Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Eyang


__ADS_3

Raihan POV


Gue mengunjungi sahabat gue dari kecil yang bernama Marco, anak-anak yang lain biasa manggil Markonah, tapi dia lebih senang dipanggil Monica. Tidak ada salahnyakan membuat sahabat sekaligus calon sepupu ipar gue senang, maka gue juga memanggilnya Monica.


Kita bersekolah dari TK sampai Kuliah ditempat yang sama, bahkan kita lulus di tahun yang sama walau kita mengambil jurusan yang berbada.


Monica adalah orang yang paling dekat dan selalu ada kapanpun gue butuh dia, beda dengan dua sahabat gue yang lainnya, Andrean yang biasa disapa Dean dan Aldo yang biasa di sapa Al.


Dean merupakan sepupu jauh gue dari sebelah mami. Tapi tuh anak yang memang playboy cap jamur, selalu aja menghabiskan waktu dengan pacar-pacarnya. Beda banget dengan gue yang setia dengan satu orang, karena gue cinta mati dengan dia dan sebulan lagi sah untuk jadi istri gue.


Aldo merupakan seorang model international yang sering menjadi model di ajang fashion show di kancah international. Karena kesibukannya sudah dua tahun ini Al tinggal di New York, karena ia memang terikat dengan salah satu agenci terkenal di sana. Tapi sewaktu gue nikah nanti, Al janji akan menghadiri prnikahan gue. Nggak sabar kami berempat bisa kumpul bersama.


Calon istri gue mengikuti jejak Al, walaupun masih di taraf nasional, tapi Elsa sudah sangat terkenal, karena Els gue adalah model cantik yang sangat berbakat.


Back to topic. Gue agak kesal waktu tahu Monica ternyata berada di hotel yang sama dengan gue, tapi dia nggak nemuin gue. Akhirnya pagi-pagi sekali gue mutusin untuk menemui Monica di Vila yang merupakan milik keluarganya, yang lokasinya berada di depan hotel gue menginap.


"Lo udah bangun?" Tanya gue di telpon sama Monica.


"Iya."Jawabnya pendek karena kedengaran kalau Monica sedang mengunyah makanan.


"Gue masuk ya?" Tanya gue lagi.


"Masuk aja. pintu nggak dikunci kok. Gue lagi di ruang makan." Jawab Monica dan memutuskan sambungan telpon gue sepihak. Kebiasaan tuh anak, suka matiin telpon seenak jidatnya.


"Lo kok nggak bilang gue kalau lagi di sini?" tanya ku langsung tanpa basa basi, dan aku cukup terkejut ketika Monica dan seorang perempuan yang beberapa kali bertemu dengan gue dan selalu dengan kesan yang jelek.


Pertama gue ketemu dia di bandara karena gue salah ambil tas. Gue kira tas Elsa, ternyata itu tasnya. Dia sempat kesal karena gue memulangkan tasnya begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Terimakasih." Kata nya lalu pergi sambil meninggalkan gue dan Elsa. Cewek yang aneh, pikir gue waktu itu.


Waktu gue jalan-jalan ke alun-alun tempat orang jualan aneka jajanan, gue ketemu lagi sama tuh cewek cupu. Dia nabrak gue, dan langsung terduduk di tanah karena dia menabrak body gue yang tentu aja lebih besar dari bodynya.


"Aduh" Ucapnya sambil mengusap bagian tubuhnya yang terduduk di tanah. Gue yang emang cuek dan nggak suka mengurus hal-hal yang gue anggap nggak penting, pergi begitu saja, tapi gue sempat mendengar kalau tuh cewek cupu ngedumel karena gue ninggalin dia begitu aja.


Waktu gue ngadain acara keluarga untuk mengundang semua keluarga besar gue yang akan berpartisapasi dengan pernikahan gue bulan depan dengan Elsa, tuh cewek lagi-lagi nabrak gue. Tapi gue hampir saja tidak mengenalinya karena dia kelihatan sangat cantik dan imut, ditambah lagi setelah gue lihat dengan seksama, tuh cewek agak mirip dengan Elsa, perempuan yang sangat gue cintai.


