Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Nasi Goreng Spesial


__ADS_3

Monica dan teamnya benar-benar sangat puas dengan hasil pemotretan. Walaupun Nia tidak pernah sebelumnya melakukan pemotretan, tapi Nia cepat paham apa yang disampaikan dan diinginkan Monica dan teamnya.


Untuk sesi terakhir, Monica meminta Nia mengenakan gaun malam yang panjangnya sedikit di bawah lutut, dan agak rendah pada bagian punggungnya, sehingga memperlihatkan sedikit punggung Nia.


"Kamu bisa nggak Ni pose kamu lagi senyum, tapi dengan ekspresi sedih?" Tanya Monica.


"Aku coba ya mbak." Kata Nia yang sudah siap-siap berada di set foto yang berada di lobi hotel.


Ketika lagi berpose, Nia tidak sengaja melihat Sean, mamanya dan Aisyah yang merupakan pacar Sean. Nia yang mencintai Sean, merasa agak sedikit sakit hati karena akhirnya mamanya Sean menerima wanita lain dekat dengan Sean selain Nia. Nia lupa kalau dia sedang pemotretan, Nia tersenyum, tetapi air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya yang putih bersih.


"Good job Ni." Kata Monica senang sambil memberikan tepukan tangan begitu juga team yang lain membuat Nia tersadar kalau dia sedang bekerja.


"Maaf mbak. Aku merusak suasana ya?" Tanya Nia sambil menghapus air matanya.


"Nggak Ni. Justru itu perfect banget. Gue aja nggak nyangka kalau lo bisa sedramatis ini sampai mengeluarkan air mata." Kata Monica senang.


"Aku ke toilet dulu ya mbak." Kata Nia lalu segera menuju ke toilet yang lokasinya tidak jauh dari tempat Nia pemotretan.


Sesampainya di toilet, Nia segera membasuh wajahnya, dan menghilangkan jejak air mata dipipinya. kemudian Nia mengeringkan wajahnya perlahan menggunakan tisu, karena Nia nggak tahu apakah masih ada sesi pemotretan lagi atau tidak.


Nia memandang wajahnya yang terlihat sangat berbeda, karena baru kali ini Nia berdandan full makeup. Nia tersenyum miris melihat bagaimana Aisyah, pacarnya Sean menggandeng tangan mama Sean dan tertawa bersama.


Sewaktu keluar dari toilet, Nia tidak sengaja ditabrak dengan seorang perempuan yang buru-buru ke toilet. Nia menyangka kalau dirinya akan jatuh dan merasakan sakit, sehingga Nia menutup matanya.


Tetapi setelah menunggu beberapa detik, Nia merasa dirinya tidak jatuh, bahkan merasa ada tangan yang menopang tubuhnya agar tidak terjatuh.


Nia membuka matanya, dan melihat wajah Sean yang berada dekat sekali dengan wajah Nia, karena Sean yang menangkap Nia agar tidak jatuh.


"Sean!" Kata Nia panik lalu melepaskan pegangan Sean dan berencana untuk kabur.


"Bruk" Nia kembali menabrak orang yang berada di depanya karena ia berjalan sambil melihat ke arah Sean sesekali.


Kali inipun Nia tidak jatuh karena orang yang ditabrak Nia, menangkap tangan Nia dan menarik Nia kedalam pelukannya.


Nia yang belum sadar kalau sedang berada dipelukan cowok, hanya berdiam diri, sambil menikmati aroma maskulin yang cukup menenangkan fikiran.


"Ehem" Kata Sebuah suara yang membuat Nia tersadar, dan segera menjauh dari pria itu. Pria arogan yang selalu bertabrakan dengan Nia dan hanya menampilkan ekspresi cool tanpa memperdulikan Nia.


Setelah Nia mundur, Pria itu menatap Nia dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu menarik sedikit sudut bibirnya samar.


"Anda tidak apa-apa tuan Rey?" Tanya seorang pria yang menggunakan stelan jas hitam.


"Its ok." Kata pria yang dipanggil Rey itu, lalu pergi meninggalkan Nia.


"Maaf tuan, dan terimakasih." Kata Nia walaupun Rey sudah berlalu, tapi ia masih bisa mendengar ucapan Nia.


"Michin. Lo utang penjelasan sama gue." Kata Sean yang menangkap tangan Nia karena Nia bermaksud untuk kembali kabur.


