Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Real become husband and wife


__ADS_3

Sejak hari itu,Nia dan Reyhan sepakat untuk menjadi suami istri seutuhnya, berusaha membentuk keuarga yang sakinah mawadah warahmah.


"Dek, hari ini jadi ikut jemput Eyang?" Tanya Reyhan


"Jadi dong. Ntar aku di cap cucu durhaka sama eyang kalau nggak jemput." Kata Nia penuh semangat yang membuat Reyhan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.


"Kita lagi berantem ya?" Tanya Reyhan kepada Nia, karena mereka bicara dari jarak yang lumayan jauh, Reyhan sedang duduk di tepi ranjang, dan Nia sedang duduk di depan meja rias.


"Kapan kita berantem?" Tanya Nia heran.


"Sekarang lah." Kata Reyhan mulai kesal karena Nia tidak paham maksud Reyhan yang menyuruhnya mendekat.


"Perasaan baik-baik aja deh." Kata Nia pura-pura tidak tahu kalau Reyhan bermaksud menyuruhnya mendekat. Bukannya Nia tidak mau mendekati Reyhan, tapi sejak mereka sepakat untuk menjadi suami istri seutuhnya, Reyhan selalu saja meminta haknya sebagai suami, tidak mandang jam, dan menghabiskan waktu yang lama.


Itu saja Nia duduk di meja Rias karena baru habis mandi besar dan sedang mengeringkan rambutnya.


Reyhan yang mulai terlihat kesal, berjalan menghampiri Nia, lalu tanpa berkata apa-apa langsung menggendong Nia ala bridal style, yang membuat Nia menjerit karena terkejut, dan segera mengalungkan tangannya ke leher Reyhan karena takut jatuh.


"Mas apa-apaan sih! Turunin aku." Kata Nia yang ikutan kesal.


"Kamu diam aja." Kata Reyhan sambil memandang Nia dengan senyuman nakalnya.


"Aku baru habis mandi loh mas. Satu hari ini aku udah 3 kali mandi." Protes Nia ketika Reyhan menurunkannya di atas kasur ukuran besar yang ada di kamar itu.


"Kan eyang minta cicit, mas lagi angsur buatnya, kemaren mas cicil mata, karena ada dua, makanya dua kali, tadi kuping sama mulut, makanya tiga kali, sekarang mas mau angsur hidung." Kata Reyhan sambil menaik turunkan alisnya, dan memeluk Nia erat agar tidak kabur.


"Emang gitu prosesnya?" Tanya Nia yang lagi kumat mode nggak pintarnya.


"Iya gitulah. udah kamu nikmati aja, biar mas yang kerja keras." Kata Reyhan yang mulai membenamkan wajahnya ke ceruk leher Nia, yang sangat di sukai Reyhan sejak pertama kali mereka menjadi suami istri seutuhnya.


"Geli ah mas." Kata Nia yang berusaha mendorong Reyhan, tapi tidak bisa karena tubuh Reyhan yang berat.


"Sayang please." Kata Reyhan dengan wajah sendunya yang membuat Nia tidak bisa menolaknya kalau Reyhan di mode mupeng.


Reyhan tersenyum senang, karen Nia sudah tidak berontak lagi, dan malah menarik wajah Reyhan mendekat, dan mencium bibir suaminya dengan penuh gairah.


💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚


"Nggak ada acara cicil menyicil hari ini. Aku bukan kuli bangunan ya mas, yang punya tenaga banyak buat ngelakuin kegiatan olah raga tiap jam. Lagian aku mau tidur sama eyang." Kata Nia ketika mereka sedang di perjalanan menuju Bandara.


"Iya. Palingan mas cuma meluk aja. Lagian nggak akan bisa kamu tidur sama Yangti. Yangkung itu bucin tingkat dewa ke Yangti, nggak akan mau dia jauh-jauh apalagi sampai misah ranjang dari Yangti. Emangnya kamu mau tidur bertiga?" Tanya Reyhan, yang membuat Nia menepuk keningnya pelan, karena baru ingat, kalau Yangkung dan Yangti itu nggak terpisahkan.


"Enak yah mas jadi Yangti. Dapat Yangkung yang cinta banget sama Yangti." Kata Nia sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Reyhan, dan langsung di rangkul Reyhan sambil mencium puncak kepala Nia.


