
Sudah seminggu Lily pergi meninggalkan Nia untuk kembali ke Sang pencipta. Nia yang selalu di ajarkan lily untuk selalu ikhlas, tampak lebih tenang.
Hari ini akan diadakan acara kenduri untuk mendoakan Lily, yang diadakan di rumah Sean. Tadinya Bian ingin mengadakan acara nujuh hari di rumahnya, tetapi Nia menolak dengan alasan, kalau di rumah Sean ibunya lbih banyak menghabiskan waktu dna mengenal orwng sekitar.
"Kamu istirahat aja sayang. Untuk makanannya sudah di pesan di catering langganan ibuk sama Papa kamu." Terang mami San.
"Iya Cin, lo temanin gue aja." Kata Sean lagi.
"Temanin kemana?" Tanya Nia.
"Temanin di rumah lah. Emang lo mau kemana?" Tanya Sean balik.
"Pengen ke makam ibuk." Jawab Nia.
"Ya udah, yok gue antar, tapi ntar Lo jangan nangis guling-guling di tanah ya?" Kata Sean sambil tertawa.
"Nggak. Palingan gue nangis baring-baring." Balas Nia ketus karena Sean mengejeknya.
"Ya udah, kok malah jadi becanda. Pergi antar gih Nia ke makam ibuk nya. Pulangnya jangan keluyuran kamu Sean." Ancam maminya Sean.
"Siap bos. Aman terkendali." Jawab Sean, lalu segera menarik tangan Nia dan pergi me inggalkan maminya.
Sean membawa Nia ke makam ibunya yang lokasinya tidak jauh dari komplek perumahan Sean. Selesai dari makam, Sean membawa Nia ke bukit yang lokasinya juga tidak jauh dari pemakaman. Bukit itu adalah tempat yang biasa Sean dan Nia kunjungi.
"Gue tau lo sedih. Lo boleh nangis di sini sepuas lo. Lo juga boleh pinjam bahu gue buat bersandar. Jangan tanggung semuanya sendiri, Lo butuh orang buat berbagi beban." Kata Sean sambil memandang rumah-rumah yang berada di bawah kaki bukit.
"Lo salah minum obat?" Tanya Nia heran
"Gue serius Cin. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa." Jawab Sean serius sambil menatap Nia dengan mata teduhnya, yang membuat Nia tidak sanggup menatap wajah Sean lama-lama, bisa loncat keluar jantung Nia kalau memandang Sean lama-lama.
"Gue nggak apa-apa. Serius, Ibuk selalu bilang, kalau gue harus jadi anak yang kuat, selalu ikhlas ngejalanin hidup, dan gue InsyaAllah ikhlas. Gue yakin ibuk akan bahagia disana kalau gue bisa jalanin hidup gue dengan baik tanpa ibuk." Jawab Nia sambil memandang ke arah kaki bukit.
"Setelah ini, apa rencana lo? Lo akan ikut keluarga papa lo?" Tanya Sean.
"Nggak. Ibuk sudah bilang, jangan ganggu keluarga papa. Gue akan lanjutin hidup gue seperti biasanya." Kata Nia sambil tersenyum getir.
Sebenarnya, setegar-tegarnya Nia, dia tetap perempuan yang memiliki hati yang lemah. Tapi Nia tidak mau orang-orang di sekitarnya khawatir. Biarlah Nia menyimpan dan memperlihatkan kesedihannya hanya untuk dirinya sendiri.
"Terimakasih, buat apa yang Lo dan keluarga lo lakukan buat gue dan ibuk." Kata Nia sambil menatap Sean dan tersenyum.
"Lo dan Ibuk udah kita anggap keluarga. Dalam keluarga tidak ada kata memberi dan diberi, sehingga lo nggak perlu ngucapin terimakasih." Kata Sean sambil membalas senyum Nia.
Ingin rasanya Sean menarik Nia dalam pelukannya, memberikan perasaan tenang kepada perempuan yang selalu ada di sampingnya dari kecil. Tapi Sean tahu Nia tidak akan pernah mengizinkan orang yang bukan mukhrimnya untuk menyentuhnya.
