
Setelah menjalani terapi selama lebih dari dua minggu, akhirnya kondisi fisik ku benar-benar pulih kecuali ingatan.
Aku masih belum bisa sama sekali mengingat aku siapa. Tapi bang Satya selalu bilang bahwa aku tumbuh besar bersama bang Satya.
Bang Satya mencoba menceritakan masa sebelum aku kecelakaan, tapi tidak sedikitpun aku bisa mengingat hal itu. Kalau aku berusaha mengingat, maka kepala ku akan terasa sangat sakit, tapi cerita yang disampaikan bang Satya benar-benar sangat asing, karena di ceritanya hidup ku benar-benar seperti dalam dongeng dan selalu bahagia.
Apakah hidupku memang sebahagia itu?, Ntahlah.
"Sayang kamu lagi ngapain?" Tanya bang Satuya sambil duduk disamping ku, lalu menggenggam tanganku dan menciumnya.
Sebenarnya terasa risih, tapi bang Satya bilang itu selalu dilakukannya ketika kami bersama.
"Lagi lihat laut. Kira-kira di sebalik laut itu ada apa ya bang?" Tanya ku sambil menggulung rambut panjang ku yang tadi kubiarkan tergerai karena ingin menikmati angin.
"Disebalik laut itu ada pulau yang membuat abang hampir kehilangan kamu, makanya abang mau kamu tidak kesana lagi. Kita disini saja." Jawab bang Satya sambil menarik kepalaku agar bersandar di dadanya, tapi justru membuat aku merasa tidak nyaman.
Bukannya kalau kami saling mencintai, seharusnya aku nyaman ketika berdekatan dengan bang Satya, tapi ntah kenapa aku merasa tidak nyaman ketika bang Satya memegang tangan, mencium pipi, atau memeluk ku. Bahkan aku juga merasa tidak nyaman dengan penampilan ku.
"Apa kita sering duduk disini seperti ini bang?" Tanya ku mencoba mengingat apakah kami sering seperti ini.
"Dibilang sering nggak juga, karena kamu itu cewek rumahan abis. Sukanya di rumah bereksperiman dengan makanan. Untung aja abang rajin olah raga, jadi perut abang masih tetap sixpack, tidak one big pack." Kata bang Satya sambil tertawa, dan aku hanya bisa tersenyum kecut, karena tidak bisa mengingat, apakah memang sebegitu bahagianya diri ku dulu.
"Masuk yuk sayang. Tangan kamu sudah dingin. Nanti kalau kamu kedinginan, abang susah menghangatkannya karena kamu selalu protes kita belum halal." Kata bang Satya sambil menangkup kedua pipi ku memaksa ku menatap matanya yang tajam, dan mendekatkan wajahnya yang secara perlahan, sehingga aku bisa merasakan hembusan hangat nafas bang Satya.
Saat bibir bang Satya hampir menyentuh bibir ku, ntah kenapa ada perasaan tidak nyaman, yang membuat aku refleks mendorong tubuh bang Satya.
"Dasar mesum. Belum halal." Kata ku lalu segera berdiri sambil tertawa karena berhasil membuat bag Satya kesal.
"Sayang.... Awas kamu ya, kalau nanti kita sudah halal, jangan harap kamu bisa bangun dari tempat tidur." Geram bang Satya sambil berjalan cepat ke arah ku, membuat aku harus berlari sambil tertawa, karena melihat muka kesal bang Satya yang imut dan tampan, menjadi kesenangan tersendiri bagi ku.
Aku berhasil menghindar dari bang Satya yang mengejar ku dan aku masih tertawa ketika berhasil masuk ke rumah.
Tawa ku terhenti, ketika di kursi bar mini yang ada di dapur ku lihat seorang pria yang sudah cukup berumur tapi masih kelihatan sangat gagah, sedang menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
__ADS_1
"Sayang kamu... Papa!" Kata bang Satya terkejut ketika melihat pria yang masih duduk di kursi mini bar yang tidak jauh dari pintu dapur.
"Kamu bahahia Sat?" Tanya pria itu pada bang Satya.
"Ya pa. Satya bahagia. Jadi papa jangan coba-ckba pisahkan aku dari Aisyah." Jawab bang Satya.
"Aisyah?" Tanya papa bang Satya.
"Ya, ini Aisyah. Tunangan Satya. Kami akan menikah secepatnya." Jawab bang Satya sambil menggengam tangan ku erat.
"Kita perlu bicara. Papa tunggu di rumah utama." Ucap papa bang Satya lalu pergi meninggalkan rumah yang aku tempati.
Pulau ini cukup luas, dimana ada bangunan utama yang sangat besar, berjarak kurang lebih sekitar 10 KM dari rumah yang aku tempati. Rumah yang tidak terlalu besar, tapi sangat nyaman karena pemandangan yang sangat indah.
Aku berada di rumah utama ketika masih koma, setelah sadar dan pulih, bang Satya segera memindahkan aku ke bungalow yang ada di pinggir pantai, karena dirumah utama banyak pria dengan badan yang sangat besar-besar seperti bodyguard.
