
Setelah memastikan semuanya aman dan berjalan sesuai dengan yang Nia inginkan, Nia kembali ke negara I bersama Sean.
Tiga belas jam lebih perjalanan yang mereka tempuh, Nia gunakan untuk beristirahat, karena di negara I, banyak hal yang akan di urusnya.
Sesampainya di negera I, Nia segera menuju rumahnya untuk menemui twin. Karena baru ini Nia berjauhan dari twin, karena tidak ingin twin lelah.
Nia memandang wajah imut Nizam dan Liam yang bibirnya bergerak-gerak, karena kalau tidur mereka bersua persis Nia yang seperti orang sedang mengemut permen.
Nia mencium pipi dan kening twin, sebelum kembali ke kamarnya untuk bersih-bersih.
"Teteh udah balik?" Tanya Eis sewaktu akan mengecek twin apakah tidurnya nyenyak.
"Kebiasaan, basa basi." Kata Nia sambil tersenyum yang membuat Eis hanya nyengir, karena senang sekali menggoda Nia yang paing tidak suka pertanyaan basa basi.
"Twin rewel?" Tanya Nia.
"Tadi Liam sempat nyariin teteh, tapi Nizam bisa buat Liam ngerti kalau teteh lagi urus Opa." Jelas Eis.
"Nizam memang bisa diandalkan." Kata Nia senang.
"Eis ngeri tau teh dengan Nizam, nggak seperti anak 4 tahun. Cerdas banget, genius malah. Tapi gaya coolnya kadang nyebelin." Curhat Eis, yang membuat Nia tertawa.
Setelah mengobrol, mereka berduapun memutuskan untuk beristirahat.
Walau tidur hanya beberapa jam, Nia yang terbiasa bangun pagi dan menyiapkan sarapan untuk twin, bangun sewaktu adzan subuh berkumandang.
Sebagai hadiah karena twin sudah bersikap baik, hari ini Nia masak nasi goreng seafood kesukaan mereka, dan Nia membuatnya dalam jumlah banyak.
"Kamu sudah pulang sayang?" Tanya buk Des.
"Sudah buk. Tadi malam." Jawab Nia.
"Wangi bener. Ibuk kangen nasi goreng seafood buatan kamu." Kata buk Des sambil menghirup aroma wangi nasi goreng seafood buatan Nia.
"Yeay... nasi goreng seafood." Teriak Liam yang keluar dari kamarnya sambil berlari memeluk Nia.
"Masya Allah. Anak sholeh ibuk sudah bangun." Kata Nia sambil memeluk Liam gemes.
"Ibuk jangan tinggalkan Liam. Liam sedih kalau nggak ada ibuk." Kata Liam sambil memeluk Nia erat dengan mata berkaca-kaca.
"Dasar bayi." Cibir Nizam yang sudah duduk manis di sebelah buk Des.
"Kakak, juga sedih semalam nggak lihat ibuk. Liam lihat kak Nizam nangis." Protes Liam.
"Mana ada." Jawab Nizam dengan sikap coolnya yang membuat Nia gemes, karena tahu betul kalau Nizam itu gengsian. Harus Nia yang memeluknya dulu, baru Nizam akan memeluk Nia erat.
"Idih bayi." Ejak Liam ketika Nizam memeluk Nia erat dan tidak mau melepaskannya.
"Duh dua bayi ibuk. Masih 4 tahun. Bersikaplah seperti bayi kesayangan ibuk." Kata Nia sambil mencium pipi Nizam dan Liam bergantian.
"Hmm.. anak ibuk asyem. Belum mandi. Mandi dulu gih. Atau mau ibuk mandikan?" Tanya Nia menggoda Nizam, karena tahu betul kalau Nizam paling tidak suka dimandikan karena meeasa dia harus segera besar dan bisa melindungi Nia.
"Mandi sendiri." Jawab Nizam lalu segera ke kamarnya.
"Liam?" Tanya Nia, karena putranya yang satu itu masih labil.
