput.
"Nia pergi dulu buk. Terima kasih untuk semua yang sudah ibuk berikan buat Nia dan twin. InsyaAllah Za akan menghubungi ibuk jika memungkinkan." Kata Nia lalu memeluk buk Dea erat dengan air mata yang tak mau berhenti.
"Jaga diri kamu ya Za. Kamu itu sudah ibuk anggap anak ibuk, twin adalah cucu ibuk. Jangan putus tali silaturrahmi. Kabari ibuk dimanapun kamu berada nanti." Kata buk Des sambil mengusap air mata Nia.
Lalu Nia segera memasangkan carseat di mobil travel dan meletakkan twins. Biar nyaman Nia sengaja memesan travel hanya untuk dirinya dan twins.
Tidak lama setelah mobil yang membawa Nia pergi, terlihat sebuah mobil dengan beberapa orang berpakaian hitam mendatangi rumah buk Des.
__ADS_1
Seperti tebakan Nia, Reyhan segera mengirim anak buahnya begitu mengetahui keberadaan Nia. Anak buah Reyhan memeriksa rumah buk Des untuk mencari keberadaan Nia, bahkan mengambil semua foto twin yang terpajang di rumah buk Des.
"Apa-apaan kalian ini?" Tanya Alvaro yang baru sampai rumah buk Des.
"Kami hanya ingin mencari keberadaan nyonya Nia." Jawab salah satu orang suruhan Reyhan, dan membuat Alvaro langsung pagam, kalau dia tidak akan bertemu lagi dengan Nia dan twins jika takdir tidak mempertemukan.
Nia sengaja memilih jalur darat agar tidak mudah terdetekai oleh Reyhan, karena jika pergi menggunakan pesawat, maka akan ada data Nia tercatat sebagai penumpang, sehingga Reyhan akan mudah melacaknya.
Dalam perjalanan menuju kota terdekat menuju daerah utara yang berada di ujung pulau, Nia singgah di beberapa kota. Untung saja selama perjalanan, twins tidak rewel, dan sopir yang mengantarkan adalah orang yang sangat ramah dan baik.
"Pak, kita istirahat di penginapan yang ada di jalan lintas ini, Saya sudah pesankan kamar untuk bapak." Kata Nia sambil melihatkan hotel yang dipesannya kepada sopir travel yang bernama pak Anto.
"Baik Nak." Kata pak Anto.
Sesampainya dipenginapan yang sudah dipesan Nia, Nia segera pergi ke lobi dan mendorong stroler twin yang tertutup karena twin sedang tidur pulas.
"Ibuk?!!" Ucap Nia terkejut, melihat sosok seorang perempuan yang berdiri di depan meja resepsionis, yang membuat Nia reflek berlari dan memeluk erat perempuan yang sangat mirip dengan ibunya.
Kerinduan Nia yang sangat besar, membuat Nia menangis terisak sambil terus memeluk perempuan itu tanpa bisa berkata-kata.
Perempuan itu membiarkan Nia memeluknya erat, dan mengajak Nia duduk ketika Nia sudah mulai tenang.
"Ini beneran ibuk?" Tanya Nia sambil menangkup wajah perempuan itu dengat tangan yang bergetar.
Perempuan itu hanya tersenyum, dan membuat Nia sadar, bahwa perempuan itu bukanlah ibunya.
"Ibu kamu sangat mirip dengan saya?" Tanya perempuan itu pada Nia dan dijawab anggukan oleh Nia, yang justru sekarang gantian perempuan itu yang memeluk Nia erat.
"Kenapa ibuk meluk saya?" Tanya Nia heran.
"Saya senang. Pencarian saya selama ini menemukan titik terang." Kata perempuan itu yang sekarang menangkup wajah Nia dengan tangannya memasan setiap lekuk wajah Nia, dan tersenyum senang ketika melihat iris emerald Nia yang sama persis dengan miliknya.
"Kamu anaknya Lily. Masya Allah. Ternyata kamu cantik banget." Kata perempuan itu
"Ibuk kenal ibuk saya?" Tanya Nia
"Kenalkan, nama saya Jasmine, saya adalah ibuk kamu, kembaran Lily." kata perempuan yang bernama Jasmine senang.
"Kembaran ibuk?, Jadi ibuk kembar?" Tanya Nia tidak percaya, dan dijawab anggukan dan senyuman bahagia dari Jasmine karena berhasil menemukan satu-satunya saudara kandungnya.
"Ibuk kamu dimana?" Tanya Jasmine yang baru sadar kalau tidak melihat Lily.
"Ibuk sudah meninggal beberapa tahun lalu." Jawab Nia kembali berurai air mata.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un." Kata Jasmine yang ikutan sedih dan memeluk Nia.
__ADS_1
"Kamu nginap sama ibuk saja, Banyak hal yang mau ibuk tanyakan." Kata Jasmine.
"Oh iya. Nama saya Nia. Titip twins sebentar, Nia mau ke resepsionis biat chek in." Kata Nia.
"Twins?, anak kamu sayang?" Tanya Jasmine tidak percaya.
