
Setelah menemani Ratih untuk mengepas gaun yang akan dia kenakan di acara pernikahan Elsa, Nia memutuskan untuk kembali ke asramanya, setelah bertukaran nomor handphone dan menandatangani kontrak kerja sama yang menghasilkan uang yang cukup banyak untuk pekerjaan pertama Nia sebagai model gaun rancangan Monica.
"Kamu harus traktir mbak Ni." Kata Ratih sewaktu diperjalanan mengantar Nia pulang ke asrama.
"Beres. Mbak tinggal bilang aja, mau dimana dan kapan, InsyaAllah kalau lagi nggak pura-pura sibuk, kita pergi." Kata Nia sambil memperlihatkan giginya yang rapi dan putih.
"Kebiasaan iklan pasta gigi. Kok pakai acara pura-pura sibuk sih Ni? Bagaimana kalau besok aja kita perginya?" Usul Ratih.
"Besok nggak bisa deh mbak, soalnya pemotretannya mulainya besok, mana harus keluar kota lagi." Kata Nia.
"Oh iya ya. Jadinya kamu pemotretan dimana?" Tanya Ratih.
"Salah satu vila pegunungan yang ada di kota B." jawab Nia.
"Wah.. seru tuh. Mbak boleh ikut?" Tanya Ratih antusias.
"Beneran mbak mau ikut?" Tanya Nia antusias.
"Benerlah. Tapi kamu yang nanggung semua akomodasi mbak ya?" tanya Ratih.
"Aman kalau itu, yang penting mbak ikut, soalnya Nia nggak punya teman. Pasti nanti disana orangnya baru semua. Terimakasih ya mbak." kata Nia sambil tersenyum senang.
"Sama-sama Ni. Kamu ini seperti sama siapa aja." Kata Ratih lagi.
Sesampainya di asrama, Nia segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan siap-siap untu sholat ashar. Selesai sholat ashar, seperti biasa, Nia pasti selalu membantu bu Yuni, kalau Nia sedang tidak sibuk.
"Udah Ni, biarin aja. Nanti itu tugas si Mirna yang nyuci." Kata bu Yuni ketika melihat Nia akan mencuci piring kotor yang ada di tempat cuci piring.
"Nggak apa-apa buk. Ngak ada yang mau dikerjakan lagi selain ini." Kata Nia sambil menunjuk tumpukan piring kotor.
Nia yang biasa bekerja, segera menyelesaikan cucian piring-piring kotor yang ada di bak tempat cucian piring kotor. Begitu Nia selesai mencuci piring yang terakhir, handphone Nia terdengar bergetar di dalam saku celananya.
"Assalamualaikum Pa." kata Nia sewaktu menjawab telponnya.
"Iya, sebentar lagi Nia makan. Nia sehat kok. Oh iya, tadi Nia kenalan dengan mbak Monica... iya, katanya sih namanya Monica, ya Nia panggil mbak dong... Nia dikontrak untuk jadi modelnya mbak Monic... nggak pa, cuma kontrak satu kali pemotretan aja. Papa sudah makan?... Iya, inshAllah kalau tidak mengganggu, Nia datang. udah dulu ya Pa, nanti Nia telpon lagi. wasalamualaiku." kata Nia lalu segera mematikan panggilan telponnya.
"Papa kamu Ni?" Tanya buk Yuni yang emang suka ke to the po alias kepo.
"Iya buk. Tadi papa yang telpon." Jawab Nia.
"Kamu kenapa nggak tinggal dengan papa kamu aja sih Ni?" tanya bu Yuni.
"Nia udah pernah bilang deh bu, Ibu pelupa nih." Protes Nia karena Nia memang pernah bercerita kenapa Nia tidak mau tinggal dengan papanya.
"Oh iya ya? Maklumlah Ni, faktor U" Kata bu Yuni sambil tertawa.
Hari ini Nia bangun pagi-pagi sekali, karena Ratih sudah datang untuk menjemput Nia dan segera ke bandara, karena Monica dan timnya sudah menunggu di bandara.
"Aduh, cepetan kenapa Ni? Kamu ini santai banget." Protes Ratih yang sudah seperti asisten pribadinya Nia.
"Udah siap ini mbak." Kata Nia lalu segera menyambar tas ransel yang lumayan besar, berisi beberapa keperluannya.