Di tempat yang aku tinggali sekarang, aku tinggal dengan seorang asisten rumah tangga yang bertugas untuk membersihkan rumah, dan memasak jika aku minta. Namanya Bik Irah. Bik Irah merupakan pengasuh bang Satya yang sudah lama ikut keluarga bang Satya. Mau bertanya banyak hal dengan bik Irah tidak bisa aku lakukan karena beliau tuna wicara. Kami berkomunikasi melalui pana dan kertas yang selalu dibawa bik Irah. Karena jarang bicara, jadinya bik Irah kelihatan sangat tidak ramah, sehingga kalau tidak ada keperluan, aku akan berusaha menghindari bik Irah.
Untuk mengurangi rasa bosan, setiap hari aku hanya memandang lautan, membuat masakan atau kue, juga merawat beberapa tanaman.
Siang ini rencananya aku mau masak udang bakar madu plus sambal kecap, ditambah tumis kangkung terasi, hmm pasti bang Satya akan makan dengan lahap.
Aku mempersiapkan bahan-bahan yang aku gunakan untuk membuat masakan yang akan aku buat.
"Kangkungnya jangan dikasi cabe rawit non. Den Satya tidak kuat makan pedas. Terus untuk buat sambal kecap, cabe dan bawangnya di tumis dulu, karena den Satya tidak suka aroma dan rasa bumbu mentah" Tulis bik Irah pada buku catatannya.
"Ok bik." Kata ku sambil mengangkat kedua jempol ku, karena sebelum masak, aku harus mendiskusikannya dulu dengan bik Irah, apa yang bisa dan tidak bisa bang Satya makan.
Bik Irah membantu aku membersihkan sayur kangkung dan mengupas bawang serta memetik tangkai cabe. Karena aku suka pedas, aku akan buat dua versi, satu versi selera bang Satya satu lagi versi selera aku.
Walau dalam diam, aku dan bik Irah sangat kompak meyelesaikan masakan. Kurang dari satu jam semua makanan sudah terhidang dimeja makan.
Biasanya bang Satya akan datang untuk makan siang sekitar jam 1 setelah sholat zuhur.
__ADS_1
Selesai masak, aku izin sama bik Irah untuk kembali ke kamar karena akan melaksanakan sholat zuhur, walaupun nggak hilang ingatan, tapi bacaan sholat ku tida ada yang lupa.
"Non makan duluan saja. Den Satya pergi bersama tuan besar beberapa hari." Tulis bik Irah ketika aku keluar dari kamar.
"Ya udah, kita aja yang makan bik." Kata ku sambil menggandeng bik Irah ke meja makan.
"Loh, yang punya bang Satya kok nggak ada?" Tanya ku heran.
"Tadi sudah di jemput sama salah satu asisten rumah tangga di rumah utama" Tulis bik Irah.
"O.. Ok. ayok bik kita makan." kata ku lalu menyendukkan nasi dan lauk untuk bik Irah.
Jika bang Satya datang untuk makan, maka aku akan makan dengan bang Satya, tapi jika bang Satya tidak datang, maka bik Irah akan menemaniku makan.
Awalnya bik Irah tidak mau, tapi setelah aku paksa, akhirnya kami sepakat, jika bang Satya tidak datang, maka bik Irah akan makan bersama ku.
Sudah lebih dari dua minggu bang Satya tidak kembali, sejak terakhir kali dia pergi, tapi anehnya perasaan ku biasa saja. Bukankah bang Satya tunangan ku?, Seharusnya ada rasa rindu atau kehilangan ketika bang Satya pergi cukup lama. Ntahlah, hanya bik Irah yang selalu mengabarkan, kalau urusan bang Satya masih belum selesai.
"Bik, Ai bosan. Boleh nggak jalan-jalan ngelilingi pulau ini?" Tanya ku pada bik Irah karena aku mulai bosan, soalnya sejak bang Satya pergi, bik Irah tidak mengizinkanku keluar rumah. Aku tanya kenapa, bik Irah hanya tulis di bukunya kalau itu perintah bang Satya.
Emang bang Sat.. tiba-tiba seperti ada memoriku yang terbuka tentang kata bang Sat, sepertinya dulu aku sering panggil bang Satya dengan menyingkat namanya. Aku berusaha mengingat, tapi lagi-lagi kepalaku menjadi sakit, bahkan keringat sebesar biji jagung mulai keluar membasahi tubuhku.
"Non kenapa?" Tulis bik Irah panik melihat kondisiku yang terduduk di sofa, sambil memegang kepala dan berkeringat sangat banyak.
"Nggak apa-apa bik." Kata ku berusaha berbicara dengan suara lemah karena menahan rasa sakit kepala ku.
"Non istirahat aja. Bibik antar ke kamar." Tulis bik Irah lagi.
"Disini aja bik. Kepala saya sakit." Kata ku dan mulai merbahkan diri di sofa panjang yang aku duduki, karena rasanya benar-benar sangat sakit.
Bik Irah segera pergi mengambilkan kotak obat, dan memberikan obat yang biasa aku minum, ketika kepalaku terasa sakit.
Aku yang mulai tidak tahan dengan sakitnya, segera meminum obat, dan menutup mataku untuk mengurangi rasa sakitnya.
__ADS_1
Sebelum aku terlelap, aku sempat merasakan bik Irah memberiku bantal dan menutup tubuhku dengan selimut.