Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Reyhan PoV 3


__ADS_3

Aku segera membawa papa Bian bersama tante Tamara dan Elsa ke rumah sakit terdekat, yang juga milik keluarga ku. Karena bisnis yang kami geluti mencakup semua bisnis jasa.


Sesampainya di rumah sakit, dokter segera menangani paoa Bian, dan mengatakan kalau papa Bian terkena serangan jantung dan harus segera di operasi untuk memasang alat di jantungnya, agar papa Bian bisa bertahan.


Tante Tamara dan Elsa syok mendengar kondisi papa Bian, bahkan Elsa tidak henti-hentinya menangis sambil menggenggam tangan ku, yang membuat aku jadi kasihan, karena aku tahu betul bagaimana Elsa sangat menyayangi papa Bian.


Aku segera mengurus administrasi sesuai prosedur rumah sakit, walau rumah sakit ini milik keluarga ku, tapi kamu selalu bersikap profesional dan mematuhi aturan yang ada.


Aku meminta pihak rumah sakit untuk memanggil dokter jantung terbaik yang kami miliki, dan juga meminta mereka menyiapkan ruang ICU yang lebih besar, agar keluarga yang menjaga bisa nyaman.


Setelah menunggu operasi yang memakan waktu cukup lama, akhirnya dokter keluar dan menyatakan kalau papa Bian koma, tapi berita baiknya, operasinya berhasil.


Elsa makin syok, sehingga aku tidak bisa meninggalkan nya begitu saja bersana tante Tamara yang sibuk memberikan kabar kepada keluarga mereka.


Sudah seminggu lebih papa Bian koma, tapi selalu memanggil nama Nia ditengah ketidaksadarannya. Aku meminta Rani dan Leo untuk mencari Nia, minimal memberitahukan kondisi papa Bian, biar tidak ada penyesalan jika sesuatu yang buruk terjadi. Tapi hasil pencarian Rani dan Leo seperti sebelumnya, Nihil.


Hari ini, Rani menghubungiku, memberi tahukan kalau Nia baru saja sampai rumah sakit. Aku yang kebetulan berada di rumah sakit, segera mempercepat langkahku menuju ruang papa Bian.


Aku melihat Nia yang terlihat pucat sedang disalahkan oleh Elsa dan tante Tamara untuk kondisi papa Bian saat ini. Tapi Sean membela Nia agar Nia bisa bertemu papa Bian. Ah... seandainya saja kondisiku dan Nia saat ini tidak sedang menjaga jarak, aku pasti yang memakaikan baju sterilisasi untuk masuk ruangan papa Bian.


Elsa terkejut melihat aku yang sudah berada di ruangan papa Bian. Aku tahu, Elsa pasti tidak ingin terlihat kalau dia bersikap tidak baik, karena Elsa selalu memperlihatkan sisi manja dan lemah lembut kepada ku, hal itulah yang dulu membuat aku jatuh cinta dengan Elsa.


"Mas kapan datang?" Tanya Elsa ketika melihat ku dan berusaha untuk kembali menjadi Elsa yang manja serta lemah lembut, dan langsung bergelayut manja di lengan ku, dan meminta aku untuk duduk bersebelahan dengannya.


"Baru saja. Nia kapan datang?" Tanya ku basa basi, karena sebenarnya aku tahubkapan Nia datang.


"Baru sampai. Di jemput Sean. Nggak tahu juga berkeliaran dimana selama ini." Kata Elsa yang membuatku agak merah dengan Elsa, tapi aku harus mengikuti permainan Elsa terlebih dahulu agar tidak lagi melakukan tindakan yang menyakiti Nia.


Aku melihat Nia yang terus menangis sambil menggenggam tangan papa Bian. Aku tidak bisa mendengar apa yang Nia bicarakan karena ruang ICU adalah ruangan yang kedap suara.


Sekitar sejam, Nia berada bersama papa Bian, tapi ruang ICU yang tidak boleh dikunjungi lama-lama, membuat suster yang menjaga, menegur Nia agar meninggalkan papa Bian.


"Lo pucat banget Chin. Kita ke kantin rumah sakit dulu cari minum." Kata Sean yang langsung diiyakan oleh Nia tanpa memandang aku yang sedang menatap Nia dengan tatapan marah, karena bisa-bisanya Sean memanggil Nia 'Cin', yang merupakan penggalan untuk kata cinta.