Nia mengenakan celana sebetis berwarna putih, dipadukan hoodi berwarna hijau botol. Walaupun kaca mata bulat yang cukup besar selalu menghiasi wajahnya, tetapi hal itu tetap membuat Nia terlihat keren. Ditambah lagi Nia hanya mencepol keatas rambutnya asal-asalan, karena Ratih sudah memburu-buru Nia untuk cepat.
"Lama nunggunya mbak?" Tanya Nis begitu melihat Monica.
"Ya 10 menitan lah. Masih ada waktu satu jam lagi. Kita bisa sarapan dulu." Kata Monica sambil menggandeng Nia berjalan ke Lounge yang menyediakan sarapan pagi, karena mereka akan menggunakan salah satu maskapai elit dan terbesar.
Ada beberapa pilihan menu sarapan yang disediakan, mulai dari menu sarapan tradisional seperti bubur ayam, nasi goreng, lontong sayur dan soto, tapi juga ada menu sarapan ala barat seperti roti isi, telur mata sapi, dan sosis.
Nia memutuskan untul mengambil roti isi dan segelas teh hangat.
"Cukup cuma segitu Ni?" Tanya Monica yang meletakkan mangkok yang berisi bubur ayam dan orange jus di meja tempat mereka duduk.
"Cukup mbak." Kata Nia sambil menikmati teh dan roti isinya.
"Sok bule lo Ni. ini lagi titih merintih, kenapa ikut-ikutan kebarat-baratan lo? Biasanya lo makan lontong kalau pagi." Kata Monica begitu melihat Ratih yang hanya membawa 1 telor ceplok, ditambah 3 potong sosis.
"Iya, aku tuh sarapan lontong kalau udah jam 9an. Kalau pagi begini, nggak suka sarapan sebenarnya. Tapi mumpung ada fasilitas gratis, ya makanya cuma ambil ini aja." Terang Ratih ratih sambil mengunyah sosisnya.
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi membawa mereka ke kota B, dan menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam.
Sesampainya di kota B, sudah ada staff Monica yang menjemput mereka dan akan membawa mereka ke tempat pemotretan.
Di jalan, Monica menjelaskan konsep pemotretannya kepda Nia. Nia yang cerdaspun bisa segera menangkap keinginan Monica.
"Aku salut sama kamu Monic. Semua yang kamu kerjakan selalu keren." kata Ratih kagum.
"Lo kan tau, gue perfeksionis. Gue aja nyiapin ini butuh waktu setahun. Untung aja tuh model kampret sibuk, jadinya gue bisa dapat Nia." Kata Monica sambil merangkul Nia yang ada di sebelahnya, yang membuat Nia agak risih, karena bagaimanapun Monica adalah laki-laki, dengan dandanan yang agak kecewekan, tapi tetap memakai pakaian pria.
"Iya aku tau, kalau kamu itu mr. Perfect." Kata Ratih sambil tertawa.
Setelah sampai di Vila yang memang sudah disiapkan staff Monica, mereka istirahat sebentar, karena pemotretan akan dilakukan sore dan malam hari.
"Dio, itu di hotel depan lagi ada acara?" Tanya Monica karena hotel yang berada di seberang Vila kelihatan ramai.
"Iya bos. Lagi ada acara keluarga gitu." Terang Dio.
__ADS_1
"Acaranya nggak ganggu set pemotretan kita kan?" Tanya Monica memastikan.
"Aman bos. Kita sudah memperingatkan pihak hotel." Jawab Dio lagi.
"Good job." Kata Monica sambil menepuk pelan bahu Dio.
"Lo sama Ratih boleh bebas, mau jalan atau istirahat. Tapi jam 2 Lo ontime ya buat persiapan." kata Monica.
"Ok." Jawab Nia dan Ratih bersamaan, lalu memutuskan untuk ke kamar mereka dulu meletakkan barang-barang mereka.
"Kamu capek Ni?" Tanya Ratih.
"Nggak." Jawab Nia sambil meletakkan tasnya di lemari yang ada di dalam kamar.
"Kita jalan-jalan?" Tanya Ratih.
"Mbak mau kemana?" Tanya Nia, karena sebenarnya Nia udah bosan jalan-jalan untuk daerah sekitar Vila.
