
"Mantan? Memang ada kata putus ya?" Tanya Alvaro tidak suka Nia menyebutnya mantan.
"Iyalah mantan, lo ngilang gitu aja ngalah-ngalahin bang toyib yang nggak pulang tiga kali lebaran, nah elo, udah berapa puluh tahun ninggalin gue." Kata Nia yang mulai jahil dengan dramanya.
"Kebiasaan lo dari dulu nggak ilang ya Sa, tetap jahil dan hoby jadi artis." Kata Alvaro sambil mengacak rambut Nia seperti yang dulu suka dilakukannya.
"Lo hutang cerita yang banyak sama gue. Btw kok lo tahu ini gue?" Tanya Nia heran.
"Ya elah. Emang siapa lagi yang kurang kerjaan nempelin tanda hitam di pipi kanan, terus pakai kacamata, eh salah kaca muka segede gaban selain elo. Kan dulu kita pasangan ugly and the beast." Jelas Alvaro sambil tertawa.
"Iya juga ya." Kata Nia yang ikutan tertawa.
"Gue kangen banget tau sama lo. Gue cariin lo waktu gue selesai sekolah, tapi gue nggak nemuin lo." kata Alvaro sambil sesekali memandang Nia senang, karena berhasil melihat Nia, seperti Nia yang dulu dikenalnya. Bukan Nia yang jaim seperti beberapa waktu lalu ditemuinya.
"Lo kurang usaha. Btw any way busway ya, lo kok berubah banget sih. kenapa beast gue jadi handsome begini?" Tanya Nia antusias.
"Ntar gue jelasin. Mami pasti senang jumpa dengan lo." Kata Alvaro yang berhenti dihalaman sebuah rumah sederhana dengan halaman dan taman bunga yang luas.
"Mami ada di sini?" Tanya Nia tidak percaya.
"Iya, dan mami pasti nggak nyangka kalau ini lo" Kata Alvaro karena penampilan Nia waktu kabur dari rumah sakit ala modelnya Marco yang cantik-cantik.
"Atau gue harus berubah jadi Sasa yang mami kenal?" Tanya Nia sebelum turun.
"Nggak perlu. Gue suka lo yang seperti ini." Kata Alvaro lalu turun dari mobilnya begitupun Nia.
Assalamualaikum Wa Rohmatullahi Wa Barakatuh. Mi Yusuf pulang." Kata Alfaro sewaktu melihat seorang wanita yang sedang menyirami bunga.
Wa'alaikumussalam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh. Bukannya udah dari kemaren kamu ada di kota ini, kenapa baru sekarang kerumah mami?" Kata mami Alfaro sambil menjewer kuping Alvaro, karena baru menemui maminya.
"Maaf mi. Yusuf harus ngurusin salah satu anggota yang terluka dan dirawat di rumah sakit." Jelas Alvaro.
__ADS_1
"Alasan. Mami tuh udah kamu duain, jangan ditigain juga dong." Protes mami Alvaro lagi.
"Ampun Mi. ini kuping Yusuf mau dipakai lama loh." Protesnya karena maminya masih menjewer kuping Alvaro.
"Biarin. Biar kamu itu ingat sama mami kamu ini. Nggak kasihan kamu lihat mami sendirian." Protes maminya lagi.
"Kan ada teh Nuri." Kata Alvaro sambil melepaskan tangan maminya yang menjewer kupingnya.
"Nuri beda atuh. Mami maunya ditemani mantu sama cucu." Kata mami Alvaro lagi.
Nia hanya memperhatikan interaksi Alvaro bersama maminya, membuat air mata tergenang di sudut matanya, karena Nia teringat dengan Ibunya.
Nia yang rencananya bersandar di mobil Alvaro, membuat alarmnya menyala, dan membuat Alvaro dan maminya langsung menatap mobil Alvaro yang terparkir.
"Masya Allah Suf, Kamu bawa mantu buat mami. Cantik bener." Kata mami Alvaro lalu segera berjalan ke arah Nia.
Nia segera menghapus air mata di sudut matanya dan juga berjalan menuju maminya Alvaro.
"Sasa? ini kamu sayang? Mantu idaman mami?" Kata mami Alvaro sambil memeluk Nia erat, menyalurkan rasa rindu karena sudah bertahun-tahun mereka tidak ketemu.
"Ini beneran kamu sayang?" Tanya mami Alvaro yang melepaskan pelukannya dan memandang Nia dari atas sampai bawah yang memang lagi di mode cantiknya, karena didandani Marco sebelum kabur.
"Iya mertua cantik. Makin cantik aja." Kata Nia sambil tersenyum.
"Wah, kamu cepat pengajuan pernikahsn Suf, abis itu mau tugas jauh di ujunh negeri juga nggak masalah, asalkan kamu jangan bawa mantu idaman mami." Kata mami Alvaro senang.