"Ya udah yuk balik. Nggak enak, acara buat Ibuk, tapi guenya kelayaban." Kata Nia lalu berjalan menuju tempat parkir.
Selesai acara mendoa untuk ibuknya, Nia memutuskan untuk kembali ke kota P bersama papanya, menggunakan penerbangan terakhir. Sean sempat protes sewaktu tahu kalau Nia akan kembali ke kota P malam itu juga. Tapi Sean tetap tidak bisa memaksakan kehendaknya.
"Kamu tinggal di rumah papa dan ibuk ya Ni." Pinta Bian begitu mereka sampai bandara.
"Nia balik ke asrama aja pa. Papa nggak usah ngantar Nia, Nia bisa naik transportasi online. Nia duluan Pa. Assalamualaikum." Kata Nia lalu mencium punggung tangan Bian dan pergi meninggalkan Bian yang masih menunggu supirnya menjemput.
Sesampainya di asrama, Nia segera masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Pura-pura menunjukkan kalau kondisinya baik-baik saja, membuat Nia benar-benar merasa lelah.
Nia memandang wallpaper handphonenya yang menampilkan foto Nia dan Ibunya, sewaktu Nia berangkat ke kota P untuk kuliah.
"Nia kangen sama Ibuk." Kata Nia sambil mengusap wajah ibunya yang ada di handphone.
Pagi-pagi sekali Nia terbangun karena mendengarkan suara adzan subuh. Nia segera bangun dan membersihkan dirinya, lalu bergegas pergi ke mesjid kampus yang tidak jauh dari asrama.
Karena masih libur, asrama dan mesjid tidak begitu ramai, hanya ada beberapa orang yang melaksanakan sholat subuh berjamaah di mesjid.
Selesai sholat subuh, Nia bermaksud segera kembali ke kamarnya.
"Ni.. Kok kamu sudah balik?" Tanya bu Yuni heran, Karena sewaktu pamit Nia bilang dia akan berada di kota B selama sebulan.
Nia langsung memeluk bu Yuni dan menangis tanpa suara, yang membuat bu Yuni heran.
"Nia kenapa sayang?" Tanya Bu yuni sambil mengelus punggung Nia yang bergetar karena menahan tangisannya.
Lebih dari 5 menit Nia memeluk bu Yuni, kemudian melepaskan pelukannya sambil menghapus air matanya dan berusaha tersenyum.
"Maaf." Kata Nia.
"Nggak apa-apa. Kamu kenapa?" Tanya Bu Yuni sambil mengajak Nia duduk di bangku taman yang tidak jauh dari halaman mesjid.
"Nia kangen Ibuknya Nia." Jawab Nia.
__ADS_1
"Lah, bukannya Nia baru pulang ke kota B dan ketemu ibuknya Nia?" Tanya bu Yuni heran.
"Iya. Nia ketemu ibuk untuk yang terakhir kalinya. Sekarang Nia nggak bisa ketemu ibuk lagi." Jawab Nia dengan air mata yang terus mengalir, mengingat saat-saat ibunya meninggal.
"Maksud kamu..."
"Ibuk sudah meninggal" Potong Nia.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Kamu yang sabar ya. Jangan sedih. Anggap aja ibu ini sebagai pengganti ibuk kamu, walau bagaimanapun ibuk kamu nggak akan tergantikan."Jawab bu Yuni sambil memeluk Nia.
Setelah Nia agak tenang, mereka berjalan beriringan me uju asrama, dan Nia izin kepada bu Yuni untuk kembali ke kamarnya.
Waktu liburan masih lama, kampus juga kelihatan tidak begitu ramai karena masih liburan. Nia sering menghabiskan waktunya untuk berada di perpustakaan dan membantu bu Yuni mengantarkan makanan kepada anak-anak jalanan yang letaknya tidak jauh dari kampus, bahkan Nia memutuskan untuk mengikuti beberapa mahasiswa yang punya kepedulian tinggi untuk mengajar anak-anak jalanan.
"Kamu cepat akrab sama anak-anak itu Ni." Kata Ratih begitu Nia selesai mengajar.
