
Sewaktu menjaga Bian, Tamara dan Elsa terus saja.mengganggu Nia, tapi Nia sekarang bukanlah Nia yang mau mengalah seperti dulu.
"Tante dan kak Elsa jangan coba-coba usir aku. Kita punya hak yang sama. Papa juga papa aku, jadi aku berhak mengurus papa. Kalau kalian masih mengusik aku, jangan salahkan aku kalau aku akan bawa papa pergi." Ancam Nia yang membuat Elsa dan Tamara semakin kesal, dan memutuskan untuk mengalah sementara, dan pergi dari rumah sakit.
"Bagaimana mi?, itu si Nia udah balik lagi. Kita suruh saja Djarot dan anak buahnya culik, terus buang Nia ke jurang." Kata Elsa kesal ketika di mobil.
"Tenang saja sayang. Itu akan kita lakukan nanti. Mami lagi mengusahakan memindahkan seluruh aset papi atas nama kamu, tapi si Erik terus saja menghalangi mami." Kata Tamara kesal.
"Kita singkirkan saja mi. Semua yang menghalangi, kita singkirkan saja." Kata Elsa lagi.
"Tidak segampang itu sayang. Mami mau mereka tersingkir, tapi kita tetap bersih." Kata Tamara dengan senyum liciknya.
Reyhan PoV
Sudah 4 tahun lebih Nia menghilang, sangat sulit sekali melacak keberadaannya, dari sejak keberadaannya di ketahui di kota P berkat informasi dari Dian, yang dulu merupakan sahabat Nia sewaktu kuliah.
Begitu Dian memberikan informasi kalau Nia ada di kota P, aku segera mengutus Rani dan Leon serta beberapa anak buah ku untuk menjemput Nia, yang memang sangat suka sekali kabur.
Dan lagi-lagi Nia berhasil kabur, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Nia benar-benar seperti hilang ditelan bumi.
Hubungan kami awalnya membaik setelah acara wisuda Nia. Nia yang memang dasarnya adalah perempuan yang sangat baik dan tidak ingin punya rasa jelek dihatinya, mau kembali menjadi istiriku dan kami sepakat akan membesarkan twin bersama,dengan syarat kalau aku tidak akan pernah mengk'hianati Nia.
Tapi takdir berkata lain, sewaktu aku melakukan perjalanan bisnis ke negara S, aku bertemu tante Tamara dan om Bian. Mereka berdua memohon kepada ku untuk menikah dengan Elsa sementara waktu, karena Elsa sedang kritis. Elsa terpaksa harus kehilangan calon bayinya karena prosedur kemoterapi yang dijalaninya.
Melihat tante Tamara yang memohon, akupun tidak tega untuk tidak memenuhi keinginan terakhir Elsa, karena dokter sampaikan, jika tidak memiliki penyemangat hidup, maka Elsa tidak akan tertolong.
Hanya atas dasar rasa kemanusiaan dan hubungan ku dengan Elsa sebelumnya, akhirnya aku menikahi Elsa, dengan catatan, Nia tidak boleh tahu, dan pernikahan kami hanya sekedar pernikahan tanpa ada tuntutan kewajiban sebagai suami istri.
Hampir satu bulan aku tidak pulang, karena harus menemani Elsa melewati rangkaian perawatan penyakit kanker kelenjar getah bening yang dialaminya.
Karena ingin menyelamatkan orang, akhirnya keluarga ku tidak selamat. Nia pergi ketika mengetahui kalau aku menikahi Elsa. Padahal kalau Nia mau bersabar sedikit saja, kami mungkin tidak akan terpisah.
Lagian aku juga paham kalau Elsa dan tante Tamara adalah orang yang ambisius dan menghalalkan segala cara. Aku tidak ingin mereka punya kesempatan untuk menyakiti Nia, membuat aku harus berada didekat Elsa, bukan karena masalah penyakit Elsa, tetapi juga ingin melindungi Nia dari Niat jahat Elsa dan tante Tamara.
Walaupun sudah banyak bodyguard yang aku tempatkan, tetap saja, Elsa dan tante Tamara selalu bisa menjalankan rencana jahatnya, tapi sempat aku cegah, karena aku tahu apa yang akan mereka lakukan pada Nia.