"Iya. Ibuk tunggu sebentar." Kata Nia lalu segera menyelesaikan administrasi chek in, agar pak Anto bisa segera istirahat, dan Nia, Jasmine serta twins juga istirahat di kamar yang sudah dipesan Jasmine.
Setelah meletakkan twins di atas kasur untuk tidur dengan nyaman, Nia segera membersihkan dirinya, perjalanan yang hampir 7 jam membuat badan Nia terasa lengket. Setelah membersihkan diri, Nia dan Jasmine saling bercerita tentang kehidupan mereka.
Jasmine adalah saudara kembar Lily yang terpisah sewaktu mereka berumur 6 tahun, di taman bermain, karena ada peeistiwa kebakaran, yang membuat para pngunjung panik dan berhamburan keluar. Lily yang saat itu sedang diantar pengasuhnya ke toilet, terpisah dari Jasmine dan keluarga mereka.
Segala macam cara mereka lakukan untuk menemukan Lily, tapi nihil, Lily seperti hilang ditelan bumi, bahkan petugas kebakaran sempat berasumsi kalau Lily ikut terbakar. Tetapi karena tidak adanya jenazah yang ditemukan, membuay Jasmine dan keluarganya yakin kalau Lily masih hidup, dan sedang berada di suatu tempat.
"Ibuk memang tidak ingat apa-apa tentang kehidupannya sebelum dipanti. Dipanti, ibuk dipanggil Lily karena kalung nama yang dipakai ibuk." Terang Nia kepada Jasmine karena Jasmine masih bingung, kenapa Lily tidak mencari keluarganya, padahal walaupun usianya baru 6 tahun, Lily adalah anak yang sangat cerdas.
Jasmine berkali-kali memeluk Nia, tidak percaya kalau akhirnya ia bisa bertemu bagian dari Lily, anggota keluarga langsung satu-satunya yang dimiliki Jasmine, karena kedua orang tua mereka sudah meninggal, begitupun Lily yang merupakan kembarannya.
Jasmine dan Lily merupakan kembar identik, yang memiliki kontur wajah yang sama persis, yang membedakan mereka hanyalah iris emerald, yang Lily diwariskan ke Nia.
Iris emerald mereka dapat dari sebelah neneknya Jasmine dan Lily yang memang keturunan celtic, yang juga memiliki iris emerald, tapi Lily tidak mewarisinya, itu yang membuat semua orang bisa dengan mudah membedakan kembar Lily dan Jasmine.
Twin yang mulai menggeliat dan bangun, membuat Nia dan Jasmine menghentikan pembicaraan mereka. Sekarang Nia dan Jasmine sibuk memomong twin yang mulai rewel.
"Sepertinya mereka lapar. Nia kasi ASI dulu ya buk." Kata Nia lalu segera menyusui twin bergantian. Nia memberikan ASI kepada Nizam terlebih dahulu, karena memang Nizam adalah tipe bayi dominan yang tidak mau bersabar. Berbeda dengan Liam yang lebih ramah dan sabar, makanya supaya tidak rewel, Nia akan memberikan ASI kepada Nizam terlebih dahulu baru Liam, ketika mereka berdua membutuhkan ASI.
Selesai memberikan ASI kepada twin, Nia dan Jasmine kembali mengobrol sambil bermain dengan dua bayi yang sangat menggemaskan.
"Ayah mereka pasti pria yang sangat tampan, Kedua putra kamu tidak ada sedikitpun mirip kamu sayang. Cuma iris matanya saja." Kata Jasmine sambil tertawa.
"Sangat tampan, tapi tidak punya pendirian. Sudahlah buk, nggak usah dibahas ayahnya twin." Kata Nia dengan wajah sedih.
"Kita pesan makan malam di resto hotel saja atau bagaimana?" Tanya Jasmine yang sudah mulai lapar.
"Pesan di hotel aja buk, biar nggak repot." Kata Nia.
Jasmine segera memesan beberapa menu makanan melalui fasilitas room service hotel.
"Ibuk tinggal di negara ini?" Tanya Nia
"Sejak Lily hilang, kami kembali ke negara J, Ibuk disini karena mau tandatangan investasi pembangunan resort di daerah sini." Jelas Jasmine.
"Nanti kalau sudah selesai, kita kembali ke negara J. Kita akan besarkan twin dengan bahagia disana. Biar suami kamu yang plin plan itu dapat pelajaran." Kata Jasmine lagi yang ikut kesal dengan Reyhan ketika Nia menceritakan tentang pernikahannya.
"Tapi mas Rey itu punya kekuasaan buk, kalau kita ke negara J dengan normal melalui bandara manapun di negara ini, dia pasti bisa lacak aku." Kata Nia.
__ADS_1
"Gampang. Kamu jangan khawatir. Kasi ibuk waktu 2 hari untuk mengurus administrasi kamu, untuk sementara kita buat identitas twin menjadi anak tante. Anggap saja tante punya baby di usia yang sudah sangat matang." Kata Jasmine sambil tertawa geli, membayangkan ketika usianya yang tidak lagi muda memiliki baby.
Setalah makanannya datang, Nia dan Jasmine segera menikmatinya kembali sambil mengobrol tentang banyak hal. Setelah kenyang dan beristirahat, dan karena sudah larut malam, membuat Jasmine dan Nia segera terlelap.