Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Disalahkan


__ADS_3

Reyhan segera membawa Bian ke Rumah Sakit diikuti Tamara Elsa, serta Keluarga Sean.


Sesampainya di rumah sakit, Bian segera mendapat penanganan dari Dokter.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanya Tamara begitu melihat dokter keluar dari ruangan IGD.


"Pasien mengalami serangan jantung. Sekarang kondisinya masih belum stabil, kami harus segera melakukan operasi. Ibu silahkan urus administrasinya." Terang dokter tersebut yang mebuat Tamara lemas, dan jatuh terduduk dilantai rumah sakit.


"Papa pasti baik-baik aja ma." Kata Elsa sambil memeluk Tamara. Sementara Reyhan berinisiatif mengurus administrasi untuk operasi jantung yang akan dilakukan untuk Bian.


Setelah mengurus administrasi, Bian segera di operasi. Tamara, Elsa, dan Reyhan menunggu di depan ruang operasi, sementara Sean dan kedua orang tuanya sudah pulang.


"Mas, terima kasih." Kata Elsa sambil menangis dan menggenggam tangan Reyhan erat.


Reyhan yang merasa kasihan dengan Elsa, membiarkan Elsa yang menangis dan bersandar di bahunya.


"Iya nggak apa-apa. Operasinya pasti berhasil dan papa bisa pulih seperti sedia kala." Kata Reyhan.


Setelah menunggu hampir 6 jam, akhirnya lampu operasi mati, dan dokter keluar dari ruangan operasi.


"Bagaimana suami saya dok?" Tanya Tamara yang tidak bisa tidur memikirkan suaminya.


"Maaf nyonya. Operasinya berhasil, tapi kami minta maaf, tuan Bian sekarang dalam kondisi koma."


"Tidak. Tidak mungkin. Suami saya tidak mungkin koma. Suami saya baik-baik saja kan dokter." Kata Tamara sambil menangis dan terduduk lemas dilantai.


"Papa pasti baik-baik aja ma. Mama nggak usah khawatir. Bila perlu, kita bawa papa ke luar negeri." Kata Elsa sambil memeluk mamanya.


Rethan meminta pihak rumah sakit untuk mempersiapkan ruangan khusus untuk Bian, agar keluarga yang menjaga bisa tetapnyaman menjaga Bian.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


"Eis, bagaimana pesanan dari toko D Oleh-oleh?" Tanya Nia yang sedang membuat laporan penjualan produk UMKM yang dirintisnya bersama Eis dan ibu-ibu sekitar desa Nia tinggal sekarang.


"Aman teh. A' Asep juga dapat beberapa pelanggan baru." Terang Eis.


"Alhamdulillah. Ya udah, bilangin sama team marketing yang lain, makin banyak penjualan, makin banyak fee yang di dapat. Dan kalau usaha kita berkembang dengan laba yang besar, maka semuanya akan mendapatkan deviden berdasarkan besarnya saham yang dimiliki." Kata Nia, karena usaha yang dibangunnya menganut konsep usaha milik bersama, sehingga semua yang bekerja memiliki saham di usaha yang mereka beri nama Aneka Olahan Sumber Sari, sesuai dengan nama desa itu.


Walau baru beberapa hari usaha Olahan Sumber Sari di buka, Nia sudah bisa mendapatkan banyaj pembeli, karena strategi marketing yang dilakukannya. Nia juga memanfaatkan media sosial dan E commerce untuk memasarkan produknya.


"Eis, teteh pengen makan sayur asem deh. sepertinya siang-siang gini seger makan sayur asem." Kata Nia yang membayangkan sayur asem.


"Bukannya waktu itu teteh kurang suka?, kenapa sekarang pengen makan?" Tanya Eis heran.


"Nggak tau. Pengen aja. Kamu tolong teteh belikan bahan-bahannya sekalian masakin ya?, seperti yabg dibuat Nik Kos waktu itu Soalnya teteh nggak suka nyium bau tumisan bumbu." Kata Nia lagi yang membuat Eis semakin heran, tetapi segera melakukan permintaan Nia.


Pada saat makan siang, Nia makan dengan sangat lahap menu sayur asem yang tadi dimintanya. Nik Kos dan Eis heran melihat Nia yang makan tidak seperti biasanya.


"Lapar bener ya teh? sampai buru-buru begitu makannya. Di panci masih banyak." Kata Eis sambil tertawa karena melihat gaya makan Nia.


"Nggak laper sih. Tapi ini enak banget. Besok sepertinya masak ini lagi deh." Kata Nia sambil menyeruput kuah sayur asem.