Walau Nia menghilang tanpa kabar, aku tetap meminta semua anak buah ku mencari keberadaan Nia, tapi nihil, Nia benar-benar hilang di telan bumi.
__ADS_1
Aku mendapatkan undangan untuk menghadiri acara salah satu relasi bisnisku yaitu tuan Omar. Beliau adalah rekan bisnis yang sangat baik, sehingga tidak enak untuk tidak menghadiri udangannya.
Aku memang berencana pergi hanya dengan Alex asisten kepercayaanku untuk uruasan bisnis, karena Elsa harus menjaga om Bian yang kembali koma karena serangan jantung yang kedua.
Sesampainya ditempat acara, aku terkejut ketika tuan Omar berjalan dengan dua orang wanita yang sangat cantik, dan yang satunya tentu saja sangat aku kenal, karena aku sangat merindukannya.
Penampilannya benar-benar berubah, walau dulu tidak memakai hijab, tapi dia tidak pernah suka memakai pakian terbuka. Sekarang dia memakai pakaian yang benar-benar menutup auratnya secara sempurna.
"Sayang" Ucapku refleks sambil memegang lengan kanan Nia dan juga mendengar ada yang menyebutkan kata "Michin" Siapa lagi kalau bukan Sean, bahkan Sean terlihat agak terkejut melihat perempuan yang bersama Nia.
Aku senang akhirnya setelah lebih dari 4 tahun, aku bisa melihat lagi perempuan yang sudah menjadi separuh jiwaku, lebai sih, tapi ya biarlah, kalau memang seperti itu yang aku rasakan.
Dan aku sangat terkejut sewaktu Nia mengatakan kalau kami sudah bercerai dan bahkan sudah menandatangani surat cerai. Setahu dan seingatku, aku tidak pernah menceraikan Nia, sampai kapanpun tidak akan pernah.
Aku segera menghubungi Alex untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, walaupun Nia sudah menjelaskan kalau Elsa yang mengurus perceraian ku, tapi tetap saja, aku tidak puas, bagaimana mungkin tiba-tiba saja aku bercerai dari Nia.
Aku ingat memang waktu itu pernah menandatangani berkas yang diminta Elsa, tanpa membacanya, karena lagi panik mencari Nia, dan Elsa menyampaikan kalau itu prosedur pengobatan dari rumah sakit, karena aku smepat melihat logo rumah sakit tempat Elsa di rawat di berkas yang aku tandatangani.
Selesai menghubungi Alex untuk mengusut kasus perceraian ku dan Nia, aku tidak mendapatkan Nia berada di tempat tadi, membuat aku harus mencari Nia di rumah tuan Omar yang sangat luas.
Aku melihat Nia sedang mndorong dua stroler yang membuat jantung aku berdetak lebih kencang dari biasanya, karena akan melihat kedua anak ku untuk pertama kalinya.
"Kok kamu nggak bilang kalau papa lagi koma sih mas?" Protes Nia.
"Astagfirullah, mas lupa. Els sedang menjaga papa, makanya tidak bisa ikut." Jelas ku sambil terus menatap twin, darah daging ku, anak ku bersama Nia yang tidak pernah aku lihat.
"Kamu mau kemana?" Tanya ku, ketika sadar, karena Nia seperti mau pergi.
"Aku mau jenguk papa." Jawab Nia sambil terus berjalan.
"Michin, gue ikut lo ya." Kata Sean yang ku lihat berlari kearah Nia, sambil membawa tas ransel.
"Mas juga ikut." Kata ku nggak mau kalah, karena nggak mungkin aku membiarkan Sean mendekati Nia. Bagaimanapun Sean adalah cinta pertama Nia, dan yang namanya cinta pertama akan selalu ada di hatinya. Karena malas berdebat dengan ku dan Sean, akhirnya Nia mengiyakan keinginan kami untuk ikut kembali ke negara I bersama.
Sesampainya di pesawat pribadi, yang aku tahu milik tuan Omar, Nia segera meletakkan twin di bangku khusus bayi agar mereka nyaman. Aku terus memandangi twin yang memiliki garis wajah begitu mirip denganku, apa karena sewaktu hamil twin Nia sangat membenci ku untuk masalah yang terjadi, sehingga twin benar-benar mewarisi garis wajah ku. Ingin rasanya aku menggendong, memeluk dan mencium darah daging yang tidak aku lihat tumbuh kembangnya selama empat tahun, tapi aku takut mengganggu tidurnya twin, sehingga aku hanya bisa menatap twin, dan tidak terasa air mata mengalir dari sudut mata ku.