"Enak aja mami. Ya Yusuf bawa dong, kemanapun Yusuf tugas. Iya kali punya istri secantik ini mau ditinggalin." Protes Alvaro, yang pura-pura lupa kalau Nia sudah nikah.
"Ini, kenapa kita ngobrol disini ya?, ayok masuk sayang. Mami nggak sabar deh, pengen cerita banyak hal dengan mantu idaman mami." Kata mami Alvaro lalu mengajak Nia masuk ke rumahnya.
Nia memandang sekeliling rumah yang modelnya mirip dengan rumah masa kecil Alvaro.
__ADS_1
Nia sering bermain dan datang ke rumah Alvaro, karena tidak ingin menemani Sean ketika jalan dengan teman ceweknya.
Nia mengingat setiap moment yang terjadi, merasa bayang-bayang masa kecilnya ada di rumah itu.
Nia dan Alvaro sempat sangat dekat selama kurang lebih setahun. Nia yang nggak suka para penggemar Sean yang suka mengintimidasinya, memutuskan untuk mengatakan kalau Alvaro yang dulu di panggil Yusuf menjadi orang yang disukainya.
Yusuf yang dulu memiliki badan bulat dan berkulit gelap, membuat teman-temannya suka membully nya. Tapi semenjak bersama Nia, Alvaro kecil tidak ada yang berani jahatin. Karena dengan anak cowok, Nia akan menjadi galak sekali, bahkan tidak segan-segan memukul teman cowoknya yang menjahati Alvaro.
Keberanian Nia inilah yang menjadi motivasi Alvaro menjadi seorang tentara, agar Alvaro bisa seperti Nia, membela yang lemah.
"Mi, Yusuf balik lagi ke batalion, soalnya mau buat laporan buat besok. Mami baik-baik sama calon mantu." Kata Alvaro yang membuat Nia memelototkan matanya sebagai tanda protes, tapi justru alih-alih takut, Alvaro malah tertawa karena Nia terlihat semakin imut.
"Iya. Nanti sebelum magrib pulang ya. Mami siapkan makan malam spesial. Soalnya ada tamu spesial. Mantu idaman mami." Kata mami Alvaro sambil merangkul Nia dari samping dengan ekspresi bahagia, karena sudah lama Alvaro tidak melihat maminya bahagia, membuat Alvaro lama memandang kebersamaan maminya dan Nia.
"Iya mi, Yusuf usahakan jam 5 udah sampaj di rumah. Yusuf pergi dulu. Assalamualaikum Wa Rohmatullahi Wa Barakatuh." Kata Alvaro lalu pergi meninggalkan maminya yang sedang bahagia bertemu Nia. Ntah kebahagiaannya bisa lama atau tidak, kalau tahu Nia sudah menikah, bahkan sedang mengandung anak orang lain.
Setelah Alvaro pergi, Nia dan maminya Alvaro bertukar banyak cerita selama mereka tidak bertemu. Mereka bercerita sambil mempersiapkan makan malam, yang akan mereka santap bertiga, karena ternyata papinya Alvaro sudah meninggal beberapantahun yang lalu.
"Sa, kamu nikah aja sama Yusuf, terus habis itu temani mami. Sejak papi meninggal, teman mami hanya tanaman hias dan Sari." Kata mami Alvaro dengan wajah sedih.
"Maaf mi, Sa lupa bilang. Sa sudah pernah menikah. Sa harap mami dapat menantu yang baik, sayang mami dan ucup." Terang Nia tidak enak. Tapi bagaimanapun, Nia harus menyampaikan kepada mami Alvaro agar tidak menaruh harapan pada Nia.
"Kamu beneran sudah nikah?" Tanya mami Alvaro terkejut dan kecewa, karena selama ini Alvaro sangat berharap suatu hari nanti dia bertemu Nia cinta masa kecilnya, dan menikah dengan Nia.
"Iya mi. Tiga tahun yang lalu Sa menikah. Oh iya mi, mami masih suka buat sarikaya nggak sih?, Udah lama Sa nggak makan sarikaya buatan mami." Kata Nia berusaha mengalihkan perhatian mami Alvaronyang memang gampang dialihkan.
"Udah lama nggak buat sih. Soalnya cuma kamu, papi sama Yusuf yang suka makan. Mami nggak suka olahan telur manis. Taunya buat aja. Itupun dapat resep dari ibu mertua mami yang asli orang pulau S." Jelas mami Alvaro
"Kita buat sekarang yok mi, soalnya Sa pengen banget." Kata Nia sambil tersenyum berusaha merayu mami Alvaro membuat makanan sarikaya.
"Udah sore. Coba mami suruh Sari ke pasar beli bahannya ya." Kata mami Alvaro lalu segera ke dapur menemui asisten rumah tangganya.
__ADS_1