Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Bahagia


__ADS_3

Selesai sholat subuh, seperti biasa, aku membacakan ayat suci Alquran biar baby twins tenang.


"Biar mas yang baca." Kata mas Reyhan sambil membuka Alquran dan mulai membacanya. Ternyata mas Reyhan sangat fasih membaca Alquran, bahkan makhorijul huruf diucapkan dengan sempurna dan alunan suara yang merdu. Mas Reyhan mengaji sambil mengelus perut ku yang tertutup mukenah.


Baby twins sangat anteng mendengar Ayahnya membacakan ayat suci Alquran. Surah Yusuf dan Surah Maryam dibaca mas Reyhan satu jam lebih.


"Masya Allah. Suara mas bagus." Kata ku yang tidak sadar memuji mas Reyhan.


"Alhamdulillah. Nanti mas rekam suara mas ya. Jadi kalau mas nggak ada sama kamu pas waktu sholat, kamu bisa dengarkan suara mas." Kata mas Reyhan sambil mencium perut ku yang tertutup mukenah.


Aku hanya tersenyum mendengarkan permintaan mas Reyhan. Melihat kondisi hubungan kami saat ini, rasanya aku tidak mau membuat kedua anak ku tebiasa mendengar suara ayahnya. Bisa sia-sia usaha ku untuk tidak bergantung dengan mas Reyhan, karena status pernikahan kami yang belum jelas.


"Mas mau sarapan apa?" Tanya ku yang mengalihkan kebiasaan mas Reyhan, yang dari semalam selalu mengelus perut ku.


"Biasa. Nasia goreng seafood. Udah lama mas nggak makan." Jawab mas Reyhan.


"Ok. Nia buatkan dulu." Kataku lalu segera berdiri dan meninggalkan mas Reyhan.


"Nyonya? Kapan pulang?" Tanya mbak Sekar dengan senyum bahagia ketika melihat ku.


"Semalam. Oh iya, mas Rey mau makan nasgor seafood, bahannya ada mbak?" Tanya ku, sambil memeriksa ricecooker.


"Ada. Sebentar saya siapkan." Kata mbak Sekar semangat.


Aku dan mbak Sekar membuat nasi goreng seafood favorit mas Reyhan dengan banyak potongan cumi goreng tepung, ditambah ikan teri yang masih kriuk.


Selesai masak, mbak Sekar menghidangkan nasi goreng yang aku buat di meja makan. Aku melihat mas Reyhan sudah duduk di bangku yang biasa dia duduki.


Aku mengambilkan mas Reyhan nasi goreng, dan meletakkannya dihadapan mas Reyhan.


"Baru beberapa bulan tidak bersama, kamu sudah lupa kebiasaan kita dimeja makan." Protesnya sambik memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya, lalu menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulut ku.


"A sayang." Katanya karena aku masih menutup mulut ku rapat.


"Mas aja. Nia nggak lapar." Kata ku sambil tersenyum.


"A... sayang. Tangan mas pegel ini." Paksanya, yang akhirnya membuat aku menerima suapan mas Reyhan, dan seperti dejavu kami makan satu piring berdua, bedanya, dulu aku yang selalu menyuapi mas Reyhan, sekarang gantian aku yang disuapi.


"Sebentar lagi ustadz Ahmad sampai. Kamu siap-siap gih." Kata mas Reyhan setelah mengunyah suapan terakhir.


"Siap-siap?" Tanya ku heran.


"Iya. Siap-siap. Kan mau ketemu ustadz, minimal kamu harus pakai pakaian yang lebih tertutup."Kata mas Reyhan sambil tersenyum.


Setelah sarapan, aku menggunakan pakaian yang lebih tertutup, dan mencoba menggunakan hijab, karena ada beberapa kegiatan yang memang mengharuskan menggunakan pakaian muslim, sehingga di lemari ada beberapa stel pakaian muslim. Walaupun aku bukanlah wanita muslimah sejati yang menutup aurat, tapi aku juga bukan jenis perempuan yang senang memamerkan aurat.