"Hmmm, Liam pikir dulu." Kata Liam sambil mengetuk-ngetuk dagunya, yang membuat Liam semakin menggemaskan, dan buk Des tertawa melihat tingkah Liam.
"Lama. Ya udah ayok, ibuk mandiin." Kata Nia sambil menggandeng tangan Liam, tapi segera di tepis Liam dengan lembut.
"Kata kak Nizam, pria tidak boleh dimandiin. Karena Liam pria, jadi Liam mandi sendiri." Kata Liam sambil berjalan dengan gaya cool seperti Nizam yang membuat buk Des dan Nia hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Liam.
"Ibuk senang, mereka tumbuh menjadi anak yang menggemaskan." Ucap buk Des sambil menikmati teh melati hangat yang sudah Nia siapkan.
"Assalamualaikum." Ucap Sean senang ketika masuk ke dapur bersama mbok Nah dan langsung duduk dimeja makan.
"Mbok, bukannya Nia suruh beli ikan ya?, kenapa mbok bawa pulang biawak?" Tanya Nia yang heran melihat Sean pagi-pagi sudah datang.
__ADS_1
"Enak aja lo bilangin gue biawak, gue tuh buaya tau." Protes Sean.
"Lebih parah." Cibir Nia.
"Ibuk Des sehat?" Tanya Sean sambil mencium punggung tangan buk Des.
"Alhamdulillah. Semakin cakep aja Sean." Kata buk Des senang, karena Nia sudah bisa bercanda lagi, karena sejak awal jumpa Nia kembali, wajahnya selalu terlihat serius dan penuh beban.
"Iya dong buk. Mau ketemu calon istri dan anak-anak." Jawab Sean sambil melirik Nia.
"Lah, mau ketemu calon istri lo, kenapa lo pagi-pagi udah namu aja di rumah gue?" Protes Nia.
"Kan elo calon istrinya. Michin gue tercinta" Kata Sean sambil tertawa.
"Ehem. Assalamualaikum." Dehem dan salam Reyhan, yang membuat Nia menepuk keningnya pelan, dan suasana hening seketika.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Nia, Sean dan buk Des kompak.
"Daddy..." Teriak Liam yang sudah selesai mandi senang, sambil berlari dan mengulurkan tangannya ke Reyhan minta gendong.
Reyhan menangkap dan segera menggendong Liam dan mencium pipi gembul Liam.
"Wah anak daddy habis mandi, wangi." Kata Reyhan yang kembali mencium Liam gemes yang membuat Liam tertawa karena merasa geli.
Walau baru dua kali bertemu, tapi Liam merasa nyaman ketika bersama Reyhan karena hubungan ayah dan anak antara mereka.
Kedekatan Liam dan Reyhan hanya membuat Nia menghela nafasnya pelan. Nia yang tahu rasanya tumbuh besar tidak bersama ayahnya, tidak ingin twin merasakan hal yang sama. Makanya Nia membiarkan saja ketika Reyhan bertemu dengan twin.
"Wah.. Cool boy daddy yang satu sudah mandi juga." Kata Reyhan lalu segera menggendong Nizam di sebelahnya, sehingga twin berada di tangan kanan dan kiri Reyhan.
Reyhan hanya mencium pipi Nizam sekali, karena tahu betul kalau kembaran sifat versi mini dirinya, paling tidak suka dicium.
"Sayang turun yuk. Kasian daddy keberatan." Kata Nia sambil mengajak twin turun.
"Kamu meremehkan mas Nia. Jangankan twin, kamu aja bisa mas gendong." Kata Reyhan karena tidak suka diremehkan, membuat Nia dan Sean memutar bola mata mereka malas.
Nia segera meletakkan sarapan twin yang sudah Nia siapkan dan segera mengambil piring untuk Reyhan dan Sean, dan membuatkan dua cangkir kopi hangat, karena Reyhan dan Sean tidak suka kopi panas.
