Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Sakit


__ADS_3

Sudah seminggu Reyhan tidak pulang dan tidak memberikan kabar kepada Nia. Nia yang memang pada dasarnya cuek, walau kadang perasa juga, memilih untuk tidak memikirkan Reyhan dan menyibukkan diri dengan proyek yang sedang dikerjakannya.


Dateline event yang semakin dekat, membuat Nia, Nita serta anggota team yang lain sibuk, bahkan mereka harus lembur agar kegiatan berjalan lancar sesuai dengan target dan harapan mereka.


"Ni, hari ini sama Satya bantu cek lokasi ya, tolong cek untuk dekorasi dan persiapan stand eventnya sudah berapa persen. Soalnya mbak harus pergi ke tempat beberapa client yang minta revisi tema." Kata Nita, sewaktu Nia sedang mempersiapkan draft susunan acara.


"InsyAllah mbak." Kata Nia sambil memgacungkan jempolnya kepada Nita, yang justru di beri jari kelingking oleh Rama.


"Yeay.. abang menang. Berarti nanti siang, kamu traktir makan siang ya Ni?" Tanya Rama dengan wajah bahagia.


"Susah nih, punya abang sableng. Terus kalau aku traktir makan siang, ntar bekal yang dibawain mbak Rahma gimana? Bisa ngamuk ntar mbak Rahma sama aku. Ogah." Jawab Nia sambil bergidik ngeri membayangkan Rahma memarahinya.


"Kan tinggal kasi pak Tarno aja bekelnya." Jawab Rama lagi.


"Aku lapor mbak Rahma ya?, Suami nggak ada akhlak emang abang satu ni. Mbak Rahma itu siapkan bekal abang penuh cinta, peluh dan air mata. Jangan di sia-siakan dong." Kata Nia mulai dengan dramanya.


"Pantesan masakan Rahma suka asin. Kok kamu tahu Ni, Rahma buatnya dengan peluh dan air mata?" Tanya Rama polos.


"Ya sallam." Kata Nia sambil menepuk jidatnya, mendengar pertanyaan Rama.


"Kenapa Ni?" Tanya Rama lagi.


"Au ah elap." Jawab Nia yang sudah selesai membuat draft susunan acara.


"Mbak, draft acara udah aku kirim ke WA ya, tolong di cek. Kalau udah fix, biar aku print dan kasi sama bagian acara." Kata Nia.


"Lah, udah siap aja. Bukannya tadi kamu ngobrol sama Rama?" Tanya Nita heran.


"Nih anak emang gitu Nit, mulutnya ngebacot, tangan dan pikirannya tetap bisa kerja. Waktu sekolah dulu, pas guru lagi nerangin, kamu pasti asik ngerumpi, pas guru tanya kamu bisa jawab. Ya kan Ni?" Tanya Rama.


"Ho oh. Makanya nggak ada yang mau temanan sama aku" Kata Nia sambil tertawa miris mengenang masa sekolahnya yang tidak punya teman kecuali Sean dan teman-temannya, bahkan Nia suka dimusuhi Fans garis kerasnya Sean. Untung aja penampilan Nia waktu sekolah dibuat jelek, sehingga mereka tidak merasa insecure, walau Nia dekat Sean. 😭 Jadi kangen Sean.


"Melamun aja, lagi ingat mantan waktu sekolah ya...?" Tebak Rama lagi.


"Iya, mantan yang penah ngisi hati, tapi dianya nggak tahu." Kata Nia dengan wajah sedih.


"Jiah, bisa sedih juga ternyata. Abang kira, kamu petakilan mulu." Kata Rama sambil menepuk bahu Nia pelan, memberikan semangat kepada Nia.


"Eleh-eleh... bisa patah hati juga Ni?" Tanya Nita.


"Nggak patah hati sih mbak, tapi sedih aja kalau ingat, secara dari balita sama-sama terus, seperti pinang dibelah kampak" Kata Nia yang kembali tertawa, yang membuat Rama ikutan tertawa dan Nita hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Nia yang absurd nggak jelas, bisa secepat kilat merubah suasana hatinya.


POV Nia


Gara-gara bang Rama mengingatkaa masa sekolah, jadi keingat Sean. Sudah lama nggak tau kabar Sean sejak Mas Reyhan mengganti nomor ku yang lama dengan yang baru. Ternyata walau sudah lama nggak ketemu dan tau kabarnya, ternyata Sean tetap akan selalu ada di sudut hati aku yang paling dalam. My first love, karena Sean adalah sosok laki-laki yang aku kenal dari aku kecil, bukan papa, jadi tidak seperti anak perempuan lainnya dimana papa adalah cinta pertamanya, tapi tidak dengan aku, Sean is my first love, karena Sean yang selalu mengisi hari-hari ku.