"Yang dekat-dekat aja. Ntar si Monica nyariin kamu lagi." Jawab Ratih.
"Ok. Kita ke danau yang ada di bawah aja. Lumayan pemandangan dari sana." Kata Nia.
"Kok kamu tahu?" Tanya Ratih heran, karena Ratih memang tidak terlalu banyak tahu tentang Nia, karena Nia orang yang tertutup.
"Aku itu besar di kota ini." Jawab Nia.
"Oh ya? wah.. asyik dong, bisa ngunjungi tempat-tempat yang indah terus." Kata Ratih antusias.
"Ya gitu deh. Ayok." Ajak Nia, sambil menarik tangan Ratih.
Ratih dan Nia berjalan kaki menuju danau yang lokasinya memang tidak jauh dari Vila tempat mereka menginap. Mereka menikmati setiap pemandangan yang menyejukkan mata dan menyenangkan hati. Tidak lupa Ratih mengabadikan moment di setiap spot foto yang terlihat bagus.
"Ayok Ni, kita wefian aja." Ajak Ratih namun ditolak Nia, karena Nia nggak suka di foto dan nggak suka mengabadikan sesuatu di kamera hpnya. Nia lebih suka mengabadikan setiap moment dihidupnya dalam hati dan memori yang ada dikepalanya.
"Jam dua masih 3 jam lagi. Mbak mau aku ajak ketempat aku biasa jajan? agak jauh sih dari sini, sekitar 20 menitan. Ntar aku pinjam motor temen aku yang rumahnya nggak jauh dari sini." Kata Nia.
"Good idea. Sarapan ala-ala bule tadi nggak nendang di perut mbak. Para kaum cacing udah pada mulai demo nih." Kata Ratih sambil menunjuk perutnya lalu tertawa.
Merekapun segera menuju rumah teman Nia, yang juga merupakan temannya Sean untuk meminjam motor.
"Ingat ya A', jangan bilang Sean Nia disini." Kata Nia mngancam si pemilik motor.
"Beres."Kata Ardi sambil mengacungkan jempolnya.
Nia segera membonceng Ratih menuju tempat yang dibilang Nia. Tempat itu merupakan alun-alun yang berisi banyak sekali pedagang kaki lima. Mau jajanan tradisonal, jajanan internasional semuanya lengkap ala kaki lima.
"Wah surga ini Ni." Kata Ratih antusias melihat aneka makanan yang berjejer rapi.
"Mau odeng, mie ayam sama sate telur puyuh 5 ya. Mbak tunggu di bangku yang dekat bawah pohon situ." Kata Ratih sambil menunjuk salah satu tempat duduk yang sedang kosong .
"Ok." Kata Nia lalu segera memesan makanan yang dipesan Ratih dan makanan untuk dirinya sendiri.
Setelah memesan, Nia bermakasud menuju bangku yang ditunjuk oleh Ratih.
"Bruk"
Nia yang kurang hati-hati sewaktu berbalik malah menabrak seorang pria tampan, dengan tatapan dingin dan terkesan angkuh.
Pria itu hanya melihat Nia yang jatuh terduduk, tanpa ada niat untuk membantu Nia berdiri.
"Aduh. Kenapa pakai nabrak sih." Dumel Nia pada diri sendiri sambil berdiri. Setelah melihat Nia berdiri sendiri dan baik-baik saja, pria itu pergi meninggalkan Nia tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Kamu kenapa Ni?" Tanya Seseorang yang suaranya sangat Nia kenal.
"Sean?!" Kata Nia dan segera membalikkan badannya bermaksud kabur, namun Sean segera menahan tangan Nia.
"Lo nggak bisa kabur dari gue. Kenapa lo balik ke sini nggak bilang gue sih?" Tanya Sean sebel.
"Hehe... ini bisa dilepas dulu?" Tanya Nia sambil menunjuk pergelangan tangannya yang dipegang Sean erat, dan begitu sadar kalau Sean memegang tangan Nia, Sean segera melepaskan tangan Nia.
"Lo jangan kabur!" Kata Sean lagi.
"Nggak. Gue cuma mau duduk." Kata Nia yang berjalan menuju bangku tempat Ratih menunggunya.
Nia dan Sean duduk di dekat Ratih duduk, yang membuat Ratih heran kenapa Nia bisa datang bersama cowok cakep.
