
Nia yang masih dalam pengaruh obat bius, dan hari juga menjelang tengah malam, membuat Nia masih tertidur untuk memulihkan tenaganya.
Alvaro dan buk Des memutuskan untuk menjaga Nia di kamar rawatnya, karena kamar VIP yamg Alvaro pesan memiliki dua buah single bed untuk keluarga pasien beristirahat.
Menjelang subuh, Nia mulai mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling.
"A'... A'..." Panggil Nia agar Alvaro terbangun.
"Iya Sa?" Tanya Alvaro yang refleks langsung bangun, karena memang terlatih untuk waspada.
"Bagi minum. Haus." Jawab Nia karena merasa tenggorokannya kering.
"Sebentar." Kata Alvaro lalu menuju nakas, mengambilkan Nia segelas air putih hangat melalui dispenser yang berada di samping nakas.
"Oh iya lupa, kata dokter, karena kamu habis operasi, jadi harus buang angin dulu baru boleh minum." Jelas Alvaro.
"Sepertinya pas tidur sudah buang angin deh." Kata Nia karena ingin segera minum.
"Emang kamu sadar?" Tanya Alvaro heran.
"Sepertinya." Jawab Nia
"Ya sudah. Ini airnya." Kata Alvaro sambil menyerahkan segelas air putih hangat, yang segera diminum Nia sampai habis setelah mengucap basmallah.
"Alhamdulillah. Oh iya, baby aku mana A'?" Tanya Nia yang melihat sekeliling kalau babynya tidak ada.
"Mereka masih di inkubator." Jawab Alvaro.
"twins nggak apa-apakan A'?" Tanya Nia yang panik anaknya di inkubator.
"Kata dokternya sih nggak apa-apa, paling besok pagi sudah bisa di jenguk." Kata Alvaro berusaha menenangkan.
"Sudah adzan, Aa' pergi sholat sana gih." Kata Nia karena terdengar suara adzan dari mesjid rumah sakit.
"Iya, aa' sholat dulu. Ada yang mau dititip?, nanti sekalian aa' bawakan." Kata Alvaro.
"Sarapan buat buk Des aja. Kalau aku ntar pasti dapat jatah sarapan dari rumah sakit." Kata Nia.
"Kamu udah bangun Za?" Tanya buk Des yang baru bangun begitu Alvaro keluar.
"Iya buk. Gimana?, ada yang tidak nyaman?" Tanya buk Des.
"Bekas operasinya saja masih sedikit terasa sakit, sama agak lapar." Kata Nia sambil tersenyum malu.
"Sepertinya masih ada roti yang dibawa nak Alvaro." Kata Buk Des sambil mencari plastik yang tadi dibawakan Alvaro.
Setelah menemukannya, buk Des memberikan roti yang ada kepada Nia.
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
Sudah 4 hari setelah operasi Nia di rawat begitupun dengan baby twins yang kondisinya semakin membaik, karena waktu lahir, berat mereka tidak terlalu kecil, dan usia kehamilan Nia sudah memasuki usia 28 minggu, jadi twins di inkubator hanya semalam saja.
Pagi-pagi suster mengantarkan baby twins yang sudah dimandikan dan dibedong. Karena Alvaro satu-satunya pria dewasa yang ada di ruangan itu, sehingga Nia memintanya untuk memgadzakan baby twins.
__ADS_1
Selama Alvaro mengadzankan baby twins, air mata Nia tidak mau berhenti mengalir, mengingat bagaimana ia memperjuangkan baby twins tanpa di dampingi suaminya, bahkan orang lain yang mengadzankan anaknya karena ulah Reyhan yang berkhianat.
"Jadi pulang besok Sa?" Tanya Alvaro yang baru saja datang karena baru selesai bertugas.
"Jadi A', tadi waktu visit, dokternya bilang besok pagi sudah boleh pulang." Jawab Nia.
"Paginya jam berapa?" Tanya Alvaro lagi.
"Aih, si Aa' teh, nanya-nanya mulu, udah seperti petugas sensus penduduk." Protes Nia.
"Iya kan biar Aa' izin, bisa antar kamu loh Sa." Kata Alvaro gemes, karena sudah mulai kumat mode jahil Nia.
"Nggak usah jemput. Buk Des sudah minta supirnya buat jemput kami besok. Lagian emang Aa' diizinkan jemput aku? Alasannya apa coba?" Tanya Nia heran.
"Diizinkanlah. Jemput istri yang habis melahirkan." Jawab Alvaro enteng, membuat Nia reflek melempar bantal kecil yamg ada di dekatnya sambil tertawa.
"Nggak lucu ah bercandanya." Protes Nia sambil tertawa karena berhasil menimpuk wajah tampan Alvaro.
"Siapa yang bercanda coba. Kamu itu kan istri Sa. Aa' nggak bilang istri Aa' loh. Hayo... kamu mikir apa heh..." Kata Alvaro sambil menaik turunkan alisnya menggoda Nia yang malu sendiri, karena ternyata Nia yang overthinking ketika Alvaro bilang jemput istri.
