Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Pengantin Pengganti


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Ghania Khanza Khaylee binti Bian Khaylee dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan berlian seberat 5 crat dibayar tunai."


"Bagaimana saksi? Sah?" Tanya penghulu.


"Sah...." Jawab para tamu bersamaan, sehingga Reyhan resmi menyandang status sebagai suami Nia.


Flash Back


"Hari ini Lo jadi ke rumah papa lo Chin?" Tanya Sean, yang sudah bersiap dengan setelan jasnya yang rapi sehingga Sean kelihatan sangat tampan.


"Ini gue mau ke tempat papa." Jawab Nia sambil menggunakan sepatu kets nya.


"What? Nggak salah lo? Ketempat bokap lo dan akan menghadiri pernikahan adek lo, dandanan lo santai amat begini?" Tanya Sean terkejut, karena Nia hanya menggulung rambutnya asal ke atas, menggunakan kacamata yang selalu kelihatan besar di wajah mungilnya, Kemeja berwarna maroon yang membuat kulitnya terlihat semakin putih, serta celana chino panjang di atas mata kaki dan sedikit di bawah betis.


"Iya gini aja. Rencananya gue cuma mau bantu-bantu aja. Nggak niat jadi keluarga penganten. Lagian gue nggak kenal sama keluarga besar papa, karena papa sibuk mengurus pernikahan kak Elsa yang katanya spektakuler, bahkan mengundang orang yang jabatannya paling tinggi di negara ini untuk hadir, jadi belum sempat ngenalin gue ke kelurga yang lain. Yang tau gue anak Bian Khaylee cuma mbak Monica doang." Jawab Nia panjang lebar.


"Ya udah, kalau begitu, lo jadi pihak pengantin laki-laki aja. Lo ikut sama gue." Kata Sean.


"Terus kak Aisyah mau lo kemanain?" Tanya Nia.


"Ya kita pergi bertiga." Jawab Sean.


"Ogah gue jadi nyamuk." Kata Nia lalu segera menyambar sling bagnya, dan pamit pada Sean karena transportasi online yang dipesannya sudah datang.


Sesampainya di rumah Bian yang ada di kota B, Nia segera masuk ke halaman rumah yang sangat luas, dan sudah di dekor sedemikian rupa. Walaupun acara akad nikah diadakan di salah satu ballroom hotel bintang 5 milik keluarga Reyhan, tapi Elsa mau kalau rumahnya tetap dihias sedemikian rupa.


"Assalamualaikum." Salam Nia yang membuat orang-orang yang sedang mengerubungi seseorang di lantai memandang ke arah Nia. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening, dan membuat perasaan Nia tidak nyaman, ditatap puluhan pasang mata, yang membuat Nia hanya bisa tersenyum ramah untuk mencairkan suasana, dan membuat orang-orang yang memandang Nia kembali ke alam sadarnya.


Seorang wanita yang rambutnya sudah memutih semua, tapi kelihatan masih cantik, datang menghampiri Nia.


"Kamu pasti anak Lily? Cucu ku." Kata wanita tua itu sambil memeluk Nia dengan air mata yang mengalir di wajah tuanya.


Nia membalas pelukan hangat wanita tua, yang baru saja menyebutnya cucu.


Wanita tua itu segera menarik tangan Nia untuk masuk kedalam rumah, dan mendatangi kerumunan.


Nia melihat Bian yang kepalanya sedang dipangku oleh seorang wanita yang kelihatan cantik mengenakan kebaya dan sanggul modern.


"Papa?!" ucap Nia terkejut karena melihat Bian tergeletak dilantai tidak sadarkan diri.


"Kamu harus membantu menyelamatkan nama baik keluarga kita." Kata seorang pria yang usianya tidak jauh berbeda dari Bian.


"Menyelamatkan nama baik keluarga?" Tanya Nia bingung.


"Iya, Elsa meninggalkan pernikahannya karena mendapat tawaran dari pihak agency model yang ada di Paris. Untuk menjadi model agency tersebut merupakan cita-cita Els dari kecil. Tante mohon Nia, Kamu harus selamatkan nama baik keluarga ini. Lagian apa kamu tidak kasihan melihat papa mu seperti ini?" Tanya wanita yang sedang memangku kepala Bian, yang merupakan Tamara, mamanya Elsa.


"Oma mohon. Bantu kami. Oma tahu ini kedengaran egois dan tidak masuk akal, tapi kamu tahukan bagaimana pernikahan ini dipersiapkan?" Tanya wanita tua yang tadi memeluk Nia, yang merupakan ibunya Bian, neneknya Nia.


