
Nia PoV
"Sudah siap sempro Ni?" Tanya Profesor Heri yang masuk ke ruang serbaguna, membuat aku tersadar kalau masih berada di ruang serbaguna untuk mempersiapkan Sempro tesis ku.
"Su sudah prof. Kepagian ya?" Tanya ku sambil nyengir, karena ini memang masih sangat pagi sekali.
"Kalau kamu, saya tidak heran. Tumben gugup?" Tanya Prof Heri yang merupakan dosen pembimbing ku.
"Nggak gugup sih Prof, tadi agak terkejut aja." Kata ku membela diri karena dibilang gugup.
"Yang saya revisi terakhir sudah kamu ganti?" Tanya Prof Heri lagi.
"Siap. Aman Prof. Udah ketemu juga buku referensi dari profesor. InsyAllah aman Sempronya. Saya sudah selesaikan juga sampai bab 3. Kalau ini di acc, saya tinggal sebar kuesioner, lalu olah data, buat bab 4 dan bab 5. Jadi bulan depan bisa daftar sidang." Jelas ku.
"Kamu ini ya, kebiasaan. Selalu curi start di awal. Coba semua mahasiswa seperti kamu, nggak ada tuh yang namanya DO karena skripsi, tesis atau disertasi nggak siap." Kata Profesor Heri lagi, yang hanya aku jawab cengiran saja.
Jam 7:30, satu persatu yang akan sempro, termasuk penguji dan pembimbing mulai berdatangan. Aku juga melihat Aldi, Oget dan Dian yang datang sambil membawa bunga dan kertas besar, yang aku tidak bisa lihat tulisannya apa.
Semua yang hadir sudah menduduki tempatnya masing-masing. Aku bersiap untuk mempresentasikan proposal tesis yang menjadi awal untuk menyelesaikan tahapan terakhir kuliah S2 ku.
Walaupun masih terpikir tentang Video yang tadi aku terima, tapi aku harus berusaha berkonsentrasi, karena aku ingin segera menyelesaikan sempro ku hari ini. Untung saja, para penguji dan pembimbing tidak mengajukan pertanyaan yang mempersulit aku, sehingga aku bisa menyelesaikan sempro dengan sngat baik sekai. Ditambah kehebohan teman-teman ku, membuat aku melupakan sesaat masalah video tadi.
"Semangat Nia. You are the best." teriak bang Oget, yang membuat aku tersenyum melihat tingkahnya yang kocak.
Dian langsung memeluk ku dan menyerahkan buket bunga mawar merah yang dibawanya.
"Selamat ya Ni. Kamu keren banget. Sempronya smoth, nggak ada grogi-groginya." Ucap Dian.
"Congratulation. Aku suka judul tesis kamu Ni. Ntar pas aku lanjut, aku lanjutin penelitian kamu ya?" Kata Bang Aldi.
"Siip. Gampang. Atur aja, asal jelas hitung-hitungannya." Kata ku bercanda.
"Nia sayang. Selamat ya, buat tesis nya. Jadi kapan Nih, bang Oget bisa datang kerumah buat ngelamar?" Tanya bang Oget, dengan wajah sok serius.
"Ngelamar jadi security atau tukang kebun?" Tanyaku pada bang Oget.
"Ih Nia jahat. Ngelamar jadi suami dong. Belahan hatinya kamu." Kata bang Oget lagi, yang malas aku tanggapi, karena bisa panjang urusan.
"Bagaimana kalau kita rayakan nanti malam. Oget yang traktir." Kata Dian penuh semangat.
"Gampang. Mau dimana? Buat ayang beb, apa sih yang nggak." Kata bang Oget sambil membusungkan dadanya, sombong.
"Ok. Kalau nggak salah, di hotel Z, ada promo you can eat all. Bagaimana kalau kita dinner di sana aja." Kata Dian.
"Ok Fix." Kata Bang Oget dan bang Aldi kompak.
"Nggak janji." Kata ku smbil nyengir, soalnya nggak tahu, bakalan di izinkan atau nggak.
Hmm... tapi kenapa aku harus izin?, Mas Reyhan aja sama kak Els nggak izin aku. Lagian cuma makan malam ini, dan ada Dian.
"Ok, Aku ikut. Ntar aku langsung ke sana. Jam 7 aja ya? Soalnya kalau lewat dari jam 9 malam pulangnya, ntar nggak dibukain pintu rumah." Kata ku yang ditanggapi dengan tos ala mereka bertiga.