"Ehem" gue berdehem supaya dia mundur dari pelukan gue, karena gue menarik tangannya, agar dia tidak jatuh waktu menabrak gue. Dia segera mundur dan sedikit menjauh dari gue. Tatapan matanya, MashAllah, iris mata terindah yang pernah gue lihat, iris emerald, dandanan dan gaun yang dikenakan, membuat perempuan yang biasanya gue lihat tidak menarik, tapi hari ini dia kelihatan begitu sangat cantik, maklum gue kan laki-laki normal yang pastinya suka dengan keindahan dan kecantikan perempuan, tapi walaupun dia cantik, Elsa tetap yang akan menjadi ratu satu-satunya di hati gue, walaupun gue sempat manarik sedikit sudut bibir gue, lalu pergi meninggalkan perempuan itu setelah bodyguard gue menanyakan kondisi gue.


Hari ini gue ketemu lagi dengan perempuan itu yang kembali ke penampilan cupunya, walaupun masih kelihatan imut. Perempuan itu meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan gue, yang aromanya benar-benar bisa menggugah selera makan gue


"Lo sakit gigi? diam-diam aja. Gue jamin ini nasi goreng enak banget. Nggak nyesal lo makan nasi goreng buatan Nia." Kata Monica alias Marco yang membuat gue segera menyendok sedikit nasi goreng yang dibilang Monica enak. Karena gue tahu benar kalau Monica seorang pickyeater. Jadi hanya makanan yang benar-benar enak yang mau dimakannya.


Begitu gue memasukkan nasi goreng buatan perempuan yang di sebut Monica bernama Nia, gue juga merasakan kalau nasi goreng itu enak, bahkan enak banget. Gue yang jarang makan makanan yang menurut gue nggak sehat seperti nasi goreng karena dibuat dari nasi semalam, dan nampak mengkilat karena dilapisi minyak, membuat gue nggak pernah mau makan nasi goreng.


Tapi berbeda sekali dengan nasi goreng yang ada di hadapan gue sekarang, nasi goreng dihadapan gue terlihat tidak berminyak, dan setiap kunyahan menghasilkan citarasa yang benar-benar memanjakan lidah. Gue baru tahu kalau nasi goreng itu benar-benar enak, karena ini adalah nasi goreng pertama yang pernah gue makan.


Lebai? Ya seperti itulah gue. Orang yang baru mengenal gue akan bilang gue orang yang angkuh, sombong, dingin, bahkan staf di perusahaan gue yang nggak suka dengan gue, memberi gue julukan kulkas, sangking dinginnya gue dengan mereka.


Bagaimana gue nggak angkuh, sombong dan dingin, kalau gue memang dibesarkan dengan cara seperti itu. Kedua orang tua gue adalah orang yang sangat berada dan memeiliki beberapa usaha besar dan sudah menggurita di negara I bahkan untuk kawasan benua A dan E.


Keluarga besar gue, mmm nggak terlalu besar sih, soalnya nggak tahu kenapa generasi orang tua gue atau saudaranya memiliki anak paling banyak hanya 2 itupun hanya Om Saka dan tante Rania saja. Kami adalah kelurga terpandang dan hidup bergelimangan harta. Walau terkesan sombong atau angkuh, tapi keluarga kami juga terkenal karena kedermawanan dan keramahan anggota keluarga gue yang lain. Sepertinya hanya gue saja yang terkesan tidak ramah, kecuali terhadap Elsa, perempuan yang sangat gue cintai.


๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿ’š๐Ÿงกโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธโ™ฅ๏ธ


Author POV


"Lo kok nggak datang ke acara gue semalam?" Tanya Raihan sambil mengunyah nasi gorengnya dengan perlahan sebanyak 33 kali.


"Gue sibuk lagi ada kerjaan, mepet banget. Soalnya hasilnya harus udah gue kirim minggu ini untuk ikut acara fashion week di N Y. Lagian gue kan keluarga pihak perempuan. Ngapain juga gue nimbrung di acara lo." Kata Monica lagi yang sudah selesai menghabiskan sepiring nasi gorengnya, dan segera meneguk air mineral yang ada di sebelah piring nasi gorengnya.