Aku ini benar-benar bodoh, gara-gara orang lain, aku harus mengorbankan orang-orang yang menjadi bagian dari diri ku.
__ADS_1
Bagaimanapun juga aku harus mendapatkan keluarga ku kembali, tidak akan aku biarkan orang lain mengambil keluarga ku, bagian dari diriku.
Sewaktu sampai di negara I, aku ingin segera bertanya kepada Elsa, tapi tidak mungkin, karena Elsa masih di rumah sakit menjaga om Bian
Author PoV
Bian mulai menunjukkan tanda-tanda untuk sadar, tapi maaih belum sadar juga. Kadang-kadnng air matanya kelur, pernah juga salah satu jarinya bergerak, tetapi Bian masih belum juga membuka matanya.
"Ini kenapa suami saya sebagian peralatannya dilepaskan?" Tanya Tamara marah, sewaktu melihat dokter sedang melepaskan beberapa peralatan bantu yang ada di tubuh Bian.
"Nona Nia sudah mengurus prosedur kepindahan tuan Bian ke salah satu rumah sakit yang ada di negara J, dan dokter pendampingnya jyga sudah datang dan menyatakan kalau tuan Bian bisa melakukan perjalanan menuju negara J, dengan pesawat khusus medis milik rumah sakit tersebut." Terang dokter Angga yang membantu mengurus Bian setelah dokter Adrian dipindah tugaskan.
"Tidak. Suami saya tidak boleh dipindahkan. Saya yang berhak untuk membuat keputusan terhadap suami saya." Teriak Tamara.
"Shht. Tante please, jangan ribut. Saya berkah memindahkan papa ke rumah sakit dengan peralatan lebih canggih. Lagian, tante bukan istri papa lagi." Jawab Nia santai.
"Apa maksud kamu saya bukan istri papa kamu lagi?!" Tanya Tamara marah.
"Tante, ini rumah sakit. Tante nggak usah teriak-teriak. Papa sudah kirim email ke aku kalau papa sudah menceraikan tante." Kata Nia yang membuat wajh Tamara pucat seketika, karena Tamara tidak menyangka kalau bakalan ada yang tahu tentang perceraiannya dengan Bian kecuali Elsa dan Erik, bahkan Tamara sudah menyuruh anak buahnya untuk menyingkirkan Erik, agar semua rencananya berjalan lancar.
"Anggap saja ini karma buat tante." Kata Nia berbisik disamping Tamara, lalu segera melihat proses persiapan kepindahan Bian.
"Tidak. Ini tidak mungkin. Saya maaih istri Bian, saya masih istrinya." Kata Tamara yang menangis dan terduduj lemas dilantai.
"Mami?!, Mami kenapa nangis dan duduk dilantai? Apa yang anak pembawa bencana itu lakukan mi?" Tanya Elsa geram karena melihat Nia yang berdiri tidak jauh dari maminya.
"Mami masih istri papi kamu kan Els?" Tanya Tamara meyakinkan.
"Maksud mami?" pura-pura tidak tahu, tapi tetap terkejut, karena ada yang tahu kalau Bian susah menceraikan Tamara.
"Sudah siap dok?" Tanya Nia kepada dokter yang dibawanya dari negera J menggunakan bahasa J, yang tidak dipahami Elsa dan Tamara.
"Mau kamu bawa kemana papi?" Tanya Elsa panik ketika beberapa perawat mendorong brankar Bian.
"Nggak usah acting. Nggak akan menang AMI award juga."Kata Nia sambil mencibir Elsa.
"Kamu tidak punya hak bawa papi, mami sama aku yang lebih berhak." Kata Elsa marah dan bermaksud menampar Nia, tapi segera ditepis oleh Sean yang dari tadi sudah datang.
__ADS_1
"Thanks Sean." Kata Nia sambil tersenyum, lalu mengisyaratkan dokter dan perawat untuk segera membawa Bian pergi.
"Kamu lebih tahu kalau aku lebih berhak terhadap papa, selesai aku urus papa, aku akan perhitungkan semuanya." Kata Nia lalu pergi sambil menyenggol bahu Elsa, yang langsung berteriak kesal.