
Aku duduk di bagian paling dalam. Karena yang berada di truk tentara tidak terlalu banyak orang, aku punya tempat yang cukup lapang.
Seperti dugaan A' Yusuf, dibeberapa perbatasan ada pemeriksaan kendaraan, karena yang lewat adalah kendaraan tentara, maka hanya dibiarkan lewat saja, tanpa pemeriksaan.
Setelah 6 jam menempuh waktu yang melelahkan dan tidak ada pembicaraan selama di dalam truk membuat aku jadi bosan. Tadinya mau gangguin A' Yusuf, tapi nggak enak, nanti bisa salah sikap atau salah kata, A' Yusuf bisa malu.
Desa yang akan dituju A' Yusuf berbeda arah dengan desa Sumber Sari yang membuat kami harus berpisah di perbatasan desa. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit lagi, maka kami akan sampai di Desa Sumber Sari.
Aku kembali bersama mami dan Teh Sari di antar Mang Diman, supir keluarga A' Yusuf dari dulu.
"Mamang capek?" Tanya ku ketika melihat wajah tua mang Diman yang mulai lelah.
"Nggak Neng. Tapi yah maklum aja, sudah lama mamang tidak melakukan perjalanan jauh." Terang mang Diman.
"Ini perjalanannya sekitar 30 mrnit lagi. Sa aja deh yang gantiin mamang. Jalannya bagus kok." Kata ku meyakinkan mang Diman, agar gantian dengan aku untuk mebawa mobil.
"Jangan atuh neng. Den Yusuf teh pesan, mamang hatus antar ibuk, neng sama Sari dengan selamat sampau tujuan." Kata Mang Diman lagi.
"Mi, Sa aja ya yang bawa mobilnya. Kasian mang Diman lelah." Kata ku mencari pendukung.
"Ya sudah. Ganti aja Man. Kita ini sudah tua, jadi ya harus sadar kondisi." kata mami sambil tersenyum, yang membuat mang Diman mengalah.
Aku membawa mobil dengan kecepatan sedang, dan benar saja, mang Diman terlihat tertidur karena beliau kelelahan.
"Suasananya enak ya Sa?, mami bakal betah nih tinggal disini." Kata mami
"Iya mi, desanya enak banget. Walau lumayan jauh dan agak terpencil, tapi Sa senang dengan suasana alamnya. Tapi ya... kalau yang suka suasana kota, nggak betah tinggal disini mi." kata ku menanggapi perkataan mami.
Aku membawa mobil dengan kecepatan sedang, agar mami bisa menikmati pemandangan menuju desa Sumber Sari. Di sisi kiri kanan jalan terlihat persawahan, sapi, sungai kecil dan salah satu gunung terkenal yang ada di Provinsi B.
Sesampainya di halaman rumah Nik Kos, terlihat Eis dan Nik Kos yang sedang duduk di kursi depan rumah sambil tersenyum ketika melihat aku keluar dari mobil.
"Assalamualaikum Nik, Eis." Sapa ku lalu mencium punggung tangan nik Kos.
Aku memperkenalkan mami A' Yusuf dan Sari, serta minta tolong Eis untuk mengantarkan mereka melapor kepada pak RT, karena aku merasa sangat lelah. Untung saja dijalan kedua calon anak ku tidak rewel. Aku bahagia sekali, karena walaupun berpisah dari mas Reyhan, aku tidak akan kesepian, karena akan ada dua anak yang akan menemani ku. Aku akan membesarkan mereka seperti dulu ibuk membesarkan ku, sehingga, walaupun papa tidak ada dalam masa tumbuh kembang ku, tapi aku tidak pernah merasa kecil hati dan kekurangan kasih sayang. Ibuk juga tidak pernah mengajarkan aku untuk membenci papa, bahkan selalu menceritakan tentang papa, sehingga aku tetap mengenal papa.
Sebelum mami pergi, aku sudah pamit untuk istirahat, sehingga Eis yang akan membantu mami selama aku istirahat. Tubuh yang lelah membuat aku yang ketemu bantal langsung masuk ke alam mimpi.
🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲
Sudah seminggu aku berada di Desa Sumber Sari bersama mami A' Yusuf. Mami sangat senang tinggal di Desa Sumber Sari dan menghabiskan banyak waktu dengan berkebun dan memasak bersama nik Kos.
"Teteh nggak pengen makan yang aneh-aneh lagi?" Tanya Eis menyindir ku, karena beberapa hari yang lalu, aku meminta Eis untuk membakar ikan yang langsung Eis tangkap dari empang punya pak RT.
"Nggak. Hari ini teteh nggak mau nyusahin." Kata ku sambil nyengir, tapi tiba-tiba aku pengen makan martabak asin dengan tumisan daging manis yang banyak bawang bombai dan daun bawangnya, membuat aku reflek memukul kening ku pelan.
"Tuh kan, aroma-aroma nggak enak nih." Kata Eis yang menduga karena sikap ku yang tiba-tiba berubah.
"Hehe... tapi kali ini nggak nyuruh kamu ke empang kok." Kata ku sambil nyengir.
"Teteh lagi ngidam ya?" Tanya Eis lagi meyakinkan, karena aku tidak pernah memberitahukan tentang kehamilan ku.
"Iya. Ngidam baby twins." Kata ku sambil tersenyum dan mengusap perutku yang mulai sedikit membucit, tapi tidak terlalu kelihatan.
"Masya Allah. Beneran teh? apa tadi twins?!" Kata Eis bahagia dan hanya aku jawab dengan senyum dan anggukan.
"Hua... Eis senang banget. Ntar Eis yang jaga ya teh? Eis rela deh disuruh nyebur keempang lagi, asal baby twins senang." Kata Eis sambil mengusap perut ku, yang membuat aku tertawa karena merasa geli.
Aku meminta Eis ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang aku butuhkan, karena di desa ini tidak ada yang jualan martabak asin, apalagi kalau siang hari.
"Kamu mau kemana Eis?" Tanya mami A' Yusuf sewaktu melihat Eis siap-siap mau pergi.
"Itu, teh Sa mau buat martabak asin." Kata Eis lalu pergi dengan sepedanya setelah mengucapkan salam.
__ADS_1
"Kamu bisa buatnya Sa?" Tanya mami A' Yusuf.
"Nggak bisa mi. Ntar Sa trial and erorr aja." Kata ku sambil nyengir.
"Kebiasaan kamu. Ntar mami suruh Yusuf buat. Dia jago loh biat martabak asin. Waktu tugas di daerah mana, mami lupa, dia magang sama penjual martabak asin." Kata mami sambil teratawa mengingat tingkah putra semata wayangnya.
"Beneran mi?" Tanya ku senang, karena ternyata ada yang bisa buatkan martabak asin. Jadi aku tidak perlu harus coba-coba.
"Beneran lah. Sebentar mami telpon dulu." Kata mami lalu mengeluarkan hpnya dari saku bajunya.
"Mau nelpon siapa mi?" Tanya suara ngebas yang sangat familiar.
"Astagfirullah Yusuf! Kebiasaan deh, datang itu suka nggak ada suaranya. Panjang umur kamu. Mami tuh mau nelpon kamu. Itu Sasa pengen makan martabak asin." Kata mami sambil menunjuk aku dan aku hanya tersenyum manis agar A' Yusuf mau membuatkan martabak asin.
"Gampang. Bahannya ada?" Tanya A' Yusuf.
"Lagi dibeli sama Eis." Jawab ku senang karena A' Yusuf mau membuatkan martabak asin.
"Sabar ya sayang" Kata ku dalam hati sambil mengelus perutku, agar babynya tidak resah menunggu martabak asin.
Sewaktu Eis pulang A' Yusuf langsung mengeksekusi bahan-bahan membuat martabak dan butuh waktu yang cukup lama untuk menunggu adonan kulitnya sampai siap. Biar tidak bosen menunggunya, aku memutuskan untuk memeriksa email dan laporan dari perusahaan yang aku dirikan. Perusahaan kecil, tapi sudah bisa mempekerjakan beberapa orang hebat.