"Iya mbak. Nggak tau kenapa, mereka seru aja." Kata Nia sambil tersenyum.
"Kamu ada kegiatan?" Tanya Ratih.
"Nggak ada sih mbak. Memangnya kenapa?" Tanya Nia.
"Mbak mau minta temanin ke butik langganan mbak. Mbak mau pesan gaun buat acara pernikahan koleganya papa." Jelas Ratih.
"Lama nggak?" Tanya Nia.
"Nggak sih. Mau bicarain designnya dulu, ntar kalau udah ok, kita bisa pulang." Jawab Ratih.
"Ok. Nia temanin." Kata Nia sambil tersenyum, yang juga dibalas senyuman oleh Ratih, lalu menggandeng tangan Nia ke tempat mobilnya terparkir.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya mereka sampai di depan bangunan yang cukup futuristik, karena dibangun sedemikian rupa.
"Permisi" Kata Ratih begitu masuk ke butik.
"Eh, nona Ratih. Silahkan naik aja ke lantai dua. Udah ditunggu sama Nona Monica." Kata salah seorang pegawai butik ramah.
Ratih dan Nia segera menuju lantai dua, dan melihat sebuah ruangan yang pintunya sedang terbuka lebar.
"Kamu itu bagaimana sih?! Pemotretannya harus hari ini. Dan saya nggak mau pakai model profesional, karena konsep design saya kali ini itu, temanya kemurnian dan ketulusan. Masa nggak bisa sih cari model amatiran." Ucap orang yang berada di dalam ruangan dengan intonasi suara yang tinggi.
"Permisi. Monic, Aku ganggu nggak?" Tanya Ratih yang muncul bersama Nia, sambil mendorong pintu yang belum terbuka sempurna.
"Oh." tanggapan Ratih hanya membuka mulutnya.
Monica yang melihat Ratih dan Nia datang, langsung memfokuskan pandangannya menatap Nia, dan langsung mendekat ke arah Nia, yang membuat Nia reflek mundur, karena Monica merupakan transgender.
"Jangan takut cin, gue perlu elo sebentar." Kata Monica yang kembali mendekati Nia, dan melepaskan kacamata yang Nia kenakan. Kemudian monica melepaskan gulungan rambut Nia, yang membuat rambutnya yang sepunggung tergerai.
"Ya ampun. Perfect banget. Seperti ini model yang gue mau." Teriak Monica girang, yang membuat Ratih dan Nia heran.
Monica menarik tangan Nia dan mengajaknya duduk di sofa berwarna maroon yang ada di ruangan itu.
"Lo mau nggak jadi model gue?" Tanya Monica masih dengan keantusiannya.
"Saya nggak bisa jadi model. Lagian mas ini ada-ada aja." Jawan Nia bingung sambil tersenyum canggung.
"Kok mas sih. Gue udah cantik begini." Protes Monica sambil memanyunkan bibirnya.
"Eh, maaf. Mbak maksudnya."Kata Nia sambil tersenyum miris merasa tidak enak.
"Monica ini matanya tajam benget loh Ni. Kalau udah lihat calon model bagus, nggak pernah salah dia." Kata Ratih.
"Tapi mbak, Nia nggak pernah pemotretan, nggak pernah jadi model, selfie aja jarang banget, karena emang nggak suka aja. Lagian Nia ini wajahnya biasa aja. Cantikan mbak ratih sama mas.. eh mbak Monica." Kata Nia lagi.
"Gue nggak salah. Lo cantik cin. Kecantikan lo alami. Lagian wajah lo kok kayak nggak asing ya?" Tanya Monica sambil mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk karena lagi berusaha mengingat sesuatu.
"Ha... Lo mirip Elsa nggak sih? Tapi dominan ke om Bian gue lihat. Jangan bilang Lo anak selingkuhannya om Bian?" Tanya Monica penuh selidik.
"Ya enggak lah. Mana mungkin saya mirip sama model terkenal. hahaha" Jawab Nia sambil tertawa yang malah kedengaran aneh, dan membuat Monica semakin curiga.
"Iya sih. Om Bian itu sebenarnya setia banget. Coba aja waktu itu tante Lily nggak selingkuh, Om Bian pasti bahagia banget." Kata Monica dengan wajah sedih.