"Penjelasan apa sih Sean?" Tanya Nia sambil melepaskan pegangan tangan Sean, tapi Sean memegangnya semakin erat.


"Ini. Kenapa lo dandan cantik begini. Imut banget." Kata Sean gemas.


"Gue lagi ada kerjaan." Jawab Nia.


"Kerjaan?, jangan bilang lo nemanin om-om di hotel?" Kata Sean ngasal yang membuat Nia menjitak kepala Sean.


"Pikiran Lo. Gue ada kerjaan, jadi model. Gue abis pemotretan." Jawab Nia.


"Oh.. Gue kira lo jalan sama om-om." Kata Sean lega sewaktu mendengar jawaban Nia.


"Nemenin jalan Om Sean gue mau." Kata Nia sambil bergaya genit menggoda Sean, yang membuat Sean bergidik geli, karena ia paling tidak suka melihat cewek genit.


"Geli gue liat lo kayak gitu." Kata Sean sambil memperlihatkan ekspresi geli melihat sesuatu yang dia tidak suka, dan membuat Nia tertawa.


"Ternyata lo cantik banget ya Cin." Kata Sean sambil memandang Nia dari ujung kepala ke ujung kaki.


"Dasar cowok." Kata Nia jutek lalu berjalan meninggalkan Sean, karena Sean sudah melepaskan pegangannya.


"Tunggu gue Cin." Kata Sean sambil berjalan di sebelah Nia.


"Oh iya, Lo tadi ngapain sama kak Raihan?" Tanya Sean, karena ia sempat mendengar Nia mengucapkan kata maaf dan terimakasih.


"Ke to the po. Ke Po." Kata Nia sambil membulatkan bibir mungilnya yang agak sedikit tebal di depan wajah Sean, yang membuat Sean meneguk salivanya kasar, karena ia lelaki normal.


"Lo jangan goda kak Rey, dia itu bulan depan mau nikah. Lo goda gue aja, masih available." Kata Sean.


"Hello. Tadi kayaknya gue lihat kak Aisyah deh sama Ibuk. Terus available dari mananya ya? Dasar lo playboy cap kadal. Lo lupa siapa gue, gue udah hapal banget sama modus rayuan lo Sean." Kata Nia sambil tertawa mengejek Sean, dan membuat Sean memukul jidatnya sendiri, karena ia lupa kalau Nia adalah orang yang tumbuh besar bersama dengannya, sehingga Nia tahu betul setiap modus rayuan buaya cap kadal yang suka ia sampaikan ke cewek lain, dan membuat tuh cewek yang dimodusin, langsung berbunga-bunga.


"Lo udah siap pemotretannya?" Tanya Sean.


"Ini mau nanya. Capek juga ya ternyata." Kata Nia yang menunjukkan ekspresi lelah.

__ADS_1


"Kalau udah siap, Lo ikut ke acara keluarga gue ya? Mami pasti senang lihat lo cantik begini." Kata Sean.


"Iya. Kangen juga sama ibuk. Padahal baru pisah seminggu." Kata Nia, lalu segera menemui Monica dan Ratih ditemani Sean.


Monica yang tidak bisa melihat cowok bening, langsung menggoda Sean, tetapi Sean yang anti dengan makhluk setengah jadi, berdiri dibelakang Nia meminta perlindungan.


"Pemotretannya udah siap kok. Lo pakai aja gaun itu. Gue hadiahin buat lo." kata Monica.


"Beneran mbak?" Tanya Nia senang, karena Nia tahu, gaun rancangan Monica tidak ada yang murah, apalagi ini merupakan edisi terbaru yang belum dirilisnya.


"Ya benerlah. Hitung-hitung bonus buat kerja lo yang sangat memuaskan." Kata Monica lagi.


"Makasih banget ya mbak." Kata Nia senang, lalu pamit dengan Monica dan Ratih, karena Nia akan menemui maminya Sean di acara pesta keluarganya.


"Kok lo bisa kenal makhluk jadi-jadian begitu?" Tanya Sean heran.


"Lo jangan bilang makhluk jadi-jadian. Bagaimanapun mbak Monica itu saudara gue dari sebelah papa." Jawab Nia.


"Seriusan?! Itu saudara Lo?, Om Bian macho banget, kenapa saudara lo setengah melempem gitu?" Tanya Sean lagi sambil tertawa.


"Lo gue bilangin mbak Monica ya? Biar lo di culik, terus nemanin mbak Monica seharian." Kata Nia lagi.


