
Nia kembali melakukan aktifitas seperti biasa, ditambah kegiatan yang harus menemani Yangtinya bertualang, ketika Yangkung sedang sibuk.
"Hari ini kita jadi hiking yangti?" Tanya Nia sewaktu sarapan.
"Nggak jadi. Eyang kamu nggak ngasih izin. Sebel Eyang." Kata Yangti sambil mendengkus kesal.
"Hiking itu melelahkan sayang. Jalan-jalan di halaman rumah ini aja kan sudah berasa hiking." Kata Yangkung meyakinkan.
"Beda pemandangan loh." Protes Yangti, sementara Nia hanya bisa memperhatikan dua orang yang sudah berusia lanjut, tapi terkadang bertingkah seperti ABG.
"Pokoknya hari ini aku tuh mau pergi hiking bareng Nia. Kalau kamu nggak izinkan, aku bakalan kabur." Kata Yangti lagi.
"Jangan gitu dong sayang. Nanti kamu kecapean. Ingat, kita itu sudah tidak muda lagi." Kata Yangkung dengan suara lembut.
"Jadi, kamu mau bilang aku sudah tua?! begitu?!" Kata Yangti marah dan langsung meninggalkan meja makan di susul oleh Yangkung yang membuat Nia hanya bisa tersenyum melihat tingkah Eyang putri dan Eyang kakung Reyhan.
"Kenapa sendiri saja sayang?" Tanya Reyhan sambil mencium puncak kepala Nia lalu duduk di sebelahnya.
"Astagfirullah. Mas ngagetin aja. Pulang kok nggak bilang-bilang?, nggak ngucapin salam lagi." Protes Nia.
"Mas sudah ngucapin salam sayang.... tapi kamunya mas liat ngelamun aja. Ada apa?" Tanya Reyhan lagi.
"Abis lihat Yanti merujak." Jawab Nia
"Merujak?" Tanya Reyhan heran.
"Eh, merajuk maksudnya." Kata Nia sambil nyengir.
"Biasa Yangti seperti itu." Jawab Reyhan.
"Mas sudah sarapan?" Tanya Nia.
"Belum, mas kangen masakan kamu. Tersiksa banget dinas keluar kota kalau kamu nggak ikut." Jawab Reyhan dengan wajah memelas.
"Uluh uluh.. kacian suami aku." Kata Nia yang memperlakukan Reyhan seperti anak kecil, lalu tertawa, yang ikutan membuat Reyhan tertawa karena bisa melihat istrinya tertawa bahagia.
Nia segera menyendokkan nasi ke piringnya, dan mulai menyuapi Reyhan. Karena hanya pada saat di rumah, Reyhan bisa bermanja-manja dilayani segala kebutuhannya seperti anak kecil oleh Nia.
"Manjanya kapan hilangnya sih mas?" Tanya Nia sambil menyuapkan sesendok nasi goreng seafood favorit Reyhan ketika sarapan.
"Nggak akan hilang. Kan mas manjanya sama istri mas sendiri." ucap Reyhan lalu kembali menerima suapan nasi goreng dari sendok yang disuapkan Nia.
"Alhamdulillah. Suami aku pintar banget makannya." Kata Nia sambil menyerahkan segelas air mineral kepada Reyhan setelah suapan terakhir.
"Hadiahnya mana?" Tanya Reyhan setelah mnghabiskan segelas air mineral yang diserahkan Nia.
"Hadiah?" Tanya Nia heran.
Pada saat Nia sedang bingung memikirkan hadiah, tiba-tiba saja Reyhan mencium sekejap bibir Nia, yang membuat Nia terkejut.
"Mas..." Protes Nia dengan suara yang lumayan tinggi yang membuat Reyhan tertawa lalu segera menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Nia menyiapkan baju santai milik Reyhan, karena jika pulang dari luar kota, Reyhan tidak akan balik ke kantor selama dua hari, jika tidak untuk urusan yang sangat mendesak. Reyhan segera membayar kebersamaannya yang hilang, ketika Reyhan meninggalkan Nia.
Nia memandang wajah suaminya yang tengah tertidur pulas karena habis melakukan aktivitas suami istri, dengan alasan Reyhan ingin menyicil setiap anggota tubuh calon anaknya.
Reyhan memeluk Nia erat dalam tidurnya, sehingga Nia tidak bisa bergerak, jika Nia bergerak, maka Reyhan akan semakin mengeratkan pelukannya.
Nia heran kenapa Yangti tidak mencarinya, padahal jika Yangti ada di rumah Nia, dia selalu bersama Nia.
__ADS_1
Nia berniat ingin membersihkan dirinya, dengan menggeser pelan-pelan dekapan tangan Reyhan.
"Mas mau istirahat sebentar aja sayang. Nanti kita sambung lagi." Kata Reyhan sambil kembali membawa Nia ke dalam dekapannya.