A' Yusuf yang dari awal tahu aku hamil, selalu menjaga ku seperti suami siaga. Memenuhi semua keinginan ku dan selalu membuat aku senang.
"Bumil itu harus bahagia. Biar babynya juga bahagia." Begitu jawabnya ketika aku bertanya kenapa A' Yusuf selalu buat aku bahagia.
Tidak terasa kehamilan ku memasuki usia 14 minggu, dan mulai kelihatan membesar. A' Yusuf, Eis dan mami baru saja mengantarkan aku untuk memeriksa kondisi kedua baby ku yang berkembang sesuai usianya, hanya berat badannya yang masih kecil.
"Dengar kata dokter tadi Sha. Kamu harus banyak makan terutama coklat, dan eskrim, biar berat babynya nambah. Makan makanan bergizi juga. Mami mau cucu mami nanti kalau lahir itu sehat dna berat badannya cukup." Kata mami sewaktu diperjalanan ketika mengantarkan aku periksa kandungan.
Nasehat mami membuat aku berusaha menahan air mata ku. Sejak hamil, aku jadi lebih cengeng dan sensitif, semua perhatian dan kasih sayang yang aku dapat justru dari orang lain, bukan dari orang-orang yang punya hubungan langsung dengan ku.
"Kata-kata mami salah ya Sa?. Maaf." Kata mami panik ketika melihat aku menyeka sudut mata ku.
"Sabtu ini kamu jadi wisuda Sa?" Tanya A' Yusuf agar aku dan mami tidak larut dalam kesedihan, dan mulai merubah kata sapaan sejak aku memanggilnya A' Yusuf, menghormati permintaan mami.
"Jadi A'. Makanya aku, mami sama Eis baliknya ntar hari minggu aja. Aa' balik duluan aja." Kata ku.
" Undangannya cukup?" Tanya A' Yusuf lagi.
"Kalau untuk mami sih cukup. Aku sudah hubungi panitianya, tambah satu undangan." Jelas ku.
"Kok satu sih Sa. Aa' mau ikut juga. Tega kamu mami sendirian." Kata A' Yusuf.
"Rame tau A'. Mami nggak sendirian. Kan banyak keluarga mahasiswa lain yang wisuda juga." kata ku yang sengaja membuat A' Yusuf agak kesal, karena aku hanya pesan undangan buat mami saja. Padahal aku sudah pesan undangan buat mami, A' Yusuf, juga Eis, nik Kos tidak bisa ikut, karena merasa lelah kalau perjalanan jauh.
"Aa' sudah ajukan cuti loh Sa. Tega amat lo." Rajuk A' Yusuf.
"Ya mau gimana lagi. Aa' nunggu di luar aja deh." Kata ku lagi mulai cekikikan.
"Kamu pasti udah pesankan. Mana tega kamu Aa' di luar." Kata A' Yusuf yang mulai senang.
"Iya." Jawab ku malas karena tidak bisa ngerjain A' Yusuf.
Aku sudah menghubungi mbak Monica untuk memesan kebaya yang akan aku gunakan dengan menyesuaikan kondisi ku saat ini. Perut yang sudah mulai membuncit mebuat mbak Monica membuatkan kebaya terusan, seperti gamis, yang bisa langsung aku pakai, tanpa harus ribet.
Mbak monica mengirimkan ke alamat rumah mami A' Yusuf, karena aku nggak tahu mau dikirim kemana kalau di kota P.
Rabu sore aku berangkat menuju kota P bersama mami dan Eis, karena A' Yusuf baru cuti hari Sabtu, jadi dia akan ambil penerbangan jumat sore.
Aku harus agak cepat datang karena akan melakukan GR untuk penampilan yang akan aku lakukan.
Aku memilih menginap di hotel tempat acara diadakan, agar aku tidak perlu repot-repot.
__ADS_1
"Mi, mami sama Eis mau jalan-jalan atau bagaimana?, soalnya Sa mau ke kampus, ada keperluan." Kata ku.
"Mami di hotel aja. Semalam kan udah jalan." Kata mami yang di iyakan oleh Eis dengan anggukan.
" Ok. Kalau begitu Sa pergi ya mi. Assalamualaikum." Kata ku sambil mencium punggung tangan mami.