Sean langsung membayangkan kejadian itu dan jadi merasa geli sendiri.


"Gue becanda Micin." Kata Sean yang nggak mau kalau kejadian yang diucapkan Nia sampai terjadi.


Sean dan Nia yang masuk dari pintu utama yang tertutup langsung menjadi pusat perhatian. Karena ketika pintu terbuka, orang yang berada dalam ruangan akan refleks melihat ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang datang.


"Dapat cewek imut dari mana lo Sean? Boleh dong jadi gebetan gue?" Kata saudara sepupu Sean yang berjalan mendekat ke arah Sean dan Nia.


"Bukannya kak Dean nggak suka sama Nia?" Tanya Sean heran, karena sewaktu datang kerumahnya, Dean pernah ketemu Nia, dan protes sama Sean, kok mau sih sahabatan dengan anak pembantu dengan penampilan yang nerd and geeky?" Kata Sean sambil menirukan gaya Andrean berbicara


"Sumpah lo?, ini anak pembokat lo yang nerd and geeky?" Tanya Andrean tidak percaya, bahwa di sebalik penampilannya yang cupu, ternyata Nia adalah gadis yang sangat cantik.


Nia yang tidak perduli dengan pembicaraan Sean dan abang sepupunya. Nia mengedarkan pandangannya mencari mami dan papi Sean.


"Asaalamualaikum ibuk." Kata Nia yang langsung memeluk mami Sean.


"Nia? Ini kamu Ni? Cantik bener kamu sayang." Kata maminya Sean sambil memperhatikan Nia dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Biasa aja buk. Pak." Sapa Nia kepada papinya Sean dengan memanggilnya pak dan menganggukkan sedikit kepalanya, karena orang tua Sean adalah orang yang taat beragama. Mereka tidak mau bersentuhan dengan yang bukan makhramnya.


"Mbak." Sapa Nia kepada Aisyah yang duduk di samping maminya Sean sambil memperlihatkan ekspresi tidak suka, karena ia tidak menyangka, kalau Nia bisa cantik banget, dan hanya di jawab dengan sedikit senyuman oleh Aisyah.


"Maaf buk, Nia mau izin balik ke Vila. Nia cuma mau sapa ibuk sama bapak aja." Tolak Nia.


"Loh, kamu bukannya dandan begini mau gabung ikut acaranya Rey?" Tanya maminya Sean.


"Nggak buk. Nia tadi alhamdulillah ada kerjaan. Jadi sekarang Nia mau balik ke Vila buat istirahat. InshAllah besok Nia ke rumah ibuk." Kata Nia lalu menyalami dan mencium punggung tangan mami Sean dan memeluknya erat.


"Hati-hati ya sayang. Sean antar Nia gih." Kata maminya Sean.


"Nggak usah buk. Nia udah besar. Biar Sean disini aja." Kata Nia karena Nia sempat melihat ekspresi tidak suka Aisyah ketika maminya Sean meminta Sean untuk mengantar Nia.


"Beneran lo nggak apa-apa balik ke Vila sendiri Cin?" Tanya Sean agak khawatir.


"Jangan lo kira gue pakai gaun gini ilmu sabuk coklat gue hilang ya? Lagian Vilanya tinggal nyebrang jalan sampai" Kata Nia sambil tertawa, lalu pamit dengan menepuk bahu Sean.


Setelah pamitan, Nia melangkahkan kakinya keluar ballroom hotel yang memang sengaja di sewa saudara Sean yang bernama Raihan untuk membuat acara keluarga.


"Kok cepat udah balik aja Ni?" Tanya Monica yang sedang duduk di ruang tamu sambil memperhatikan foto hasil pemotretan tadi.


"Iya. Cuma mau nyapa keluarga majikan ibuk dulu." Jawab Nia.


"Oh.. ya udah lo ganti baju gih. Kalau mau makan, di meja ada makanan. Si Ratih lagi jalan sama anak-anak yang lain." Terang Monica.


"Iya mbak. Nia mau istirahat aja. Ternyata capek juga ya pemotretan itu." Kata Nia sambil nyengir, karena Monica membesarkan bola matanya sebagai bentuk protes karena Nia bilang pemotretan itu melelahkan.


Setelah membersihkan riasannya, Nia segera mandi untuk membersihkan tubuhnya, dan merilekskan tubuhnya yang terasa lelah.