Iatadz Ahmad datang, sesuai dengan waktu yang disampaikan oleh mas Reyhan. Beliau menjelaskan masalah ucapan talak yang disampaikan oleh mas Reyhan. Walaupun kata talaknya tidak syah, tapi istadz Ahmad juga menjelaskan kalau suami tidak boleh sembarangan mengucapkan kata talak.

__ADS_1


"Sudah yakin kalau kamu masih istri mas?" Tanya mas Reyhan ketika ustdz Ahmad pulang.


"Yakin." Jawab ku sambil mengangguk.


"Kalau begitu, kamu harus kembali menjadi istri mas yang patuh, menjalankan semua kewajiban kamu sebagai istri yang mendengarkan kata-kata suaminya." Kata mas Reyhan sambil tersenyum merasa menang.


Oh tidak semudah itu Ferguso. Iya kali aku masih bisa bersikap seperti dulu setelah apa yang mas Reyhan lakukan sebelumnya.


"Kembali jadi istri yang baik itu gampang. Tapi mas harus janjii satu hal. Tidak ada kata khianat dalam pernikahan kita. Karena ketika Nia tahu mas berkhianat, jangan harap mas akan ketemu Nia istri mas yang sholeha." Jawab ku


"Ok. Deal." Kata mas Reyhan sambil mengulurkan tangannya tanda sepakat


Karena hubungan ku yang mulai membaik, mas Reyhan mengembalikan hp ku dan juga laptop ku. 2 hari tidak melihat hp dan laptop, ternyata ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan.


Untuk perusahaan ku, aku tidak mau bilang dengan mas Reyhan, tapi soal usaha yang ada di Desa temoat tinggal Eis, aku menceritakan semuanya, bahkan mas Reyhan mau ikut membantu agar desa itu berkembang.


Author PoV


Sudah seminggu, Nia kembali bersama Reyhan, mencoba kembali membina rumah tangga mereka yang kadang-kadang penuh misteri.


"Ini sebentar lagi twins empat bulan nggak sih sayang?" Tanya Reyhan yang sedang mengelus perut buncit Nia yang sudah mulai membesar karena ada dua baby di dalamnya.


"Iya. Pemeriksaan terakhir, seharusnya minggu depan itu masuk minggu ke 16 atau 4 bulan. Memangnya kenapa mas?" Tanya Nia.


"Nggak terasa ya?, udah 4 bulan aja si twins." Kata Reyhan tadi.


"Iya, mas nggak terasa. Nia nih terasa banget, mulai engap." Protes Nia.


"Hadeuh.. nggak cocok mas ngegombal. Btw, mas minggu depan jadi ke negara S?" Tanya Nia sambil menyingkirkan tangan Reyhan yang mulai jahil mencubit pipi Nia gemeah karena mulai tembem.


"Jadi. Kenapa? Kamu mau ikut?" Tanya Reyhan.


"Nggak. Negara S jauh. Nia ke Dwsa Sumber Sari aja boleh?. Pengen makan pecel lele buatan Eis." Jawab Nia.


"Eisnya aja yang disuruh kesini."


"Nggak bisa. Di sana Eis lagi sibuk. Soalnya banyak orderan. Mas kan tahu sendiri, kalau Eis sekarang yang gantiin Nia, buat ngatur semuanya."


"Tapi mas nggak mau kamu kesana, soalnya mantan kamu ada disana."


"Mantan Nia?"


"Iya, itu pak tentara nyebelin."


"Oalah. A' Yusuf toh. Itu dulu cuma simbiosis mutualisme doang mas. Nia tuh nggak pernah suka sama A' Yusuf."


"Bohong. Nggak mungkinlah, kamu nggak jatuh cinta dengan dia, secara dia tampan begitu." Protes Reyhan.

__ADS_1


"Cie.. yang lagi cemburu, akhirnya mengakui kalau mas itu bukan satu-satunya makhluk tampan di dunia ini." Kata Nia sambil cekikikan karena senang melihat Reyhan cemburu dengan Captain Alvaro.