"Suka lupa gue, kalau lo sepupunya Els. Soalnya lo kan jarang banget interaksi sama Els. Btw lo kok nggak pakai Els sih buat pemotretan karya lo yang baru?" Tanya Raihan.


"Ck.. dasar tukang ngadu." Dumel Monica. Karena sebenarnya Elsa yang tahu kalau Monica akan memgadakan fashion show untuk rancangan terbarunya di kota NY, meminta Monica untuk menjadikannya model, agar wajah Elsa bisa terkenal juga dikalangan Internasional. Karena walaupun Elsa sudah bekerja keras mengandalkan beberapa koneksi, tetap saja Elsa belum bisa menembus dunia modeling internasional.


"Karakternya nggak cocok dengan Els." Jawab Monica, karena ia tahu kalau Raihan pasti akan menunggu jawabannya.


"Btw, model lo kemaren kok agak mirip Els ya?" Tanya Raihan lagi.


"Lo jumpa Nia waktu masih di hotel?" Tanya monica.


"Iya. Dia nabrak gue. Dan gue lihat, kok agak mirip banget dengan Els ya?" Tanya Raihan heran.


"Ya mirip lah. Satu bahan dasar." Jawab Monica.

__ADS_1


"Satu bahan dasar?" Beo Raihan.


"Nia itu anak Om Bian dengan tante Lily, istri pertama Om Bian, dan Nia itu adeknya Elsa. Jadi mereka punya papa yang sama walau berbeda ibu. Istri-istri om Bian cinta banget sama om Bian sepertinya. Sampai-sampai lebih dari 90 persen wajah anak-anaknya copy paste om Bian." Terang Monica panjang kali lebar.


"Kok gue baru tahu?. Els nggak pernah cerita sama gue kalau dia punya adek beda ibu?" Tanya Raihan lagi.


"Lo kayak polisi lagi intrograsi. Nanya mulu." Protes Monica.


"Iya kan elo sumber informasi gue. Lagian itu kan internal keluarga lo. Pantesan akhir-akhir ini Els kelihatan sedih, pasti perhatian om Bian tersita sama adeknya Els." Kata Raihan tidak suka.


"Ya nggak lah. Els aja yang manja banget, egois, mau menang sendiri." kata Monica kesal sendiri.


"Calon istri gue tu yang lo kata-katain. Els itu baik, imut, manja, ngegemesin." Kata Raihan membela Elsa.


"Dasar bucin." Kata Monica makin kesal.


"Biarin. Btw setelan gue sama Els buat akad sama resepsi sudah selesai?" Tanya Raihan, karena ia tidak mau berdebat dengan Monica yang sudah pasti Raihan akan kalah.


"Udah, lo bisa fitting lusa kalau mau nunggu gue. Soalnya gue besok sibuk banget." Terang Monica.


"Wah... lo emang sahabat terbaik gue." Kata Raihan senang.


Setelah mengahbiskan nasi gorengnya, Raihan pamit meninggalkan Monica karena Eyangnya mencari Raihan.


"Udah balik temannya mbak?" Tanya Nia yang sudah siap mandi dan tercium aroma segar greentea yang membuat Monica menikmati aroma yang ditimbulkan dari kedatangan Nia.


"Lo suka pakai parfume greentea? Merk apa? Segar bener." Tanya Monica.


"Parfume? Nggak suka pakai parfume. Sabun yang aku pakai emang aroma greentea. Masa sih masih ada aromanya?" Kata Nia sambil menciumi aromanya.


"Iya. Enak tau aromanya. Bagi gue ya sabunnya?" Tanya Monica.


"Biasa aja. Nggak ada aroma greentea. Ambil aja kalau mbak mau. Ada bawa cadangan aku." Kata Nia.


"Tadi lo nanya apa?" Tanya Monica.


"Teman mbak sudah pulang?" Tanya Nia ulang.


"Oh.., si Raihantu. Udah, di cariin eyang uti dia. Lo tahu kalau Rey itu calon Els?" Tanya Monica.


"Sumpah lo beberapa kali ketemu? Lo akrab dengan Els?" Tanya Monica heran.


"Ya nggak lah. Nggak sengaja ketemu mbak. Pertama kali ketemu tuh teman kakak salah ambil tas aku, dikiranya tas mbak Elsa." Jawab Nia.