Selesai mandi dan mengenakan baju tidurnya, Nia segera merebahkan tubuhnya, dan memasuki alam mimpi, karena Nia memang tipe gampang tidur, nempel langsung molor. Dimana tempat kalau Nia mengantuk atau lelah, maka ia akan segera terlelap. Walau begitu, Nia tipe orang yang sensitif. Ketika Nia tidur, Nia akan langsung terbangun ketika ada orang jahat yang mendekatinya.


Pagi-pagi sekali Nia terbangun, karena walaupun lagi tidak sholat, tubuhnya yang sudah terbiasa bangun sebelum adzan subuh, tetap terbangun di jam biasa Nia bangun. Nia melihat Ratih yang masih tertidur pulas di kasurnya.


Nia memutuskan untuk mandi dan mengenakan baju kaos oblong, hoodie serta celana selutut dan sepatu kets putih. Nia yang sudah terbiasa main disekitaran Vila tidak takut untuk berjalan keluar walau hari masih sangat gelap.


Nia berlari kecil menuju danau yang merupakan tempat favoritnya bersama Sean. Udara luar yang sangat dingin tidak sedikitpun mengurungkan niat Nia untuk lari pagi.


"Neng Nia kapan datang?" Tanya seorang ibu yang sudah mengenal Nia.


"Eh bi Kokom. Semalam Nia sampai, tapi beaok udah balik lagi ke kota P." Jawab Nia ramah.

__ADS_1


"Kok sebentar bener. Yang lamaan atuh neng." Kata bi Kokom ramah.


"Jatah liburannya udah mau abis bik. Nanti kalau liburan lagi Nia kesini. Ini bibik mau ngantar sayur ke pasar?" Tanya Nia.


"He eh atuh neng. Tapi ini mobil baknya mana ya? Nggak kelihatan dari tadi bibik tungguin." Kata bi Kokom sambil memperhatikan jalan.


"Nia aja yang antar. Motor asep ada kan bik?" Tanya Nia.


"Wah.. nggak enak bibik, ngerepotin eneng. Biar weh bibik tungguin aja mobil mang dadang." Kata bi Kokom lagi.


"Nggak apa-apa bik. Sebentar Nia ambil motornya asep dulu ya." Kata Nia lalu segera berlari menuju rumah bi Kokom yang tidak jauh dati tempat bi Kokom berdiri.


"Ayu, teteh mintak kunci motor a' asep dong. Mau antar bi Kokom ke pasar." Kata Nia begitu melihat anak bi Kokom yang bernama Ayu.


"Sebentar ya teh." Kata Ayu lalu segera masuk kedalam rumah dan menyerahkan kunci motor matic kepada Nia.


Nia segera menuju teras samping tempat Asep biasa menyimpan sepeda motornya. Nia segera menghidupkan sepeda motor Asep dan menuju ke tempat bi Kokom menunggu.


Nia yang dibantu bi Kokom segera mengangkat beberapa jenis sayur yang sudah tersusun rapi di dalam goni. Setelah semua sayur tersusun rapi, Nia segera menuju pasar bersama bi Kokom.


"Terimakasih ya Neng. Bibi jadi merepotkan. Si asep abis ronda, baru pulang pas adzan subuh, jadi bibik nggak bisa mintak antarin." Terang bi Kokom.


"Nggak apa-apa bik. Nia senang loh bisa ke pasar." Jawab Nia karena dari dulu Nia memang tipe orang yang ringan tangan dan selalu cepat akrab dengan siapa saja.


Sesampainya di pasar, Nia membantu bi Kokom menurunkan sayur-sayurnya di warung bi Kokom yang ada di pasar.


"Nia balik dulu ya bi. Maaf nggak bisa nemanin bibi jualan, soalnya nggak ada yang tahu kalau Nia keluar. Semoga dagangan bibi selalu laris manis ya. Aamiin. Assalamualaikum bi." Kata Nia lalu segera meninggalkan bi Kokom setelah bi Kokom menjawab salamnya.


"Lo darimana Ni?, pagi-pagi udah ngilang aja." Tanya Monica begitu melihat Nia masuk ke vila.


"Abis jalan ke danau mbak. Mbak sendiri, rajin bener pagi-pagi udah bangun?" Tanya Nia.


"Abis sholat subuh, gue emang nggak biasa tidur lagi." Jawab Monica yang membuat Nia mengerutkan keningnya, menunjukkan kalau Nia sedang berfikir.