"Ini Sean, dan Sean ini mbak Ratih." Kata Nia memperkenalkan Sean dan Ratih karena paham tatapan tanya Ratih yang menanyakan siapa makhluk cakep yang berada di depannya.
Sean dan Ratih saling mengulurkan tangan dan berjabatan tangan sebagai tanda perkenalan.
"Lo belum jawab gue Cin" Kata Sean lagi.
"Gue lagi ada kerjaan, di Vila green lake." Jawab Nia.
"Kerja apaan?" Tanya Sean penasaran.
"Kerjaan, dan ini halal kok." Jawab Nia lagi.
__ADS_1
"Tinggal bilang aja susah bener." Protes Sean.
"Lo sendiri ngapain kesini? Lagi jalan sama gebetan Lo yang mana?" Tanya Nia sambil tersenyum jahil ke arah Sean.
"Sendiri sih. Mami sama papi ntar nyusul. Ada acara keluarga gue di hotel Bunga. Lo gabung temenin gue ya?" Ajak Sean.
"Ogah. Gue ada kerjaan, bukan liburan kesini. Ajak mbak Ratih aja tuh. Eh.. nggak jadilah, ntar kasian mbak Ratih lo modusin. Lo kan buaya cap buntung." Kata Nia sambil tertawa.
"Enak aja lo, julukin gue buaya cap buntung. Lagian nih ya, mana ada buaya secakep gue." Protes Sean.
"Oh iya, terlalu keren lo jadi buaya. Yang bener kadal cap buntung." Kata Nia lagi sambil tertawa.
Nia berhenti mengganggu Sean ketika pesanannya mulai berdatangan.
"Gue mintak punya lo aja ya." Kata Sean sambil merebut garpu Nia, karena mereka berdua memang punya selera yang sama.
"Lo pesan aja sana." Tolak Nia, namun Sean tidak perduli, malah Ia segera menusuk hati ayam yang ada di mangkok mie ayam dan segera memasukkan ke mulutnya.
"Sean... kan lo tau itu favorit gue. Mana tinggal satu-satunya lagi." Protes Nia yang membuat Sean tertawa merasa menang.
"Sengaja." Kata Sean sambil tertawa dan mengunyah hati ayam yang dimakannya dengan seksama, dan akhirnya malah membuat mereka makan semangkok berdua mie ayam Nia yang membuat Ratih heran.
"Kalian ini seperti anak kembar yang nggak identik ya." Kata Ratih melihat kelakukan Nia dan Sean.
"Lo salah, yang betul itu kita berdua handsome and the beast. Gue handsomenya, Nia beast nya." Kata Sean sambil tertawa.
"Kampret lo. Gue nggak mau ya nolongin lo lagi." Kata Nia kesal sambil melemparkan tisu yang di remas-remasnya memjadi bola ke wajah Sean.
"Gue becanda loh Michin gue yang tersayang." Kata Sean dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
"Pergi lo sana. Gue nggak kenal cowok jahat macam lo." Kata Nia sambil mendorong Sean, yang membuat Sean panik karena Nia beneran marah.
"Gue minta maaf. Gue bercanda. Lo itu sahabat terbaik, tercantik, dan terbaik hati yang gue punya. Maafin gue please." Kata Sean dengan wajah imutnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada, yang membuat Nia tiba-tiba tertawa.
"Kampret. Gue kira lo beneran marah." Kata Sean sambio memanyunkan bibirnya yang terlihat menggemaskan.
"Gue mau balik dulu. Lo juga, kembali ke habitat lo." Kata Nia lalu berdiri.
"Tapi lo janji nemenin gue dulu, baru gue pergi." Kata Sean sambil menahan tangan Nia.
"Gue nggak bisa janji. Karena nggak tau juga kerjaannya selesai jam berapa. Tapi gue usahakan." Kata Nia sambil melepaskan pegangan tabgan Sean, karena setiap Sean menyentuh Nia, jantung Nia serasa habis lomba lari maraton 10 KM.
"Thank you Michin." Kata Sean senang, lalu membiarkan Nia dan Ratih pergi.
"kamu suka sama Sean?" Tanya Ratih yang curiga, karen kelihatan sekali dimata Ratih kalau Nia menyukai Sean.