Sudah seminggu ini Nia makan penuh semangat dengan sayur asem buatan Nik Kos. Waktu itu pernah Eis yang masak sayur asemnya, dengan resep dan cara yang sama, tapi Nia tidak mau makan sayur asem buatan Eis.

__ADS_1


"Teh Sa aneh ya Nik, tahu aja sayur asemnya bukan buatan Ninik. Untung masih ada sisa bahannya, jadi bisa ninik yang masak." Kata Eis heran.


"Iya. Ninik perhatikan memang Neng Sa agak aneh akhir-akhir ini. Seperti orang ngidam. Semalam baru makan mangga asem yang di rumah Bik Wati." Kata Nik Kos menambahi.


"Nggak mungkin ngidamlah Nik. Teh Sa itu masih single." Kata Eis


"Tau dari mana kamu?" Tanya Nik Kos, yang membuat Eis hanya nyengir, karena sebenarnya dia juga tidak tahu status Nia, apakah beneran single atau sudah menikah.


"Hayo... Gosipin saya ya?" Kata Nia yang tiba-tiba muncul di belakang Eis yang membuat Eis terkejut dan keluarlah segala jenis unggas dari mulutnya, yang membuat Nia tertawa.


"Nah, ini baru bener sayur asemnya. Yang tadi abal-abal. Yang buay bukan master chef sih." Kata Nia lalu dengan semangat menyenduk sayur asem yang masih panas ke mangkok yang dibawanya.


Setelah makan, Nia segera masuk ke kamarnya karena akan memeriksa medsos yang memang biasanya seminggu sekali baru dibukanya. Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu Nia ingin membuka salah satu medsosnya, tapi kesibukannya di Olahan Sumber Sari membuat Nia tidak sempat membukanya.


Nia sangat terkejut melihat dan membaca pesan yang begitu banyak dari Sean dan juga Marco. Nia yang panik, segera mengambil HP lamanya dan menghubungi Marco.


"Halo mbak. Bagaimana papa?" Tanya Nia sambil menangis, karena dari pesan yang masuk tertulis kalau Bian sedang koma.


"Iya, Nia ke sana sekarang. Nggak apa-apa. Nia bisa kok. Wassalamualaikum." Kata Nia lalu memutuskan sambungan telponnya dengan Marco.


Nia segera mengganti baju, dan memasukkan beberapa barangnya yang penting ke dalam ransel yang biasa dibawanya.


"Teteh kenapa?" Tanya Eis panik karena melihat Nia yang menangis.


"Sa pulang dulu ya Nik. Papa sedang sakit dan dirawat di rumah sakit." Kata Nia sambil pamit dengan Nik Kos.


"Teteh mau Eis temanin?" Tanya Eis.


"Nggak apa-apa. Teteh bisa. Kamu urus dulu semua urusan teteh disini. Kalau ada apa-apa, kamu hubungi teteh ya." Kata Nia lalu pergi ke terminal di antar Asep yang kebetulan lewat.


Sesampainya di terminal, Nia segera mencari kendaraan yang akan membawanya ke kota B. Tapi karena desa Sumber Sari termasuk desa terpencil, kendaraan umum menuju kota B, hanya akan berangkat pada hari-hari tertentu saja.


"Gimana teh? Ada yang berangkat hari ini?" Tanya Asep, dan dijawab gelengan kepala oleh Nia dengan raut wajah yang sedih.


"Atau saya antar pakai motor teh, sampai desa sebelah, mana tahu di sana ada yang berangkat." Kata Asep.


"Maaf permisi. Tadi saya dengar anda mau ke kota B, Kalau tidak keberatan, anda bisa ikut bersama saya." Kata seorang pria dengan menggunakan pakaian loreng khas tentara.


Nia dan Asep saling pandang lalu melihat pria yang tadi berbicara dengan Nia.


"Ah maaf. Perkenalkan nama saya Captain Al." Kata Pria itu memperkenalkan dirinya.


"Asep"


"Sa" Kata Nia yang membuat dahi Captain Al berkerut karena heran.


"Bagaimana tawaran sata tadi? Tapi kita naik truk tentara." Kata Captain Al lagi.


Nia berfikir sebentar mengenai tawaran Captain Al.


"Ok. Saya ikut anda. A' Asep balik aja. Bilangin sama Nik Kos dan Eis saya sudah berangkat. Terima kasih sudah antar saya ke terminal." Kata Nia.


Nia lalu berjalan mengikuti Captain Al menuju truk tentara.

