Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Ketahuan


__ADS_3

Nia yang kebetulan datang disaat jam makan siang, ditambah Handoko tidak mempekerjakan banyak orang di kantor pribadinya, karena Handoko punya kantor advokat sendiri yang terletak ditempat strategis, tapi untuk bertemu klien VIP seperti Bian dan keluarganya Handoko selalu memilih bertemu dikantor pribadinya.


Dipintu masuk, Nia sempat bertemu sekretaris Handoko yang memang bertugas di kantor pribadinya, dan sekretaris Handoko yang bernama Rere sempat menyampaikan kalau Handoko lagi ada tamu, dan meminta Nia menunggu diruang tunggu, karena Rere ada keperluan ke kantor utama.


"Kamu tenang saja sayang, semua harta Bian yang bodoh itu akan jatuh ke tangan kita. Bian begitu bodoh dan naif, apa dia tidak sadar, kalau Elsa tidak mirip dengannya. Untung saja Elsa mirip dengan kamu sayang." Kata Handoko, yang membuat Nia shock dan tidak sengaja menyenggol vas bunga yang ada dekat pintu masuk.


Handoko dan Tamara yang mendengar suara benda jatuh, segera keluar dari ruangannya dan mereka terkejut, melihat Nia yang sedang mendirikan vas bunga yang terjatuh.


"Nia!" ucap Handoko terkejut.


Nia yang sadar sedang dalam bahaya, segera bermaksud melarikan diri, tapi Handoko segera menahan Nia dengan memegang tangannya.


Nia yang punya basic ilmu beladiri, segera melepaskan cengkraman tangan Handoko, namun Handoki yang juga menguasai ilmu beladiri tidak mudah dijatuhkan oleh Nia.


"Wah... om tidak menyangka, ternyata selain cantik, kamu juga jago ilmu beladiri. Tapi ilmu kamu tidak ada apa-apanya." Ucap Handoko sambil memasang kuda-kuda bersiap menyerang Nia.


"Om kenapa tega hianatin papa?" Tanya Nia geram.


"Ck, dasar papa kamu saja yang bodoh, dan terlalu mudah percaya dengan orang. Lagian papa kamu mengambil orang yang saya cintai, tapi tidak perlu khawatir, tetap saya yang berhasil memilikinya, sementara papa kamu yang bodoh itu, tetap hanya mendapatkan bekas saya." Kata Handoko dengan nada suara mengejek.


"Tante juga, bukankah papa sangat baik dengan tante?" Tanya Nia heran.


"Yah mau bagaimana lagi, tante cinta dengan Bian, tapi Bian bodoh itu hanya mencintai istrinya yang juga bodoh. Walau bertahun-tahun menjadi istrinya, Bian hanya menganggap tante mamanya Elsa, anak perempuannya. Tadinya tante tidak masalah, karena toh ada Handoko yang selalu bersama tante. Tapi sejak Bian menemukan kamu, Bian berubah terhadap tante dan Elsa. Kamu itu memang pembawa siap. Kamu selalu bawa masalah buat tante dan Els." Kata Tamara dengan tatapan benci.


"Tante jangan hina ibuk aku. Kan tante yang merusak rumah tangga ibuk, seharusnya aku yang marah, bukan tante. Apa masih kurang baik papa, sudah memberikan kasih sayangnya buat anak tante, padahal ka Elsa itu bukan anak papa." Kata Nia dengan marah, dan membuat Handoko serta Tamara terkejut, karena Nia tahu rahasia yang mereka jaga selama ini.


"Kamu...."


"Ya tante, aku tahu kalau kak Elsa bukan anak papa. Jadi cuma aku satu-satunya ahli waris papa yang sah." Jelas Nia.