"Ada enaknya ada nggak nya. Semua tetap ada plus minusnya sayang." Kata Reyhan menjelaskan.


"Mas gitu juga nggak sih ke aku?" Tanya Nia sambil memainkan jari-jari Reyhan yang berada di tangannya.


"Kebucinan tingkat akut itu sepertinya jadi kutukan di keluarga mas." Terang Reyhan.


"Papi sama mami begitu juga?" Tanya Nia sambil mendongak menatap Reyhan dengan mata penuh tanya.

__ADS_1


"Lebih parah papi sih. Kamu tau nggak, sangking bucinnya papi sama mami, sekretris papi di kantor kan mami." Kata Reyhan sambil tertawa mengingat kebucinan orang tuanya.


"Oh ya?, jadi 24 jam papi sama mami bareng terus?" Tanya Nia antusias, karena memang belum kenal akrab dengan mertuanya.


"Ya gitu lah." jawab Reyhan


"Apa nggak bosan ya mami sama-sama papi terus." Gumam Nia heran yang masih bisa di dengar Reyhan.


"Mami itu perempuan yang menurut, pendiam, dan nggak macam-macam. Beda sama yangti yang memang punya jiwa petualang. Makanya sekali-sekali yangkung harus ngasih yangti kebebasan. Karena kalau yangkung nggak kasi, yangti bisa kabur seperti waktu ketemu kamu dulu." Jelas Reyhan.


"Mas kok tau aku pernah ketemu yangti?" Tanya Nia heran.


"Apa sih yang mas nggak tahu tentang istri mas ini. Ukuran pakain dalam kamu aja mas tau, apalagi kalau cuma riwayat hidup kamu." Terang Reyhan sambil tersenyum, karena tiba-tiba saja otaknya traveling membayangkan tubuh Nia.


"Dasar Omes." Kata Nia yang tahu kalau suaminya lagi mode mesum.


"Biarin. Sama istri ini." Kata Reyhan sambil mencium punggung tangan Nia.


"Mas bucin juga?" Tanya Nia ragu.


"Kan tadi sudah mas bilang, kalau bucin itu seperti kutukan di keluarga mas." Jawab Reyhan.


"Oo." Kata Nia yang sedikit memonyongkan bibirnya, membuat Reyhan segera menangkup wajah Nia dengan kedua telapak tangannya, lalu mencium bibir Nia gemas.


"Mas!" protes Nia lalu mendorong Reyhan yang membuat Reyhan tertawa karena berhasil mencuri ciuman dari Nia.


"Mas duduk di sudut sana. Dasar modus. Nggak malu dilihatin pak Gun?" Protes Nia karena yakin pak Gunawan yang merupakan supir kepercayaan Reyhan pasti melihat dari sepion depan.


"Mas sanaan. Modus, omes, absur... aaaaa..." teriak Nia karena Reyhan menariknya kedalam dekapannya.


"Mas!" teriak Nia yang mulai kesal dengan tingkah Reyhan yang malah membuat Reyhan semakin tertawa dan mengeratkan dekapannya karena Nia terus meronta ingin kabur.


"Mas senang deh lihat kamu marah." Kata Reyhan sambil menatap Nia, yang membuat Nia juga menatapnya heran.


"Mas senang aku kelihatan tua?" Tanya Nia, yang membuat Reyhan heran.


"kan kalau marah akan ada banyak urat syaraf di wajah yang putus, makanya orang yang suka marah akan kekihatan cepat tua." Terang Nia yang paham melihat Reyhan yang heran.


"Jangan khawatir sayang. Teknologi sekarang canggih tau." Kata Reyhan lagi sambil sedikit mengangkat dagu Nia agar menatap Reyhan, yang membuat alarm waspada Nia menyala, dan segera mendorong Reyhan.


"Jangan modus deh mas. Jauhan sana." Kata Nia sambil mendorong Reyhan, tapi Reyhan malah mendekap Nia erat.


"Udah diam aja. Mas cuma pengen peluk aja." Kata Reyhan lalu sedikt merenggangkan pelukannya.


Sesampainya di Bandara, Nia dan Reyhan menunggu Eyang di pintu kedatangan luar negeri. Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya Nia melihat yangti yang berjalan di gandeng suaminya.