Tapi aku segera berdiri dan memegang tangan Nia, mebuat Elsa menatap Nia tidak suka, begitupun dengan Sean. Tapi apa perduli ku. Nia itu milik aku, sampai kapanpun tidak akan aku lepaskan. Aku hanya perlu menjaga jarak dari Nia sementara, walaupun ini rasanya sangat menyiksa, tapi demi keselamatan Nia, aku harus lakukan.


"Biar Nia kakak yang antar ke kantin." Kata ku lalu berusaha membawa Nia pergi ke kantin.


Tanpa kata Nia menghempaskan tangannya yang sedang ku pegang hingga terlepas, menyuruh Sean diam dengan isyarat, agar tidak melanjutkan aksinya yang ingin protes dengan ku, dan Nia berjalan sendiri keluar dari ruang papa Bian.


"Saya bisa sendiri." Kata Nia yang tahu kalau Sean dan aku sedang mengikutinya.


Aku dan Sean tetap mengikuti Nia, walaupun Nia bilang kalau Nia bisa ke kantin sendiri, dan akhirnya membiarkan aku dan Sean mengikutinya tanpa kata.


Nia memesan teh tawar hangat, yogurt dan steak salmon yang dilengkapi sayuran dan mash potato.


"Lo yakin makan salmon?" Tanya Sean heran, yang membuatku semakin tidak suka, karena Sean tahu banyak tentang Nia.


"Iya. Lagi pengen. Kebetulan ada." Jawab Nia yang mulai menikmati makanannya.


"Kamu bisa tinggalkan kakak dengan Nia Sean?, ada yang kakak mau bicarakan." Kata ku dengan ekspresi serius, agar Sean tahu diri, Nia itu milik ku, kakak sepupunya.


"Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah jelas. Mas silahkan urus surat cerai kita."Kata Nia tanpa menatapku dan masih menikmati steak salmon yang ada dihadapannya.


"Jadi kamu membenarkan perselingkuhan kamu Ni?" Tanya ku dengan suara agak tinggi karena aku marah, kecewa dan tidak terima kalau Nia menyuruh aku mengurus surat cerai. Tidak. Sampai nyawa berpisah dari ragaku, aku tidak akan mengurus surat cerai kami. Kamu itu milik aku Nia, semua yang menjadi milik aku, selamanya akan menjadi milik aku.


Aku melakukan kesalahan dengan meninggikan suara ku, yang menyebabkan beberapa pengunjung kantin rumah sakit menatap kami, serta mulai berbisik-bisik hal yang jelek tentang Nia, tapi Nianya tetap cuek dan menikmati makanan di depannya.

__ADS_1


"Jawab Ni." Kata ku lagi, ingin Nia membatahnya, agar aku bisa minta maaf dengan Nia.


"Kalau aku bilang aku nggak selingkuh apa mas percaya?, Aku aja nggak tahu aku selingkuh sama siapa. Bukankah mas selalu ngawasi aku?"Jelas Nia, tapi masih membuat aku belum puas, karena sikap Nia yang sering mengalah, kadang-kadang membuat aku gemas sendiri.


"Tapi foto dan Video itu asli. Kamu tidur dengan laki-laki lain di kamar hotel. Hari itu kamu ke hotel kan?" Tanyaku yang mulai kesal dengan sikap Nia.


"Sudahlah mas. Aku capek. Toh intinya mas sudah ceraikan aku. Kita pisah. Nggak usah ribut-ribut. Aku capek. Mau konsentrasi dengan papa aja." Jawab Nia yang menyelesaikan makannya, lalu pergi meninggalkan ku dan Sean yang masih duduk di bangku kantin rumah sakit.


Aku dan Sean yang masih sama-sama heran dengan sikap Nia memilih untuk tetap duduk di kantin. Setelah Nia menghilang, aku berdiri dan berjalan menuju kamar papa Bian berdampingan dengan Sean.


"Kamu jangan dekati Nia Sean. Bagaimanapun Nia itu istri kakak." Kata ku ketika kamu berjalan.


"Hah? apa Sean nggak salah dengar kak?, bukankah kakaj sudah menceraikan Nia." Kata Sean dengan nada remeh kepada ku.