"Hahahahaha.... kamu ini lucu sekali. Sudah jelas Elsa itu anak Bian. Apa kamu tidak lihat bagaimana sayangnya Bian ke Elsa?, Kalau iri, kamu jangan coba memfitnah saya atau Elsa." Kata Tamara yang memang jago acting, berusaha untuk meyakinkan Nia kalau Elsa adalah anak Bian.


"hahaha.." Nia tertawa meniru Tamara bermaksud megejeknya yang membuat Tamara geram dan bermaksud memukul Nia, tapi segera Nia tangkap tangan Tamara dan mendorongnya ke arah Handoko, lalu Nia segera berlari keluar rumah Handoko yang sangat luas.


Sebelum keluar pagar, 6 orang anak buah Handoko yang berbadan besar menghalangi jalan Nia untuk pergi.


"Wah, nona cantik mau kemana buru-buru." Kata seorang anak buah Handoko yang bekepala botak daa berkumis lebat, hendak memegang Nia, namun segera Nia tepis.


"Jangan kurang ajar anda." Kata Nia sambil menepis tangan anak buah Handoko.

__ADS_1


"Kamu nggak bisa lari Nia. Om tidak akan jahatin kamu, kalau kamu dengan patuh ngikutin semua maunya kami, menyerahkan semua harta Bian untuk Elsa." Kata Handoko sambil mendekati Nia.


"Om ambil aja. Aku ngga urus hartanya papa. Sekarang biarkan aku pergi." Kata Nia.


"Kamu kira om bodoh sayang. Kamu tidak akan om izinkan merusak rencana yang sudah lama kami buat." Kata Handoko lalu memberi kode keoada anak buahnya untuk menyerang Nia.


Beberapa orang abak buah Handoko yang berbadan besar, langsung menghajar Nia, tapi masih bisa Nia tahan.


Keterbatasan gerak karena pakaian yang Nia gunakan, ditambah melawan 5 orang pria dewasa yang tentu saja secara tenaga lebih kuat dari Nia, membuat Nia mulai kewalahan.


Hamdoko yang melihat Nia mulai kawalahan, segera mengambil kesempatan dengan memukul tengkuk Nia, sehingga Nia jatuh tidak sadarkan diri.


Handoko segera membopong Nia masuk ke rumahnya, dan mengikat tangan serta kaki Nia, karena Handoko tahu, Nia adalah wanita tangguh yang sangat cerdik.


"Jadi kita apakan Nia?" Tanya Handoko pada Tamara.


"Kita lenyapkan." Saran Tamara.


"Sudah cukup kita menghilangkan nyawa Erik. Aku tidak mau menghilangkan nyawa orang lain lagi."Tolak Handoko.


"Ish. Lemah." Ejek Tamara.


"Bukan lemah sayang. Tapi kamu tahu, kalau aku ini manusia yang punya banyak dosa." Kata Handoko dengan nada suara sedih.


"Paling tidak dengan tidak menambah dosa lagi, Tuhan akan memberikan kita remisi ketika di neraka nanti." Kata Handoko lalu tertawa bersama Tamara.


"Mi..." Teriak Elsa yang baru datang ke rumah Handoko.


"Hai sayang. Bagaimana lunch dengan suami kamu?" Tanya Tamara sambil cipika cipiki dengan Elsa.


"Mas Rey sibuk, jadi nggak bisa datang. Sebel. Sejak ketemu dengan anak siao itu dan anaknya yang kembar, mas Rey jadi makin cuek.


"Oh iya sayang, Daddy Han berhasil menangkap Nia. Enaknya kita apakan?" Tanya Tamara.


"Beneran Mi?" Tanya Elsa dengan mata yang berbinar senang, karena selama ini Elsa selalu keaulitan ingin menangkap atau mencelakai Nia.


"Bener sayang. Tapi Dady Han tidak mau melenyapkannya." Kata Tamara.


"Come on dad, kita lenyaokan aja. Please..." Kata Elsa dengan wajah memelasnya yang tidak bisa Handoko tolak.

