Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Mantan


__ADS_3

"Mbak, keluarin aku dari rumah sakit dong." Kata Nia kepada Marco yang membuat Marco heran.


"Tinggal keluar aja." Jawab Marco sambil memakan buah anggur yang tadi dibawanya.


"Dari kemaren tuh, aku lihat mbak Rani." Terang Nia.


"Rani? Asistennya Reyhantu?" Tanya Marco.


"Iya. Mbak kan tahu. Mas Rey pasti nyuruh mbak Rani ngawasin aku. Aku mau nenangin diri, menjaga anak-anak aku. Soalnya aku lihat, papa tuh uda mulai baikan. Jadi rencananya aku nggak mau ribet dengan urusan kak Els dan Mas Rey. Toh udah pisah ini kan." Jelas Nia.


"Lo yakin, mau sendirian aja. Lo bisa ikut gue kalau mau." Tawar Marco.


"Nggak sendiri juga sih. Sebenarnya udah hampir dua bulan ini aku tuh tinggal di salah satu desa. Aku mau bangun masyarakat di desa itu. Prosesnya udah jalan sih. Di sana aku tinggal sama seorang nenek dan cucu perempuannya. Mereka selama ini jagain aku dengan baik. Kalau disini dan mas Rey tahu keberadaan aku, yang ada ntar malah ngerecokin aku. Mbak tahukan bagaimana sikap dominannya mas Rey. Aku tuh nggak mau stress. Aku udah ikhlasin semuanya kok." Jelas Nia panjang lebar.


"Gue bantu, dengan syarat lo harus kasi tau gue dan selalu ngabarin gue tentang keberadaan lo. Ah.. nggak sabar rasanya lihat kecambah karya lo dan Reyhantu." Kata Marco senang.


"Ini anak aku. Jangan panggil kecambah dong mbak. Berasa toge anak aku." Kata Nia agak kesal karena Marco selalu memanggil calon anak Nia kecambah.


"Jangan marah. Gue bercanda. Gue keluar dulu. Ntar gue pikirin gimana cara ngeluarin lo, tanpa sepengetahuan Reyhantu." Kata Marco lalu pergi meninggalkan Nia.


"Bagaimana kondisi istri saya?" Tanya Reyhan kepada dokter kandungan perempuan yang khusus merawat Nia.


"Nyonya baik-baik saja. Hanya HBnya yang rendah. Itu biasa di kondisi ibu hamil. Kami akan memberikan perawatan yang terbaik buat nyonya." Terang dokter dengan nametag di dada kirinya Anye.


Setelah memberi penjelasan kepada Reyhan, dokter Anye pergi meninggalkan ruangan pimpinan rumah sakit yang dipinjam Rethan untuk berbicara dengan doter Anye, karena Reyhan tidak mau ada yang tahu kalau Reyhan masih memperhatikan Nia.


Sebenarnya Reyhan sangat bahagia dengan kehamilan Nia, tapi kembali Reyhan harus menjaga Nia dan calon anak mereka dengan berakting seolah anak yang dikandung Nia bukan anaknya.


Reyhan tidak mau bertindak gegabah, karena Elsa bisa membahayakan Nia dan calon anak mereka.


Nia yang bosan harus sendirian di kamar rawatnya, memutuskan untuk menelpon Eis, menanyakan kabar Desa Sumber Sari dan keadaan usaha mereka.


Nia sebenarnya sudah tidak sabar untuk kembali ke Desa Sumber Sari, tapi Nia tidak mau ada orang yang dikenalnya mengetahui keberadaannya kecuali Marco.


Sore itu Marco datang mengunjungi Nia bersama beberapa orang teman modelnya. Bahkan Marco sengaja mencari yang posturnya mirip dengan Nia, agar mudah mengeluarkan Nia tanpa sepengetahuan Rey dan anak buahnya.


"Lo yakin baik-baik aja?, nggak masalah ntar sama duo kecambah kesayangan gue." Kata Marco meyakinkan kembali, kalau tindakannya ini tidak akan membahayakan Nia, karena kalau Nia dalam bahaya, bisa dihilangkan Marco dari muka bumi sama si Reyhan.

__ADS_1


"Insya Allah kak. Aku baik-baik aja. Kemaren pingsan karena capek, lelah hati dan pikiran. Sekarang aku nggak mau mikiran yang lain, selain aku dan anak-anak aku." Kata Nia meyakinkan Marco.


Marco yang yakin kalau Nia akan baik-baik saja, menyuruh Nia untuk bertukar pakaian dengan salah satu teman model yang dibawanya.


Selesai berganti pakaian, mereka segera keluar dari ruangan Nia sambil bercanda dan mengobrol, supayabtidak ketahuan kalau Nia keluar dari rumah sakit.


Penjagaan pertama berhasil mereka lewati, yaitu Leo dan beberapa orang temannya yang memang diperintahkan Rey menjaga pintu luar.


Tapi pada saat menuju parkiran, rombongan Marco bertemu dengan Rani yang baru saja datang ntah dari mana.


"Tuan Marco mengunjungi Non" Tanya Rani basa basi karena bagaimanapun Rani pernah beberapa kali bertemu dengan Marco.