Selesai sempro, aku izin untuk pulang duluan, karena mereka bertiga juga melakukan aktifitasnya masing-masing.
Sesampainya di rumah, aku mencoba menghubungi nomor mas Reyhan, tetapi tidak aktif. Akhirnya aku memetuskan untuk mengirim pesan Via aplikasi pesan.
"Mas, alhamdulillah Nia sudah selesai sempro hari ini. Tadi Nia udah nelpon mas, tapi nggak di angkat, sekarang nomor mas nggak aktif." tulis ku pada aplikasi pesan.
Aku nggak mau banyak berfikir tentang Video yang kuterima tadi pagi. Video yang cukup membuat hati ku sakit, tapi aku sadar, kalau aku kan hanya pengganti, jadi jika suatu saat mas Reyhan kembali ke kak Els, itu artinya, jodoh ku dan mas Rey hanya sampai di situ.
Pasti banyak yang berfikir, memang ada manusia yang bisa seikhlas itu melepaskan suaminya?. Kalau aku sih nggak mau banyak berfikir. Sakit memang rasanya mengetahui suami balik sama mantannya, tapi aku bisa apa?, dipaksa bersama justru malah buat aku semakin sakit, jadi ya sudah ikhlaskan saja.
Hidup itu menjalankan takdir yang sudah di tetapkan, berjalan sesuai koridor yang sebagaimana mestinya. Manusia itu hanya bisa berencana, tapi tetap sang Maha Pencipta adalah penentunya.
Untuk menghilangkan rasa jenuh, aku kembali melanjutkan menulis tesis ku. Aku sudah menyebarkan kuesioner secara online, sehingga bisa mendapatkan data untuk bab 4 tesis ku.
"Non, makan siang sudah siap." Panggil mbok Nah.
"Iya mbok." kata ku dan segera meninggalkan data kuesioner yang akan dimasukkan ke SPSS.
Sebelum ke kampus tadi pagi, aku pesan sama mbok Nah untuk memasakkan tom yum daging sapi. Tidak tahu kenapa, beberapa hari ini, suka makan makanan yang tidak biasa aku makan. Membayangkan kuah asam pedas tom yum yang segar, membuat aku segera menuju meja makan.
__ADS_1
Aku menghabiskan semangkuk tom yum dengan nasi putih hangat, di tambah buah pisang dan jeruk, yang membuat makan siang ku sangat menyenangkan.
"Alhamdulillah. Terima kasih mbok, buat makan siangnya yang lezat." Kata ku sewaktu melihat mbok Nah yang membereskan meja makan.
"Iya non. Mbok senang, kalau non senang dengan masakan mbok Nah. Oh iya, maaf ini ya non, beberapa hari ini non merasa aneh nggak sih?" Tanya mbok Nah kepada ku.
"Aneh kenapa mbok? Perasaan Nia biasa aja deh." Jawab ku karena aku merasa biasa saja dan tidak ada yang aneh.
"Iya aneh aja. Non makan makanan yg sebelumnya non tidak suka, atau tidak biasa makan. Non ini mbok lihat seperti orang lagi ngidam." Kata mbok Nah, yang membuat aku jadi berfikir tentang kata-kata mbok Nah.
"Ngidam?" Gumam ku sambil mengelus perut ku, berharap kata mbok Nah benar.
"Tapi Nia dua minggu lalu datang bulan mbok. Walau nggak banyak seperti biasa." Jelas ku pada mbok Nah.
"Mau mbok antar non periksa ke dokter kandungan?" Tawar mbok Nah antusias.
"Nggak usah mbok. Nia bisa cek sendiri. Kalau nggak salah ada alat tes kehamilan di kotak obat yang ada di kamar" Kata ku, karena tidak ingin terlalu berharap, yang ujung-ujungnya membuat kecewa.
Aku segera masuk ke kamar, dan mengecek alat tes kehamilan yang sudah sebulan ini tidak pernah aku gunakan.
Aku yang sudah memegang alat tes kehamilan, tiba-tiba ragu untuk mengecek, soalnya aku tidak ingin kecewa seperti sebelum-sebelumnya, karena aku yakin, 2 minggu yang lalu aku datang bulan,.walau tidak sebanyak bulan-bulan sebelumnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan alat tes kehamilan besok pagi. Karena pagi adalah waktu yang paling bagus untuk menggunakan alat tersebut. Semoga calon anak ku dan mas Reyhan benar-benar sudah Allah titipkan di rahim ku.