__ADS_1


"Sayang, reaikonya terlalu besar, karena banyak orang-orang besar dibelakang Nia, termasuk tantenya. Jika kita lenyapkan Nia, kita tidak akan lepas dari jeratan hukum. Karena ini akan jadi kasus pelenyapan berencana, maka kita bisa dijatuhi hukuman seumur hidup, kalau satu ketahuan, maka kasus Erik juga akan terungkap. Jadi kita harus bermain aman." Terang Handoko.


"Oh iya. Els ingat. Kita kasi aja Nia sama Satya." Kata Elsa dengan wajah bahagia.


"Satya?" Tanya Handoko bingung.


"Iya Dad. Satya Rendian Jacobs." Jelas Elsa.


"Jacobs?, putra tunggalnya Russel Jacobs?" Tanya Handoko meyakinkan.


"Benar sekali. Els pernah sekali bekerja sama dengan Satya waktu itu menculik Nia, tapi ketahuan dengan mas Rey, yang berhasil menyelamatkan Nia. Agar tidak di penjara, tim pengacaranya membuat Satya seolah-olah menderita skizofrenia. Jadi Satya hanya dirawat di salah satu rumah sakit jiwa yang ada di luar negeri, padahal itu juga rumah sakit keluarganya." Jelas Elsa.


"Good idea. Kamu hubungi Satya secepatnya sayang." Kata Tamara senang.


Elsa segera menghubungi Satya, karena Elsa tahu kalau Satya masih berambisi untuk memiliki Nia. Karena Satya sempat beberapa kali menghubungi Elsa untuk menanyakan tentang Nia.


"Bagaimana sayang?" Tanya Tamara.


"Beres mi. Oh iya, dady harus buat anak sial itu tidak sadarkan diri, biar Satya gampang untuk membawa dia pergi." Kata Elsa.


"Aman sayang. Daddy sudah suntikkan obat bius, jadi Nia tidak akan sadar dalam waktu lebih dari 4 jam." Jelas Handoko.


"Good Job dad." Kata Elsa lalu bersandar dalam dekapan Handoko.


Setelah menunggu Satya hampir satu jam, akhirnya Satya datang ke rumah Handoko, karena Elsa sudah mengirimkan sharelock rumah Handoko.


"Hai Sat. Makin cakep aja kamu. Sudah sembuh?" Tanya Elsa sambil tertawa.


"Nggak akan sembuh, sekama gue belum miliki Nia" Kata Satya, yang sudah tidak sabar bertemu Nia.


"Ce ile, yang sudah nggak sabaran. Ayok aku antar kamu. Jaagan lupa, kamu bawa dia yang jauh, dan jangan sampai ada yang menemukannya." Jelas Elsa.


"Beres. Gue nggak akan ngelakuin kesalahan yang sama dua kali. Makanya biar tidak terlacak, gue sengaja bawa ambulans buat jemput belahan jiwa gue." Kata Satya, dengan senyum nya yang sulit diartikan.


Elsa mengantarkan Satya ke kamar temoat mereka mengurung Nia. Nia yang masih dalam pengaruh obat bius maaih tidak sadarkan diri, dengan posisi tangan dan kaki terikat.


"Apa yang lo lakuin?" Teriak Satya marah, sambil berlari ke arah Nia, memandang Nia dari ujung kepala hingga ujung kakinya, lalu mulai melepaskan semua ikatannya.


"Sayang. Sudah lama kita tidak jumpa. Kamu semakin cantik." Kata Satya sambil mengelus wajah Nia.

__ADS_1


"Tanks." Kata Satya, lalu segera membopong Nia masuk ke ambulans yang dibawa anak buahnya.


Tamara, Elsa dan Handoko sangat senang, karena mereka berhasil menyingkirkan Nia tanpa harus melenyapkan. Dan Elsa juga yakin, kalau kali ini Satya tidak akan melepaskan Nia seperti dulu.


__ADS_2