"Ibuk nggak selingkuh." Kata Nia keceplosan, karena Nia nggak terima kalau Monica mengatakan perbuatan yang tidak pernah dilakukan ibunya.
"Tuh kan bener. Lo anak tante lily?" Selidik Monica antusias sambil memandang Nia dengan seksama.
Nia yang keceplosan berbicara, merasa tidak bisa lagi menyembunyikan identitasnya dari Monica. Selain itu Nia juga penasaran kenapa Monica bisa kenal dengan keluarga papanya.
__ADS_1
"Benerkan, Lo anak tante Lily?" Desak Monica.
"Iya." Jawab Nia
"Aaaa.. gue seneng banget deh. Kita ini saudaraan tau. Gue itu keponakannya om Bian. Nyokap gue sama om Bian sepupuan. Pantesan waktu lihat lo, gue merasa nggak asing." Kata Monica sambil memeluk Nia senang, yang membuat Nia hanya bisa mematung, bingung dan sibuk mencerna perkataan Monica.
"Eh btw aniway busway, bukannya warna iris mata anak tante Lily nggak hitam ya? Kok iris lo hitam?" Tanya Monica heran.
"Softlense." Jawab Nia.
"Oh iya. Kok jadi bego gini gue ya. hahaha." Kata Monica sambil tertawa.
"Mbak beneran saudara aku?" Tanya Nia lagi memastikan.
"Iya beneranlah. Waktu lo lahir, gue udah umur 10 tahun, jadi gue udah ngerti apa yang terjadi." Jawab Monica.
"Ibuk nggak selingkuh. Papa sudah melakukan tes DNA, dan Nia beneran anak papa." Kata Nia kembali meluruskan tuduhan Monica yang mengatakan kalau ibunya selingkuh.
"Beneran? Lo udah ketemu om Bian?" Tanya Monica lagi yang hanya di jawab anggukan oleh Nia.
"ehem... aku di cuekin nih, gara-gara reuni keluarga cemara." Kata Ratih yang dari tadi di cuekin.
"Hehe.. maaf ya Tih, maklumlah, baru ketemu sodara yang udah lama hilang." Kata Monica.
"Jadi kamu beneran anak Tuan Bian Ni?" Tanya Ratih meyakinkan lagi.
"Iya." Jawab Nia sambil nyengir, karena sebenarnya Nia tidak mau ada yang tahu siapa dia.
"Lo harus ikut gue ke pertemuan keluarga hari sabtu besok. Uti pasti seneng banget ketemu sama Lo, Uti sama Om Bian lama cari Lo sama tante Lily. BTW, tante Lily apa kabar?" Tanya Monica antusias.
"Ibuk sudah nggak ada. Ibuk meninggal dua minggu yang lalu karena kecelakaan." Jawab Nia dengan wajah sedih, yang membuat Monica langsung memeluknya dan menepuk punggung Nia lembut.
"Innalillahi wa Innailaihi rojiun. Tante Lily orang baik. Gue tau itu. InsyaAllah tante Lily husnul khotimah." Kata Monica.
"Aamiin." Jawab Nia dan Ratih bersamaan.
"Lo jangan sedih. Ada gue, dan ada keluarga kita yang lain sayang sama lo. Lo nggak sendirian." Kata Monica sambil menggenggam tangan Nia dan tersenyum.
"Terimakasih." Kata Nia yang juga tersenyum.
"Oh iya. Berhubung kita ini kan saudara, jadi lo harus bantu gue buat jadi model rancangan gaun terbaru gue ya? Please..." Kata Monica sambil melipat tangan di depan dada memohon pada Nia.
Nia berfikir sebentar menimbang permintaan Monica, lalu menatap Ratih, karena walaupun Monica saudaranya, tapi tetap saja Monica adalah orang yang baru dikenal Nia. Ratih menganggukkan kepalanya tanda kalau ia setuju Nia menjadi model untuk gaun rancangan Monica yang baru.
