
Setelah sukses besar dengan event yang dibuat, bahkan bisa mengalahkan team Reano, membuat Nita dan teamnya mendapatkan bonus yang besar. Secara jumlah pengunjung, memang event yang diadakan Nita tidak sebanyak yang team Reano adakan. Akan tetapi event team Nita lebih berhasil karena omset dan penjualan peserta event lebih tinggi dibandingkan di event team Reano.
Setelah laporan pertanggungjawaban, seluruh anggota team yang terlibat akan melakukan kegiatan makan-makan termasuk bersama keluarga mereka, tetapi karena Reyhan sudah menghubungi Nia untuk segera pulang, membuat Nia tidak bisa mengikuti acara syukuran yang mereka adakan.
"Wah... nggak seru dan nggak asyik kalau nggak ada kamu Ni. Kan kamu bintang utamanya." Protes Rama, karena dari sejak tahu wajah asli Nia, Satya lebih banyak diam dan hanya memperhatikan Nia saja. Padahal selama ini Satya selalu berusaha mencari perhatian Nia dengan mengajak nia berantem.
"Maaf banget bang. Aku kan harus tanggung jawab, ngurus kepulangan mbak Monica dengan team. Soalnya besok mereka ada acara lagi." Kata Nia berbohong, karena tidak mungkin Nia bilang kalau disuruh Reyhan pulang.
"Syukurannya kita undur saja jadi besok. Biar semuanya ada dan semua anggota keluarga kita juga bisa ikut, karena sudah dipersiapkan." Kata Nita menengahi.
"Good idea." Kata Satya.
"Jangan dong mbak, nggak enak aku sama yang lain." Kata Nia lagi.
"Nggak apa-apa. Ntar mbak yang jelaskan. Mereka pasti paham kok, kan cuma diundur sehari." Terang Nita.
"Ya sudah, kalau gitu aku izin duluan ya Assalamualaikum Wa Rohmatullahi Wa Barakatuh. 😊 " Kata Nia lalu pergi meninggalkan ruangan kerjanya.
Leo dan Rani kembali menjemput Nia seperti biasa setelah seminggu lebih mereka menghilang.
"Mbak Rani.. kangen deh." Pekik Nia senang sambil memeluk Rani sewaktu melihat Rani membukakan pintu untuk Nia.
"Mbak juga senang." Kata Rani sambil tersenyum, tapi sedikit heran melihat penampilan Nia, karena biasanya kalau tidak dilingkungan keluarganya, Nia senang berpenampilan jelek.
"Kerjaan mbak Monica." Kata Nia yang paham melihat ekspresi Rani.
"Nyonya itu cantik, saya lebih senang melihat nyonya seperti ini walaupun keluar. Jadi tidak ada yang memandang remeh atau mengatakan nyonya jelek." Kata Rani mengeluarkan pendapatnya.
"Aku itu sebenarnya seperti perempuan kebanyakan. Ingin terlihat cantik di mata orang lain, tapi karena kebiasaan dari kecil, jadinya lebih nyaman aja jadi orang yang nggak terlihat cantik. Karena ibuk nggak suka lihat orang-orang suka gemes bahkan anarkis pas melihat aku waktu kecil."Terang Nia.
"Ibuknya nyonya bule ya?" Tanya Rani heran, karena selama menjaga Nia, Rani beberpa kali ketemu Bian tapi Rani melihat kalau Bian memiliki warna iris mata yang hitam pekat seperti malam, mirip iris Elsa.
"Nggak. Ibuk orang negara I kok. Tapi nggak tau juga. Iris ibuk warnanya agak sedikit coklat terang atau hazel gitu, tapi ntah dari mana iris aku kok malah emerald gini." Terang Nia.
__ADS_1
"Kakek nyonya?" Tanya Rani lagi yang masih penasaran.
"Nggak tau. Soalnya ibuk dibesarkan di panti asuhan." Jawab Nia dengan wajah sedih karena mulai rindu ibunya.
"Maafkan saya terlalu banyak tanya." Kata Rani yang merasa tidak enak, sementara Leo hanya mendengar dan sesekali menatap Nia dari kaca spion depan.
Sesampainya di rumah, Nia segera membersihkan dirinya, dan menyiapkan makan malam untuk Reyhan, karena Rani memberitahukan kalau Reyhan akan pulang sewaktu jam makan malam.
Hari ini Nia masak masakan sederhana. Ia masak tumis daging saos tiram bawang putih, dan capcay seafood karena masak kedua masakan itu tidak membutuhkan waktu lama.
Selesai memasak, Nia segera masuk ke kamarnya untuk melaksanakan sholat magrib, sekalian menunggu Reyhan pulang.
"Cklek" Terdengar suara pintu terbuka, yang membuat Nia menoleh ke arah pintu, karena ia baru selesai sholat.
Nia segera berdiri dan melepaskan mukenahnya fan menghapiri Reyhan untuk mencium punggung tangannya.
"Mas sudah sholat?" Tanya Nia
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, mereka segera menuju ruangan makan, dimana makanan yang tadi Nia masak sudah terhidang di atas meja.
