
Setelah rapat, akhirnya diputuskan karena ide dari kedua team bagus, mereka akan menjalankan event yang disarankan, dengan membagi wilayah kerja.
Nia semangat membantu Nita untuk menjalankan event yang disarankan Nita, ditambah beberapa ide yang Nia sampaikan kepada Nita.
"Wah.. kalau begini, abang tambah semangat kerja di team ini. Semoga event kita kali ini mendapatkan hasil yang memuaskan." Kata Satya yang merupakan salah satu anggota team senior yang ada di kelompok mereka.
"Benar bang. Emang keren nih ide duo N." Tambah Rama
"Duo N?" Tanya Nia bingung.
"Iya duo Nita Nia hahahaha.." kata Rama lagi sambil tertawa, diikuti tawa yang lain.
Team Nita yang diberikan amanah untuk menangani event yang cukup besar, melakukan persiapan dengan penuh semangat. Nia yang memang selalu punya ide cermerlang out of the box membuat seniornya pada kagum.
"Kamu beli otak dimana sih Ni? Kok bisa briliant banget gitu?" Tanya Rama.
"Di pasar loak yang dekat pasar bawah. Kan banyak tuh yang jual barang bekas, nggak sengaja aku bang, nemu otak Ibnu Sina." Kata Nia sambil nyengir.
"Ada-ada aja kamu Ni, segala nemu otak Ibnu Sina. Rumah sakit kali." Kata Rama sambil tertawa.
"Beliau itu salah satu tokoh islam yang cerdas dikenal juga sebagai "Avicenna" di dunia barat,beliau adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan dokter kelahiran Persia yang sekarang dikenal dengan negara Iran. Ia juga seorang penulis yang produktif yang sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan kedokteran. Bagi banyak orang, beliau adalah "Bapak Kedokteran Modern". Karyanya yang sangat terkenal adalah Al-Qanun fi at-Tibb yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad." Jelas Nia panjang lebar yang membuat Rama semakin kagum dengan Nia.
"Kamu ini sebenarnya anak bisnis, marketing atau anak sejarah sih Ni?" Tanya Rama heran.
"Anak ibuk sama papa akulah." Kata Nia sambil tertawa yang membuat Rama menepuk jidatnya, menyadari kesalahan yang ia ucapkan.
"Seru bener dari tadi aku lihatin kalian berdua ngobrol." Kata Satya yang ikutan nimbrung.
"Jiah, ini Bang Sat kenapa maen nongol aja kayak jaelangkung?" Kata Nia yang agak terkejut karena tiba-tiba Satya ikutan nimbrung.
"Ni, manggil nama abang tu harus lengkap. Junior nggak ada akhlak kamu. Abang kasi nilai jelek laporan magang kamu mau?" Ancam Satya dengan muka yang di garangin biar Nia takut.
"Ampun Bang Satya Dermawan Pradipta. Lagian bukan abang yang ngasih aku nilai, jadi nggak mempan ancamannya." Kata Nia sambil tertawa yang membuat Satya semakin geram melihat tingkah Nia yang juga membuat Rama tertawa, karena Nia dan Satya seperti tom n jerry yang nggak pernah akur.
"Udah lah Sat, Nia kamu tanggapi, jodoh ntar lo berdua baru tahu." Seloroh Rama.
"Amit-amit gue kalau jodoh sama dia, udah jelek, cupu, menang putih sama pintar doang." Ejek Satya.
"Nggak pernah nonton Bety Lavea gini nih, nggak tau dia kalau cewek jelek dan cupu udah dandan, beugh... Cinta Laura lewat bang." Kata Nia sambil menyombongkan diri.
"Lewat cantiknya sama cewek jelek dan cupu yang dandan?" Tanya Satya.
"Nggak. Lewat aja gitu. permisi." Kata Nia sambil tertawa, yang membuat Rama tertawa sampai sakit perut karena Nia selalu berhasil membodohi Satya.
"Nia..." Pekik Satya geram.
"Iya? Kenapa bang?" Tanya Nia dengan wajah polosnya sambil tersenyum manis yang membuat Satya tidak bisa berkata apa-apa dan memutuskan untuk kembali ke kubikelnya.
"Merajuk tuh anak Tante Zahra Ni. Ntar kamu di ceramahin 2 SKS loh sama tante Zahra." Kata Rama sambil tertawa membayangkan Nia di ceramahin mamanya Satya karena sudah buat anak kesayangannya kesal.
"Tenang bang, aku tuh udah Ce Es San sama MaZa. Rencananya aku mau dimasukin MaZa ke KK keluarga Pradipta biar Bang Satya Darmawan Pradipta punya adek perempuan. Secara, kapan lagi kan Bang Satya Darmawan Pradipta punya adek seimut dan semenyenangkan aku?" Kata Nia dengan nada sombong dan suara agak dikeraskan agar Satya mendengar ucapannya.