Selesai sholat zuhur, aku memutuskan untuk tidur siang. Tidur adalah aktivitas yang paling aku sukai. Karena itu aku gampang tidur dimana saja dan kapan saja aku mau.
zzzzzzzzzz.............................zzzzzzz...................
Suara alarm sholat ashar membuat aku terbangun, dan segera bangun dari tempat tidur untuk mandi dan setelahnya melaksanakan sholat ashar.
"Malam ini nggak usah siapkan Nia makan malam mbok. Nia mau makan bareng Dian sama yang lain juga di luar." Kata ku ketika mbok Nah sedang siap-siap untuk masak makan malam. Karena di rumah ini makanan selalu dibuat fresh.
"Non sudah lapor tuan?" Tanya mbok Nah yang paham Reyhan seperti apa.
"Nanti Nia WA, nomor mas Reyhan nggak aktif." Jawab ku.
"Nia angkat telpon dulu mbok. Papa nelpon." Kata ku ketika melihat layar hp ku menyala dan muncul nama papa.
"Bagaimana sempronya sayang?"
"Iya alhamdulillah sempronya lancar. Insya Allah bulan depan Nia pengajuan sidang tesis, biar akhir Oktober nanti Nia bisa ikut wisuda."
"Wah, hebat bener anak papa. Alhamdulillah kalau semuanya lancar."
" Waktu wisuda nanti papa harus datang ya?, janji."
"Iya sayang. Papa janji. Nggak mungkin papa melewatkan moment bersejarah anak papa. Kamu mau hadiah apa sayang?"
"Terima kasih pa. Nggak, Nia nggak perlu hadiah apapun. Yang papa kasi selama ini sudah lebih dari cukup."
"Ya udah kalau begitu. Kalau ada perlu apapun jangan lupa hubungi papa ya sayang. Papa mau otw pulang. Assalamualaikum sayang."
"Iya pa. Wassalamualaikum." kataku menjawab salam papa.
Aku lalu kembali ke kamar, menyiapkan pakaian yang akan aku gunakan. Karena makan malam di salah satu hotel bintang 5 yang ada di kota P, aku memutuskan untuk mengenakan gaun yang tidak terlalu ketat, berwarna mint muda yang panjangnya sebetis dan lengan panjang. Mas Reyhan tidak membiarkan aku menggunakan gaun yang ngepas body atau kekurangan bahan, makanya aku tetap nyaman menggunakan pakaian yang dibelai oleh mas Reyhan.
Selesai sholat magrib, aku segera bersiap untuk berangkat, sengaja menggunakan penampilan ku seperti ke kampus agar tidak menarik perhatian.
"Non diantar?" Tanya mbak Sekar.
"Pakai transportasi online mbak. Aku dinner di hotel Z. Mana tahu mas Rey nelpon, soalnya sampai sekarang hpnya nggak aktif. Aku pergi dulu mbak. Assalamualaikum Wa Rohmatullahi Wa Barakatuh. 😊 ." Jelas ku lalu pergi meninggalkan rumah.
Sesampainya di hotel, aku bertemu bang Oget dan Dian yang baru sampai, karena sepertinya bang Oget menjemput Dian.
"Kamu naik transportasi online Ni?, Tau gitu abang jemput tadi." Kata bang Oget ketika melihat ku turun dari transportasi online.
"Santai aja bang." Jawab ku lalu segera menggandeng Dian dan masuk ke dalam hotel dan langsung menuju restoran. Tidak lama kami duduk, bang Aldi juga muncul dengan pakaiannya yang selalu rapi.
Kamipun menikmati acara makan malam yang kats mereka acara syukuran untuk sempro tesis ku, tapi yang bayar bang Oget.
"Ni, cobain ini deh, enak banget tau." Kata Dian sambil menyerahkan jus yang berwarna pink kepada ku.
__ADS_1
"Jus jambu? Nggak suka." Tolak ku karena memang tidak suka jus jambu.
"Bukan, ini katanya jus buah Tin, buahnya surga." Terang Dian antusias.
Lalu aku mengambil dan meminum sedikit untuk menyesuaikan lidah ku, apakah bisa menerimanya atau tidak.
Ternyata rasanya enak, manisnya segar.
"Tuh kan, kamu suka. Mau aku ambilkan lagi?" Tawar Dian.
"Nggak usah Di, aku udah kenyang banget. Begah."Kata ku karena merasa sudah sangat kenyang.
