Mengejar Mantan

Mengejar Mantan
Reyhan PoV


__ADS_3

Reyhan PoV


Sebenarnya berat ketika aku meninggalkan Nia untuk melakukan perjalanan bisnis ke negara S. Nia yang akan melakukan sempro untuk tesisnya, tidak bisa pergi menemaniku ke negara S. Padahal aku ingin selalu berdekatan dengan Nia.


Walau Elsa cinta pertama ku, tapi Nia jauh lebih melekat di hati aku walau kebersamaan kami kurang dari 3 tahun.


Menikah dengan Nia yang tadinya terpaksa karena Elsa yang lebih memilih karier modelingnya, membuat aku jadi benaran jatuh cinta dengan Nia. Jatuh cinta dengan mata indahnya, sifatnya yang mandiri dan rasional, tidak suka membantah, dan banyak lagi sifat Nia yang membuat aku jatuh cinta dengan Nia.


Butuh waktu 2 tahun bagi ku untuk meyakinkan hati, kalau aku benar-benar mencintai Nia, dan mencintainya tanpa bayang-bayang Elsa.


Sewaktu berangkat ke negara S, ternyata Elsa juga berangkat dan satu penerbangan dengan ku. Els menyampaikan kalau dia ada kegiatan pemotretan di negara S, dan kebetulan sekali, kami menginap di hotel yang sama.


Kebetulan? Aku rasa tidak. Elsa memang sengaja berusaha untuk kembali bersama. Tapi sikap egois dan mau menang sendirinya, membuat aku khawatir kalau Elsa akan melakukan cara apa saja untuk mencelakakan Nia demi mewujudkan keinginannya. Jadi aku harus mengikuti permainan Elsa pada awalnya.


Sewaktu di negara S, HP ku hilang tidak tahu kemana, ditambah kegiatan yang lumayan padat bertemu rekan bisnis dan mendengarkan presentasi laporan membuat aku tidak bisa menghubungi Nia.


Pagi hari ketika aku bangun, aku melihat hp ku sudah ada di nakas, dan melihat ada pesan dari nomor yang tidak aku kenal.


Aku membuka pesan yang berisi beberapa foto dan sebuah Video. Begitu melihat foto dan Video tersebut, aku yang sangat tidak suka dikhianati, sangat marah melihat Nia yang sedang tidur bersama seorang pria yang tidak aku kenal. Tapi walaupun marah, aku masih berfikir rasional. Aku segera menghubungi salah satu staff IT kepercayaan ku, untuk mengecek foto dan Video tersebut.


Aku segera menggunakan jet pribadi milik keluarga untuk kembali ke kota P menemui Nia, sambil menunggu hasil pemeriksaan staff ku soal foto dan Video Nia.


Begitu mendarat, staff IT ku segera memberitahu kalau foto dan Video itu asli, yang menyebabkan aku benar-benar marah, karena dikhianati oleh orang yang mulai mengisi hati ku paling besar.


Sewaktu sampai halaman rumah, aku melihat Elsa yang baru turun dari mobilnya.


"Loh, mas sudah balik?" Tanya Elsa, yang sebenarnya membuat aku heran, kenapa Els sudah ada di kota ini juga.


"Iya." Jawab ku, lalu segera masuk ke rumah, tapi tidak aku temukan Nia ada di rumah.


Aku segera menelpon Rani, dan menyuruhnya untuk menjemput Nia di hotel tempat Nia menginap, yang merupakan salah satu hotel milik keluarga ku.


Aku duduk dengan tidak sabar menunggu Nia, bersama dengan Elsa yang duduk diam disampingku. Karena Elsa tahu betul, jika aku marah, maka aku tidak suka di ajak bicara, cukup hanya duduk diam, sampai amarah ku reda, baru bisa berbicara dengan ku.

__ADS_1


"Assalamualaikum, mas kok sudah pulang?" Tanya Nia dengan ekspresi heran, dan tidak ada ekspresi takut sama sekali seperti tidak melakukan kesalahan apapun. Padahal Nia baru saja melakukan kesalahan besar dengan mengkhianati ku.


"Iya, kenapa kalau saya pulang? Kamu tidak senang?" Kata ku emosi, namun berusaha ditenangkan Elsa dengan menggenggam tangan ku, sementara Nia, sikap dan ekspresinya biasa saja. Tidak ada sedikitpun nampak rasa kesal atau cemburu kerena Elsa menggenggam tanganku agar aku tidak emosi.


"Ya Nia senanglah mas pulang cepat." Jawab Ni dengan sikap tenangnya. Sikap tenangnya ini membuat aku berfikir, kalau Nia tidak mencintaiku. Nis masih mencintai Sean, sesui dengan buku hariannya yang waktu itu aku temukan.


"Ghania Khanza Khaylee, mulai hari ini kamu bukan istri saya lagi. Saya jatuhkan talak satu kepada mu. Mulai sekarang hiduplah seperti apa yang kamu mau." Kata ku tiba-tiba yang membuat Nia terkejut, tidak menyangka kalau aku mengucapkan kata talak kepadanya.


"Tapi mas..." katanya yang mencoba memberikan penjelasan


"Tidak ada tapi-tapi. Saya tidak bisa hidup dengan pengkhianat. Kamu memang berbeda sekali dengan Els. Mungkin karena kamu tidak dibesarkan oleh keluarga yang utuh, jadi kamu selalu mencari kasih sayang dari banyak laki-laki." Kata ku yang membuat Nia marah dan reflek mendekati ku dan menampar pipi ku cukup keras, membuat aku terkejut dengan sikap tegas Nia yang baru ini aku lihat.