"Enak aja kamu. lagian MaZa itu siapa? berani-beraninya punya rencana nambahin nama kamu ke KK Pradipta?" Tanya Satya sewot.
__ADS_1
"MaZa berkuasa loh di keluarga Pradipta." Kata Nia lagi yang senang buat Satya marah.
"Mana ada di keluarga Pradipta yang namanya MaZa. Lagian ya, yang punya kuasa di keluarga Pradipta itu ya mamanya abang. Nggak ada yang lain." Protes Satya yang membuat Nia dan Rama tertawa, karena Satya belum sadar kalau yang dipanggil Nia MaZa adalah mamanya.
Melihat Nia dan Rama tertawa, membuat Satya berfikir dan langsung memelototkan matanya, karena sadar, lagi-lagi ia dikerjai Nia.
"Mama Zahra itu mama abang. Bukan mama kamu." Kata Satya ketus lalu kembali ke kubikelnya yang membuat Nia dan Rama kembali tertawa.
"Ye.. si abang sewot, MaZa aja nggak protes. Langka loh bang, adek perempuan seperti aku." Kata Nia lagi.
"Ogah punya adek macam kamu. Lagian nggak sudi abang satu KK yang ada mama sama papanya, terus di tambah kamu, maunya KK yang isinya berdua aja." Kata Satya keceplosan.
"Kalau isi KKnya kita bedua aja, namanya nggak abang adek dong." Protes Nia yang membuat Rama kembali tertawa.
"Udah Ni, terima aja Satya. Kurang apa coba, sholeh, rajin, tampan, mapan, baik, pokoknya idaman semua cewek lah. Hitung-hitung perbaiki keturunan Ni, kali aja ntar anak kamu sama Satya ganteng dan cantik kayak Satya, cerdasnya kayak kamu." Kata Rama yang masih tertawa.
"Ogah." Jawab Nia ketus.
"Idih, jelek, cupu, belagu lagi." Protes Satya karena tidak suka Nia menolaknya.
"Biarin. Sebodo teing." Kata Nia lagi.
"Udah Ni, terima aja. Kan kamu belum punya pacar." desak Rama lagi.
"Pacar sih emang nggak punya. Tapi suami punya." Kata Nia polos yang membuat Satya yang sedang minum langsung tersedak mendengar perkataan Nia.
"Halu. Bocil ngaku-ngaku punya laki."Kata Satya sambil menertawakan Nia.
"Enak aja bocil. Tahun ini aku wisuda loh." Protes Nia.
"Ya kalau udah mau wisuda, berarti kan aku sudah dewasa, bukan bocil. Bang Rama umur berapa kemaren wisuda?" Tanya Nia
"23 tahun" Jawab Rama.
"Emang umur 23 bocil ya bang?" Tanya Nia lagi.
"Udah bisa buat bocil mah, kalau umur segitu." Jawab Rama.
"Tuh denger bang Satya Darmawan Pradipta. Capek panggil nama lengkap, panggil Bang Sat aja kenapa?" Protes Nia.
"Ya nggak 'Bang Sat' juga kali Ni manggil abang. Kan kedengarannya nggak enak." Protes Satya lagi.
"Terus panggil apa dong?" Tanya Nia dengan mode sok di imut-imutin.
"Idih sok imut kamu. Geli lihatnya." Protes Satya lagi.
"Emang ya, aku ini salah aja di mata abang, ngegas salah, baik salah, imut salah, maunya abang itu apa sih?" Tanya Nia sok-sok ngedrama.
"Udah-udah, serial FTV nya nggak usah diterusin, sakit perut abang Ni." Kata Rama masih sambil tertawa.
"Kita nggak lagi shooting FTV abang." Protes Nia sambil menekankan kata 'abang'.
"Tau nih si Rama. Dia kira kita artis FTV kali Ni." kata Satya.
__ADS_1
"Udah ah, lihat drama kalian berdua jadi lapar gue. Lo ada yang mau dititip nggak?" Tanya Rama sama Satya.
"Nggak ada." Jawab Satya.
"Kamu Ni?" Tanya Rama sama Nia.
"Roti telur keju, kejunya banyakin, terus telurnya pilihin yang di lahirin di hari jumat ya bang, kalau nggak telur yang hari jumat, ntar ilmu pelet aku hilang." Jawab Nia santai tanpa menatap Rama, karena lagi sibuk menyelesaikan penutup proposalnya.
"Sableng." Kata Rama sambil geleng-geleng kepala mendengar permintaan Nia. Ia kali, Rama harus nungguin ayam ngelahirin hari jumat, lagian tuh ayam sejak kapan jadi mamalia ya? pakai acara melahirkan 🤔.
Tanpa Nia sadari, ternyata Reyhan sedang ada di kantor dan melihat Nia yang tertawa bahagia bersama Rama dan Satya, membuat Reyhan mengepalkan tangannya erat untuk meredakan kemarahannya.