"Kalimat Aa' ambigu." Protes Nia sebel, yang membuat Alvaro tertawa dan senang kalau Nia sudah sebel.
"Oh iya, twinsnya dady mana?" Tanya Alvaro ketika tidak melihat baby twins di kamar.
"Lagi dimandiin, jadi di bawa ke ruang bayi." Jawab Nia.
"Twins kok bisa cakep banget gitu sih Sa. Gemeshin dan ngangenin banget. Kalau boleh mau Aa' kantongin, jadi kalau pas latihan kangen, Aa' keluarin dari kantong." Kata Alvaro sambil tersenyum membayangkan wajah baby twins yang sangat tampan perpaduan sempurna antara Nia dan Reyhan.
"Jiah... Aa' kira twins gantungan kunci mau di kantongin?" Protes Nia.
"Siapa dulu dong ibuk nya." Kata Nia membanggakan diri.
"Kamu tuh nyumbang bola mata doang. Dadynya dong yang dominan. Ketampanan twins nurun dari Aa' nggak sih Sa?" Tanya Alvaro dengan PD nya, yang membuat Nia mengerutkan alisnya.
"Aku loh A' yang hamil dan ngelahirin, jadi twins mirip aku dong. Jangan ngadi-ngadi deh." Protes Nia yang membuat Alvaro kembali tertawa.
"Duh, sore-sore dah dikunjungi dady ganteng." Kata seorang suster yang masuk sambil mendorong dua box baby setelah mengetuk pintu.
"Tuh fix. Susternya aja bilang twins ganteng seperti Aa' loh Sa." Kata Alvaro lagi.
"Terserah. Yang waras ngalah." Kata Nia yang malas berdebat, karena tidak sabar mau gendong twins, dan mencium pipinya gemes.
"Btw, kamu belum kasih twins nama loh Sa?, masak dipanggil twins trus, atau namya twins A dan twins B?" Tanya Alvaro sambil menimang salah satu putra Nia.
"Si abang panggilannya Nizam, si adek panggilannya Liam. Jangan tanya artinya apa, Aa' cari sendiri aja deh di mbah gugel." Kata Nia lalu mencium pipi Liam gemas, karena Nizam sedang digendong Alvaro.
"Liam sayang, anak dady paling cakep, kayak dadynya." Kata Alvaro sambil menimang Nizam.
"Itu Nizam A', bukan Liam" Protes Nia.
"Ini Liam, sama kamu tuh Nizam." Kata Alvaro nggak mau kalah.
"Hadeh, walau mereka kembar identik, tapi Liam dan Nizam tetap memiliki perbedaan, bibir Nizam lebih tipis dari bibir Liam. Jadi yang sama Aa' itu Nizam. Coba deh bandingkan." Kata Nia lalu mendekatkan kedua bayinya yang begitu sangat mirip.
__ADS_1
"Wah bener. Kok bisa tau kamu Sa? bedanya dikit banget loh, kalau nggak dilihat benar-benar malah nggak tahu kalau ada sedikit perbedaannya." Kata Alvaro kagum.
"Ya tahu lah. Anak aku loh itu A'." Kata Nia dengan bangga.
Setelah pulang ke rumah buk Des, Nia dibantu buk Des menjaga Twin boy, dan Nia merasa sangat senang dan beruntung. Hanya saja Nia suka bingung, kanapa orang lain selalu bisa lebih baik kepada Nia daripada orang-orang yang memiliki hubungan dengannya.
Rumah buk Des, bukanlah rumah yang rapat penduduk. Jarak satu rumah dengan rumah yang lain cukup jauh, membuat Nia semakin nyaman, karena tidak perlu menjelaskan banyak hal krpada tetangga.s
Setiap hari Alvaro menyempatkan diri untuk mengunjungi twin boy, karena pesona twin boy yang begitu kuat. Apalagi ketika bercanda dengan Alvaro, Nizam dan Liam selalu merasa nyaman bahkan suka menangis sewaktu Alvaro pulang.
Untuk bisa selalu dekat dan menjaga twin plus ibunya twin, Alvaro bahkan mengajukan untuk pindah tugas ditempat Nia berada. Dengan kekuatan orang dalam, Alvaro berhasil dipindah tugaskan.
"Twin udah mulai besar ya Za. Nggak terasa waktu cepat banget berlalu. Ibuk masih ingat mereka ketika di dalam perut kamu, terus lahir karena kamu yang terjatuh gara-gara kecoa, eh sekarang udah mau nelungkup aja keduanya. Kamu nggak berencana mau ngadain acara buat twin?" Tanya buk Des.