"Jangan hina ibu yang sudah membesarkan aku dengan sangat baik sekali. Tidak ada sedikitpun didikan ibu yang salah. Jika mau kita cerai. Ya sudah kita cerai. Tapi jangan pernah hina ibu aku." Kata Nia kesal lalu segera pergi meninggalkan rumah ku.


Aku kembali duduk di sofa dan mencerna perkataan Nia, dan baru sadar kalau perkataan ku benar-benar menyakiti Nia. Tidak pantas aku mengkritik ibunya yang sudah meninggal. Argh... bodohnya aku.


Elsa yang melihatku kalut, langsung menyodorkan segelas air putih yang di ambilnya dari dapur.


"Minum dulu mas. Biar mas tenang. Nia memang seperti itu, tidak tahu etika dan tatakrama. Seperti ibunya yang suka kabur." Kata Elsa.


"Tapi mas..."


"Please." Kata ku mengeluarkan kata yang tidak bisa dibantah orang-orang terdekatku.


"Baiklah mas. Els pulang dulu. Mas istirahat jangan lupa makan. Nia nggak usah mas pikirkan lagi. Dia itu memang pengkhianat, sama seperti ibunya. Els pulang mas." Kata Elsa lalu pergi meninggalkan rumah ku.


Setelah Elsa pergi, aku segera masuk ke dalam kamar, kamar penuh kenangan antara Nia dan aku, bahkan wangi tubuhnya masih terasa diruangan ini.


Aku memandang photo pernikahan kami yang tergantung di salah satu sudut dinding kamar kami. Aku bermaksud menurunkan foto itu, karena tidak ingin merasakan sakit karena pengkhianatan orang yang aku cintai.


Suara nada dering hp ku, membuat aku menjauhkan tangan yang sedang terulur bermaksud menurunkan pigura.


"Iya Jeff?, Jadi foto dan video itu asli? kamu yakin? Ok. Terima kasih." Kata ku lalu mematikan sambungan telpon. Karena walaupun aku sudah mendapat info dari staff IT ku yang lain kalau foto dan video itu asli, tapi aku tetap butuh seconde opinion.

__ADS_1


Argh.... kenapa sih Ni, kamu bisa khianatin aku. Ternyata terlihat menjaga diri dari laki-laki hanya kedok kamu saja agar terlihat baik.


Aku yang sangat kesal membanting dan membuang semua barang-barang Nia, termasuk foto pernikahan kami.


Aku meminta asisten rumah tangga ku membersihkan semua barang-barang Nia dari kamar kami, dan membuang semua barang-barang itu agar aku bisa melupakan Nia.


Tapi ternyata tidak semudah itu, aku terus saja mengingat kebersamaan kami. Setiap melihat tempat-tempat biasa Nia berada membuatku terus-terusan memikirkannya.


Aku meminta Rani untuk datang bersama Leo, menanyakan dan memastikan lagi, karena selama mereka mendampingi Nia apakah terlihat Nia sering bersama pria lain.


Begitu Rani dan Leo datang aku segera menyuruh mereka ke ruang kerja. Aku segera memperlihatkan foto da Video yang aku dapatkan dari nomor tidak dikenal kepada Rani, karena aku tidak mau ada laki-laki lain memandang istriku.


"Tuan sudah cek ini asli?" Tanya Rani.


"Sudah, dan Valid itu asli. Kamu tahukan bagaimana Jeff menganalisa foto atau gambar." Kata ku.


"Iya tuan. Hanya saja ini sangat aneh sekali. Selama ini nona tidak pernah dan tidak suka disentuh laki-laki, bahkan teman laki-lakinya hanya Oget dan Aldi, jadi bagaimana mungkin nona Nia melakukan hal itu. Saya akan menyelidikinya." Kata Rani.


"Coba kamu selidiki. Saya tidak mau ada kesalahan." Kata ku pada Rani.


"Baik tuan." Kata Rani dan Leo lalu pamit meninggalkan ku.


Sudah dua hari sejak aku menjatuhkan talak kepada Nia. Hidup ku benar-benar kacau ketika Nia tidak ada. Yangti selalu bertanya kepada ku kemana Nia, karena hp Nia tidak aktif. Aku memberikan alasan kalau aku sedang negara S, sehingga tidak tahu keberadaan Nia.


Yangti sempat marah kepada ku, ketika aku tidak tahu keberadaan cucu menantunya karena aku sibuk dengan bisnis ku. Bahkan mami dan papi juga ikut-ikutan.


"Bagaimana? Ketemu?" Tanya ku pada Rani, ketika Rani datang ke rumah memberikan laporan.


"Tidak tuan. Nona Nia seperti hilang ditelan bumi, bahkan alat pelacak yang kita pasang berhasil diketahui Nona dan ditinggalkan di suatu tempat di kota ini.


"Data-data keberangkatan sudah kamu cek?" Tanya Reyhan lagi.


"Sudah tuan. Tapi tetap saja tidak bisa menemukan keberadaan Nona." Kata Rani lagi.

__ADS_1


Argh... kemana kamu sih Nia. Baru beberapa hari menghilang, aku merasa kehilangan kamu. Maaf...


__ADS_2