Nia menghela napasnya berat, dan segera bersimpuh di samping papanya, menggenggam tangan papanya yang terasa dingin dengan erat.


"Pa, papa harus sadar. Nia akan lakukan apapun." Kata Nia sambil menggenggam tangan Bian erat, dan memberikan kehangatan melalui sentuhan tangannya kepada papanya.


Dokter keluarga yang dipanggil datang dan segera memeriksa Bian yang sudah dipindahkan ke kamarnya.


"Bian terkena serangan jantung. Tapi ini tidak terlalu parah. Sebentar lagi Bian akan sadar. Tapi jangan sampai ada tekanan atau pikiran yang berat, sehingga memicu serangan kedua." Terang dokter Andi.


"Saya dimana?" Tanya Bian yang mulai sadar.


"Pa.."

__ADS_1


"Nia. Kamu disini sayang?" Kata Bian sambil tersenyum yang membuat Nia hanya bisa mengangguk sambil tersenyum dengan air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya yang putih.


"Kamu kenapa nangis sayang? Papa baik-baik saja." Kata Bian sambil menyeka air mata Nia.


"Papa harus kuat. Papa nggak boleh sakit. Papa nggak usah pikirin masalah pernikahan yang batal. Nia akan gantikan kak Elsa." Kata Nia yang membuat Bian terkejut


"Tidak, tidak boleh. Papa tidak mau mengorbankan kamu sayang. Cukup dosa papa karena tidak melihat kamu tumbuh besar, jangan tambah dosa papa karena harus membuat kamu berkorban untuk keluarga ini. Tidak sayang, papa tidak mau." Kata Bian dengan suara lemah.


"Insya Allah Nia ikhlas pa. Jangan anggap yang Nia lakukan pengorbanan." Kata Nia sambil tersenyum agar papanya tidak merasa bersalah.


"Kamu yakin sayang?" Tanya Bian lagi.


"Insya Allah pa." Jawab Nia sambil tersenyum dan menyeka air matanya.


"Terimakasih sayang." Kata Bian senang sambil berusaha memeluk Nia.


Kesediaan Nia untuk menikah dengan Reyhan membuat semua keluarga besar Khaylee lega, karena keluarga mereka tidak akan jadi bulan-bulanan masyarakat karena membatalkan pernikahan yang melibatkan banyak orang-orang penting untuk hadir.


"Lo yakin Ni, mau nikah sama Reyhan? Elsa itu cinta matinya Reyhan. Gue yakin lo nggak akan bahagia menikah dengan Reyhan."Kata Monica sambil memegang bahu Nia, berusaha menggoyahkan keinginan Nia, karena Monica tahu betul seperti apa Reyhan.


"Mbak nggak usah khawatir. Cukup yakinkan saja sahabat mbak untuk tidak membatalkan pernikahan ini, sisanya biar Nia yang urus. Segala resikonya akan Nia tanggung." Kata Nia penuh keyakinan, yang membuat Monica memeluk Nia erat, karena Monica membayangkan seperti apa hidup Nia nanti bersama Reyhan.


"Kalau nanti Reyhan nyakitin Lo, lo harus bilang sama gue. Gue akan jadi orang yang paling depan ada buat lo." Kata Monica sambil menangkup wajah Nia dengan telapak tangannya yang lembut, dan hanya dijawab anggukan oleh Nia.


Monica segera mendandani Nia, karena acara akan dimulai sekitar 2 jam lagi di salah satu ballroom hotel terbesar yang ada di kota B.


"Lo cantik banget Ni, benar-benar perpaduan sempurna tante Lily dan om Bian. Lo ganti baju gih sana. Ntar dibantu asisten gue. Gue rasa ukuran tubuh lo sama Els nggak beda jauh." Kata Monica yang selesai mendandani Nia dengan riasan natural yang membuat Nia terlihat semakin cantik.


Nia melihat kebaya yang akan digunakannya, tetapi Nia merasa tidak nyaman kalau harus mengenakan kebaya yang cukup terbuka, dengan potongan dada rendah, sangat ngepas di tubuh, dan belahan rok yang lumayan panjang.


"Mbak, nggak ada yang lain kebayanya?" Tanya Nia kepada asisten Monica yang membantunya untuk fitting.


"Aku nggak nyaman mbak pakai yang terlalu terbuka seperti itu." Kata Nia sambil nyengir memperlihatka giginya yang putih dan rapi.


"Aduh. Bagaimana ya?, Coba mbak tanya sama mbak Monica dulu ya, apakah masih sempat untuk ambil kebaya yang lain." Kata Sandra lalu pergi meninggalkan Nia di kamar Elsa. Kamar yang sangat luas dan terlihat sangat indah, karena di design sedemikian rupa sesuai keinginan Elsa. Berbeda sekali dengan kamar yang Nia tempati bersama ibunya, membuat Nia merasa sedikit iri.