Aku melihat jam tangan yang ada dipergelangan tangan kiri ku. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam. Nggak terasa, padahal rasanya baru sebentar.
"Kalau maaih mau lanjut, lanjut aja ya. Aku pulang duluan, soalnya gerbang kos jam 10 udah di tutup." Izin ku pamit kepada mereka.
"Yah, kok cepet bener sih Ni?, Nginap ditempat Dian aja deh, atau mau nginap disini?" Tawar bang Oget.
"Nggak usah bang. Nanti aku dicariin ibu kos. Soalnya izin sebelum jam 10 udah balik." Terang ku.
Sewaktu aku mau berdiri, tiba-tiba kepala ku terasa seperti berputar dan rasa ingin jatuh.
"Kamu kenapa Ni?" Tanya Dian panik, dan memapah aku untuk duduk kembali.
"Nggak tahu. Kok tiba-tiba pusing banget ya? Semuanya kayak goyang gitu." Jelas ku, yang menahan rasa sakit kepala yang tiba-tiba.
"Ya udah, kamu istirahat disini aja dulu. Abang bukakan kamar sebentar. Kan ada Dian." kata bang Oget lalu segera berjalan menuju meja resepsionist untuk memesan kamar.
"Ayok Ni, kamu duduk disini." Kata Bang Aldi sambil meletakkan kursi roda di samping ku. Dian membantu ku untuk duduk di kursi roda, karena mereka tahu, aku tidak mau bersentuhan dengan laki-laki.
bang Aldi mendorong kursi roda menuju pintu lift, menunggu bang Oget menyesaikan checkin di hotel Z.
Karena kepala ku rasa berputar, aku memutuskan untuk menutup mata, karena kalau aku buka mata, yang aku lihat berputar, dan rasanya selain sakit kepala juga membuat aku mual.
Sesampainya di kamar, Dian membantu ku untuk berbaring di tempat tidur, dan membukakan sepatu yang aku kenakan.
"Aku beli obat dulu. Sepertinya Nia kena Fertigo." Kata bang Aldi yang masih bisa aku dengar.
"Nggak usah bang. Aku cuma butuh tidur. Tinggalin aja aku sendiri." Terang ku.
"Jangan dong Ni. Kita khawatir tau." Protes bang Oget.
"Its ok bang. Aku nggak biasa tidur kalau banyak orang." Kata ku lagi.
"Ya sudah. Aku aja tang jaga Nia." Tawar Dian yang langsung diaetujui bang Aldi dan bang Oget.
Mereka ku dengar pamit keluar, karena tidak mau mengganggu aku beristirahat.
Setelah terdengar pintu tertutup, aku berusaha membuka mata dan melepaskan softlense yang aku gunakan sebelum tidur. Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Aku mulai membuka mata, dan merasakan kepalaku sudah tidak terlalu sakit. Aku melihat sekeliling, tidak ada orang sama sekali. Aku segera duduk dan mengambil hp ku untuk melihat jam.
Astagfirullah, ternyata sudah jam 11 siang. Aku melihat notif pesan yang ada di hp ku dan banyaknya panggilan telpon dari mas Reyhan.
Aku segera menuju kamar mandi dan memberaihkan diri. Lalu mengambil tas ku dan segera checkout dari hotel Z.
"Non." Panggil mbak Rani yang sudah ada di lobi hotel yang membuat aku heran.
"Kok mbak ada disini?" Tanya ku.
"Tuan Rey yang suruh saya jemout Non. Tuan sekarang sudah ada di rumah." Terang mbak Rani yang membuata aku panik dan segera menyelesaikan checkout.
Sesampainya di rumah, aku melihat mas Reyhan yang duduk bersebelahan dengan Kak Els.
Assalamualaikum, mas kok sudah pulang?" Tanya ku heran, karena mas Reyhan bilang akan di negara S selama seminggu.
"Iya, kenapa kalau saya pulang? Kamu tidak senang?" Kata Mas Reyhan emosi, tapi berusaha ditenangkan kak Els dengan menggenggam tangan mas Reyhan.
Sakit rasanya melihat mereka sepeti itu.
"Ya Nia senanglah mas pulang cepat." Jawab ku berusaha tenang.
__ADS_1
"Ghania Khanza Khaylee, mulai hari ini kamu bukan istri saya lagi. Saya jatuhkan talak satu kepada mu. Mulai sekarang hiduplah seperti apa yang kamu mau." Kata Mas Reyhan yang membuat aku terkejut.