"InsyaAllah. Tapi gaunnya nggak yang terbukakan?" Tanya Nia, karena Nia memang tidak suka dengan pakaian yang memperlihatkan dada atau yang terlalu pendek.
"Nggak Cin, rancangan gue itu seksi tapi nggak terbuka. panjang gaun gue paling pendek selutut, dan satu gaun malam yang backless, hanya itu. Nanti kalau lo agak nggak nyaman, kita bisa adjusment." Jawab Monica berusaha meyakinkan.
"Ok." Jawab Nia menyetujui.
"Kalau begitu, tunggu sebentar, gue suruh sekretaris gue buat kontrak Lo. Kalau nggak ada kontrak, gue nggak bisa cairin pembayaran Lo. Dan buat Lo titih merintih, lo mau coba gaun yang lo pesan buat pesta pernikahan si Els kan?, Lo bisa coba gaun lo sama si Loly." Kata Monica ketika melihat Ratih mengangguk.
"Nia ikut kak Ratih aja." Kata Nia yang akan mengikuti Ratih.
"Lo disini aja. Gue nggak akan makan lo." Kata Monica sambil menahan tangan Nia dan memintanya kembali duduk.
Setelah Ratih keluar bersama perempuan cantik yang bernama Loly, Monica menghubungi sekretarisnya untuk membuat kontrak setelah sebelumnya memfoto kartu identitas milik Nia, dan mengirimkan kepada sekretarisnya.
"Tunggu sebentar ya. Niken kalau kerja cepat kok." Kata Monica yang kembali duduk disamping Nia.
"Gue senang banget waktu tau kalau Lo anaknya Om Bian sama tante Lily. Gue termasuk keponakan yang dekat banget dengan tante Lily. Gue jadi benci bokap Lo karena udah ngusir Lo sama tante Lily. Bahkan Eyang juga marah besar." Cerita Monica.
"Eyang?" Tanya Vanila bingung, karena selama ini ia tidak pernah tahu siapa saja keluarga Bian.
"Iya, Eyang. Mamanya Om Bian. Eyang itu sayang banget tau sama tante Lily. Btw, sabtu nanti ada pertemuan keluarga, karena Els mau ngenalin calon suaminya ke keluarga besar kita." Kata Monica antusias.
"Nggak bisa." Jawab Nia lirih.
"Loh, kenapa nggak bisa?" Tanya Monica heran.
"Nia udah janji sama ibuk, nggak akan ganggu keluarga barunya papa. Nia takut, nanti kalau Nia datang, keluarga barunya papa akan terganggu." Jawab Nia polos.
"Ya Ampun, gue kira kenapa. Elo nggak ganggu. Bagaimanapun juga lo bagian dari keluarga Khaylee. Nggak usah dipeduliin tante Tamara sama Els. Nggak ada yang suka mereka dikeluarga kita. Kami mau menerima mereka karena menghargai om Bian aja." Jawab Monica.
"Sebenarnya kak Elsa udah pernah ngelabrak Nia waktu dikampus. Kak Elsa kira Nia simpanan papa, karena papa sering nemuin Nia. Kak Elsa marah banget. Nia nggak mau, nanti acara keluarganya jadi bermasalah karena kak Elsa marah-marah ke Nia." Kata Nia lagi.
"Memang dasar mak lampir satu itu. Nggak pernah hilang sifat barbarnya." Kata Monica geram, karena Monica tahu betul bagaimana Elsa memiliki tempramen yang buruk.
__ADS_1
"Nggak apa-apa mbak. Nia ketemu eyang nggak usah di pertemuan keluarga. Nanti kalau mbak nggak sibuk, kita ketempat eyang ya?" Kata Nia sambil tersenyum manis.
"Lo emang anak tante Lily. Baiknya elo sama banget dengan tante Lily. Gue yakin, eyang pasti senang banget bisa ketemu elo. Dan elo akan jadi cucu kesayangan eyang. Asal lo tau ya, keluarga kita itu langka banget sama cucu perempuan. Cuma om Bian yang punya dua anak perempuan, ditambah om Bayu yang juga punya satu putri. Sisanya kita laki-laki semua, ditambah gue yang setengah jadi-jadian." Kata Monica sambil tertawa.