"Kenapa dengan kebayanya Ni?" Tanya Monica yang muncul bersama Sandra dari sebalik pintu.


"Nia nggak bisa pakai kebaya yang terlalu terbuka mbak. Ada yang lebih tertutup nggak?" Tanya Nia sambil tersenyum manis, membuat Monica tertegun dan menelan salivanya, membuat jakunnya naik turun.


"Nggak ada. Gue nggak bawak cadangan. Soalnya nggak nyangka bakalan seperti ini." jawab Monica yang tersadar dari rasa kagumnya terhadap kecantikan Nia.


Bian yang tidak sengaja mendengar percakapan Nia dan Monica memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya. Kemudian segera masuk ke ruang rahasia yang ada di ruangan itu. Bian segera menuju lemari baju yang ada di ruangan itu.


Bian mengambil sebuah kotak yang cukup besar, dan di design dengan sangat indah. Bian segera melihat isi kotak tersebut, dan senyumnya terkembang, mengingat moment ketika Lily mengenakan kebaya tersebut di acara pernikahan mereka.


"Kamu benar sayang. Kebaya yang kamu kenakan dulu, sekarang akan dikenakan oleh putri kita di acara pernikahannya." Ucap Bian lirih, mengingat kata-kata Lily sewaktu menyimpan kebaya itu dengan baik, bahwa kelak anaknya akan menggunakan kebaya itu diacara pernikahannya.


Bian segera membawa kotaknyang berisi kebaya sewaktu ia mnikah dengan Lily, menuju kamar Elsa, tempat dimana Nia berada sekarang.


"Sayang, kamu bisa pakai ini." Ucap Bian sambil menyerahkan kotak yang berisi kebaya milik Lily.


Monica segera membuka isi kotak tersebut dan melihat sebuah kebaya berwarna broken white yang sangat indah. Dengan design elegan dan klasik yang tidak akan dimakan zaman.


"Wow. Keren banget ini om. What? Ini rancangan Deana, perancang kebaya yang sangat terkenal dengan design yang tidak akan dimakan zaman. Selama beliau jadi designer hanya menghasilkan 12 kebaya dalam kurun waktu 20 tahun, dan om punya salah satunya?" tanya Monica tidak percaya, begitu melihat ada label Deana di kebaya yang dibawa oleh Bian.


Monica yang merupakan salah satu fashion designer tahu betul bagaimana design para designer terkenal.


"Itu bajunya tante Lily, mamanya Nia. Dan itu merupakan kebaya yang digunakan Lily sewaktu menikah dengan Om. Kebaya itu rancangan pertama Dean. Dean adalah sahabat baik om dan tante." Terang Bian yang membuat Monica tidak menyangka, kalau kebaya yang dipegangnya merupakan karya pertama milik designer yang menjadi idolanya.

__ADS_1


"Kok om nggak bilang sih, temannya Deana?" Protes Monica.


"Yah kamu tahu bagaimana Deana. Sejak masalah om ngusir tante Lily dulu, Deana benci banget dengan Om." terang Bian dengan wajah sedih.


"Kacang goreng, kacang rebus." Ucap Nia yang dari tadi di cuekin oleh dua orang yang ada dihadapannya, dan Nia tidak tahu mereka bicara tentang siapa, yang jelas Niapun sangat menyukai kebaya pernikahan milik Lily yang sedang berada di tangan Monica.


"Boleh aku ganti baju mbak?" Tanya Nia sambil mengulurkan tangannya meminta kebaya yang masih dipegang Monica.


"Oh iya lupa. Nih. Gue yakin lo pasti cantik banget, secara rancangan Deana ini everlasting" Jelas Monica lalu menyerahkan kebaya Lily yang akan digunakan Nia.


Nia memandang kebaya yang pernah digunakan Lily ketika menikah dengan Bian, membuat Nia terharu mengingat ibunya.


"Semoga ini yang terbaik ya buk." Gumam Nia sambil memeluk kebaya yang dulu pernah dikenakan Lily.


Softlense yang digunakan Nia terasa mulai tidak nyaman, karena tadi ia habis menangis, membuat Nia memutuskan untuk melepaskan softlense yang ia gunakan dan bermaksud mengganti dengan softlense yang baru, tapi ternyata Nia tidak membawa stock softlense cadangan.


"Sudah Ni?" Tanya Monica, karena Nia membutuhkan waktu agak lama untuk mengganti baju.