Author PoV
Nia segera menuju tempat yang sudah diberitahukan oleh salah satu panitia acara. Karena penampilan yang dilakukan Nia adalah kejutan, Nia latihan sendiri tanpa bergabung dengan yang lain.
"Jadi kamu bisa Ni?" Tanya Buk Ratna.
" InsyaAllah bu. Tapi nanti tolong bantu backup. Tadi Nia udah sampaikan juga sama orang musiknya." Jelas Nia.
"Baru GR aja ibu sudah mewek gini. Bagaimana besok pa kamu tampil ya Ni." Kata Bu Ratna yang masih sibuk menyeka air matanya setelah melihat Nia tampil.
"Mudah-mudahan bisa menyentuh semua yang hadir." Kata Nia yang jadi ikutan terharu, karena ketika hamil Nia jadi lebih sensitif.
"Btw kamu lagi hamil Ni?" Tanya bu Ratna yang memperhatikan tubuh Nia.
"Alhamdulillah bu." Jawab Nia yang membuat bu Ratna mengerutkan dahinya karena setahunya Nia belum menikah.
"Saya suda nikah tiga tahun yang lalu bu." Kata Nia yang paham ketika bu Ratna memandangnya terkejut.
"Oh.. syukurlah." Kata Bu Ratna lega.
"Ada lagi yang mau dibahas bu?" Tanya Nia lagi.
"Nggak ada. Semoga lusa semuanya lancar ya."
"Aamiin." Jawab Nia lalu izin untuk kembali ke hotel.
Nia sengaja menggunakan hoody yang lumayan besar untuk menutupi tubuhnya dan menggunakan topinya untuk menutupi wajah dan kepalanya, karena Nia tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya.
Sejak pergi, Nia tidak bisa menghubungi papanya. Nomor yang biasa Nia telpon tidak aktif, sehingga Nia tidak tahu kabar tentang papanya. Tapi dari Marco Nia tahu kalau papanya baik-baik saja, tapi belum pulih seutuhnya.
Hari ini Nia bangun pagi-pagi sekali karena harus siap-siap untuk wisuda. Nia yang malas untuk dandan, tapi di paksa Marco, karena ini moment pertama Nia wisuda, karena waktu strata 1 Nia tidak ikut wisuda.
"Perfect. Lo seperti biasanya Ni. Cantik seperti tante Lily. Lo jangan sedih, Gue yakin tante Lily pasti sedang tersenyum bahagia melihat keberhasilan lo. Gue juga bangga tau. Ini kecambah kesayangan gue nggak nakal kan?" Tanya Marco sambil mengelus perut Nia yang sedikit membucit.
"Mereka baik banget." Kata Nia sambil terseyum miris karena berusaha menahan tangis mengingat ibunya.
"Dah, jangan sedih. Walau makeup gue anti badai, tapi gue nggak mau lihat lo sedih." Kata Marco sambil menjawil hidung Nia.
"Aye aye captain." Kata Nia sambil memberi hormat lalu tertawa.
Nia segera menuju kamar tempat mami dan Eis berada, karena Nia memang tidak terbiasa bersama dengan banyak orang.
"Masya Allah. Lo cantik banget Sa." Kata Alvaro begitu ketemu Nia ketemu di depan pintu kamar maminya.
"Biasa aja A'." Jawab Nia sambil nyengir.
"Masya Allah Sa, ini kamu?" Tanya mami Alvaro yang juga pangling melihat Nia.
"Bukan mi, Eis." jawab Nia bercanda.
"Eis disini. Teh Sasa. Masya Allah teh meni garelis pisan. Seperti barby." Kata Eis yang heboh melihat Nia.
"Udah ah. Yok, nanti telat. Mbak Monica ntar nyusul. Mau mandi dulu." Kata Nia lalu menggandeng lengan mami Alvaro berjalan menuju tempat acara.
Sesampainya ditempat acara, Nia dan Alvaro menjadi pusat perhatian karena hari itu Nia sangat cantik sekali di temani Alvaro yang tampan dan gagah.
"Nia"
__ADS_1