"Nia... sayang. Kamu makin cantik aja. Yangti kangen banget tau sama kamu." Kata Yangti sambil memeluk Nia erat, sementara yangkung memeluk Reyhan erat, karena ia juga rindu dengan cucu satu-satunya.


"Ini udah ada isinya belum?" Tanya yangti sambil mengelus perut Nia yang masih datar.


"Udah.. "

__ADS_1


"Alhamdulillah. Beneran?" Tanya yangti semangat.


"Iya. Tadi sebelum jemput eyang, Nia isi pakai nasi goreng seafood." Jawab Nia yang membuat yangti menepuk jidatnya pelan.


"Eyang kira bakalan punya cicit Nia sayang." Kata yanti gemes.


"Belum eyang. Masih mau pacaran dulu kita." Kata Reyhan cepat, karena takut yangti akan bertanya banyak hal dengan Nia dan dijawab jujur oleh Nia.


"Semoga Allah segerakan ya. Sudah mau dua tahun, yangti belum dapat cicit juga." Kata Yangti dengan wajah sedih.


"Insya Allah Yangti." Kata Reyhan.


Untuk menyambut kepulangan Yangti dan Yangkung, Keluarga besar Reyhan mengadakan acara di salah satu hotel ternama yang ada di kota P. Karena Yangti memutuskan untuk tinggal di kota P, karena sudah sangat nyaman dengan Nia.


"Kamu mau kemana Ni?" Tanya Yangti sewaktu melihat Nia yang sudah siap-siap berangkat ke kampus.


"Mau ke kampus eyang. Ada mata kuliah yang nggak bisa Nia tinggalin." Kata Nia sambil tersenyum.


"Nanti malam kamu ke hotelkan?" Tanya Yangti meyakinkan.


"Insya Allah eyang. Tapi maaf, Nia nggak bisa bantu persiapannya." Kata Nia lalu pamit dan segera ke kampus bersama Leo dan Rani.


Nia yang sudah tidak tampil culun, selalu saja menarik perhatian, terutama anak-anak baru, ditambah tidak ada yang tahu kalau Nia sudah menikah. Nia memutuskan ubtuk melanjutkan kuliahnya ke tingkat Magister, dan akan wisuda bersama ketiga sahabatnya.


"Cie.. mahasiswa magister." Ledek Oget yang datang bersama Aldi dan Dian yang ikutan duduk di tempat biasa mereka duduk ketika di kantin kampus.


"Biasa aja. Aku bela-belain nih, nunggu kalian buat wisuda, jadi, nggak ada yang nunda skripsi ya?!." Ancam Nia.


"Wuih.. mahasiswa magister galak benar." Kata Oget sambil tertawa.


"Kalau masalah itu beres. Ini sudah mulai cari-cari masalah." Kata Dian sambil nyomot nuget, makanan favorit Nia kalau dikantin.


"Dah nemu masalah Di?" Tanya Oget pada Dian.


"Udah, kemaren udah konsul juga. Btw, itu dua bodyguard kamu kemana Ni?" Tanya Dian karena tidak melihat Leo dan Rani.


"Kayaknya bantuin Yangti deh." Kata Nia.


"Yangti?" Tanya Dian heran.


"Iya, Eyang putrinya mas Reyhan." Jawab Nia.


"Kamu itu apanya pak Reyhan sih Ni? Udah lama kita temanan, tapi kami nggak tahu apa-apa tentang kamu. Kamu itu penuh kejutan." Kata Aldi.


"Siapa ya?..." Kata Nia sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari.


"Serius Ni. Kamu tahu banget semua tentang kita. Tapi udah lama kita sahabatan, kita nggak tahu apa-apa tentang kamu." Kata Aldi lagi.


"Mas Reyhan itu dulu pacarnya kak Elsa, masih ingatkan kak Elsa? Kakak tirinya aku. Dah gitu aja."kata Nia menyelesaikan ceritanya ketika melihat wajah-wajah serius shabat-sahabatnya yang sedang menyimak.


"Kalau itu kami juga tahu." Protes Oget, yang hanya ditanggapi tawa oleh Nia.

__ADS_1


"Dah ah. Nggak ada yang seru dihidup aku. Biasa aja." Kata Nia lalu memasukkan sepotong nuget ke mulutnya.


__ADS_2