"Gue kira Lo beneran di temuin Elsa sama Rey. Karena setahu gue Rey nggak pernah suka ketemu dengan perempuan. Dia itu cuma dekat sama Eyang uti, maminya terus si Els, cinta matinya Rey. Nggak kenal kata 'Cewek lain' dia kalau udah sama Els."Terang Monica.


"Jadi kita balik kapan?" Tanya Nia yang memang nggak tahu kapan jadwal kembali ke kota P.


"Besok penerbangan pagi. Anak-anak hari ini masih mau jalan-jalan." Jawab Monica.


"Lagi ngomongi apa? seru bener?" Tanya Ratih yang sudah mandi dan rapi.


"Ada deh. Mau tau aja lo." Jawab Monica santai.


"Wah.. nasi goreng." Kata ratih dengan mata yang berbinar karena melihat nasi goreng yang masih ada di atas kuali dekat kompor.


"Sebentar Nia pindahin dulu. Mau ditambahin telur ceplok?" Tanya Nia sambil memasukkan nasi goreng di kuali ke dalam mangkok kaca yang berukuran agak besar.


"Boleh deh. Sunny side up ya Ni. Terimakasih." Kata Ratih lalu duduk di hadapan Monica.


"Enak bener lo ya? Lo kira model gue tukang masak?" Kata Monica pura-pura protes.


"Lah ditawarin. Ya aku terima dong." Kata Ratih nggak perduli, karena ia tahu kalau Monica hanya pura-pura marah.


Nia meletakkan nasi goreng yang dalam mangkok besar ke atas meja. Ratih mengambil beberapa piring dan sendok dan juga meletakkannya di atas meja.


Nia segera menyelesaikan beberapa telur ceplok untuk karyawan Monica yang lain.


"Kamu hari ini mau ikut kita Ni?" Tanya Ratih.


"Nggak deh mbak. Nia mau ke rumah ibuk. Udah janji semalam." kata Nia sambil meletakkan piring yang penuh dengan telor ceplok, karena nia menyusun telor yang diletakkan rapi di atas piring.


"Wah... kalah chef bintang lima nih." Puji Ratih begitu melihat telor ceplok yang terlihat rapi, yang baru saja diletakkan Nia di meja makan.

__ADS_1


"Chef kaki lima yang benar. Nia jalan duluan ya. Assalamualaikum." Kata Nia lalu pergi setelah mengambil tas ransel yang digantungnya di salah satu kursi.


Jalan masuk ke Vila merupakan jalan khusus, sehingga tidak ada kendaraan umum yang lewat. Nia berjalan sekitar 10 menit menuju jalan besar.


Walaupun jalan besar, jalan sekitar vila merupakan jalanan sepi, karena jalan itu memang tidak dipergunakan untuk umum. Sewaktu berjalan Nia melihat sekitar 3 orang pria yang terlihat kotor dengan pakaian berantakan sedang mengelilingi perempuan tua yang kelihatan ketakutan sambil menarik-narik tas tangan yang dipegang perempuan tua itu.


"Lepasin!" Kata Nia sambil melepaskan tangan seorang pria yang menarik tas perempuan yang masih ketakutan dan berdiri di belakang Nia.


"Eleh eleh.. neng gelis. Galak bener." Kata seorang pria sambil berusaha menyentuh wajah Nia, yang langsung Nia tangkap dan pelintir, lalu di dorong Nia hingga terjatuh.


"Kurang ajar. Berani kamu sama kita!" Kata pria itu sambil bediri dan menunjukkan ekspresi marah dan bermaksud memegang Nia, tapi kembali tersungkur, karena Nia menendangnya.


"Kalian berdua kenapa diam saja. Hajar!" Kata pria yang tadi tersungkur.


Nia segera memasang kuda-kuda dan bersiap menyerang ketiga pria yang berusaha mengganggu perempuan tua tadi.


Kurang dari 5 menit, Nia berhasil menghajar ketiga pria itu babak belur, sehingga mereka memilih kabur meninggalkan Nia dan peremouan tua itu.


"Nenek nggak apa-apa?" Tanya Nia.


"Nggak apa-apa." Kata perempuan tua itu sambil tersenyum.