"Jangan bilang lo lagi mikirin gue sholat pakai mukenah atau baju koko ya Ni?." Kata Monica seolah-olah paham kalau Nia sedang memikirkan itu.


"Kok tau sih mbak, aku mikir apa?" Tanya Nia sambil nyengir merasa nggak enak hati.


"Walau gue kayak gini, gue nggak pernah pakai rok atau gaun. Gue tetap sadar kodrat gue kok." Terang Monica.


"Oh." kata Nia sambil membulatkan bibirnya yang mungil.


"Enaknya kita pesan sarapan apa ya Ni?" Tanya Monica.


"Aku masakin aja. Nasi goreng mau? Aku lihat di kulkas ada tuh semua bahan-bahannya. Ada nasi semalam juga. Pasti enak banget makan nasi goreng." Jawab Nia.


"Emang lo bisa masak?" Tanya Monica.


"Masak mah gampang. Tapi rasa nggak jamin ya?." Kata Nia sambil tertawa lalu melangkah menuju dapur.


Monica memilih duduk di kursi dekat meja makan dan memperhatikan Nia yang sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk nasi gorengnya.


Gerakan Nia yang sedang masak membuat Monica kagum dan entah kenapa ingin rasanya Monica memeluk Nia dari belakang seperti film-film romantis yang suka ditontonnya. Bahkan Monica sempat meneguk salivanya kasar ketika melihat Nia meniup nasi goreng yang akan dicicipinya. Ingin rasanya Monica merasakan bibir Nia yang terlihat kissable itu, tapi Monica berusaha untuk menguasai dirinya.


"Tada... nasi goreng spesial ala chef Nia siap untuk dinikmati. Selamat makan mbak." Kata Nia sambil meletakkan sepiring nasi goreng yang masih berasap dan mengeluarkan aroma yang dapat menggugah selera.


Monica segera menyendok nasi goreng yang di letakkan Nia di depannya, meniup untuk menghilaagkan uap panasnya dan segera memasukkannya ke dalam mulut.


"Wow.. nasi goreng lo enak banget. Ini nasi goreng terenak yang pernah gue makan se umur hidup gue." Kata Monica senang dan tidak sabar untuk memasukkan lagi nasi goreng ke mulutnya.


"Jangan ditiup mbak. Makanan panas nggak boleh ditiup, mendingan mbak aduk-aduk aja biar sedikit dingin." Kata Nia yang melihat Monica selalu meniup makanannya.


"Nggak sabar gue. Ini enak banget Ni. Lo pakai bumbu apa?" Tanya Monica antusias.


"Biasa aja. Enakan nasi goreng mamang-mamang yang ada di pasar." kata Nia.


"Serius Ni. Gue itu tipe pickyeater. Tapi pas gue makan nasi goreng buatan lo, lidah gue nggak nolak." Kata Monica lagi sambil memasukkan makanannya ke mulutnya dan menikmati nasi goreng yang ada dimulutnya.


"Iya. Kenapa? Masuk aja. pintunya nggak dikunci. Gue lagi di ruang makan." Kata Monica menjawab panggilan telpon yang masuk.


"Lo kok nggak bilang gue kalau lagi disini?" Tanya seorang pria begitu masuk kedapur, yang membuat Nia dan Monica langsung memandang ke arah sumber suara.


"Lo assalamualaikum dulu kek. Main protes aja." jawab Monica yang masih terus mengunyah nasi gorengnya.


"Sorry. Gue kira lo sendirian." kata pria itu, dan merasa sedikit tidak enak.


"Lo udah sarapan? Ini nasi gorengnya enak banget. Masih ada kan Ni? boleh kasih sepiring buat si Raihantu ini?" Tanya Monica yang di jawab anggukan oleh Nia, karena dari awal kesan Nia ketemu Raihan selalu tidak enak.


Nia segera mengambilkan sepiring nasi goreng dan meletakkannya di hadapan Raihan.


"Silahkan." Kata Nia ketika meletakkan nasi goreng dihadapan Raihan dan tidak dibalas ucapan apapun oleh Raihan.

__ADS_1


"Lo sakit gigi? diam-diam aja. Gue jamin ini nasi goreng enak banget. Nggak nyesal lo makan nasi goreng buatan Nia." Kata Monica yang melihat Raihan hanya diam saja.


"Aku ke kamar dulu ya mbak. Kalau kurang ambil sendiri di kuali. Aku tadi masak banyak." Kata Nia lalu meninggalkan Raihan dan Monica.


__ADS_2