"Nanti Yangti nyariin Nia mas." Kata Nia memberikan alasan.
"Mas sudah amankan Yangti. Kamu harus bayar kebersamaan kita yang hilang selama seminggu mas diluar kota. Kamu harus istirahat juga, karena kalau mas sudah nggak lelah, mau ulang yang tadi." Kata Reyhan masih dengan mata tertutup.
"Apanya yang di ulang?" Tanya Nia polos.
"Yang tadi loh sayang. Mau mas ulang sekarang?" Kata Reyhan sambil membuka matanya lalu menatap Nia dengan senyum jahilnya, yang membuat Nia paham kalau Reyhan ingin kembali melakukan aktivitas suami istri mereka, yang membuat wajah Nia bersemu merah.
"Nia tidur aja." Kata Nia yang cepat-cepat memejamkan matanya, agar Reyhan tidak kembali mengajaknya melakukan olah raga ranjang, yang membuat Reyhan tertawa, lalu mengecup lembut puncak kepala Nia sambil kembali memejamkan matanya, karena tubuhnya benar-benar lelah.
Nia dan Reyhan yang terlelap, mulai terbangun ketika mendengar suara adzan yang berkumandang dari hp Nia.
"Mas..."
"Hmmm.."
"Bangun dong. Udah masuk waktu zuhur. Mas sholat ke mushola gih." Kata Nia sambil mengelus pipi reyhan dengan lembut, agar suaminya terbangun.
Reyhan yang sangat suka ketika tangan lembut Nia menyusuri setiap inchi wajahnya, membuka matanya perlahan dan tersenyum manis memandang Nia yang sedang memandangnya dengan iris emerald yang membuat Reyhan semakin jatuh cinta.
Melihat Reyhan yang sudah bangun dan tersenyum, membuay Nia ikutan tersenyum.
"Mas mandi dulu gih. Nanti pakaiannya aku siapkan." Kata Nia lalu segera menyibak selimutnya dan bermaksud turun dari tempat tidur, tapi Reyhan keburu menarik tangan Nia dan membuat Nia terjatuh kembali ke tempat tidur.
"Apalagi sih mas?" Tanya Nia geram.
"Mandi bareng aja." Kata Reyhan sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum jahil.
Reyhan segera berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Nia menuju walking closet untuk mempersiapkan pakaian Reyhan.
Hidup yang mereka jalani benar-benar gambaran suami istri yang sangat bahagia.
Selesai melaksanakan sholat berjamaah, mereka berempat makan siang dengan menu yang telah disiapkan chef yang memang khusus untuk memasak di rumah, di tambah menu tambahan orak-orik telur, karena Reyhan harus makan masakan Nia, minimal telur orak-arik atau telur ceplok.
"Nanti kamu ke hotel bareng eyang Rey?" Tanya Yangkung, sewaktu mereka selesai makan.
"Rey nyusul udah dekat acara aja eyang. Soalnya mau nemanin Nia jalan-jalan." Jawab Reyhan yang membuat kening Nia berkerut, dan langsung memandang Reyhan menuntut jawaban, karena tidak ada pembicaraan kalau mereka mau jalan-jalan.
"Ya sudah, kalau gitu Yangkung berangkat duluan bareng Yangti, mau nemanin Yangti jalan-jalan juga. Memangnya hanya kamu saja yang bisa jalan-jalan, mentang-mentang masih muda." Kata Yangkung sambil tersenyum jahil, karena paham dengan maksud Reyhan yang sebenarnya.
"Aku ikut mereka jalan-jalan." Kata Yangti yang ternyata masih merajuk karena tidak diberi izin.
"Sayang... kita jalan-jalan berdua aja ya?" Pinta Yangkung dengan suara lembut.
"Nggak mau." Jawab Yangti ketus.
Yangkung menghembuskan nafas kasar, melihat tingkah istri kesayangannya ketika merajuk, lalu membisikkan sesuatu ke kuping Yangti, yang membuat wajahnya seketika bahagia.
"Benar juga. Ok lah. Yangti jalan-jalan sama Yangkung saja." Kata Yangti lalu menggandeng lengan suaminya meninggalkan meja makan, yang membuat Nia semakin heran, tidak mengerti.
"Emang Yangkung bisikin apa ya mas?, kok Yangti jadi bahagia gitu?" Tanya Nia sambil membereskan meja makan.
"Ada deh. Rahasia lelaki yang hanya dipahami oleh lelaki." Kata Reyhan sambil menggoda Nia.
"Dasar Gaje. Gak Jelas." Kata Nia lalu memindahkan piring kotor ke sink yang ada di dapur. Walaupun mereka memiliki asisten rumah tangga, tapi Nia tidak mau segala sesuatunya membebankan asisten rumah tangga mereka. Jadi selesai makan, Nia biasa membereskan dan mencuci sendiri perlengkapan makan yang digunakan. Reyhan sempat protes sewaktu Nia melakukannya awal sekali, tapi Nia menjelaskan bahwa ia tidak ingin kehilangan pahalanya, karena menyerahkan tugas istri kepada asisten rumah tangga.