"Tetap aja. Mas itu yang tertampan. Buktinya kamu cinta matikan sama mas?" Kata Reyhan percaya diri, yang membuat Nia langsung tertawa keras.


"Kok kamu tertawa sih?" Protes Reyhan.


"Ternyata tingkat kepercayaan diri suami Nia masih setinggi langit. Sekarang, siapa yang cinta siapa coba?" Tanya Nia


Hari ini, Nia mengantarkan Reyhan ke Bandara karena selama 1 minggu lebih akan berada di negara S untuk mengurus bisnisnya yang ada di sana.


"Kamu nanto kalau sampai di Desa Sumber Sari harus langsung VC mas. Terus jangan pernah ketemu sama mantan kamu. Jangan capek-capek. Jaga twins dengan baik. Mas akan segera selesaikan urusan mas di negara S dan jemput kamu pulang." Kata Reyhan panjang lebar.


"Aye aye captain." Kata Nia sambil memberi hormat kepada Reyhan yang membuat Reyhan semakin gemas.


"Sayang, kamu baik-baik di dalam ya." Kata Rey yang berbicara dengan baby twins yang ada di perut Nia, lalu mencium perut Nia yang sudah semakin buncit.


"Malu mas." Protes Nia karena tidak enak dilihat oleh calon penumpang yang satu penerbangan dengan Reyhan.


"Kenapa malu?, Kan kita suami istri sah. Bukan selingkuhan." Protes Reyhan.


"Iya nggak di depan umum gini juga kali mas kalau mau pamitan sama anaknya." Kata Nia lagi karena paling tidak suka jadi pusat perhatian.


Setelah perdebatan yang tidak penting, akhirnya Reyhan berangkat menuju negara S, sementara Nia berangkat menuju desa Sumber Sari bersama Rani dan Leo.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, karena letak kota P yang jauh dari desa Sumber Sari membuat Nia lebih sering memejamkan matanya.


"Non, bangun non. Kita sudah sampai." Kata Rani sambil menepuk bahu Nia pelan untuk membangunkannya.


"ekhm... udah sampai mbak?" Tanya Nia sambil melakukan peregangan.


"Iya non."


"Teteh. Kangen deh." Kata Eis yang langsung menyambut Nia senang.


"Lebay. Baru juga pisah beberapa minggu." Kata Nia sambil menepuk pelan jidat Eis.


"Tetap aja. Rindu itu berat teh. Twins makin gede ya." Kata Eis sambil mengelus perut buncit Nia.


"Maaf non. Dari tuan." Kata Rani lalu menyerahkan hpnya kepada Nia.


"Wa'alaikumusallam. Iya mas. Ini baru sampai. Perjalanan lancar kok, sepanjang jalan Nia tidur. Mas jangan lupa makan ya. Jangan kerja melulu. Iya, Nia mau makan, sudah lama nggak makan masakan Nik Kos. Nanti jangan salahkan Nia kalau makin gendut ya mas. Wassalamu'alaikum. Love u too." Kata Nia mengakhiri panggilan telpon dari Reyhan yang sehari itu sudah ntah yang keberapa.


Ketika masuk ke rumah Nik Kos, Nia senang melihat Nik Kos yang sedang menyiapkaa meja makan.


"Ninik nggak perlu repot. Biar Eis aja yang siapin." Kata Nia smmbil memeluk wanita tua, tapi masih punya energi yang banyak untuk bekerja, karena dari muda biasa bekerja keras.


"Nanti kamu protes, karena rasanya tidak sama." Kata Nik Kos sambil terkekeh.

__ADS_1


"Iya juga." Kata Nia sambil nyengir, lalu tanpa aba-aba segera menyendok makanan yang terhidang, dan memakannya dengan lahap.


Rani yang selalu siaga, tidak lupa memvideokan kegiatan Nia, lalu mengirimkannya kepada Reyhan.


__ADS_2