__ADS_1


Sudah seminggu sejak mas Reyhan marah dan pergi dari rumah, sebenarnya agak khawatir, tapi mengingat tingkahnya yang menyebalkan,membuat aku tidak terlalu memperdulikan suami ku. Agak geli gimana gitu, nyebutnya suami..😅.


Dua hari lagi event yang aku tangani bersam mbak Nia dan Team yang lain akan diadakan. Event ini adalah event besar, dimana ada beberapa perusahaan besar yang ikut berpartisipasi.


Seluruh tenaga dan fikiran aku curahkan di event ini,sebagai persembahan aku yang terakhir, karena aku sudah janji, akan berhenti magang, walau masih ada sebulan lagi,setelah event yang aku handle selesai.


"Ni, ayok kita cek lokasi." Ajak Bang Satya membuyarkan lamunan ku.


"Pakai mobil kantor kan?" Tanya ku sambil menyambar tas ransel yang selalu aku bawa.Tas ransel imut, tapi seperti kantong dora emon, mampu menampung apa saja benda yang aku perlukan.


"Pakai mobil abang aja. Nanti sekalian langsung pulang aja, karena kalau cek lokasi biasanya agak lama." Jelas Bang Satya yang berjalan di samping ku.


"Aku telpon mbak Rani dulu, biar nanti langsung jemput di lokasi aja." Kata ku pada bang Satya.


"Emang Rani itu siapa? Kenapa kamu harus selalu laporan sama dia sih? Kayak anak presiden aja." Gerutu bang Satya.


"Yang jelas mbak Rani itu orang baik." Jawab ku sambil mengambil hp, bermaksud menelpon mbak Rani.


"Nanti aja pas di lokasi telpon. Lagian ngga usah di jemput, biar abang antar aja, sekalian mau tau juga rumah kamu di mana. Kamu ini penuh misteri banget." Kata bang Satya lagi.


"Aku harus pulang sama mbak Rani, kalau ndak, ntar aku kena marah." Kata ku berusaha menjelaskan.


"Emang siapa yang marah? papa kamu?, ntar abang yang jelasin deh." Kata Bang Satya lagi.


"Bukan. Ada deh. ih ke to the po.. kepo."protes ku, karena bukan tidak ingin memberitahukan bahwa aku sudah menikah, tapi karena memang dari awal pernikahan aku seolah-olah disembunyikan.


Di dalam mobil selama perjalanan menuju tempat acara, aku yang biasanya cerewet memilih untuk diam sambil memandang ke arah samping jendela. Sewaktu di lampu merah, aku tidak sengaja melihat mobil mas Reyhan yang berada agak sedikit di belakang mobil bang Satya.


"Deg" Jantung ku tiba-tiba terasa tidak enak dan berdetak lebih cepat ketika aku melihat seorang wanita yang terlihat cantik duduk di sebelah mas Reyhan yang duduk di belakang setir mobilnya.


"Kamu kenapa Ni? Kayak lagi abis nangkap basah suami sama selingkuhan ekspresinya." Kata bang Satya sambil tertawa, karena ia tidak tahu kalau ucapannya benar.


Walau kami menikah bukan karena rasa cinta, tapi dari awal aku berusaha menerima pernikahan ini, dan berusaha mencintai mas Reyhan, walaupun dia selalu ketus dan dingin, tapi seiring berjalannya waktu, rasa itu mulai ada dan tumbuh.


Aku memang dijuluki sebagai ratu perasaan, karena aku selalu bisa menyembunyikan perasaan aku, sehingga orang-orang sekitar ku, tidak tahu apa yang sedang aku rasakan.


"Ih kok abang tau aja. Tadi tuh aku lihat suaminya kucing aku jalan sama kucing lain. Duh kasian si Angel di duain sama si Jonim" Kata ku mengarang indah.


"Iya kali Ni, kucing ngeduaian, yang ada kucing itu ngetigain, ngeempatin, bahkan mungkin ngelimain." Kata Bang Satya sambil tertawa.


"Iya ya?, Ntar deh aku bilangin si Angel, nggak usah dekat-dekat Jonim lagi, playboy cap buaya emang tuh kucing satu." protes ku.


"Kamu ini ada-ada aja Ni. Emang kodrat kucing kali begitu, namanya juga kucing garong." Kata bang Satya yang masih tertawa.


"Berarti kalau cowok nggak setia, namanya cowok garong dong?" Tanya ku yang masih mencoba mendamaikan hati dengan bercanda dengan bang Satya yang memang baik, walau lebih banyak ngeselinnya. Padahal kata Maza bang Satya tidak seperti itu, hanya sama aku saja dia bisa bertingkah menyebalkan.