"Nggak." Jawab Nia yang berusaha menutupi perasaannya.
"Kelihatan banget loh di wajah kamu." Kata Ratih sambil menggoda Nia.
"Apanya yang kelihatan?" Tanya Nia yang mulai salah tingkah.
"Tuh kan, mukanya udah mulai jadi udang rebus. Kalian berdua pasti saling menyukai, dari tadi mbak lihat kalian itu romantis bener." goda Ratih lagi.
"Apaan sih mbak. Ya nggak mungkinlah. Sean itu anak majikan tempat ibuk aku kerja, pacarnya banyak dan cantik-cantik semua. Aku ini apalah yang hanya remahan rengginang." Kata Nia dengan wajah sedih.
"Kamu salah. Kamu itu bukan remahan rengginang, kamu lebih hebat dari remahan rengginang." Kata Ratih yang membuat Nia menjadi agak senang karena dia dibilang hebat dari remahan rengginang.
"Yang benar itu kamu remahan rempeyek." Kata Ratih sambil tertawa yang membuat Nia jadi manyun. Karena sudah dibuat terbang, belum tinggi udah di jatuhkan.
Sesampainya di Vila, Nia dan Ratih segera istirahat, karena waktu untuk persiapan yang diminta Monica sekitar sejam lagi.
"tok tok" Terdengar suara pintu kamar Ratih dan Nia diketok dari luar.
"Ni, kita siap-siap yuk. Soalnya agak di percepat pemotretannya, biar dapat timing yang pas." Kata Monica yang langsung menarik tangan Nia untuk keluar dari kamarnya.
"Sebentar mbak, Nia mandi dulu 10 menit." Kata Nia dengan wajah memohon.
"Ok, nggak lebih." Kata Monica sambil melepaskan pegangan tangannya.
Nia segera menuju kamar mandi sambil membawa handuk dan baju ganti. Nia mempesiapkan kaos oblong berwarna mint dan celana denim panjang berwarna cream di atas mata kaki.
Nia yang lupa memasang lagi softlensenya segera keluar dari kamar mandi. Membuat Ratih dan Monica terus memandangi Nia yang ternyata sangat cantik sekali dengan mata emerald nya.
"Ada yang salah?" Tanya Nia heran sambil menggulung rambutnya asal-asalan.
"Gue kangen lihat mata lo." Kata Monica yang terus memandang mata Nia dan membuat Nia tersadar kalau ia lupa memakai softlense hitamnya.
"Astagfirullah." Ucap Nia yang sadar kalau softlense hitamnya masih di kamar mandi dan bermaksud mengambilnya, tapi ditahan oleh Monica.
"Gue butuh lo jadi diri lo sendiri." Kata Monica sambil tersenyum.
"Kamu cantik banget Ni." Kata Ratih yang masih memandang Nia, karena baru kali ini Ratih melihat Nia tanpa kacamata bulat besar yang selalu melekat di depan matanya.
"Perempuan ya cantiklah." Jawab Nia.
Nia segera memakai kacamatanya dan menggunakan sendal jepit, karena nanti Nia akan menggunakan pakaian lengkap yang sudah disediakan oleh team Monica.
__ADS_1
Monica segera merias Nia dengan riasan yang natural, karena kulit wajah Nia yang putih bersih bak porselen, tanpa bintik-bintik pori-pori yang terbuka. Hidung mungil mancung yang ia warisi dari Lily, dagu lancip dan memiliki belahan yang Nia warisi dari Bian, ditambah bibir yang agak sedikit tebal dan mungil, serta berwarna pink alami, bulu mata lentik dan cukup panjang, mata bulat dengan irish emerald yang membuat Nia beneran seperti boneka hidup setelah Monica mendandaninya.
Selesai berdandan, Monica segera menyerahkan gaun yang akan Nia kenakan. Gaun berwarna kuning pucat yang agak sedikit mengembang dibagian bawahnya, yang dihiasi beberapa aksesoris berbentuk bunga berwarna kuning terang bercampur orange, dan panjangnya hanya sedikit dibawah lutut, terlihat pas dan sangat cantik ketika Nia mengenakannya. Monica juga memberikan sendal bertali dengan hak kecil yang tidak terlalu tinggi dan memiliki motif bunga dengan warna senada membuat penampilan Nia menjadi sempurna.