
Selesai sholat magrib dan makan malam, aku membicarakan rencananya untuk membawa mami ke Desa Sumber Sari biar nggak kesepian, dan punya banyak aktifitas yang bisa dilakukan di Desa sumber Sari.
Dengan banyak pertimbangan akhirnya Ucup, pria yamg dulu aku akui sebagai pacar untuk melindungi diri ku dari fans Sean dan melindungi dirinya dari bulian teman-temannya, karena badannya yang bulat, kulit yang gelap, penakut dan anak mami banget, menyetujui maminya ikut ke Desa Sumber Sari menemani aku.
Teh sari memutuskan juga ikut, karena sudah terbiasa bersama mami. Alasan sih, aku tahu banget, kalau teh Sari suka dengan ucup yang sekarang kelihatan gagah dengan postur tubuh dan kulitnya eksotis.
Pria yang beranam lengkap Alvaro Yusuf Putra Wilman yang aku baru tahu, kalau A itu singkatan dari Alvaro, karena dulu dia dipangil Yusuf, dan aku rubah menjadi Ucup.
Dulu aku bertemu dengan Yusuf sewaktu aku kelas 4 SD dan Yusuf berada di kelas VIII, dimana di sekolah kami dulu, dari TK sampai SMA berada di satu komplek yang sama.
Aku melihat Yusuf sedang di jahili teman-temanya dekat gudang belakang sekolah. Mereka mengikat Yusuf di pohon rambutan yang banyak semutnya. Aku yang menghindari fans beratnya Sean, lebih suka menghabiskan waktu di taman dekat gudang, karena memang sepi.
Aku yang belajar bela diri bersama Sean dari kecil, dan sangat tidak suka melihat orang yang ditindas, memutuskan untuk membantunya.
"Wah, kakak semua aku laporkan ke bapak kepala komite loh." Kata Ku yang berdiri di belakang teman Yusuf yang berjumlah 3 orang, sedang mengejek Yusuf karena menangis dan ketakutan.
"Cih, anak kecil sok sok ikut campur. Kalau berani kamu ngelapor, kamu akan bernasip sama seperti dia" Kata salah satu dari mereka yang bernama Andre, dan mencoba mendorong ku, namun segera aku menangkap tangannya dan mendorongnya hingga terjatuh.
"Wah... ada anak kecil, jelek lagi sok-sokan jadi pahlawan." Kata temannya yang lain yang bernama Aldo, dan mencoba untuk memukulku, namun segera aku tepis dan dia bernasip sama dengan Andre.
"Sudah jangan ganggu dia lagi. Aku ingat, dia ini orang yang selalu bersama Sean." Kata Temannya yang sadar aku siapa, dan ternyata pengaruh Sean memang sebesar itu, karena sekolah ini milik keluarga Sean.
"Ingat ya, jangan ganggu dia lagi. Dia ini teman dekat aku. Kalau kalian berani ganggu dia, hadapi dulu aku." Kata ku sambil melepaskan ikatan Yusuf.
"Terima kasih." Ucapnya sambil menyeka sisa air mata di pipinya.
Sejak hari itu sewaktu jam istirahat atau ketika tidak bersama Sean, aku selaly bersama Yusuf, bahkan sering juga ikut ke rumahnya, sehingga aku mengenal mami dan papinya yang memperlakukan aku dengan sangat baik.
Hampir satu tahun kebersamaan aku dengan Yusuf. Namun sewaktu tahun ajaran baru, aku tidak menemukan Yusuf, bahkan rumah mereka dulu sudah ditempati orang lain. Yusuf seperti hilang ditelan bumi, hal ini yang menyebabkan aku tidak ingat kalau dulu dengan konyolnya mengakui Yusuf teman dekat ku.
Setelah memutuskan untuk pergi, mami dan Sari mempersiapkan keperluan yang akan dibawa ke Desa Sumber Sari.
__ADS_1
Nia yang merasa cepat lelah, memutuskan untuk izin istirahat duluan setelah sholat isya.
"Lo istirahat di kamar gue aja. Ntar gue bisa di ruang tamu." Kata Yusuf ketika aku izin untuk istirahat duluan.
"Ok. Maaf ya mi, Sa istirahat duluan." Kata ku pamit kepada mami dan segera menuju kamar Yusuf untuk istirahat.
Suara adzan subuh dari hp, membangunkan tidur ku yang nyenyak, dan aku bersiap-siap untuk sholat subuh berjamaah bersama mami dan Sari, karena Yusuf sholat di mesjid yang tidak jauh dari rumah.
"Gimana packingnya mi?" Tanya ku begitu selesai sholat, dzikir dan doa.
"Nggak banyak yang mami bawa, jadi ya sudah siap packingnya." Jelas mami
Selesai sholat aku dan mami memutuskan untuk memasak sarapan, sedangkan teh Sari membersihkan rumah.
"Ucup masih senang makan sandwich tuna mayo untuk sarapan mi?" tanya ku ketika mengingat kalau setiap hari dulu Yusuf selalu membawa bekal sandwich tuna mayo.
"Masih, bahkan mami harus nyetok isiannya, jadi nanti disimpan di kulkas, pas mau di makan, dipanasin sebentat di microwave."Jelas mami.
"Hayo... lo lagi rumpiin gue sama mami?" Tanya Yusuf yang baru pulang dati mesjid, dan kelihatan makin cakep dengan sarung dan koko biru mudanya.
"Alasan. Gue dengar dati tadi tau, lo bilang, Ucup masih senang makan sandwich tuna mayo untuk sarapan mi?" Kata Yusuf menirukan gaya bicara ku, yang membuat aku menimpuknya dengan kain lap, karena gaya bicara ku jadi lebai versi nya Yusuf.