"Nia masih istri kakak, bagaimanapun kata talak yang diucapkan dalam keadaan emosi dan tidak memiliki dua orang saksi, maka talaknya tidak sah." Jelas ku yang membuat Sean hanya terdiam.


"Kamu.." Kata tante Tamara dan terlihat ingin menampar Nia, tapi duluan Elsa yang mengangkat tangannya, tapi segera ditangkap Nia, dan menepis tangan Elsa, yang menyebakan Elsa terjatuh.


"Aduh mi sakit." Kata Elsa.


"Kamu nggak apa-apa Els?" Tanya ku yang masuk ke ruangan dan membantu Elsa berdiri.


"Drama" Cibir Nia.


"Keluar kamu dari ruangan ini. Jangan pernah menampakkan diri kamu. Dasar perempuan jahat." Kata oma Rahma kepada Nia.


Nia yang memang tidak suka ribut, memilih keluar dari ruangan papa Bian, dan menunggu di luar. Nia duduk di bangku tunggu di temani Sean.


Pintu ruangan papa Bian yang tidak tertutup rapat, membuat aku bisa mendengar percakapan Nia dan Sean, karena aku memilih duduk di sofa yang berada dekat pintu.


"Kita pulang aja yuk Chin. Kamu istirahat dulu." kata Sean, yang membuat hati ku sebenarnya tidak nyaman karena tidak bisa bersama dengan Nia, padahal kami begitu dekat.


"Lo nggak menyedihkan. Lo itu wanita hebat dan kuat yang pernah gue temui. Kalau mereka tidak mau Lo, Lo sama gue aja. Gue sayang Lo Ni." Kata Sean yang membuat aku segera berdiri untuk keluar menghampiri mereka, namun urung aku lakukan karena mendengar perkataan Nia berikutnya.


"Gue tahu, Lo sayang gue dan nganggap gue saudara. Terima kasih."


"Lo salah, gue bukan..."


"Kamu kenapa masih disini Sean?" Tanya ku yang keluar dari ruangan papa Bian karena tidak ingin Sean mengungkapkan perasaannya ditengah kondisi hubungan aku dan Nia yang sedang tidak baik.


"Bukan urusan kakak." Kata Sean ketus.


"Jangan bicara seperti itu sama kakak Sean." Kata ku yang mulai kesal dan mencengkram kerah baju Sean.


"Nia. Lo disini? Ngilang kemana aja?" Tanya Marco yang baru saja datang.


"Iya mbak. Aku datang beberapa jam yang lalu." Jawab Nia.


"Lo berdua ngapain?" Tanya Marco karena melihat aku yang sedang memegang kerah baju Sean.


"Nggak ada apa-apa." Kata ku yang melepaskan peganganku pada kerah baju Sean.


"Gue lihat om Bian dulu." Kata Marco lalu masuk ke dalam.


Tidak lama Marco masuk, aku melihat seorang dokter dan dua orang perawat buru-buru masuk ke ruangan papa Bian.


"Papa kenapa mbak?" Tanya Nia mulai panik kepada Marco dan ikut masuk kedalam.

__ADS_1


"Om Bian sadar." Kata Marco, lalu Nia segera menuju ruangan tempat papa Bian.


Oma Rahma menghalangi Nia masuk, bahkan menghina Nia sedemikian rupa yang membuat aku harus mengepalkan tangan erat-erat agar tidak meluapkan kemarahan ku.


Nia yang sangat menghormati orang tua, hanya diam saja, justru Marco yang membela Nia, karena aku tahu betul kalau Marco sangat sayang dengan Nia, karena dulu Marco sangat dekat dengan ibu Nia.


Perdebatan itu berakhir ketika suster meminta Nia untuk masuk ke ruangan papa Bian, karena papa Bian meminta untuk bertemu dengan Nia.


Beberapa hari setelah sadar, kondisi papa Bian semakin baik, semua keluarga terlihat akur bila dihadapan papa Bian.


Sewaktu aku datang, aku tidak melihat Nia, tapi aku menemukan Elsa sedang muntah di kamar mandi dengan pintu terbuka.


"Tolong lihat Els, Rey. Tante tidak kuat kalau harus memapah Els. Dari tadi pagi Els mual dan muntah terus sehingga tubuhnya sangat lemas." Terang tante Tamara yang mau tidak mau membuat aku harus memapah Elsa keluar dari toilet, bersamaan dengan keluarnya Nia dari ruang ICU papa Bian.