"Nggak buk. Saya senang seperti ini saja. Ibuk kan tahu bagaimana menggemaskannya Nizam dan Liam, saya takut nanti ada yang mendokumentasikan mereka dan sampai ke mas Rey." Kata Nia dengan wajah sedih, karena setiap membicarakan Rey, Nia pasti menjadi sedih.
"Suami kamu juga berhak mengetahui keadaan kamu dan anak-anaknya Za. Sudah cukup hampir 5 bulan kamu marah." Terang buk Des, yang tahu kalau Nia sangat mencintai Reyhan, karena setiap cerita yang ada kaitan dengan Reyhan terlihat pancaran kekecewaan yang sangat besar. Hanya orang-orang yang sangat mencintai, punya perasaan kecewa yang sangat besar ketika dikhianati.
"Saya belum bisa buk. Apakah ibuk sudah tidak betah saya ada disini?" Tanya Nia dengan wajah sedih.
"Bukan begitu sayang. Ibuk senang, banget malah kamu dan twin ada disini. Ibuk jadi nggak kesepian, tapi ibuk nggak mau kamu berlarut-larut dengan masalah kamu." Terang buk Des.
"Kasi sayw waktu lebih lama lagi buk. Terima kasih sudah mau terima saya dan twin." Kata Nia sambil tersenyum.
Hari ini buk Des serta Nia pergi ke rumah sakit ibu dan anak untuk mengunjungi dokter anak, memeriksakan tumbuh kembang Nizam dan Liam.
Setiap bulan Nia rajin memeriksakan tumbuh kembang anaknya kepada dokter anak, agar twin bisa tumbuh dengan baik.
Nizam dan Liam selalu jadi rebutan ketika datang ke rumah sakit. Suster dan dokter yang melihat mereka langsung gemes dan ingin menggendong sikembar dari trolinya. Dari bayi, Nizam terlihat lebih tidak bersahabat dengan orang lain. Hanya Nia, Alvaro, dan buk Des yang bisa menggendongnya. Jika ada orang lain yang menggendong atau menyentuhnya, maka Nizam akan menangis dengan kekuatan penuh. Walau begitu, Nizam memiliki wajah yang sangat tampan, yang sudah terlihat dari bayi, apalagi kalau Nizam mulai megoceh dan mengerjapkan matanya, memperlihatkan iris yang ia warisi dari Nia.
Sementara Liam, lebih ramah dan mudah akrab dengan siapa saja. Liam tidak akan menolak untuk digendong siapapun, bahkan Liam sering menaikkan tangannya untuk minta di gendong. Wajahnya sama persis dengan Nizam, jika dilihat sekilas, tidak ada yang bisa membedakan Nizam dan Liam karena mereka sama-sama berkulit putih, berhidung mancung, bulu mata panjang dan lentik, badan bulat, dan iris emerald yang mereka dapat dari Nia.
"Anak majikannya lucu ya mbak. Orang tuanya bule ya?" Tanya seorang ibu yang menunggu antrian di poli dokter anak bersama Nia, karena melihat Penampilan Nia yang tidak mirip sama sekali dengan twin.
"iya." Jawab Nia singkat karena malas harus menjelaskan banyak hal.
"Berapa antrian lagi Za?" Tanya buk Des yang muncul sambil membawa kantong berisi roti dan minum.
"Abis yang di ruangan keluar, giliran twin." Jawab Nia sambil menerima kantong pelastik berisi roti dan minun yang dibawa buk Des, karena sejak menjadi busui, Nia sering mudah lapar, apalagi harus memberikan asi pada dua anak sekaligus.
"Cucunya buk?, kok babysitter yang antar?, nggak orang tuanya langsung?, padahal mengetahui tumbuh kembang anak sendiri itu penting loh. Saya aja yang sibuk kerja di kantor, selalu saya sempatin antar anak saya untuk periksa ke dokter anak." Kata ibuk yang tadi juga bicara dengan Nia.
Buk Des yang emosi mendengar julitan perempuan yang baru saja ngomong, langsung ditenangkan Nia dengan memegang tangan buk Dea dan menggelengkan kepalanya. Ditambah suster sudah memanggil twin untuk periksa, membuat buk Des dan Nia segera masuk.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan dan memberikan beberapa vitamin anak, Nia dan buk Des segera membawa twin menuju parkiran, tapi mereka singgah sebentar ke toilet karena Nia ingin buang air kecil.
"Ibuk tunggu di lobi aja, lebih nyaman." Kata Nia lalu pergi ke lobi bersama buk Des untuk duduk di ruang tunggu.
Nia segera ke toilet untuk menyelesaikan urusannya, lalu segera kembali menuju tempat buk Des menunggu.
"Brak"
"Maaf, maaf, maaf." Kata Nia yang tidak sengaja menabrak seseorang dan membuat mereka sama-sama terjatuh.
__ADS_1
Nia segera berdiri, mengambil tasnya, lalu melihat orang yang tadi di tabraknya, membuat wajah Nia pucat seketika.
"Nia.!!!"