Dengan cekatan, Nia meletakkan secangkir kopi panas di hadapan Reyhan dan Sean dan menyendukkan nasi goreng kepiring mereka.
"Wah... Keluarga cemara dah kumpul aja." Kata Eis yang baru keluar dari kamarnya, sambil tersenyum.
"Hmmm.. kangen nasi goreng seafood teteh." Kata Eis yang langsung duduk dan menyenduk nasi goreng yang ada di depannya.
"Ayok makan. Diam-diam aja." Kata Eis sambil tersenyum bahagia memasukkan sesendok nasi goreng seafood ke mulutnya.
"Ibuk nggak ikut makan?" Tanya Sean yang juga mulai menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.
"Ibuk nggak bisa makan seafood. Sebentar lagi pisang gorengnya siap, lagi di goreng mbok Nah." Jelas Nia.
Mereka makan tanpa suara, menikmati sarapan yang sudah lama mereka rindukan.
Selesai sarapan, Sean mengajak Liam bermain bola, karena menggunakan pakaian santai, sementara Reyhan bersama Nizam duduk di bangku taman samping sambil membaca buku.
"Abi Sean bolanya lempar sini." Teriak Liam yang membuat kening Reyhan berkerut, dan membuat Nia yang mendengarnya berjalan ke arah Sean.
"Lo bilang apa sama anak gue?, nggak ada abi-abi, lo itu om Sean. Ntar kalau di tempat umum ada lo, mas Rey dan anak-anak, yang satu di panggil abi, yang satu daddy, orang-orang bakal ngira gue punya banyak lakik." Protes Nia.
"Untuk membiasakan. Kan nanti gue bakal jadi abinya mereka." Jawab Sean enteng sambil tersenyum.
"tscek. Nggak ada." Protes Nia lagi lalu berjalan ke arah Liam.
"Sayang.. Itu panggilnya Om Sean. Bukan abi. Oke." Kata Nia berusha menjelaskan.
"Tapi kata abi, Liam harus panggil abi." Kata Liam bingung.
Nizam yang melihat kembarannya bingung, berjalan ke arah Nizam dan membantu Nia menjelaskan, karena kalau Nizam yang jelaskan, makan Liam akan segera paham.
__ADS_1
Sean yang melihat diskusi ibu dan dua anak laki-lakinya, memutuskan untuk duduk di bangku yang tadi Nizam dudukin.
"Nia itu istri kakak Sean. Kamu urus saja tunangan kamu Aisyah." Kata Reyhan dengan suara datar dan dinginnya.
"Mantan kak." Tekan Sean tidak mau kalah.
"Kakak, akan kejar mantan kakak, dan kami akan kembali bersama." Jawab Reyhan dengan PDnya.
"Mimpi aja kakak. Aku nggak akan lepaskan Nia." Kata Sean yang membuat Reyhan kesal dan langsung mencengkram kerah kaos Sean.
"Daddy ngapain?" Tanya Liam yang heran melihat Reyhan mencengkram kerah kaos Sean.
"Daddy lagi bersihin pikiran om Sean." Jawab Reyhan sambil melepas cengkramannya, dan kembali duduk dibangkunya.
"Btw, lo nggak kerja Sean? Kamu juga mas?" Tanya Nia heran karena dua tamu nggak diundangnya masih berada di rumahnya.
"Perusahaan punya bokap, jadi suka-suka gue mau masuk atau nggak." Jawab Sean sambil nyengir.
"Kebiasaan. Kasian bapak, punya anak kayak lo." Protes Nia.
"Bokap bangga tau punya anak kayak gue." Kata Sean lagi.
"Kamu mas, udah jam 8 lewat ini. Udah lewat jam kantor." Kata Nia
"Perusahaan punya mas, jadi ya suka-suka mas mau masuk jam berapa aja." Jawab Reyhan dengan santai dan ekspresi songongnya.
"Whatever" Kata Nia lalu segera masuk karena mau siap-siap akan ke kantor pengacara Bian.