__ADS_1
Hari ini merupakan acara perayaan Ulang Tahun pernikahan Yangkung dan Yangti yang ke 25 tahun, istilah usia perak pernikahan, sehingga keluarga Yangkung mengadakan acara syukuran yang mengundang seluruh keuarga besar dan kolega dekat mereka.
Acara akan diadakan setelah Isya, di salah satu ballroom hotel yang merupakan salah satu hotel milik keluarga Reyhan. Agara acara berjalan lancar, mereka menggunakan jasa EO, sehingga tidak perlu repot-repot mengurus segala sesuatunya.
"Kita mau kemana sih mas?" Tanya Nia yang sedang bersiap-siap untuk pergi, karena Reyhan hanya bilang kalau mereka akan jalan-jalan.
"Kamu ikut mas aja, yang jelas mas nggak akan menyesatkan kamu sayang." Kata Rryhan sambil menjawil hidung mancung Nia.
"Iya, aku ikut, tapikan harus jelas mau kemana? biar aku bisa sesuaikan pakaiannya." Kata Nia sambil melingkarkan tangannya keleher Reyhan.
"Kamu mau godain mas?" Tanya Reyhan yang melihat tingkah manja Nia.
"Lagian, mas nggak suka kalau kamu nyebut kata aku untuk diri kamu sayang." Protes Reyhan.
"Terus? Udah terbiasa juga." kata Nia lagi.
"Tapi kesannya nggak mesra gitu. Bisa nggak kamu sebut diri kamu dengan nama kamu saja? Biar kedengaran imut gitu." Kata Reyhan sambil tersenyum membayangkan Nia menyebut dirinya dengan namanya.
"Aku coba, tapi nggak janji ya mas?" Kata Nia
"Atau Mas panggil adek?" Tanya Reyhan lagi, sambil menaik turunkan alis matanya menggoda Nia.
"Aduh, panggilan diri aja kok ribet amat sih mas? ini kita nggak pergi-pergi loh, kalau bahas ini terus. Kata Nia sambil menurunkan tangannya dari leher Reyhan, lalu segera Reyhan letakkan kembali tangan Nia melingkar dilehernya.
"Iya kan biar ada manis-manisnya gitu." Kata Reyhan lagi.
"Ya udah, sebut nama aja ya?, kalau adek, agak-agak gimanaaa gitu." Putus Nia karena tahu jika tidak dituruti keinginannya, maka mereka akan terus mendebatkan hal tersebut.
"Ok, untuk membiasakan, setiap kamu salah sebut, mas akan hukum kamu."
"Kenapa dihukum?" protes Nia.
"Biar kamu terbiasa."
"Kalau aku benar?" Tanya Nia
"Mas kasi kamu hadiah." Jawab Reyhan sambil tersenyum dan terus memandang wajah cantik istrinya.
"Hadiahnya apa?" Tanya Nia lagi.
"Apapun terserah kamu, dan hukumannya apapun terserah mas." Jawab Reyhan lagi, yang membuat Nia berfikir untuk menimbang, apakah ia akan menyetujui usul Reyhan atau tidak.
"Kenapa? kamu takut sayang?" Tanya Reyhan
"Nggak sih. Ok. Deal." kata Nia lalu memundurkan tubuhnya,dan mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Reyhan.
Setelah sepakat untuk merubah panggilan, Reyhan dan Nia pergi ke salah satu butik ternama yang ada di kota P, karena Reyhan tahu betul kalau Nia tidak suka tampil menarik, Ia lebih senang tampil apa adanya. Tetapi acara malam ini berbeda, karena perayaan pernikahan Yangti dan Yangkungnya, sehingga Nia akan menjadi pusat perhatian karena Nia merupakan cucu menantu kesayangan Yangti.
"Kenapa kita kesini mas?" Tanya Nia begitu tau mereka akan memasuki butik.
"Mau beli beras." Jawab Reyhan sewot.
"Di dalam ada toko sembako?" Tanya Nia yang sengaja membuat Reyhan kesal.
"Bukan toko sembako, tapi toko bahan bangunan." Jawab Reyhan asal.
"Wah... keren, toko serba ada ini berarti, dari depan bentuknya seperti butik, tapi dalamnya ada sembako dan bahan bangunan." Kata Nia sambil cekikikan, yang membuat Reyhan sadar kalau Nia sedang mempermainkannya.
"Kamu sudah berani sama mas sekarang ya.." Kata Reyhan geram sambil merangkul Nia erat, yang membuat mereka akhirnya tertawa bersama.
__ADS_1