Nia mengambilkan makanan sesuai porsinya Reyhan. Lalu mereka makan dalam diam, karena etikanya memang tidak ada pembicaraan di meja makan, kecuali memang hal yang sangat penting.
"Tadi mas antarin mbak Monica, kak Aldo dan kak Dean?" Tanya Nia.
"Iya. Aldo bakalan balik ke negara P penerbangan pertama besok pagi. Kok bisa sih mereka muncul?" Tanya Reyhan heran.
"Nggak tau juga. Nia hanya minta bantu mbak Monica, buat bantu event hari ini." Jelas Nia.
"Acara kamu hebat. Kalau kamu kerja di perusahaan pasti perusahaannya sangat beruntung. Tapi saya tidak izinkan kamu kerja." Jawab Reyhan yang mulai keluar sikap egoisnya.
"Kok gitu sih mas? Kan perjan....hmph" ucap Nia yang tidak bisa berbicara, karena Reyhan membekap mulutnya, karena tidak ingin ada yang mendengar percakapan mereka tentang perjanjian, lalu menceritakan bahwa ada perjanjian dalam pernikahan mereka pada eyangnya, bisa langsung muncul si eyang malam itu juga.
"Ini masih ruang makan Ni." Kata Reyhan memperingatkan, lalu segera menarik Nia untuk segera ke kamar mereka.
__ADS_1
"Tapi di perjanjian kita, mas kan sudah sepakat, kalau tidak ada yang saling ikut campur dalam kehidupan kita." protes Nia kembali sewaktu pintu tertutup, dan duduk di sofa yang berada di hadapan Reyhan.
Reyhan tidak menanggapi Nia, ia malah berdiri lalu masuk ke ruang kerjanya. Nia yang kesal karena diabaikan memutuskan untuk mengikuti Reyhan ke ruang kerjanya.
"Selalu ini yang kamu ributkan?" kata Reyhan sambil menunjukkan setumpuk kertas.
"Srek, srek, srek, srek." Reyhan merobek-robek perjanjian bodoh yang dibuatnya dulu di depan Nia yang membuat Nia heran melihat kelakuan Reyhan.
"Kok mas robek sih?" Protes Nia.
"Mulai hari ini, tidak ada perjanjian bodoh itu lagi. Mulai hari ini kita akan menjadi suami istri, selayaknya suami istri." Kata Reyhan.
"Selayaknya suami istri gimana?" Tanya Nia bingung.
"Ya bagaimana kehidupan suami istri, maka kita akan menjalankannya seperti itu. Seperti istri yang harus mendengarkan dan mentaati suaminya jika tidak bertentangan dengan agama. Termasuk kehidupan suami istri yang lainnya." Jawab Reyhan yang memandang Nia dengan tatapan yang tidak bisa Nia artikan.
"Kehidupan suami istri lainnya." Beo Nia sambil berfikir, kemudian dia sadar.
"Nggak ada kehidupan suami istri lainnya. Yang pertama aja yang kita jalanin." Kata Nia yang tiba-tiba salah tingkah, karena setahu Nia kehidupan suami istri lainnya, berarti ia harus menjadi istri Reyhan seutuhnya.
"Eyang lusa balik ke negara I, dan akan menetap di kota ini juga. Karena eyang protes, sudah hampir dua tahun kita menikah, kita belum bisa kasi eyang cicit." kata Reyhan.
"Cicit?" Tanya Nia heran.
"Iya cicit. Untuk mendapatkan anak, ya kita harus menjadi suami istri seutuhnya. Maaf selama ini saya sengaja menjaga jarak dan tidak menuntut hak saya sebagai suami, karena saya tahu kalau umur kamu masih sangat muda. Saya tidak mau kamu kehilangan masa muda kamu karena harus mengurus anak kita nanti, walaupun saya akan menyedikan baby sitter, tapi tetap anak kita harus kita yang besarkan." Jelas Reyhan.
"Tapi, bukannya mas mau nunggu mbak Els?" tanya Nia meyakinkan.
"Nia, saya ini laki-laki normal. Mati-matian saya tahan diri untuk tidak meminta hak saya sebagai suami karena alasan yang saya sampaikan tadi. Tidak mungkin saya tidak jatuh cinta dengan kamu, setelah kita hidup bersama selama ini." Terang Reyhan.
"Jadi mas beneran cinta aku?" Tanya Nia senang, karena sejujurnya walaupun di jutekin setiap hari dan menghadapi tingkah tidak jelas Reyhan, lama-lama tumbuh rasa cinta terhadap Reyhan di hati Nia. Seperti pepatah jawa Witing Tresno Jalaran Soko Kulino.
"Tentu saja saya jatuh cinta dengan istri saya. Jadi mulai hari ini tidak ada lagi perjanjian antara kita, kecuali perjanjian yang membuat kita jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Maaf, butuh waktu yang lama buat saya untuk menyampaikan ini." Kata Reyhan sambil menarik Nia untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1