"Michin, lo mau kemana?, udah rapi aja." Tanya Sean ketika melihat Nia sudah menggunakan gamis dengan model blazer berwarna army, dan menyandang tas ransel.
"Gue mau ke kantor Om Herlambang." Jawab Nia sambil mengenakan sepatu kets putihnya.
"Ayo mas antar." Kata Reyhan mendekati Nia.
"Maaf, kita bukan muhrim lagi mas, jadi kita harus jaga jarak. Lo juga Sean, jauh-jauh dari gue. Insya Allah gue bisa sendiri. Mas juga nggak usah khawatir. Mas urus saja yang harus mas urus seperti kantor mas, atau istri mas yang sekarang." Jelas Nia panjang lebar.
"Tapi.." Protes Sean dan Reyhan bersamaan.
"Tidak ada tapi-tapian. Titik. Ini keputusan final dari aku." Potong Nia.
"Sayang, ibuk pergi dulu ya. Nizam sama Liam sama tante Eis dan nenek dulu ya. Jadi anak sholeh ibuk?" Tanya Nia sambil mencium pipi gembul Nizam dan Liam, yang dijawab anggukan oleh twin, yang juga mencium pipi Nia kanan dan kiri.
"Masya Allah. Terima kasih sayang. Ibuk pergi. Buk des, Eis Nia pergi dulu. Assalamualaikum." Kata Nia lalu segera masuk ke mobilnya meninggalkan Reyhan dan Sean yang hanya mampu melihat Nia pergi.
Sudah seminggu ini Nia sibuk mencari bukti dan keberadaan Erik asisten pribadi Bian. Kondisi Bian juga sudah semakin membaik, walau belum sadar, tetapi sesekali Bisn mulai memberikan respon ketika Nia melakukan VC.
Nia mendatangi kantor Bian, untuk mencari beberapa petunjuk tentang kebradaan erik.
"Wah... ada pelakor nih." Kata Elsa ketika melihat Nia yang akan keluar dari kantor.
"Pelakor?" Tanya Nia bingung.
"Iya. Lo kan pelakor. Lo dulu udah rebut mas Rey dari gue. Sekarang udah seminggu mas Rey nggak pulang, pasti lo kekepin mas Reyd rumah lo denga alasan anak-anak lo kan?" Kata Els sinis dengan suara keras yang membuat orang-orang sekitar mereka mulai kasak kusuk.
"Please deh kak. Jangan pura-pura amnesia deh Kak. Kita sama-sama tahu kejadiannya seperti apa. Aku nggak mau ribut. Jadi please, jangan ganggu aku." Kata Nia lalu bermaksud ingin pergi karena malas ribut, tapi ditahan oleh Elsa.
"Gue belum selesai ngomong. Lo suruh mas Rey pulang, lo itu sekarang cuma mantan istri. Jadi nggak ada hak lo nahan mas Rey." Kata Elsa lagi.
"Ya Allah kak. Aku nggak pernah nahan atau ngundang mas Rey. Tapi aku juga nggak mau menghalangi mas Rey bertemu anak-anaknya." Jelas Nia.
"Iya, sekalian emaknya, lo itukan murahan, sama seperti ibuk lo, yang lo ini nggak jelas anak siapa." Kata Elsa, yang membuat Nia marah.
"Plak" Sebuah tamparan, Nia layangkan ke pipi mulus Elsa, dan mencetak warna merah dipipinya.
"Lo.." Kata Elsa geram sambil memegang pipinya yang memerah.
"Jangan menghina ibuk aku. Dan juga jangan memutar balikkan fakta. Kita sama-sama tahu siapa yang murahan dan berkhianat." Kata Nia lalu pergi meninggalkan Elsa, yang membuat Elsa panik, karena menduga kalau Nia pasti tahu sesuatu, tentang hubungan Elsa dan Bian yang bukan ayah kandungnya.
__ADS_1