__ADS_1


"Kamu tidak keberatan duduk di belakang?" Tanya Captain Al, karena di bangku depan dekat supir, ada seorang wanita dengan dua orang anak kecil yang juga menumpang menuju kota B.


"Mereka semua sudah jinak. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Kata Captain Al lagi, karena melihat ekspresi ragu Nia, karena di bagian belakang berisi tentara pria yang berjumlah sekitar 6 orang.


"Ok." Kata Nia membuang keraguannya, karena berfikir tidak mungkin mereka berani berbuat jahat sama Nia.


"Wah, tumben Captain lembut bener, seperti chesee cake. Biasanya aja galak bener." Kata seorang tentara yang di dada kanannya tertulis Bagas.


"Kamu mau saya hukum Gas?" Tanya Al kesal.


"Ampun Capt. Bercanda." Kata Bagas yang langsung tidak berani lagi berkomentar.


Al meminta Nia duduk dibagian dalam agar tidak terlalu terkena angin, lalu mereka berangkat menuju kota B.


"Hp kamu sepertinya dari tadi nyala." Kata Al yang melihat hp Nia menyala di saku samping ranselnya.


Nia segera mengambil HPnya dan mengangkat telpkn dari Sean.


"Iya. Iya gue tahu. Tadi udah nelpon mbaj Monic. Sekarang gue lagi di jalan. Iya, ntar gue jelasin semuanya. Terus papa sekarang bagaimana? Astagfirullah. Masih lama sepertinya. Butuh waktu 6 atau 7 jam baru gue bisa sampai. Iya. Lo lihatin papa. Kasi gue kabar terbaru papa. Wa'alaikumussalam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh." Kata Nia dengan wajah sedih, dan berusaha menahan air matanya, tapi tidak bisa ditahan sehingga contactlense yang digunakan Nia mulai tidak nyaman.


"Maaf." Kata Nia yang sadar kalau semua yang ada di dalam truk bagian belakang sedang memperhatikan Nia yang sedang menangis.


Nia melepas softlense yang tidak lagi melekat dengan nyaman di bola matanya, membuat semua yang memandangnya heran kecuali Captain Al.


"Kamu bule?" Tanya seorang tentara dengan nama yang tertulis di dadanya Aris.


"Bukan." Jawab Nia, karena sudah biasa ditanya seperti itu ketika orang melihat iris mata emeraldnya.


"Masya Allah, nikmat Tuhan mana lagi yang mau saya dustakan." Kata Bagas, di susul komentar-komentar dari tentara yang lainnya.


Nia yang malas berkomentar dan menjadi pusat perhatian akhirnya memutuskan untuk menaikkan topi hoodynya yang besar sehingga menutupi kepala dan wajah Nia.


Al hanya tersenyum melihat Nia yang tidak memperdulikan komentar teman-temannya.


Setelah menempuh kurang lebih 5 jam perjalanan, Nia sampai di kota B, dan segera turun untuk naik transportasi umum menuju rumah sakit yang ada di pusat kota.


"Iya, gue udah sampai. Bagaimana papa?, iya 30 menit lagi gue sampai." Kata Nia.


"Pak, bisa agak cepat." Kata Nia meminta supir transportasi onlinenya agak ngebut biar cepat sampai.


Sesampainya di rumah sakit, Sean menunggu Nia di lobi rumah sakit.


"Kenapa papa bisa kenak serangan jantung?" Tanya Nia begitu melihat Sean.


"Ntar gue cerita. Sekarang lo lihat kondisi om Bian dulu " Kata Sean yang berjalan cepat mengiringi langkah Nia menuju ruangan Bian.


"Ngapain kamu kesini?" Bentak Elsa begitu melihat Nia masuk ke ruangan Bian dan langsung ditatap keluarga lain yang juga berada di sana.


"Biar aku lihat papa." Kata Nia yang tidak ingin ribut.


"Ini karena kamu. Puas kamu sudah buat papa seperti ini. Kalau ada hal buruk terjadi sama papa, kamu adalah orang yang harus disalahkan." Kata Elsa lagi masih dengan amarahnya.


"Biarkan Nia lihat om Bian. Walau tidak sadar, Om Bian selalu nyebut nama Nia. Itu artinya Om Bian butuh Nia." Kata Sean agar keluarga Bian mengizinkan Nia melihat papanya.

__ADS_1


"Sudah Els. Sean benar. Biar Nia lihat papa. Papa akan baik-baik saja sayang. Percaya sama mama." Kata Tamara sambil memeluk Elsa yang sedang menangis, karena bagaimanapun Elsa sangat sayang dengan Bian.


__ADS_2