
"Duduk!" Kata mas Rey setengah membentak yang membuat aku takut.
Sebenarnya mas Rey sangat baik dan lembut, tapi jika sedang marah, dia akan menjadi sangat kasar sekali.
"Kamu pasti tahu kan kita akan membicarakan apa?" Tanya mas Rey dengan tatapan marahnya.
"Nggak tahu." Kata ku yang pura-pura tidak tahu dan tetap berbicara semanis mungkin. Siapa sih yang tidak akan luluh dengan wanita cantik seperti aku?.
"Kenapa kamu bisa urus perceraian mas dengan Nia?, bukankah dari awal kita udah sepakat, kalau mas nggak akan pernah ceraikan Nia. Tapi kamu kenapa berani-beraninya mengurus perceraian mas dan Nia?" Tanya mas Reyhan marah.
"Maafkan Els mas. Els maunya Els satu-satunya istri mas. Mas kan tahu kalau Els nggak suka punya Els jadi punya orang lain juga." Kata ku dengan air mata yang mengalir deras, agar mas Reyhan simpati dan tidak marah dengan ku.
"Tapi mas nikahin kamu hanya agar kamu semangat untuk kesembuhan kamu. Bagaimanapun mas itu cintanya sama Nia Els. Sejak kamu meninggalkan pernikahan kita, sudah tidak ada rasa cinta mas lagi sama kamu. Seharusnya kamu ngerti itu Els." Ucap mas Reyhan lagi masih dengan kemarahannya.
Biar mas Reyhan nggak marah terus, aku memutuskan untuk pura-pura pingsan. Dan benar saja, mas Reyhan langsung panik, dan membopongku ke kamar.
Aku mendengar mas Reyhan menghubungi dokter yang biasa merawat ku, dokter Anye. Dokter Anye adalah sahabatku yang tidak mas Reyhan kenal, jadi mas Reyhan tidak curiga kalau aku bekerja sama dengan dokter Anye.
"Els.. Els.. bangun Els.. kamu nggak apa-apa kan?, apa kumat lagi?" Tanya Mas Reyhan panik. Terkadang suami ku itu ada oonnya, dah jelas lagi pingsan, eh malah ditanya, dan aku masih akting pura-pura pingsan, walau mas Rey beberapa kali menepuk nepuk pipiku yang lembut ini dengan pelan.
"Mbak Sari, minyak kayu putihnya mana?" Teriak mas Rey lagi, memanggil ART yang ada di rumah kami ini. Walau rumah ku ini tidak sebesar rumah utama yang Nia tinggali, tapi mas Reyhan memberikan fasilitas yang sama. Aku yang memang tidak suka menggunakan banyak ART, hanya memilih Sari yang menjaga rumah ini.
Sari juga merupakan orang kepercayaanku, yang selalu mendukung semua tindakan ku dan mami.
"Ini minyak kayu putihnya tuan. Nyonya Els kenapa lagi tuan?" Tanya Sari yang pura-pura panik, karena aku tahu betul kalau Sari pasti tahu kalau aku pura-pura pingsan.
"Nggak tahu. Mungkin penyakitnya kambuh." Kata mas Rey sambil memberikan minyak kayu putih yang terasa panas dihidungku, yang membuat mau tidak mau aku harus sadar.
"ehm.. Els kenapa mas?" Tanya ku seperti orang yang baru sadar.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar. Kamu tiba-tiba pingsan. Mas sudah hubungi dokter Anye." Kata Mas Reyhan.
"Els nggak apa-apa mas. Cuma sedikit pusing aja. Mas disini aja temanin Els." Kataku dengan manja, membuat mas Reyhan yang gampang panikan kalau urusan dengan perempuan, hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, dan masih tetap duduk di sampingku.
__ADS_1
Tidak lama, Sari datang bersama dokter Anye.
"Tuan Rey bisa keluar sebentar, saya periksa nona Elsa dulu." Kata Anye yang sengaja meminta mas Reyhan keuar, karena pasti ingin penjelasan dari ku.
"Baik dokter. Tolong periksa Els dengan baik." Kata Mas Reyhan lalu segera keluar.
"Lo kenapa?" Tanya Anye tanpa basa basi.
"Biasa. Laki gue marah gara-gara gue ketahuan pernah urus perceraiannya dengan sia anak sial." Jawab ku.
"Kok bisa ketahuan?" Tanya Anye heran, karena selama ini aku berhasil menutupinya dari mas Reyhan.
"Itu si anak sial balik kesini. Nggaj tahu gue mereka ketemu dimana. Bahkan papi dibawanya untuk berobat kenegara J."Jelasku.
"Lo serius?!" Tanya Anye lagi terkejut.
"Seriuslah. Mas Rey tu marah besar sama gue. Daripada Nia marah terus, ya gue pura-pura pingsan aja. Lo harus bilang ke mas Rey, kalau gue nggak boleh tertekan atau banyak mikir, karena sebetulnya kondisi gue belum pulih 100%, walaupun pengobatannya berhasil. Pokoknya lo harus buat, mas Rey nggak bisa marahin gue, dan cuma ngurusin gue." Tekanku pada Anye.