"Kualat lo, lempar-lempar gue. Lagian ni ya, lo panggil gua ucup ucup, nama gue Yusuf, terus lo seharusnya nggak boleh manggil gue nama. Kualat lo sama yang lebih tua." Protes Yusuf.
"Lo amnesia?, kan dulu lo yang nggak mau gue panggil Aa'?" protesku, karena dulu sewaktu aku menolong Yusuf, dia protes dan dengan ketusnya bilang "Jangan panggil aa' karena aku bukan kakak kamu", Jadi ya kebiasaan lah panggil nama doang tanpa embel-embel senioritas.
"Itukan dulu. Pokoknya sekarang lo harus panggil gue A' Yusuf. Ok?" Katanya mencoba bersepakat dengan ku.
"Ok. Deal." Kata ku lalu membentuk jari tangan 👌👍, dan langsung malah A' Yusuf menunjukkan jari kelingking.
"Yas. Lo kalah." Katanya bahagia sambil tertawa dan menuju kamarnya.
__ADS_1
Sableng, dia kira lagi main suit jari aku jempol dia kelingking, terus dia menang?
Mami hanya geleng-geleng kepala melihat interaksi aku dengan A' Yusuf, sambil mempersiapkan menu sandich mayo kesukaan anaknya, hang aku juga suka, karena rasanya seperti ada asin-asinnya gitu. hehehe...
Selesai sarapan pagi, A' Yusuf berangkat ke batalyonnya karena akan ada upacara pelepasan, karena teamnya yang terdiri sekitat 15 orang akan berada di desa Sumber Berkah melakukan kegiatan sosial selama sebulan.
Waktu sarapan sudah diputuskan kalau mami dan teh Sari akan diantar supir keluarga A' Yusuf, sementara aku naik mobil tentara. Sempat protes sih, karena aku nverasa kurang nyaman berada dilingkungan yang banyak prianya.
"Tapi kan kita nggak tahu ada pemeriksaan dimana aja. Ntar repot kalau harus naik turun gonta ganti kendaraan pas mendekati perbatasan." Terang A' Yusuf masuk akal, karena aku juga yakin kalau Mas Reyhan pasti akan menggunakan semua su.ber dayanya untuk menemukan aku.
Sekitar jam 8 pagi, aku, mami dan teh Sari menuju ketempat A' Yusuf, karena kami janjian ketemu di sana.
Aku yang tidak membawa banyak pakaian, dan perlengkapan yang biasa ku pakai karena buru-buru, terpaksa tampil apa adanya. Kebetulan maaih ada celana sebetis yang masih bersih, dan aku padankan dengan kaos kebesaran milik A' Yusuf. Hodie besar milik A' Yusuf juga aku kenakan, sehingga aku bisa sedikit menutupi kepala dan wajah ku dengan topi hodie yang aku kenakan.
"Kok serem gini kamu Sa, hitam-hitam. Dan ini kenapa ditutup kepalanya?" Tanya mami ketika melihat penampilan ku sewaktu keluar dari kamar A' Yusuf.
"Yang nampak ini mi, Sa sabotase kaos sama hodie A' Ucup." Kata ku sambil cekikikan.
"Kamu ini Sa, dari dulu hoby pakai bajunya Yusuf." Kata mami yang masih ingat karena setiap datang, pulangnya sore habis mandi, aku pasti pakai kaos A' Yusuf.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya truk tentara yang membawa rombongan A' Yusuf kelihatan. Mereka berhenti di belakang mobil yang tadi membawa aku, mami dan teh Sari.
A' Yusuf melihat aku dari atas sambai bawah, kemudian hanya geleng-geleng kepala, karena dia tahu betul atasan yang aku pakai semuanya milik A' Yusuf. Biar A' Yusuf tidak marah, aku hanya bisa nyengir memperlihatkan gigi ku yang alhamdulillah berbaris dengan rapi.
"Kebiasaannya nggak hilang. hoby bener pakai baju gue. Yakin kamu mau seperti ini?, nggak pengap?" Tanya A' Yusuf.
"Engap sih, tapi mau gimana lagi, ntar yang ada teman-teman Aa' tersepona lihat aku." Jawab ku yang berusaha merubah gaya bahasa, karena nggak mungkin tetap pakai lo gue sementara A' Yusuf lebih senior dibandingkan aku, dan aku juga harus menjaga wibawanya di depan teman-temannya.
"Terpesona. Dih ge er bener lo." Kata A' Yusuf merendahkan, dan aku paling tidak suka ketika ada yang merendahkan aku, kecuali untuk menjaga perdamaian.
Aku melepaskan hodie yang dari tadi aku kenakan, kemudian melemparnya kepada A' Yusuf. lalu mengangkat dan mengikat asal rambut ku tinggi-tinggi, dan membiarkan beberap anak rambut yang tidak terikat.
__ADS_1
"Ok, ayok berangkat." Kata ku segera menuju truk tentara, dan benar saja, teman-teman A' Yusuf semuanya memandang ku tanpa berkedip, bukannya sombong sih, tapi perpaduan papa Bian dan Ibuk itu membuat aku kelihatan berbeda banget, ditambah mata emerald yang jarang mereka lihat di negara I.
Melihat semua teman-temannya memandang ku tidak berkedip, membuat A' Yusuf gerah sendiri, dan akhirnya menutup kepala ku dengan topi hodie yang tadi aku kembalikan sama A' Yusuf, dan memelototi teman-temannya agar mereka tida lagi memandang aku.