__ADS_1


"Ya seperti itu kurang lebih." Kata bang Satya yang sudah mulai menghentikan tawanya dan kembali serius menatap jalanan.


"Tapi abang nggak termasuk cowok garong kok Ni." Kata bang Satya pelan.


"Hah? emang ada gitu, cowok garong yang ngaku? Kalau ada bisa habis spesies manusia di bumi ini bang." Kata Nia.


"Loh kok gitu?" Tanya bang Satya bingung.


"Ya iyalah. Mana ada sih cewek yang mau sama cowok garong, terus kalau ceweknya nggak mau, kan nggak ada yang namanya pernikahan, kalau tidak ada pernikahan, tidak ada juga yang namanya anak, jadi lama-lama spesies manusia abis deh." Terang ku.


"Manusia itu spesies ya?" Tanya bang Satya serius yang membuat aku jadi tertawa.


"Ntar aku cari dulu di mbah Oglek, manusia itu spesies atau makhluk ya?" Tanya ku yang ikut-ikutan bingung.


Sesampainya di lokasi acara yang berada di halaman salah satu Business Centre yang ada di kota P, aku melihat stand-stand sudah berdiri, dan sedang di dekorasi sesuai permintaan client. Aku dan bang Satya mengecek dari stand satu ke stand yang lain.


"Kamu ini emang teliti bener ya Ni? Abang aja nggak kepikiran loh buat cheklist persiapan event seperti itu." Kata Satya sambil tersenyum melihat aku yang sedang sibuk mengisi cheklist persiapan event yang aku buat.


"Biar ntar pas di tanya sudah sejauh mana persiapannya kita bisa jawab dengan pasti dan akurat by data." Kata ku masih sambil terus mengecek persiapan event.


"Emang keren adeknya bang Satya." Kata bang Satya sambil mengacak rambut ku.


"Eits, bukan muhrim. Nggak boleh pegang-pegang." Kata ku galak, karena aku memang tidak suka ada cowok yang menyentuh ku. Walaupun aku masih belum menjalankan kewajiban seorang muslim secara baik, karena masih belum menutup aurat, tapi aku memang tidak suka jika ada lawan jenis yang menyentuh, temasuk Sean.


"Ya udah, kita jadi mukhrim aja. Kapan maunya? bukannya kamu mau masuk ke dalam KK keluarga Pradipta?" Tanya bang Satya.


"Iya maunya masuk kedalam KK yang ada MaZa nya dong. Aku itu jadi adeknya abang, adek imut ketemu gede." Kata ku sambil menaik turunkan alis mata ku dan menarik kedua sudut bibir ku.


"Abang serius loh Ni." Kata bang Satya dengan wajah seriusnya dan menatap ku lekat.


"Udah ah bang, becanda mulu. Masih 3 stand lagi nih, abang bantu cheklist napa. Nih." Kata ku sambil menyerahkan map 2 stand paling ujung. Dari pada ribet ngajakin jadi mukhrim, kan nggak mungkin aku poliandri.


Aku sudah menyelesaikan memeriksa persiapan event yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Alhamdulillah sudah 98% persiapannya rampung. Tinggal display beberapa produk client yang belum terpajang.


Karena lumayan lelah, aku memutuskan untuk masuk ke dalam Bisnis centre yang nyambung dengan apartemen, satu-satunya apartemen yang ada di kota ini. Aku menunggu bang Satya menyelesaikan pekerjaannya, memeriksa 2 stand terakhir.


Aku memutuskan duduk di bangku tunggu yang tidak jauh dari lift yang menuju apartemen.


[aku tunggu di kursi tunggu depan lift] ketik ku pada aplikasi hijau dan mengirimnya ke bang Satya.


Sewaktu pintu lift terbuka, aku terkejut melihat dua orang yang baru saja keluar dari lift. Aku tidak percaya baru


saja melihat mas Reyhan keluar dari lift dengan seorang perempuan yang berpenampilan modis dengan wajah yang manis, wajah ayu khas negara I dengan kulit putih bersih. Tangan perempuan itu menggandeng mesra lengan mas Reyhan, dengan senyum yang terpasang di wajah cantiknya.


Tiba-tiba saja, mata ku terasa panas, Walaupun pernikahan kami terpaksa dan tidak memperdulikan kehidupan pribadi satu sama lain, tapi tetap saja hati ku terasa sakit.

__ADS_1


"Ternyata kamu lemah Ni." Kata ku sambil mendongakkan wajah ke atas, agar air mata ku tidak tumpah. Sakit ternyata melihat mas Reyhan bersama perempuan lain.


__ADS_2