"Alhamdulillah. Nenek mau kemana? Biar Nis antar." Kata Nia.


"Eyang." Kata perempuan tua itu.


"hah?" Kata Nia bingung.


"Panggil saya Eyang, atau Yangti. Nama saya Ginatri" Kata perempuan tua itu.


"Oh. Ok Eyang. Eyang mau kemana?" Tanya Nia lagi.


"Eyang mau jalan-jalan. Udah susah-susah kabur, eh malah ketemu berandalan. Untung ada kamu cah ayu." Kata Eyang ramah.


"Kabur? Eyang di culik?" Tanya Nia panik, yang membuat eyang tertawa melihat Nia yang panik.


"Ya nggak mungkinlah eyang di culik. Kurang kerjaan penculiknya." Kata eyang yang masih tertawa dan membuat Nia lega.


"Terus kenapa eyang kabur?" Tanya Nia lagi.


"Ayok, eyang cerita sambil jalan. Kamu temanin eyang jalan-jalan hari ini ya. Please." Kata eyang sambil menunjukkan ekspresi memohon dengan wajah tuanya yang masih kelihatan cantik.


"Ok. Eyang mau jalan kemana? Tapi ntar Nia nggak dituduh penculikkan? bawa eyang kabur." Tanya Nia.


"Eyang pites yang berani bilang kamu culik eyang." Kata eyang sambil menirukan gaya memitas kutu.


Nia mendengarkan cerita eyang, kenapa bisa sampai kabur, yang membuat perjalanan mereka menjadi tidak terasa dan sudah sampai jalan utama, dimana banyak kendaraan umum beralalu lalang.


"Eyang yakin mau naik angkot?" Tanya Nia lagi memastikan, karena melihat gaya berpakaian eyang, yang walaupun casual, tapi Nia tahu kalau pakaian yang dikenakan eyang adalah pakaian mahal.


"Seru tau naik angkot. Eyang udah lama nggak naik angkot. Eyang mau ke gunung yang ada pemandian air panasnya." Kata eyang semangat.


"harus jalan kaki loh nanti eyang dari pemberhentian angkot." Kata Nia.


"Eyang kuat kok. Kalau nggak kuat kan ada kamu." Kata Eyang yang mulai tertawa jahil.


"Maksud eyang?" tanya Nia bingung.


"Iya kan ada kamu yang gendong eyang." Kata eyang sambil tertawa melihat ekspresi shock Nia.


"Becanda Ni. Eyang masih kuat kok, walau sudah tua begini." Kata eyang sambil menirukan gaya binaraga, yang membuat Nia tertawa.


"Ok. baiklah kalau begitu let's to the go. Let's go." Kata Nia bersemangat.


Nia dan eyang segera mencari angkot yang akan membawa mereka bertualang hari ini. Eyang sudah membayangkan bahwa hari ini ia akan bersenang-senang dengan Nia, sehingga wajah tuanya berseri karena bahagia.


Nia menyusun beberapa rencana perjalanan selama mereka di dalam angkot. Karena Nia tahu betul seluk beluk tempat yang akan mereka kunjungi. Karena di tempat itu tidak hanya ada pemandian air panas saja, tapi juga banyak aktivitas lain yang bisa mereka lakukan.


"Kita ke pemandiannya siang aja eyang. Pagi ini bagaimana kalau kita main ke kebun sayur dan buah, abis itu ke sawah, nah setelahnya baru kita ke pemandian sebelum makan siang. Abis makan kita main paintball, eh jangan main paintball, nanti eyang malah sakit pas kena tembak." Kata Nia yang mengurungkan niatnya bermain paintball.


"Enak aja kamu. Gini-gini eyang itu suka ngebolang. kalau main paintball mah gampang." protes eyang karena menganggap eyang wanita tua yang lemah.


"Ok. Ntar eyang jangan nangis ya?" Ledek Nia.

__ADS_1


"Nggak akan. Kamu ntar yang eyang buat nangis." Kata Eyang sambil tertawa, membuat orang,-orang yang berada di angkot memeperhatikan mereka, karena mengira keluarga bahagia dimana nenek dna cucu sednag jalan-jalan.


__ADS_2