"Sebentar mbak." Jawab Nia lalu segera mengusap pelan sisa sisa air mata di pipi dan matanya, agar riasannya tidak rusak.


"Cklek"


Nia membuka pintu dan keluar dari kamar Elsa, membuat semua yang berada di ruangan keluarga memandang Nia kagum. Makeup sederhana yang disapukan Monica, membuat Nia kelihatan semakin cantik, ditambah mata teduhnya dengan iris emerald yang menenangkan.


"Wah... kak Nia cantik banget..Itu beli softlensenya dimana? Soraya mau dong." Kata Soraya yang merupakan salah satu anak saudara bian yang usianya 2 tahun lebih muda dari Nia, mengahampiri Nia dan memandang wajah Nia dengan seksama.


"Aduh. Beli di mana ya.. hehehe.." Jawab Nia bingung.


"Ih kakak pelit. Tinggal bilang aja beli dimana kok repot. Kakak takut ya, kalau aku jadi lebih cantik dari kakak karena pakai softlense seperti itu?" Kata Soraya ketus.


"Nggak ada yang jual softlense seperti itu Soraya sayang. Kalau lo mau beli, beli gih sama Allah." Kata Monica membantu Nia yang merasa tidak enak, baru ketemu langsung dijutekin saudaranya.


"Maksudnya?" Tanya Soraya masih bingung.


"Itu asli Aya. Allah yang ciptakan iris emerald di mata kak Nia." Terang Bian sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya agar disambut oleh Nia.


"Wah.. keren. Mamanya kak Nia bule ya?" Tanya Soraya lagi, karena setahunya tidak ada keluarganya yang memiliki warna mata seperti Nia, warna iris mereka kalau tidak hitam gelap, paling terang coklat gelap.


"Iya. Cerewet banget sih Lo." Protes Monica yang mendengar Soraya yang banyak tanya.


Merekapun segera menuju ke tempat acara akad nikah berlangsung, yaitu di salah satu ballroom hotel milik keluarga Reyhan.


Bian duduk di samping Nia di bangku belakang mobil pengantin yang telah dihias dengan beberapa bunga segar.


Pernikahan dapat berlangsung, karena Reyhan akhirnya setuju kalau pernikahan ini tetap dilangsungkan demi menjaga nama baik kedua keluarga besar. Mengingat pernikah Reyhan dan Elsa merupakan pernikahan terbesar di negara I, yang melibatkan dan mengundang banyak pihak.


"Maafin papa sayang." Ucap Bian sambil menggenggam tangan Nia erat.


"Its Ok Pa. Hanya ini yang bisa Nia lakukan buat papa. Papa nggak usah banyak pikiran. Nia akan bahagia dan baik-baik saja. Papa jangan khawatir ya." Kata Nia sambil tersenyum manis berusaha menguatkan Bian, yang dari tadi merasa bersalah.


Elsa yang seharusnya menikah sebenarnya akan berangkat ke hotel setelah sholat subuh untuk dirias di salah satu kamar president suite yang sudah disediakan Reyhan, tetapi karena Elsa pergi, jadilah Nia dirias di rumah, menggunakan perlengkapan makeup seadanya milik Elsa yang ada di kamarnya. Kemampuan Monica dalam mendandani yang sangat mumpuni, mampu merubah Nia yang sudah cantik, menjadi semakin cantik.


Sesampainya dipintu hotel sudah banyak wartawan dengan kameranya siap-siap mengambil moment terbaik kedatangan sang pengantin yang tengah berbahagia.


"Kalau kamu gugup, kamu pegang saja papa erat-erat sayang." Kata Bian sambil tersenyum, karena Bian tahu kalau Nia pasti tidak nyaman dengan kehadiran banyak wartawan lengkap dengan kameranya.


"Bian keluar duluan dari mobil yang mereka gunakan untuk datang ke hotel. Lalu Bian mengulurkan tangannya yang di sambut oleh Nia untuk membantu Nia keluar dari mobil.


Begitu Nia keluar, ratusan kamera membidik ke arahnya, yang membuat Nia mau tidak mau harus tersenyum manis. Paras Nia yang sedikit mirip Elsa karena mereka berdua sama-sama mewarisi tipikal wajah Bian, kecuali dagu yang lancip dan berbelah serta iris emerald, yang membedakan Elsa dan Nia.

__ADS_1


"Ini beneran nona Elsa?, Cantik banget dan sangat manglingi. Aku merasa dia orang yang berbeda. Keren sekali MUAnya." ucap beberapa orang yang melihat Nia yang turun dari mobil pengantin.


__ADS_2