"Berapa lama lagi keberadaan anak magang di kantor kita?" Tanya Reyhan pada pak Herlambang yang merupakan kepala HRD.
"Kurang dari dua bulan lagi pak." Kata pak Herlambang yang merasa was was karena melihat ekspresi Reyhan yang sangat tidak bersahabat.
"Ck. itu kenapa team event Nita ngobrol dan tertawa-tawa. Coba bapak cek pekerjaan mereka. Terutama anak magang." Kata Reyhan dengan nada suara dingin.
Pak Herlambang segera turun menuju ruangan event team Nita.
"Ehem" Dehem pak Herlambang yang membuat Nia dan Satya yang masih berdebat soal panggilan menoleh ke arah pak Herlambang.
"Eh ada pak Her." Kata Nia sambil nyengir ke arah pak Herlambang.
"Kamu ngobrol dan bercanda aja dari tadi Nia. Bapak lihat dari atas. Kerjaan udah pada selesai belum?" Tanya pak Herlambang yang tidak bisa marah kalau berhadapan dengan Nia, padahal pak Herlambang terkenal galak.
"Alhamdulillah. Tinggal di cek kak Nita nanti baru saya print pak, kan sayang kertasnya kalau saya print sekarang, terus nanti ada yang salah. Bapak bayangkan ya, berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk membuat kertas, padahal pohon yang merupakan bagian dari hutan itu merupakan paru-paru bumi loh pak, dimana pohon menyerap CO2 dan mengubahnya menjadi O2, sehingga kita bisa hidup dengan menghirup Oksigen yang masih gratis." Terang Nia panjang lebar, hanya karena kertas.
"Iya kali, kertas selembar nebang banyak pohon." Protes pak Herlambang.
"Kan nggak mungin pabrik kertas buat kertas cuma selembar terus nebang ranting pohon doang pak. Ya buat dalam jumlah banyak lah pak, makanya banyak pohon yang ditebang."Jawab Nia lagi yang membuat pak Herlambang tidak bisa berkata apa-apa.
Setelah memeriksa pekerjaan Nia, Satya dan Rama yang dilaksanakan dengan baik, pak Herlambang kembali keruangannya.
"Pekerjaannya sudah beres pak." Jawab pak Herlambang yang membuat Reyhan agak sedikit kesal, lalu pergi meninggalkan kantor cabang tempat Nia magang.
Selesai jam kerja, Nia memutuskan pulang setelah selesai mengeprint proposal kegiatannya yang sudah selesai. Ratih dan Leo tidak lagi mengawal Nia selama Nia magang, tapi mereka berdua tetap mengantar jemput Nia seperti biasanya.
Sesampainya di rumah, Nia segera tutun, karena bermaksud akan memasak makan malam untuk Reyhan seperti biasanya.
"Mas? Sudah pulang?" Tanya Nia terkejut karena melihat Reyhan yang dengan tatapan dinginnya memandang Nia yang membuka pintu kamar.
Nia yang merasa tidak melakukan kesalahan apapun, masuk kamar seperti biasanya, meletakkan tas ransel yang biasa di bawanya ke atas meja, lalu segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
"Mas kenapa? Lagi ada masalah?" Tanya Nia yang masih melihat Reyhan yang duduk di sofa dengan tatapan yang masih tidak mengenakkan.
"Mulai besok, kamu tidak usah magang lagi. Saya akan suruh bagian HRD keluarkan nilai magang kamu. Kamu di rumah aja." Kata Bian dengan ekspresi datarnya.
"Nggak bisa gitu dong mas. Aku tuh magang nggak sampai dua bulan lagi. Lagian aku lagi handle proyek sama team senior di tempat aku magang." Protes Nia.
"Kalau saya bilang nggak usah magang, artinya kamu nggak usah magang lagi. Kamu dengar ucapan saya Nia !" Kata Reyhan yang mulai membentak Nia, yang membuat Nia jadi kesal karena paling tidak suka kalau dibentak.
"Aku tetap magang, aku akan selesaikan proyek yang sedang aku kerjakan. Lagian mas kenapa sih, bukan kah kemaren-kemaren mas tidak mempersalahkan? Bukankah dari awal kita sudah sepakat untuk tidak mengurus kehidupan masing-masing?. Mas sendiri yang buat peraturan itu. Aku tetap akan magang, minimal biarkan aku selesaikan proyek yang sedang di handle." Kata Nia kesal yang masih berdiri di depan pintu walking closed.
__ADS_1
Reyhan yang kesal,segera meninggalkan Nia, dan membanting pintu yang di tutupnya dengan keras sehingga membuat Nia terkejut, dan berusaha menenangkan debaran jantungnya yang berdebar sangat kencang, bukan saja karena emosi melihat kelakuan Reyhan yang kembali absurd, tapi juga karena suara pintu yang dibanting Reyhan sewaktu ditutup.