"Iya. Gue abis pemotretan disekitar sini, jadinya ya udah sekalian gue kunjungi Nia." Jelas Marco yang membuat Rani heran karena Marco membawa beberapa orang model untuk mengunjungi Nia.


"Mereka juga teman Nia waktu pemotretan dulu." Jelas Marco lagi ketika melihat Rani mengerutkan keningnya, merasa aneh melihat rombongan model yang dibawa Marco.


Rani yang punya intuisi bagus, dan pernah cukup lama menjaga Nia, mulai curiga kalau salah satu model yang tidak ingin menatapnya adalah Nia.


"Nona mau kemana?" Tanya Rani pada salah seorang model yang merupakan Nia. Hal itu tentu saja membuat Marco dan Nia panik.


Marco menahan tangan Rani yang berusaha mencekal tangan Nia.


Rani segera melepaskan pegangan Marco dan ingin mengejar Nia, tapi Marco berusaha menahan Rani sekuat yang dia bisa.


Karena kesal dan takut Nia hilang, Rani akhirnya membanting Marco agar Marco tidak menghalanginya.


Nia yang melihat Rani mengejarnya, segera masuk ke dalam mobil yang akan melaju pergi.


"Tolong saya please." Kata Nia panik, sambil melihat arah kaca spion mobil.


Mobil yang dinaiki Nia, segera melaju meninggalkan rumah sakit. Setelah cukup jauh dan melihat tidak ada yang mengejar, Nia baru bisa bernafas lega.


"Terima kasih." Kata Nia sambil menatap orang yang sedang mengemudi mobil, lalu tersenyum ke arah Nia.


"Captain Al?!" Kata Nia terkejut karena yang membantunya kabur adalah Alvaro.


"Kenapa akhir-akhir ini kita ketemu terus ya?" Tanya Nia heran.

__ADS_1


"Jodoh kali." Celetuk Alvaro.


"Iya jodoh jadi penyelamat aku. Terima kasih ya Capt buat bantuannya." Kata Nia.


"Its ok. Kamu juga sering bantuin aku kok." Terang Alvaro yang membuat Nia heran.


"Kapan aku bantuin Captain?" Tanya Nia heran.


"Ada deh. Ntar kamu juga tahu. Btw ini kita mau fkemana?" Tanya Alvaro.


"Antarin aku ke terminal kalau bisa. Tapi kalau nggak bisa juga nggak apa. Ntar aku pakai taksi aja." Terang Nia.


"Kamu mau balik lagi ke Desa Sumber Sari?" Tanya Alvaro.


"Kok Captain tempe?" Kata Nia yang mulai kumat jahilnya.


"Tahu Ni." Kata Alvaro membenarkan


"Sama-sama kedelai ini." Protes Nia karena Alvaro membenarkan katanya.


"Iya terserah bumil deh. Aku kan waktu itu yang nawarin kamu ke kota B naik truk tentara." Jawab Alvaro.


"Oh iya. Amnesia aku." Kata Nia sambil memukul keningnya pelan.


"Kalau kamu mau balik ke Desa sumber Sari, besok aja ikut aku, aku mau balik tugas di Desa sebelahnya. Kamu aman kalau pergi bareng aku. Tapi kalau kamu pergi pakai transportasi umum, aku yakin, suami kamu yang pengusaha terkenal tajir melintir itu pasti menjaga perbatasan dan terminal." Terang Alvaro.


"Pengusaha terkenal tajir melintir apaan?" Tanya Nia heran.


"Siapa sih yang tidak kenal dengan Reyhan Ahmadinedja, pebisnis muda yang sangat sukses, yang mana hampir semua sektor binis penting di negarabini dikuasaiboleh keluarga Ahmadinedja." Terang Alvaro yang baru tahu kalau keluarga mantan suaminya sangat kaya dan terkenal.


"Serius?" Tanya Nia lagi.


"Dua rius. Kok kamu nggak tahu suami kamu dan latar belakang keluarganya. Emang kamu nikah sudah berapa lama?" Tanya Alvaro heran.


"Nikah hampir 3 tahun, kalau tidak ada masalah." Kata Nia dengan wajah sedih.


"Waw, nggak berubah kamu. hampir 3 tahun nikah, nggak tahu apa-apa tentang suaminya. Kurangi sifat nggak peduli kamu Sasa." Kata Alvaro yang membuat Nia menatap Alvaro lekat-lekat, karena panggilannya kepada Nia.

__ADS_1


Hanya satu orang yang memanggilnya Sasa, yaitu anak laki-laki hitam gendut, yang diakui Nia sebagai pacarnya sewaktu di sekolah dasar karena ingin menghindari tatapan tidak suka fans berat Sean, dan ingin melindungi anak laki-laki itu dari bulian teman-teman mereka.


"Ucup?! lo ucup, A Yusuf Putra Wilman? Mantan pacar gue waktu SD? Ini beneran lo?" Tanya Nia tidak percaya, karena Alvaro adalah pacar-pacaran Nia sewaktu SD, karena tidak ingin di ganggu fans Sean, karena Nia dekat dengan Sean, dan mau mebantu Alvaro yang selalu dibuli karena badannya yang bulat dan kulitnya yang gelap.


__ADS_2