Aku melihat Nia yang membuang muka, menandakan kalau Nia tidak suka aku berdekatan dengan Els, membuat sedikit sudut bibir ku tertarik ke atas.


Aku segera membopong Elsa karena kondisinya benar-benar lemas.


Aku membawa Elsa ke poli umum, dan segera meminta dokter untuk memeriksanya. Setelah beberapa menit memeriksa, dokter menyatakan kalau Elsa hamil yang membuat aku terkejut.


Elsa hanya menangis sambil menatap ku.


"Els mohon mas, mas harus tanggung jawab dengan anak yang Els kandung." Katanya yang membuat ku terkejut, bagaimana mungkin Elsa meminta ku untuk bertanggung jawab.


Dokter dan perawat yang memeriksa memandang ku dan Elsa yang membuat aku tidak nyaman, dan akhirnya meminta mereka untuk pergi keruang sebelah terlebih dahulu.


"Kenapa mas yang harus bertanggung jawab. Kamu cari saja laki-laki yang sudah membuat kamu hamil." Kata Ku sinis.


"Els mohon mas. Karena Els tidak tahu siapa ayah bayi ini. Sewaktu Els mengikuti kegiatan modeling di negara A, Els di jebak. Sewaktu bangun setelah mengikuti pesta perayaan pemotretan, Els terbangun di kamar hotel, tanpa mengenakan pakain sama sekali. Els tahu, Els salah. Tidak seharusnya Els meninggalkan mas sewaktu kuta akan menikah. Els menyesal mas, sangat menyesal." Jelas Elsa dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.


"Tidak bisa. Tidak mungkin mas bertanggungjawab untuk apa yang tidak mas perbuat." Kata Ku tegas, agar Elsa tidak meminta aku untuk bertanggungjawab.


"Els mohon mas. Kalau mas tidak mau bantu Els, lebih baik Els, mati saja." Kata Elsa mengancam ku dengan mengambil gunting yang tergeletak di nakas sampingnya.


"Jangan gegabah kamu Els. Semuanya kita bicarakan baik-baik. Kita cari solusinya. Mas bantu kamu mencari siapa yang sudah jahatin kamu." Kata ku berusaha menenangkan Elsa.


"Nggak. Els maunya mas yang bertanggungjawab. Els sudah bilang mami, kalau anak ini anak mas. Els mohon mas." Katanya lagi, dan mulau menggores pergelangan tangannya yang membuat aku panik, karena mulai terlihat darah.


"Ok. Ok.. mas akan bertanggungjawab. Kamu lepaskan gunting itu. Jangan lakukan perbuatan bodoh Els." Katakubyang akhirnya mengalah, karena aku paham betul Elsa seperti apa.


Aku mendekati Elsa dan membuang gunting yang digunakannya untuk melukai dirinya sendiri.


"Terima kasih mas." Kata Elsa sambil memeluk ku erat.


Aku meminta Dokter dan perawat yang berjaga untuk kembali ke ruang poli umum. Dokter menyarankan aku untuk membawa Elsa ke poli kandungan, memeriksa kandungannya. Karena kondisi Elsa yang lemah, aku membawa Elsa ke poli kandungan menggunakan kursi roda.


Sesampainya di poli kandungan, aku meminta agar Els diperiksa terlebih dahulu, dengan meminta bantuan pengurus rumah sakit.


Kondisi kandungan Elsa baik-baik saja Hanya Elsa saja yang kondisinya lemah karena tidak bisa makan dan mengeluarkan apapun yang dimakannya.


Selesai dari poli kandungan aku segera membawa Elsa kembali ke ruangan papa Bian.


Tante Tamara menyambut kami dengan wajah bahagia, bahkan mengatakan kepada Yangti kalau Elsa tengah mengandung anak ku, dan sempat-sempatnya tante Tamara menghina Nia, bilang kalau Nia mandul.


Yangti hanya diam saja, sementara aku bingung harus berkata apa. Karena aku tahu betul kalau Yangti sangat berharap seorang cicit, tapi dari aku dan Nia, bukan Elsa.


Aku yang mendengar suara ada yang jatuh diluar, segera keluar dan melihat seorang laki-laki tengah membopong perempuan yang terlihat seperti Nia.

__ADS_1


Aku segera mengikuti mereka yang ternyata menunuju IGD.


__ADS_2