Setelah aku menjelaskan apa yang harus Anye lakukan, akhirnya Anye mengizinkan mas Rey masuk, dan menyampaikan apa yang tadi aku sampaikan.
Biarlah, untuk sementara aku bisa sedikit bernafas lega, dan mengatur rencana baru dengan mami, dan aku juga tidak perlu khawatir, karena mami berhasil memindahkan sebagian besar aset papi menjadi namaku, walau aku bukan putri biologisnya.
Author PoV
Nia yang sampai di salah satu rumah sakit terbaik yang ada dinegara J, segera mengurus segala seauatunya. Jasmine dan Sean membantu Nia, sehingga Nia tidak begitu repot sendiri.
"Buk, besok Nia akan kembali ke negara I. titip papa. Tolong kabari Nia setiap perkembangan kondisi papa. Jangan kasi izin orang lain untuk jenguk papa. Untuk dokter dan perawat, yang memeriksa juga harus dokter dan perawat yang ada dalam daftar. Nia nggak mau mereka mencelakai papa lagi." Jelas Nia panjang lebar kepada Jasmine.
"Jangan khawatir sayang. Serahkan papa kamu sama ibuk. Ibuk akan menjaganya dengan baik." Kata Jasmine sambil tersenyum, lalu memeluk Nia untuk menguatkannya.
Nia harus kembali ke negara I, karena urusannya belum selesai dengan Elsa dan Tamara. Mereka begitu kejam menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalan mereka, bahkan dalam emailnya Erik menyampaikan kalau kemungkinan besar kecelakaan Lily waktu itu bukan murni kecelakaan, tapi ada andil Tamara di dalamnya, karena tidak ingin Bian kembali kepada Lily.
"Michin, lo istirahat dulu. Lo harus istirahat, biar lo kuat ngurus semuanya. Jangan segan minta bantuan gue. Gue pasti akan bantu lo, sekuat yang gue bisa." Kata Sean.
__ADS_1
"Thanks. Lo memang sahabat terbaik gue dari dulu." Kata Nia sambil memukul pundak Sean pelan beberapa kali.
"Sahabat doang?, nggak naik status gitu?" Tanya Sean, yang membuat Nia mengerutkan keningya
"Mau naik status jadi apa lo?, abang gue?" Tanya Nia
"Bukan abang, tapi awalannya a juga." Kata Sean lagi, membuat kening Nia kembali berkerut.
"Udah jangan main tebak-tebakan, gue lagi males mikir." Kata Nia.
"Gue maunya jadi Ayang beib." Kata Sean sambil nyengir, langsung di geplak sama Nia kepala Sean.
"Sableng. Jangan bercanda ah. Gue lagi capek." Kata Nia, lalu bangkit dari duduknya untuk ke kantin, karena perutnya lapar minta diisi.
"Gue serius michin." Kata Sean sambil mengimbangi langkah Nia.
"Serius sudah bubar." Jawab Nia asal.
"Bukan serius band. Gue beneran jatuh cinta sama lo, dan gue baru sadar waktu lo nikah sama kak Rey." Kata Sean lagi.
"Sean please. Jangan bercanda lagi. Ada banyak hal yang mau gue urus. Terima kasih untuk semua bantuan lo. Tapi please, jangan ngomong soal perasaan sekarang sama gue." Kata Nia lalu duduk di salah satu bangku yang ada di kantin, dan mulai memesan makanan dengan menscan barcode yang ada di meja.
Nia dan Sean sama-sama menikmati makan malam mereka tanpa kata, karena Sean paham, ketika Nia sedang tidak ingin membahas sesuatu, maka lebih baik diam saja.
"Kita nggak pesankan buat tante Jasmine?" Tanya Sean ketika selesai makan.
"Ibuk bawa makanannya sendiri." Jawab Nia, lalu mereka pergi setelah selesai makan.
Nia, Sean dan Jasmine menunggu proses pemeriksaan Bian yang dilakukan oleh dokter yang Nia hubungi, dokter kepercayaannya, karena Nia tahu, Tamara dan Elsa tidak akan diam saja ketika Nia melakukan pengobatan terhadao Bian.
"Bagaimana kondisi papa saya dok?" Tanya Nia.
"Keadaan komsnya sungguh aneh. Tapi kami harus melakukan pemeriksaan darah terlebih dahulu dan kita tunggu hasilnya. Dilihat dari kondisi jantungnya baik-baik saja, hanya memang seperti ada yang menahannya untuk sadar. Kita akan melakukan yang terbaik." Jelas dokter Edward.
__ADS_1
"Dokter lakukan yang terbaik. Nanti ibu swya yang akan bertanggungjawab terhadap papa selama saya tidak ada. Terima kasih dokter." Kata Nia sambil tersenyum tulus ke arah dokter Edward, yang merupakan dokter senior terbaik dirumah sakit yang Nia pilih.
"Kamu istirahat dulu sayang. Kita ke hotel saja. Tante sudah booking dua kamar." Kata Jasmine, karena di rumah sakit negara J, tidak ada keluarga pasien yang menjaga di ruanh ICU tempat Bian di rawat, karena keluarga pasien bisa menginap di hotel yang bersebelahan dengan rumah sakit.